TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 5
Erion—murid kesatu telah tiba ke dunia manusia. Menurut informasi mata-mata langit, tidak sembarang orang bisa menemukan gua sarang Yuja Ariel. Bahkan, tentara langit sekalipun kerap kali berhasil dikelabui oleh mereka. Namun, ada seorang pria tua pemilik perahu yang ditengarai sebagai kaki tangan Yuja Ariel.
“Tuan, permisi ...,” sapa Erion.
Pria tua pemilik perahu tampak memejamkan mata di atas perahu miliknya. Ia agaknya tidak mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Pria tua itu memang dikenal sebagai tukang tidur dan sangat jarang membawa penumpang. Akan tetapi, setiap hari ia selalu datang ke tepi sungai untuk tidur sepanjang hari.
“Tuan, permisi! Bisakah Tuan mengantarku?”
Pada panggilan kedua, ketiga, bahkan ketujuh. Pria tua itu tidak menyahut sama sekali. Erion memutuskan untuk menunggunya bangun dengan sendirinya. Matahari semakin naik, tetapi pemilik perahu masih tertidur. Erion berpikir seharusnya ia membuka mata setidaknya untuk makan siang. Namun, hingga hampir gelap penantiannya sia-sia.
“Hei, Tuan! Aku sudah tiga kali mengantar penumpang, tetapi aku melihatmu masih tetap menunggu pak tua itu. Ayo, naik ke perahuku, kita mungkin bisa sampai ke tujuanmu sebelum malam,” ujar pemilik perahu lainnya menawarkan jasanya.
“Terima kasih, Tuan. Sebenarnya, saya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada pak tua ini,” tolak Erion.
Pemilik perahu yang lain itu akhirnya membawa penumpang lain dan meninggalkan Erion bersama pria tua tukang tidur.
Tiba-tiba, cuaca menjadi sangat tidak bersahabat. Siang yang begitu terik dan sore yang amat tenang. Siapa sangka saat matahari sudah tergelincir di ufuk barat, terdengar suara guntur yang diikuti angin kencang. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya, membuat panik makhluk setengah dewa itu ketika melihat pak tua pemilik perahu masih juga tertidur.
“Astaga, apa dia mati atau tidur,” gumamnya.
Erion mengangkat tubuh pria tua itu, lalu memindahkannya pada sebuah gazebo yang terletak tidak begitu jauh tepi sungai. Alih-alih terbangun, pria tua itu hanya menggeliat, memposisikan tubuhnya dengan nyaman, lalu kembali mendengkur. Melihat hal tersebut membuat pemuda yang baru saja menyelamatkannya dari air sungai pasang itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena heran.
Hampir tengah malam, Erion yang lelah akhirnya memejamkan mata sembari menyandarkan tubuh pada tiang gazebo. Saat ia tengah tertidur, pria tua yang sedari pagi ditunggunya justru terbangun. Pria itu terheran-heran mendapati seorang pemuda yang belum pernah ditemui sekalipun berada pada tempat yang sama.
“Hei ... siapa pemuda ini? Apakah dia seorang bangsawan yang tersesat? Ah, kenapa aku berada di sini bukan di atas perahu?” tanya pria tua itu pada dirinya sendiri.
Tak tahu bahwa pemuda yang tengah tidur itu adalah yang menyelamatkannya dari air sungai yang pasang. Pria tua tersebut memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa membangunkan Erion. Ia berpikir keduanya hanya sama-sama sedang berteduh dan tidak memiliki hubungan apa pun. Lagi pula perawakan dan penampilan bak bangsawan, membuatnya berpikir setidaknya pemuda itu pasti datang dengan pelayan atau orang-orang yang menjamin keamanan sang tuan.
“Tuan ... Tuan ... bangun Tuan!”
Keesokan harinya, Erion dibangunkan oleh pemilik perahu yang lain. Ia terkesiap menyadari bahwa pria tua yang ditunggunya sudah tidak ada lagi di tempat itu. Diedarkan pandangan, berjalan bolak-balik, tetapi tetap tidak dijumpainya.
“Tuan, apa yang Anda cari?” tanya seorang lagi.
“Bukan apa tapi siapa. Tuan, apa Anda melihat pria tua pemilik perahu yang sebelumnya tidur di sini?” jawab Erion dilanjutkan dengan pertanyaan mengenai pria tua pemilik perahu yang sejak kemarin ia tunggu.
“Jika yang Tuan maksud adalah pak tua tukang tidur dia pasti sudah pulang ke rumahnya.”
