TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 8
Tandu yang di dalamnya membawa seorang putri jenderal, menantu kaisar, diiringi oleh para pengawal dan dayang. Semua orang berebut paling depan ingin melihat iring-iringan putri yang malang itu karena telah dinikahkan dengan Pangeran Shonshan yang kejam dan pemabuk. Mereka yang memiliki anak gadis berharap putri mereka tidak akan pernah berjodoh dengan pria seperti Shonshan meski ia seorang pangeran sekali pun.
Tidak hanya rakyat yang tidak terima dan sangat menyayangkan gadis seperti Putri Anke dinikahkan dengan Pangeran Shonshan. Akan tetapi, gadis di dalam tandu itu pun sebenarnya tak terima dengan nasib yang sedang ia jalani. Baginya, ia hanya ingin menjadi isteri dari Pangeran Zaba yang merupakan adik tiri dari Pangeran Shonshan. Namun, apa mau dikata jika kaisar sudah memutuskan, ratu sekali pun tidak berani menolak. Kini, sepanjang perjalanan menuju istana ia hanya bisa terus menitikkan air mata, menangisi takdirnya, menangisi kandasnya jalinan cinta dengan Pangeran Zaba, juga mengutuk Pangeran Shonshan yang seolah senang dengan pernikahan itu.
“Pangeran, Putri Anke telah tiba di istana, tapi ...,” ujar kepala pelayan ragu.
“Tidak perlu mengatakannya, aku sudah tahu.”
Pangeran Shonshan rupanya telah mengetahui bahwa begitu sampai di istana orang pertama yang ditemui sang isteri bukanlah dirinya melainkan pangeran kedua yaitu Pangeran Zaba. Jika saat ini ia masih Shonshan yang dulu pasti ia akan segera murka. Akan tetapi, di dalam tubuh itu kini bukan lagi Shonshan yang dulu melainkan manusia setengah dewa—murid kedua pria sepuluh ribu tahun—calon tentara langit Aron. Ia yang telah mengetahui keberadaan sang isteri meski tak seorang pun telah memberi tahunya terlebih dahulu tidaklah murka karena cemburu. Namun, tujuan ia di sini bukan karena mempertahankan pernikahan, tetapi menolong gadis itu—Yuja Anke dan memperoleh mustika Yuja, sehingga ia dapat lulus ujian tingkat akhir.
“Pangeran, Anda hendak ke mana?” tanya pelayan yang sebenarnya tahu tujuan dari Pangeran Shonshan adalah istana Pangeran Zaba guna menjemput isterinya.
“Ke mana lagi? Istriku tersesat di istana yang besar ini hingga sampai ke istana adikku, maka sudah sepantasnya aku menjemputnya, bukan?” jawab Pangeran Shonshan tenang dan diakhiri senyuman. Pelayan di hadapannya begitu terkejut melihat untuk pertama kalinya pria itu menorehkan senyum di bibirnya yang biasanya hanya mengeluarkan u*****n, makian, dan mengeluh sepanjang hari.
“Pangeran, saya mohon tunggulah sebentar lagi pasti Putri Anke akan datang menemui Anda,” cegah sang pelayan yang meminta sang pangeran untuk bersabar sebentar saja.
“Kau takut aku membuat keributan, bukan? Jangan khawatir karena itu tak akan pernah terjadi.”
Lagi-lagi, pelayan yang telah melayani Pangeran Shonshan selama hampir tiga puluh tahun itu benar-benar tercengang. Sang pangeran seperti baru saja membaca pikirannya. Ia kini hampir tak mengenali siapa sosok dengan jubah putra kaisar tersebut. Seperti orang lain, tetapi sangat tenang dan dewasa, kembali dari kematian rupanya menjadikan Pangeran Shonshan seorang yang baru dilahirkan.
Pangeran Shonshan melarang siapa pun untuk mengikuti dirinya bertandang ke kediaman Pangeran Zaba. Tak seorang pun berani membantah perintahnya. Ia pun memantapkan niat melangkah menuju bangunan tak kalah megah dengan tempat tinggalnya yang hanya berada di seberang sana.
