TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 7
Yuja Anke. Selama hidupnya tidak pernah melakukan karma buruk. Ia ditemukan oleh pria yang ia panggil sebagai Ayah di saat perjalanan kepulangan para pasukan dari medan perang. Jenderal Bailu yang telah berhasil memenangkan pertempuran lagi-lagi membawa kejayaan untuk negeri tercinta.
Di tepi sungai yang terletak di tengah hutan, Jenderal Bailu dan para pasukan beristirahat. Euforia kemenangan tampak jelas pada suasana itu. Guci dan gelas berisi arak menjadi satu-satunya sajian ternikmat saat merayakan pesta kemenangan. Sorak-sorai para pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa di medan perang itu pun memecah keheningan hutan. Namun, lamat-lamat terdengar suara tangisan bayi yang menyusupi indera pendengaran sang jenderal.
“Kau dengar itu?” tanya sang jenderal pada komandan di sebelahnya dengan salah satu tangan memberikan isyarat agar yang lain lebih tenang.
“Jenderal, apakah ada penyusup?” Sang komandan pun justru balik bertanya karena ia sendiri tak mendengar apa pun. Hanya keriuhan para prajurit yang tertawa serta bercerita mengenai perang yang baru saja mereka lalui.
“Bukan, itu suara tangisan. Tangisan seorang bayi.”
Meyakini apa yang didengarnya, Jenderal Bailu pun mencari sumber suara yang ia duga merupakan suara tangisan bayi. Ia pun menyusuri tepian sungai hingga ke hulu. Menyibakkan rimbunnya semak dan belukar yang menghalangi jalan maupun pandangan. Di tengah benderangnya bulan penuh, cahaya bulan menerobos ke dalam hutan. Tiga prajurit termasuk komandan lainnya turut menerangi langkah sang jenderal dengan obor masing-masing di tangan mereka.
Tangan kiri sang jenderal diangkat sebatas bahu memberi tanda agar menghentikan langkah. Ternyata di depan sana, benar-benar ada seorang bayi perempuan seperti baru saja dilahirkan. Sementara di samping tubuh bayi itu terdapat genangan darah dan kain yang tercabik-cabik. Dugaan kuat, ibu sang bayi yang dalam keadaan lemah setelah melahirkan telah dimangsa oleh Yuja penunggu hulu sungai. Sementara sang bayi dibiarkan begitu saja. Melihat pemandangan memilukan itu, Jenderal Bailu pun mengangkat tubuh sang bayi lalu membungkusnya dengan jubah yang ia kenakan agar si bayi tak merasakan dinginnya angin dan udara malam.
Sejak hari itu, ia telah memiliki putri kesayangan yang ia beri nama Putri Anke. Baik ia maupun istrinya sangat mencintai anak tersebut meski tak lahir langsung dari rahim sang istri. Keduanya telah puluhan tahun menikah, tetapi tidak dikaruniai seorang anak pun. Bahkan saat Jenderal Bailu mengambil selir dari berbagai negeri tak satu pun dari mereka mampu mengandung darah daging sang jenderal. Di tengah rasa pasrah tak akan pernah memiliki keturunan, hadirlah Putri Anke yang tidak ia ketahui bahwa bayi yang sekarang tumbuh menjadi gadis cantik jelita itu adalah Yuja.
Cantik bagaikan dewi, cerdas bagaikan cendikiawan, bijaksana bagaikan ratu. Putri Anke dibesarkan oleh manusia yang bergelar jenderal dan berstatus bangsawan. Ia pun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya adalah Yuja. Konon, hal seperti itu adalah terjadi ketika Yuja telah menikahi manusia makanya sang anak tetaplah Yuja, tetapi memiliki sisi kemanusiaan.