Mendengar pria tua yang dicarinya telah pulang. Erion bertanya di mana rumah pria tersebut. Akan tetapi, pemilik perahu yang lain menolak memberitahu dan menyuruhnya untuk menunggu pria tersebut di tepi sungai, tepat di dekat pria tua itu mengikat perahunya.
“Tuan, Sebaiknya tidak perlu mencarinya ke rumahnya. Anda hanya perlu menunggunya di tepi sungai pasti dia akan muncul sebentar lagi.”
Mengikuti saran pemilik perahu yang lain. Erion, akhirnya memutuskan untuk menunggu pria tua itu di tepi sungai. Ia menolak setiap tawaran yang hendak mengantarnya ke tempat tujuan. Tempat yang ingin dia tuju bukanlah tempat biasa. Erion sendiri tidak tahu letak pasti tempat yang sedang menjadi tujuannya.
Matahari hampir di atas kepala, tetapi pria tua yang ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya. Menurut pemilik perahu yang lain, pria tua itu tidak pernah tidak datang ke tepi sungai sekalipun hanya untuk tidur.
‘Apakah terjadi sesuatu padanya?’ batin Erion.
Hendak beranjak dari tempatnya menunggu, pria tua pemilik perahu itu muncul. Bagaikan angin segar, makhluk setengah dewa itu merasa sangat lega. Ia bergegas menyambut pak tua yang kini juga berjalan ke arah perahu.
“Tuan, aku ...,” ujar Erion terjeda.
“Aaah ... Anda pemuda yang semalam tidur di gazebo bukan?” tanya pemilik perahu.
“Benar, Tuan. Bisakah Anda mengantarku ke suatu tempat?” pinta makhluk setengah dewa itu kepada pria tua pemilik perahu.
Di luar dugaan, setelah hampir dua hari menunggu. Ternyata pria tua itu menolak Erion untuk mengantarnya ke tempat tujuan, sebelum dia mengatakan ke mana ia akan pergi. Pemilik perahu mengatakan bahwa sedang menunggu seseorang yang lebih dulu memesan perahu.
“Tuan, aku sudah hampir dua hari di tempat ini dan penumpang yang Anda tunggu tidak juga datang. Bisakah Anda mengantarku lebih dulu, aku akan membayarmu dengan harga yang pantas,” bujuk Erion kepada pemilik perahu.
Erion menyerahkan sekantong koin emas kepada pria tua pemilik perahu. Akan tetapi, pria tua itu menolak untuk menerima sekantong koin emas tersebut. Alasannya adalah ia hanya menerima bayaran setelah mengantar penumpang sampai pada tujuan. Ia juga mengatakan, bahwa yang lebih dulu memesan perahu adalah yang lebih dulu diantar. Tidak peduli orang tersebut akan datang hari ini, lusa, atau bulan depan.
‘Sungguh pria tua yang mengesankan,’ batin makhluk setengah dewa itu.
Seorang pria tua yang memegang teguh prinsipnya. Pantas saja ia begitu terpilih. Bahkan, Yuja pun percaya kepadanya. Jelas bukan hanya sekadar uang yang menjadi tujuannya. Melihat keuletan pria tua tersebut, Erion kagum dan bangga karena dipertemukan dengannya.
“Tuan, jika pelanggan yang Anda tunggu itu telah datang. Apakah aku boleh menumpang perahumu bersamanya. Tidak peduli Anda akan mengantarnya ke mana, bersediakah Anda membawaku?”
Pria tua itu tercengang mendengar permintaan pemuda di hadapannya. Begitu banyak perahu yang disewakan. Mengapa pemuda itu rela berlama-lama menunggu dirinya. Akan tetapi, rupanya ia tidak lantas mengabulkan permintaan Erion. Ia memberikan syarat yang tentunya tidak keluar dari prinsip yang dimilikinya.
“Tuan, Anda boleh ikut dengan perahuku jika pelanggan yang kutunggu mengizinkan Anda, bagaimana?”
Erion tersenyum sumringah. Jawaban dari pria tua pemilik perahu telah ia prediksi sebelumnya. Ujian kedua adalah mengambil hati penumpang perahu yang sampai saat ini belum juga muncul.
“Baiklah, Tuan. Aku menghormati prinsip Anda. Sembari menunggu penumpang perahu itu, mari kita bermain catur, bagaimana?” ajak Erion kepada pria tua pemilik perahu.