“Pangeran, Putri Anke ada di sini meminta untuk bertemu,” ungkap seorang pelayan kepada Pangeran Zaba yang sudah dua hari tak memejamkan mata karena memikirkan Putri Anke—kekasihnya yang telah dinikahi oleh Pangeran Shonshan. Ia juga menolak menyentuh makanan selama itu. Wajahnya pucat dan tampak seperti mayat hidup.
“Untuk apa dia ke sini?” tanya Pangeran Zaba dengan nada suara yang lemah.
“Pangeran Zaba!”
Sang putri rupanya tak sabar menunggu di luar dan segera menerobos masuk. Ia melihat betapa pria yang dikasihinya tampak begitu kacau. Dalam hati ia mengutuk si pembuat masalah—Pangeran Shonshan karena begitu egois dengan menikahi dirinya. Sementara di sini ada seorang pria yang tengah patah hati dan menyiksa diri sendiri.
“Putri Anke, apa yang kau lakukan di tempat ini? Bukankah seharusnya kau berada di istana suamimu?”
“Pangeran Zaba, jangan menyebut orang itu suamiku, aku hanya ingin menjadi istrimu,” rengek Putri Anke yang tak terima disebut sebagai isteri dari Pangeran Shonshan.
Keduanya pun berpelukan melepas rasa rindu disertai rasa kecewa pada takdir yang menimpa kisah cinta yang kini telah kandas. Namun, yang mereka lakukan saat ini adalah kesalahan. Biar bagaimana pun sang gadis telah menjadi isteri pria lain dan sungguh tak elok di hari pertamanya yang seharusnya datang ke kediaman suaminya, ia justru mendatangi kekasihnya seperti sekarang ini.
“Pangeran, aku minta maaf karena tak datang ke gerbang selatan. Kau pasti menunggu hingga fajar, lihat dirimu! Kau tampak sangat kacau dan pucat. Apa kau sakit?” Pangeran Zaba menggeleng. “Darah bangau itu tak seperti yang diceritakan oleh legenda, tidak ada yang bisa menjadi peri,” lanjut Putri Anke yang semakin membuat Pangeran Zaba semakin bingung.
“Putri, apa yang kau bicarakan? Gerbang selatan apa? Darah bangau dan peri? Putri, kau pasti sangat tertekan dan bermimpi buruk, duduklah!”
Mendengar tanggapan dari lawan bicaranya, kini Putri Anke yang menjadi bingung. Ia tak mengerti mengapa Pangeran Zaba tak mengerti dengan semua ceritanya, bukankah selir agung sendiri yang telah mengatakan bahwa Pangeran Zaba lah yang meminta ia meminum darah bangau putih lalu pergi ke gerbang selatan.
“Pangeran, kau tak mengerti? Kalau begitu ayo kita temui selir agung!”
“Tunggu, Putri!”
“Kenapa, tunggu apa lagi?”
“Sebaiknya kita tidak ke sana. Saat ini kau adalah isteri dari Pangeran Shonshan. Bagaimana jika orang-orang melihat kau berkunjung ke sini di hari pertamamu tinggal di istana lalu kita berjalan beriringan ke istana selir agung. Apa—apa yang dikatakan orang tentang kita dan selir agung nanti?”
“Sudah kubilang sampai mati aku hanya ingin menjadi istrimu bukan isteri orang itu!”
Putri Anke sungguh sangat kecewa mendengar betapa takutnya sang pangeran jika reputasi keluarganya terutama selir agung tercoreng. Ia pun meminta Putri Anke untuk kembali ke istana Pangeran Shonshan. Meski Pangeran Zaba menjanjikan jalan keluar yang akan dipikirkannya dengan sang ibu. Akan tetapi, Putri Anke merasa dirinya tak lagi diinginkan oleh mereka.
Semua ini salah Pangeran Shonshan, begitulah yang ada di pikiran sang putri, ia berjalan keluar dari istana Pangeran Zaba. Langkahnya gontai, memikirkan perkataan sang kekasih yang seolah-olah tak lagi mengharapkan dirinya. Kini, ia harus kembali ke kediaman suami yang sama sekali tak ia inginkan dan sangat dibencinya.
“Sudah bertemu dengannya, Putri Anke?”