Putri Anke tumbuh bersama dua pangeran, yaitu Pangeran kesatu—Pangeran Shoshan dan Pangeran kedua—Pangeran Zaba. Dua pangeran yang sama-sama putra dari selir kaisar. Ibu dari Pangeran Shoshan telah meninggal dunia. Sementara Ibu dari Pangeran Zaba yang berhati picik bergelar selir agung menggantikan selir agung sebelumnya yaitu wanita yang telah melahirkan pangeran kesatu.
Berbeda dengan sang Ibu, pangeran kedua yaitu Pangeran Zaba tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan bijaksana. Selalu taat peraturan dan menyelesaikan tugas dengan baik. Ia bahkan menjadi murid teladan di sekolah istana di mana Putri Anke yang merupakan putri dari seorang jenderal juga bersekolah di tempat tersebut. Sering bertemu dan tak ada jarak di antara keduanya, Putri Anke dan Pangeran Zaba diam-diam menjalin cinta.
Sementara pangeran kesatu yaitu Pangeran Shoshan menjadi kebalikan dari pada putra selir agung. Setelah sang ibu meninggal dunia, ia menjadi pribadi yang kasar, pemabuk, dan gemar membuat onar. Sebenarnya ia mengetahui bahwa tinggal di istana hanya sedang menunggu kapan akan dibunuh. Begitulah yang terjadi pada ibunya. Sebuah konspirasi jahat telah membuat nyawa selir agung terdahulu melayang dan meninggalkan putra kesayangan seorang diri.
Melihat kelakuan Pangeran shoshan yang semakin tak terkendali, sang kaisar pun tak abai. Setelah berdiskusi dengan konsultan negara, akhirnya istana mengatur pernikahan Pangeran Shoshan. Dengan adanya pernikahan itu Kaisar berharap putranya akan belajar bertanggung jawab. Oleh sebab itu, dipilihlah calon istri Pangeran Shoshan yaitu putri dari Jenderal Bailu—Putri Anke. Tidak ada yang tahu hubungan Putri anke dan Pangeran Zaba, kecuali selir agung, hingga saat keputusan kaisar itu diumumkan keduanya pun terkejut setengah mati.
Walaupun begitu, selir agung si muka dua masih berpura-pura akan membantu Putri Anke untuk menolak keputusan tersebut. Padahal, selir agung sangat membenci keluarga Jenderal Bailu. Selama ini, ia telah berpura-pura menyetujui hubungan Putri Anke dan putranya. Akan tetapi, ia juga yang meminta keduanya menyembunyikan hubungan tersebut hingga waktunya tepat. Dari awal ini merupakan rencana liciknya agar siapa pun tak tahu mengenai hubungan Putri Anke dan putranya sampai ia sendiri yang berhasil memisahkan keduanya.
Kini, rupanya sebelum selir agung turun tangan rupanya kaisar telah membuat keputusan mengejutkan yang membuatnya tertawa puas. Kendati demikian, Putri Anke dan putranya telah terlanjur percaya pada dirinya bahwa selama ini ia berharap Putri Anke akan menjadi menantunya, bersanding di pelaminan bersama Pangeran Zaba.
“Ibu, bagaimana ini? Bicaralah pada kaisar bahwa yang seharusnya menikah dengan Putri anke adalah aku,” desak Pangeran Zaba terhadap selir agung.
“Selir agung, saya tidak ingin menikah dengan siapa pun kecuali dengan Pangeran Zaba—putramu,” ucap Putri anke menimpali.
“Putraku—Pangeran Zaba, Putri Anke, aku bukan tidak ingin membantu kalian, tetapi ini perintah kaisar siapa yang berani menentang kaisar akan dianggap sebagai pemberontak,” tolak selir agung dengan halus disertai air mata buaya untuk membuat keduanya percaya bahwa dirinya turut merasakan kesedihan dan ketakutan mereka berdua.
Malam hari, sehari sebelum pernikahan ....
“Pangeran, Pangeran bangunlah ...!”