Keduanya tampaknya tengah berhasil mencairkan suasana yang sebelumnya begitu canggung.
Tengah asyik bermain catur. Kesenangan keduanya terpaksa berhenti ketika suara seorang wanita yang terdengar begitu merdu menyapa mereka. Wanita dengan kain sutra transparan di sebagian wajahnya. Dibalut pakaian merah muda dengan sulaman bunga sakura. Rambut panjangnya dikepang begitu rapi dengan hiasan di kepala yang menambah kesan anggun.
Di balik cadar transparan itu, tersungging sebuah senyum menawan. Suara indahnya menggetarkan hati pria mana pun, termasuk makhluk setengah dewa yang sedang duduk di tepi sungai bersama pria tua pemilik perahu.
“Nona Lin,” sahut si pemilik perahu dan si empunya nama pun menunduk menunjukkan sopan santunnya pada pria tua tersebut. “Tuan, ini adalah penumpang yang kita tunggu,” lanjut pria tua itu.
“Maaf, Tuan. Kita?” tanya Nona Lin tidak yakin.
Erion tersenyum sembari memberi hormat. Ia menjelaskan sekaligus meminta izin agar diperbolehkan bersama-sama naik perahu milik pak tua itu. Ia juga tidak keberatan jika si pemilik mengantar penumpang utama terlebih dahulu.
“Tapi, Tuan ... tempat tujuan saya sangat jauh,” jawab Nona Lin yang sebenarnya keberatan dengan permintaan Erion.
Melihat isyarat tanda-tanda penolakan. Pria tua pemilik perahu yang sejatinya mulai menyukai pemuda di hadapannya, berusaha membantu membujuk penumpang utama tersebut. Ia menceritakan kegigihan dan kebaikan hati Erion hanya untuk bisa naik ke perahunya. Ia juga menjamin, bahwa pemuda itu tidak akan berbuat yang tidak pantas.
“Nona, tuan muda ini sudah dua hari berada di tepi sungai. Ia menyelamatkanku dari air sungai pasang saat aku ketiduran di atas perahuku. Dia pemuda yang sopan lagi cerdas. Saya yakin, selama perjalanan, Nona tidak akan dilanda kebosanan jika ada beliau,” bujuk pria tua pemilik perahu kepada penumpang utamanya.
“Baiklah, jika Tuan yang mengatakannya, aku percaya,” ungkap Nona Lin memberi izin.
Erion berterima kasih kepada keduanya. Ia tidak menyangka begitu mudah memenangkan hati mereka.
Di sisi lain, Nona Lin tersenyum licik di balik cadar sutranya. Wanita jelmaan dari Yuja Ariel itu baru saja mendapat tangkapan besar. Pemuda yang datang sendiri tanpa diminta memiliki paras yang luar biasa tampan. Penampilannya bukan lagi seperti pujangga, tetapi sudah bagaikan bangsawan. Bahkan, pria tua pemilik perahu pun memanggil pemuda tersebut dengan sebutan tuan muda.
‘Para saudariku pasti akan iri padaku. Pemuda ini bagaikan embun di pagi hari, jernih dan sejuk. Lima ratus tahun aku hidup sebagai Yuja, aku belum pernah melihat pemuda setampan dia,’ batin Nona Lin—Yuja Ariel.
“Nona, tampaknya suasana hati Anda sedang sangat bagus,” ujar Erion, setelah perahu yang mereka naiki telah meninggalkan tepi sungai.
“Benarkah? Apakah terlihat begitu jelas?” tanya Nona Lin sembari mengembangkan senyuman di balik kain sutra penutup wajah.
“Kalau begitu, aku akan memainkan seruling untuk mengiringi perjalanan kita dan menambah kebahagian Anda, Nona ....”
Alat musik tiup itu mengeluarkan suara yang begitu merdu. Sesekali Erion mengedipkan mata untuk menggoda wanita di hadapannya. Bukan makhluk setengah dewa namanya jika tidak membuat keajaiban.
Suara seruling yang dimainkannya begitu merdu, membuat ikan-ikan di sepanjang sungai yang mereka lalui, melompat-lompat seolah menari-nari. Pun dengan kupu-kupu warna-warni, berterbangan mengikuti arah perahu tersebut. Nona Lin yang menyadari hal itu pun begitu takjub. Ia tidak pernah melihat sekumpulan kupu-kupu cantik bergerombol sebanyak itu.