Suara yang begitu mengejutkan. Tiba-tiba Pangeran Shoshan telah berada di depan Putri Anke dan rombongannya. Pria itu tersenyum ramah, sangat berbeda dengan rumor yang beredar, yang mengatakan bahwa dirinya adalah mahkluk dingin yang selalu marah pada siapa pun. Kendati demikian, Putri Anke dibutakan oleh kebencian terhadap dirinya dan masih meyakini bahwa semua hal buruk yang terjadi penyebabnya adalah dirinya.
“Kenapa kau di sini?” tanya Putri Anke dengan ketus.
“Menjemput istriku. Kenapa kau di sini?”
“Kau ...!”
Putri Anke bingung harus menjawab apa. Ia memang punya alasan tersendiri datang ke tempat itu. Akan tetapi, alasan itu tak dapat ia beritahukan pada siapa pun apa lagi pada pria menyebalkan yang kini berada di hadapannya dengan ekspresi wajah yang selalu terlihat menyebalkan di matanya.
Gadis itu tak punya pilihan lain selain ikut Pangeran Shoshan ke istananya. Keduanya disambut dengan tradisi istana di mana pengantin baru yang baru saja kembali dari rumah mempelai wanita harus menjalani berbagai ritual. Wajah tak ikhlas dan kesal terpampang jelas pada raut gadis itu. Putri Anke yang selama ini dikenal lembut dan ramah tak tampak lagi selama upacara berlangsung.
Mempelai pria bukan tak menyadari akan hal itu. Sebagai manusia setengah dewa ia bahkan tahu isi hati dan pikiran gadis keturunan Yuja tersebut. Akan tetapi, ia telah bertekad untuk menolong Yuja tersebut sesuai perintah dari pria sepuluh ribu tahun. Untuk itu, apa pun yang dilakukan dan dikatakan gadis yang baru saja dinikahinya tersebut, tidak akan membuat niatnya urung apa lagi mundur.
Usai melalui berbagai ritual, kini keduanya memiliki waktu bersama di dalam bilik kamar pengantin. Malam pertama yang sempat tertunda karena insiden mengerikan itu tampaknya akan berlanjut malam ini. Sekarang Putri Anke mau tidak mau harus menerima Pangeran Shoshan untuk menjadi suaminya karena kekasihnya telah menyerah terhadap hubungan keduanya.
“Pangeran Shoshan, aku bukan wanita yang seperti diceritakan orang. Saat malam pertama kita waktu itu kau telah melihat sendiri seperti apa aku yang sebenarnya. Aku adalah Yuja. Jadi, mohonlah pada kaisar agar membatalkan pernikahan ini, katakan padanya bahwa aku tak layak untuk menjadi istrimu.”
“Bagaimana jika aku tetap menerimamu?”
“Pangeran, kau seorang pangeran negeri ini. Akan sangat tidak lucu jika kau mati karena memperistri seorang Yuja.”
“Apa kau begitu sangat membenciku sampai ingin membunuhku? Putri?”
“Jadi, meski aku seorang Yuja kau masih tetap ingin mempertahankan pernikahan ini, begitu, ha?!”
Putri Anke dikuasai amarah dan kebencian luar biasa terhadap Pangeran Shoshan. Ia tak ingin menerima pernikahan ini. Hampir tengah malam, lagi-lagi gadis cantik nan anggun itu mulai mengubah wujudnya menjadi sangat mengerikan. Mungkinkah setiap malam pasangan pengantin baru itu akan terus berkelahi dan berakhir dengan Pangeran Shoshan yang menyerahkan dirinya untuk dihisap darahnya oleh Putri Anke agar sang Yuja melemah dan kembali menjadi manusia.
“Kenapa selalu seperti ini?” tanya Putri Anke saat tubuhnya semakin melemah setelah menghisap darah suaminya.
“Kau akan tahu nanti. Aku hanya punya satu permintaan padamu, jika kau merasa ingin darah manusia, jangan membunuh orang. Datanglah padaku, hanya padaku.”
Gadis itu mulai tertidur. Tenaganya terkuras habis setelah darah manusia dewa itu berhasil meredakan reaksi liar dan brutal Yuja yang ada pada dirinya. Sementara itu, Pangeran Shonshan meletakkan kepala Putri Anke perlahan di atas bantal agar ia dapat tidur dengan nyaman. Ini adalah permulaan dari semuanya. Hal pertama yang harus dilakukan Aron sebagai Pangeran Shonshan adalah meluluhkan hati Putri Anke. Hal itu tentu tidaklah mudah, mengingat Putri Anke sangat membenci sosok Pangeran Shoshan.