Tangis pilu terdengar dari istana Pangeran shoshan. Pemuda yang gagah yang setiap hari menenggak arak itu kini terkulai di atas ranjang berselimut sutra. Sebelumnya ia tidak mengeluh sakit apa pun. Namun, seorang pelayan menemukan sang pangeran tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Dugaan sebelumnya adalah pangeran terlalu banyak minum sehingga tak sadarkan diri. Akan tetapi, tabib yang memeriksanya mengkonfirmasi bahwa tidak ada bau minuman pada mulut pemuda itu.
Kaisar bergegas datang melihat keadaan putranya. Pangeran Shoshan benar-benar tak berdaya, ia koma dan harapan hidup untuk melewati malam ini adalah nyaris tidak mungkin. Delapan belas tabib dikerahkan dan semuanya memohon ampun karena menyerah pada kondisi Pangeran Shoshan. Di tengah kegentingan itu, kaisar memerintahkan untuk merahasiakan ini sebelum ada kepastian mengenai hidup atau mati putranya. Bahkan pada keluarga Jenderal Bailu yang saat ini tengah menyiapkan upacara pernikahan, semua orang diminta menutup mulut.
“Putri, dia tidak akan datang,” bisik seorang pelayan pada Putri Anke yang saat ini berada di kamar yang telah dihiasi pernak pernik pernikahan.
“Benarkah?”
“Benar, Putri. Pangeran Shoshan tidak akan sanggup untuk menghadiri pernikahannya sendiri,” lanjut sang pelayan.
“Apa yang terjadi?”
“Pangeran Shoshan ditemukan tak sadarkan diri di istananya. Tabib bilang ia bahkan tak akan bisa melewati malam ini.”
Benar-benar sebuah berita besar dan bahagia. Jika benar malam ini Pangeran Shoshan meninggal dunia maka Putri Anke tidak harus menikahi pria lain selain Pangeran Zaba. Ia tak sabar menunggu pagi hari tiba dan mendengar terompet berduka dari menara istana pertanda Pangeran Shoshan telah meninggal dunia.
Sementara itu, di atas awan hitam seorang manusia dewa telah bersiap menjalankan ujian naik tingkatnya. Aron—murid ketiga dari Perguruan Kaki Tentara Langit tampaknya tengah menunggu sukma yang akan meninggalkan tubuh manusia. Sudah berhari-hari ia mengawasi polemik yang terjadi. Yuja yang harus ia selamatkan adalah Putri Anke. Akan tetapi, karena Aron dulu juga sukma yang hilang, ia tak bisa turun ke bumi sebagai manusia. Yang dapat ia lakukan adalah meminjam tubuh manusia yang baru saja meninggal dan manusia yang dimaksud adalah Pangeran Shoshan.
“Yang mulia Pangeran tiba ...!”
Keluarga Jenderal Bailu yang benar-benar tidak tahu akan keadaan Pangeran Shoshan pun menyambut dengan kesiapan segalanya sang mempelai pria. Petasan dan kembang api dinyalakan. Iringan musik dan tari-tarian pun meramaikan upacara pernikahan putri dan pangeran negeri ini. Namun, ada seorang yang sangat terkejut mendengar mempelai pria telah tiba.
Putri Anke yang berpura-pura tidak tahu tentang kematian Pangeran Shoshan pun berdandan selayaknya pengantin wanita yang telah menunggu kedatangan mempelai pria. Tangannya gemetar, ia tak percaya jika yang datang benar-benar Pangeran Shoshan. Ia kembali mempertanyakan kebenaran kabar yang disampaikan pelayannya tentang wafatnya pangeran.
“Bukankah kau bilang dia telah mati?”
“Benar, Putri. Bahkan kaisar meminta pelayan istana pangeran untuk memesan peti mati saat hari masih gelap tadi.”
“Lantas, siapa mempelai pria yang datang sekarang? Apa yang sudah mati bisa hidup lagi?”