Nona Lin sibuk meraih binatang kecil dengan sayap itu. Ia tidak tahu, bahwa itu adalah cara pemuda di hadapannya hendak membuat dia terkesan.
‘Aku makhluk setengah dewa, mustahil aku tidak bisa membedakan manusia dan Yuja, heh!’ batin Erion.
Erion menghentikan permainan serulingnya. Kupu-kupu itu pun kembali berpencar dan para ikan juga tak lagi melompat-lompat. Kini, satu-satunya keindahan yang tersisa adalah wanita cantik di hadapannya. Kain sutra itu tak mampu menutupi paras cantik Nona Lin. Sekali pun ia adalah Yuja, tetapi ia sama sekali tidak menampakkan gelagat sebagai seorang Yuja. Ia benar-benar seperti gadis lemah lembut. Kapas putih yang dapat tertiup angin dengan mudahnya.
“Tuan, bagaimana Anda melakukannya? Kupu-kupu itu datang berbondong-bondong, indah sekali,” tanya Nona Lin diikuti dengan pujian.
“Anda salah paham, Nona,” kilah Erion.
“Maksud Anda?” tanya Nona Lin tidak mengerti.
“Makhluk indah itu tidak datang karenaku, melainkan karena ada makhluk yang lebih indah dari mereka berada di sini,” sindir Erion yang sebenarnya merupakan rayuan buaya khas pulau mengapung.
“Nona Lin, tuan muda sedang membicarakan Anda. Hahaha ...!” sahut pria tua pemilik perahu.
Nona Lin merona, ia tersipu malu tak tahan dengan rayuan pemuda di hadapannya. Ia berpikir betapa sempurnanya pemuda tersebut. Sosok yang penuh kejutan dan multitalenta. Sangat sayang jika harus dibagi dengan saudari-saudarinya. Tiba-tiba, muncul keegoisan di benak wanita cantik itu. Ia ingin memiliki Erion seorang diri, tidak berniat membawanya ke sarang Yuja Ariel.
Tampaknya, Erion telah berhasil membuat Yuja itu jatuh cinta kepadanya. Tidak sia-sia jika dia dijuluki sebagai buaya pulau mengapung oleh saudara-saudari seperguruannya.
Kini, keduanya akan saling memasang perangkap. Yuja itu masih beranggapan pemuda yang begitu memesona itu adalah manusia biasa. Sementara Erion berpura-pura tidak mengetahui bahwa sebenarnya Nona Lin adalah Yuja Ariel.
Lagi-lagi, cuaca menjadi sangat tidak bersahabat. Akhir-akhir ini, sering terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Pria tua pemilik perahu terpaksa menepikan perahunya.
“Tuan, sebentar lagi kita akan sampai, mengapa Anda menepikan perahu?” protes Nona Lian.
“Eeeh, Nona Lin. Akhir-akhir ini sering terjadi badai. Lihat, langit sudah sangat gelap karena mendung, suara petir juga bergemuruh, air sungai sebentar lagi pasang. Jika kita melanjutkan perjalanan, aku takut terjadi sesuatu yang buruk,” terang pria tua pemilik perahu.
Wanita itu tampak menautkan kedua alis, pertanda tengah kesal, tidak setuju dengan keputusan pria tua pemilik perahu. Melihat hal itu, Erion justru tersenyum. Ia seolah kembali mendapatkan celah untuk membuat Nona Lin terkesima kepadanya.
“Tuan, apa yang Anda cemaskan? Jika hanya badai, ada aku yang siap melindungi penumpang utamamu. Apa lah arti nyawa pemuda tidak berharga ini dibandingkan makhluk indah di atas perahu pria tua dan di hadapan pemuda sengsara, ha?” ungkap Erion lagi-lagi dengan rayuan mautnya,.
Mendengar perbandingan yang diutarakan oleh pemuda itu, Nona Lin semakin kesengsem. Bagaimana mungkin sosok sempurna seperti Erion menyebut diri sendiri sebagai pemuda sengsara dengan nyawa yang tidak berharga. Sedangkan menyebut dirinya sebagai makhluk indah yang pantas untuk dilindungi meski nyawa mwnjadi taruhannya.
“Aduh ... Tuan muda, Anda hanya akan melindungi Nona Lin. Lalu bagaimana dengan nasib pria tua ini, ha!” protes pria tua pemilik perahu.
Ketiganya tertawa bersama dan kemudian sepakat untuk menepi hingga badai berlalu. Nona Lin dan Erion tampak saling menatap dan melempar senyum satu sama lain.