Aron sendiri berkali-kali menghela napas. Kenapa harus tubuh Pangeran Shoshan yang ia pinjam. Orang ini semasa hidupnya selalu berbuat onar dan tidak disukai maupun menyukai orang. Image yang sudah terlanjur melekat sangat sulit untuk diubah.
Keesokan harinya, saat Putri Anke terbangun karena pelayan yang datang untuk melayaninya membangunkan tubuh lelahnya. Ia tak melihat sosok Pangeran Shoshan yang seharusnya malam itu juga tidur di kamar dan ranjang yang sama. Ini adalah hari ketiga mereka menjadi suami isteri tetapi tak sekali pun malam pertama keduanya berjalan semestinya.
Rumor di istana sangat cepat menyebar hingga sampai ke telinga selir agung. Wanita dengan kekuasaan kedua setelah ratu itu kini merasa menang. Si gadis yang sebenarnya seorang Yuja benar-benar tergila-gila pada putranya hingga sampai sudah diperistri pria lain pun masih menjaga kesucian dirinya.
“Hahahah! Apa yang sedang kau harapkan, Putri? Sebentar lagi semua orang akan tahu kau seorang Yuja yang membunuh Pangeran Shoshan—suamimu. Hahah!”
“Ibu.”
“Pangeran Zaba, sedang apa kau di sini?” Selir agung terkejut ketika tiba-tiba sang putra berada di ruangannya.
“Ibu, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Tanyakan? Tentang apa itu?”
“Beberapa hari yang lalu Putri Anke mengunjungiku di istana. Ia mengatakan hal yang tak bisa kupahami. Ia menyebutkan darah bangau dan gerbang selatan, peri apa lah itu.”
Wanita itu sangat terkejut. Bagaimana mungkin Putri Anke berani berkunjung ke istana putranya di saat sudah menikah dengan Pangeran Shoshan. Jika sampai gadis itu menceritakan semuanya kepada Pangeran Zaba, maka ia akan ketahuan jika sudah berbuat licik pada keduanya. Tak ada cara lain. Kini ia hanya bisa berharap sang putra akan mempercayai ucapannya.
“Pangeran Zaba, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu. Tapi sepertinya tidak adil jika kau sendiri tidak mengetahuinya. Kebenaran tentang Putri Anke.”
“Kebenaran? Tantang apa, Bu?”
“Sehari sebelum pernikahan, Putri Anke datang padaku meminta jalan keluar agar bisa menghindari pernikahan itu. Akan tetapi, aku tidak berani melawan titah kaisar. Akhirnya, kami pergi ke dukun untuk mendapatkan darah bangau putih. Legenda mengatakan jika seorang gadis yang masih perawan meminum darah bangau putih saat malam pertama pengantin, ia akan berubah menjadi peri. Ini sangat terkenal dan mujarab digunakan oleh para gadis yang menolak dipaksa menikah. Tapi—“
“Tapi apa, Bu?”
“Pangeran bisa lihat sendiri bukan? Tidak terjadi apa-apa pada Putri Anke.”
“Itu berarti?”
“Ada dua kemungkinan. Pertama, Putri Anke menolak meminum darah bangau putih itu karena ingin menjadi permaisuri di kemudian hari dengan menikahi Pangeran Shoshan atau kemungkinan yang kedua, Putri Anke sudah tidak suci lagi saat meminum darah bangau putih itu.”
Pangeran Zaba tidak tahu bahwa yang dikatakan selir agung tak sepenuhnya benar. Selir agung bahkan tak menyebutkan mengenai Yuja dan kebenciannya terhadap Putri Anke juga ibunya. Ia mencoba meracuni otak putranya agar juga membenci Putri Anke seperti dirinya. Sekarang ini, Pangeran Zaba sedang memikirkan dua kemungkinan tersebut. Jika kemungkinan pertama benar, untuk apa Putri Anke datang menemui dirinya di hari pertama masuk istana? Namun jika kemungkinan kedua yang benar, bagaimana mungkin? Selama menjalin cinta dengan dirinya, ia tak pernah sekali pun membawa Putri Anke ke peraduan layaknya suami isteri.