Pelayan itu ketakutan dan tak bisa menjawab pertanyaan sang putri. Namun, benar adanya bahwa yang datang sebagai mempelai pria adalah Pangeran Shoshan. Putri Anke mengambil botol guci kecil pemberian dari selir agung yang sudah hampir ia buang karena ia yakin tanpa menjalankan rencana sebelumnya, Pangeran Shoshan tidak akan datang ke upacara pernikahan mereka karena telah meninggal dunia.
‘Ini adalah darah bangau putih. Konon jika seorang wanita yang masih perawan meminum darah bangau ini ia akan berubah menjadi peri dan kau bisa pergi dan akan kembali menjadi manusia saat bulan purnama tiba. Begitu berubah menjadi peri, datanglah ke gerbang selatan istana katakan pada penjaga yang mengenakan syal merah di lehernya maka ia akan menyampaikan pesan pada Pangeran Zaba dan kalian bisa hidup bersama.’
Putri Anke teringat akan pesan selir agung. Di tangannya kini ada sebotol darah bangau putih itu. Ia begitu percaya bahwa jalan keluar yang diberikan oleh selir agung adalah satu-satunya saat ini setelah Pangeran Shoshan bangkit dari kematian dan hendak menikahinya hari ini juga. Dibukanya penutup botol yang terbuat dari kain tersebut, lalu tanpa ragu ia menenggak cairan merah berbau anyir tersebut.”
“Memberi hormat pada langit!”
“Memberi hormat pada orang tua!”
“Saling memberi hormat!”
Pangeran Shoshan dan Putri Anke kini telah sah menjadi suami isteri. Jenderal Bailu menitikkan air mata juga sang isteri. Keduanya tak sanggup melawan titah kaisar atas pernikahan putri mereka. Namun, mereka tahu betul tabiat sang pangeran bagaikan harimau lapar. Ini sama saja memberikan putri mereka sebagai mangsa bagi harimau yang kelaparan. Putri kesayangan kini telah melepas masa lajang dengan pria kasar dan kejam seperti Pangeran Shoshan.
“Yang Mulia, saya punya permintaan,” ujar Jenderal Bailu.
“Ayah mertua, katakan saja!”
“Tolong, perlakukan putriku dengan baik. Bersikap lembutlah padanya maka Anda boleh membawanya pergi dari rumah ini esok hari,” ujar Jenderal Bailu penuh harap yang ia tahu pasti permintaannya adalah hal yang tak mungkin dikabulkan oleh Pangeran Shoshan.
Malam pengantin pun tiba. Akan tetapi, Putri Anke masih belum berubah menjadi peri. Darah bangau putih hanya bekerja jika yang meminumnya adalah seorang gadis yang masih perawan. Itu yang selama ini diyakini. Pun dengan Putri Anke yang sangat yakin bahwa dirinya adalah seorang perawan. Ia belum pernah melakukan hubungan intim dengan pria mana pun termasuk dengan Pangeran Zaba—kekasihnya.
Tiba-tiba, putri Anke tak bisa menahan kantuk. Ia berusaha sekuat tenaga membuka kedu kelopak mata dan tetap terjaga. Gadis itu takut jika sampai tertidur maka saat Pangeran Shosan masuk ke kamar itu, sang pangeran akan menjamah tubuhnya. Meski telah sah menjadi sepasang suami istri, Putri Anke masih tak rela menyerahkan tubuhnya pada pria yang kini telah menjadi suaminya. Bertahan sekuat tenaga, akhirnya ia pun tumbang di atas tempat tudur pengantin bernuansa serba merah.
Pintu itu berderit. Seorang pria baru saja masuk dan menutup pintu kembali. Tak lupa ia menyisipkan balok kayu untuk menguncinya. Berjalan perlahan, setiap langkahnya hampir tak terdengar. Maka, sampailah ia di tepi ranjang pengantin dan mendapati mempelai wanita tengah tertidur di atas ranjang tersebut. Saat hendak menyentuh bahu wanita itu tiba-tiba ....