Tumbuh benih-benih cinta di hati Nona Lin. Berawal dari kekagumannya terhadap kecakapan pemuda yang baru saja ia kenal itu. Tidak salah ketika mengambil keputusan untuk mengizinkan Erion naik pada perahu yang sama. Perjalanan tentunya menjadi begitu b*******h baginya,
Memutuskan untuk menepi dan melanjutkan perjalanan setelah badai berlalu. Rupanya dijadikannya ajang untuk mengambil hati pemuda yang saat ini ia digandrungi. Pesona Erion benar-benar membuatnya dimabuk cinta. Gadis lemah lembut tiba-tiba lunglai dan luruh ke tanah.
Mengetahui sandiwara gadis di sampingnya. Erion tak ingin buru-buru membongkar kebohongan tersebut. Ia justru berniat untuk mengikuti permainan jelmaan Yuja Ariel itu. Lain halnya dengan pria tua pemilik perahu yang benar-benar panik, tidak berpura-pura seperti dirinya.
“Tuan, bagaimana ini? Nona Lin pingsan,” ujar pria tua pemilik perahu khawatir.
“Sepertinya ia kedinginan,” jawab Erion.
Makhluk setengah dewa itu melepaskan pakaian luarnya untuk menyelimuti Nona Lin. Ia mendekap erat tubuh gadis itu. Hal itu membuat sang gadis yang tengah pura-pura tak sadarkan diri merasa menang dan tersenyum di dalam hatinya.
Namun, kemenangannya tidak berlangsung lama. Erion menempelkan pipi pada pipinya, hal itu sontak menjadikan hatinya semakin berbunga-bunga.
“Berhentilah berpura-pura, Nona ...,” bisik Erion.
Seketika, wajah Nona Lin merona saat mengetahui ternyata sandiwaranya diketahui oleh pemuda tersebut. Ia malu setengah mati. Tak ingin berlama-lama mempertahankan kebohongan yang sejak awal tidak berhasil. Nona Lin membuka matanya dan langsung membuang muka, menghindari tatapan pemuda yang sedari tadi memangkunya.
“Wah ... Tuan, Anda begitu hebat. Nona Lin langsung tersadar, apakah Anda seorang tabib atau Anda menggunakan sebuah sihir?” ujar pria tua pemilik perahu kagum kepada pria yang berpenampilan bak seorang bangsawan itu.
“Tuan, Anda terlalu berlebihan dalam memujiku. Bukan aku yang menyihir nonamu ini, tapi dialah yang menyihirku dengan kecantikan paripurnanya. Astaga, aku sempat berpikir bahwa Nona Lin adalah seorang dewi,” ungkap Erion kembali melancarkan rayuan kepada jelmaan Yuja Ariel itu.
Badai telah berhenti, ketiganya akan melanjutkan perjalanan. Saat hendak sampai pada tepi sungai, mereka didatangi sekelompok perampok. Orang-orang yang membawa s*****a tajam dan tak segan menghabisi para korbannya jika menolak untuk menyerahkan harta benda.
“Berhenti!” seru salah satu perampok yang ditengarai sebagai pimpinan kawanan tersebut. “Serahkan harta benda kalian!” gertaknya.
“Tuan, Anda salah sasaran. Kami hanyalah pengembara biasa bukan saudagar apa lagi bangsawan. Kami tidak memiliki harta benda apa pun, kecuali berlian paling berharga di dunia,” ungkap Erion.
Para kawanan perampok dibuat bingung dengan pernyataan makhluk setengah dewa itu. Pun dengan pria tua pemilik perahu dan Nona Lin juga terheran-heran. Bagaimana mungkin di hadapan sekawanan perampok ia justru memamerkan sebagai pemilik berlian paling berharga di dunia. Mereka berpikir Pria berpenampilan bangsawan itu tidak hanya bermulut besar, tetapi juga sudah tidak waras.
“Kalau begitu, serahkan berlian itu!” hardik ketua kawanan perampok.
Erion mendorong Nona Lin hingga beberapa ke depan. Menjadi pembatas antara dirinya dan para perampok itu. Hal itu justru membuat semua semakin bingung. Mereka benar-benar berpikir Erion sudah kehilangan akal dan hendak bersembunyi di balik punggung seorang perempuan.
“Lihat! Gadis ini adalah berlian paling berharga di dunia!” seru Erion memecah keheningan di antara mereka.