Wanita dengan penuh kebohongan dan kelicikan itu tersenyum melihat perubahan raut wajah putranya. Tampaknya ia begitu yakin akan berhasil mempengaruhi Pangeran Zaba dengan mudah. Sebagai pangeran kedua, tahta adalah tidak mungkin. Akan tetapi, sebentar lagi akan tersiar kabar bahwa pangeran kesatu meninggal dunia karena digigit Yuja. Ya, sang isteri adalah seorang Yuja dan selir agung mengetahui hal itu sudah sejak lama.
Di istana Pangeran Shoshan ....
“Berhentilah berbuat baik padaku. Semua orang tahu kau bukan orang baik. Bahkan jika kau bukan seorang pangeran, dunia ini tidak ada tempat bagimu,” ketus Putri Anke pada suaminya.
“Aku minta maaf.”
“Apa?!”
“Aku mohon maafkan aku.”
“Apa—apa—apa?! Apa aku tak salah mendengar? Seorang Pangeran Shoshan meminta maaf?”
“Benar, aku Pangeran Shoshan dan aku meminta maaf padamu, Putri Anke.”
Gadis itu memalingkan wajah, tetapi otaknya memaksa untuk berpikir, benarkah pria ini adalah Pangeran Shoshan yang diceritakan orang-orang? Mengapa begitu berbeda sejak hari pernikahan pria ini tak sekali pun berkata atau bersikap kasar pada dirinya. Pria yang dimaksud orang-orang mungkinkah Pangeran shoshan yang lain? Ada berapakah Pangeran shoshan di dunia ini? Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berputar-putar di dalam kepalanya.
“Tidak perlu bingung. Aku datang bukan untuk menikahi dirimu apa lagi memisahkan kau dengan Pangeran Zaba. Aku datang karena perintah untuk menyelamatkanmu.”
“Menyelamatkanku? Omong kosong apa ini?”
“Pangeran Shoshan yang sebenarnya telah meninggal di malam sehari sebelum pernikahan. Aku hanya meminjam tubuhnya sampai misiku menyelamatkanmu selesai.”
“Hah! Dewa maut pasti batal mencabut nyawamu karena kau gila dan bodoh,” ungkap Putri Anke tak percaya pada lawan bicaranya. “Lagi pula, menyelamatkan dari apa? Satu-satunya masalah dalam hidupku adalah karena menikah denganmu.”
Meski Aron telah mengakui bahwa dirinya buka Pangeran shoshan yang sebenarnya dan hanya meminjam raga dari pada sang pangeran, tetapi Putri Anke hanya menganggap itu adalah karangan cerita untuk memperdaya sang putri. Sulit sekali rupanya meyakinkan gadis itu. Berkali-kali berbuat baik dan bersikap ramah pun hanya akan dianggap sebagai modus belaka. Akan tetapi, Aron tak akan menyerah semudah itu. Keempat saudara seperguruannya saat ini pasti juga tengah berjuang untuk menyelesaikan ujian sama seperti dirinya.
Dibandingkan ujian yang harus diselesaikan Zukho, ujian Aron bukan apa-apa. Setidaknya ia tidak harus pergi ke alam baka dan bertemu dengan Yuja Mengpo. Lagi pula, siapa yang bisa kembali dalam keadaan hidup jika sudah bertemu dengan makhluk penjaga padang pasir alam baka tersebut. Untuk itu, menghadapi Putri Anke ia harus lebih bersabar. Putri Anke hanya Yuja kecil yang lahir dari rahim manusia biasa, tentu tak sebanding dengan Yuja Terkuat di dunia yaitu Yuja Mengpo.
“Seseorang yang telah kau percaya adalah orang yang mencelakakan dirimu. Dia berbohong padamu, sejak awal dia sudah tahu bahwa kau seorang Yuja.”
“Apa?! Aku seorang Yuja? Hei, Tuan. Kuberitahu, ya. Di dunia ini tidak ada Yuja yang kedua orangtuanya adalah manusia. Kau juga ingin menuduh Jenderal Bailu dan isterinya yang tak lain dan tak bukan ayah ibuku seorang Yuja juga, begitu maksudmu?”
“Maaf membuatmu kecewa, Putri. Tapi, mereka bukan orang tua kandungmu.”
To be continued