Para kawanan perampok saling menatap satu sama lain, mencerna perkataan calon korban mereka. Di sisi lain, Nona Lin tersipu malu. Di saat genting seperti itu, pemuda itu masih saja merayu seorang gadis. Dasar buaya.
“Dia adalah satu-satunya yang paling berharga. Ambil! Tapi sebelum itu ... langkahi dulu mayatku ....”
Makhluk setengah dewa itu melompat sangat tinggi, melewati sang gadis, hingga mendarat tepat di hadapan ketua kawanan perampok. Perkelahian pun tidak dapat diredam lagi. Erion melawan mereka hanya dengan tangan kosong. Ia mematahkan pergelangan tangan dan meninju wajah-wajah perampok itu. Akhirnya, mereka semua kabur dengan kaki yang pincang.
Usai menghajar sekawanan perampok. Erion datang pada Nona Lin dengan senyuman yang menggoda, membuat gadis itu tersipu malu. Kemesraan keduanya terpaksa terjeda saat pria tua pemilik perahu juga datang menghampiri keduanya.
“Tuan dan Nona, aku tidak ingin mengganggu kalian, tapi ... mari kita berangkat sebelum gelap!” ajak pria tua pemilik perahu pada keduanya.
Tiba-tiba saja, keadaan menjadi sangat canggung. Pria tua pemilik perahu yang menyadari bahwa di atas perahunya telah tumbuh benih-benih cinta pun ikut senang. Itu adalah peristiwa sekali seumur hidup yang pernah ia temui. Pemuda tampan dan gadis cantik, keduanya sungguh sangat serasi.
“Silakan, Nona ...!”
Pria tua pemilik perahu itu membantu penumpangnya turun dari perahu. Nona Lin telah sampai pada tujuannya. Sebuah padang yang ditumbuhi banyak Dandelion. Sejauh mata memandang tidak tampak ada rumah.
“Terima kasih, Tuan ...,” ujarnya pada pria tua pemilik perahu. “Tuan Erion, aku harap kita bisa bertemu kembali,” lanjutnya.
“Eeeeh ... siapa bilang aku akan ikut dengan pria tua ini. Siapa pun orangnya pasti lebih memilih gadis cantik dibandingkan pria tua bukan?”
Erion melompat dari perahu. Melemparkan sekantong koin emas yang pernah ia janjikan kepada pemilik perahu. Pria tua itu menangkap dengan sigap lalu terkekeh menerima upahnya yang sangat banyak.
“Terima kasih, Tuan!” seru pria tua pemilik kapal yang kemudian meninggalkan keduanya di tepi sungai padang Dandelion.
Perasaan gadis itu kini berkecamuk. Ia senang karena pemuda yang dikaguminya mengikuti dirinya, tetapi juga khawatir jika saudara sesama Yuja Ariel mengetahui keberadaan pemuda tersebut.
“Tuan, mengapa Anda mengikutiku?” tanyanya malu-malu.
“Nona, aku tidak sedang mengikutimu. Tapi, hatiku merengek ingin selalu dekat denganmu,” jawab Erion yang lagi-lagi mengeluarkan rayuan buayanya.
Keduanya berjalan beriringan, sesekali berlari saat tangan pemuda itu mengganggu gadis di sampingnya. Senda gurau bek sepasang kekasih pun tak lagi canggung mereka perlihatkan. Makhluk setengah dewa itu tidak sungguh-sungguh menaruh hati pada Nona Lin. Akan tetapi, rupanya hal itu tidak berlaku begi Nona Lin. Gadis itu benar-benar berpikir ada cinta yang tulus di antara mereka.
Semakin dekat dengan gua tempat tinggalnya bersama Yuja Ariel yang lain. Perasaan berbunga-bunga itu berubah menjadi perasaan was was. Timbul keraguan di setiap langkahnya. Ingin rasanya memutar arah dan pergi jauh. Namun, hal itu tidak dapat dilakukan.
Sudah lama ia tidak menemui kakak pertamanya—pemimpin dari Yuja Ariel. Jika hari ini ia tidak datang, maka dia akan diburu dan dihisap kekuatannya, sehingga tidak dapat reinkarnasi. Sungguh dilema yang luar biasa. Dirinya atau pria yang ia cintai.
“Nona Lin, akhirnya Anda datang!”
Wanita jelmaan Yuja Ariel lainnya tiba-tiba muncul. Mendengar seruan wanita tersebut, muncul lagi beberapa, lalu bertambah lagi. Keduanya kini berada di tengah-tengah kerumunan Yuja Ariel.
To be continued