Mata gadis itu membelalak dengan bola mata berwarna merah menyala. Kuku-kuku tajam menyerupai cakar tumbuh di semua jari. Urat-urat pembuluh darah pun timbul di sekujur tubuh bahkan wajah serta gigi yang semula indah dan rata menumbuhkan empat taring tajam. Putri Anke telah berubah menjadi Yuja karena meminum darah bangau putih pemberian dari selir agung. Legenda jika seorang perawan akan menjadi peri setelah meminum darah bangau putih adalah bualan selir agung semata dan Putri Anke mempercayainya.
Kini, Yuja yang tidak pernah berbuat karma buruk itu telah memperlihatkan wujud aslinya dan siap memangsa manusia. Ini adalah jebakan. Sejak awal, selir agung telah mengetahui bahwa Putri Anke adalah seorang Yuja. Ibu dari Putri Anke merupakan adik tiri selir agung yang pergi meninggalkan rumah karena menikah dengan Yuja dan melahirkan anak yaitu Putri Anke. Sejak kepergian adik tiri tersebut, selir agung terus disalahkan karena tidak mampu menjaga sang adik dengan kekuasaannya sebagai selir kaisar. Kebencian terhadap adik tiri pun berkesinambungan pada sang putri yang tidak tahu masalah keduanya.
Terjadilah perkelahian di antara Putri Anke dan Pangeran Shonshan yang sebenarnya di dalam tubuh tersebut adalah manusia setengah dewa—Aron. Pertama kali menjadi Yuja, Putri anke sangatlah brutal dan liar. Ia hanya ingin darah, darah, dan darah. Itulah mengapa tugas Aron adalah menolong Yuja tersebut karena semasa hidup tak pernah berbuat karma buruk kini Putri Anke dijebak agar membunuh manusia terus menerus karena haus darah. Dengan begitu citra sebagai Yuja yang tak pernah berbuat karma buruk akan sirna, itulah tujuan selir agung.
Akan tetapi, diketahui bahwa darah manusia setengah dewa mampu menghentikan Yuja yang tengah kambuh seperti yang dialami oleh Putri anke saat ini. Untuk itu, Pangeran Shonshan membiarkan isterinya itu menghisap darahnya dan benar saja, Putri Anke pun melemah, lalu kembali menjadi manusia. Dibopongnya tubuh lemah sang isteri lalu meletakkan perlahan kembali ke atas ranjang.
“Mengapa kau melakukan ini, Putri Anke?”
“Aku tak ingin menjadi isterimu,” jawab Putri Anke dengan suara yang sangat lemah.
Gadis itu kelelahan dan kehilangan banyak tenaga hingga kembali tertidur. Di dalam mimpinya ia hanya melihat Pangeran Zaba dan kenangan indah keduanya saat menjalin kasih. Kemudian di akhir mimpi, Pangeran zaba mengatakan bahwa telah menunggu di gerbang selatan istana. Sontak, Putri Anke pun terbangun dan cahaya mentari sudah hangat menelusup ke dalam kamar pengantin tersebut. Gadis itu gelagapan. Sudah pagi dan ia tidak pergi ke pintu gerbang selatan istana. Ia menyangka bahwa Pangeran Zaba benar-benar menunggunya di sana semalaman.
Melihat sekeliling, Putri Anke tak mendapati sosok Pangeran Shonshan di kamar itu. Ia mulai mengingat kejadian semalam di mana keduanya tengah berkelahi dan dia menghisap darah pria yang kini adalah suaminya. Tak dapat dipercaya memang ketika berharap menjadi peri dan bisa pergi dengan Pangeran Zaba, Putri anke justru berubah menjadi Yuja dan berkelahi dengan Pangeran Shonshan.
“Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku berubah menjadi mahkluk yang mengerikan. Bagaimana ini?”
Putri Anke berlari pada cermin besar di depan meja riasnya. Ia masih mengenakan pakaian pengantin lengkap beserta hiasan kepala yang sedikit rusak karena perkelahian itu. Wajahnya cantik, matanya indah, semua seperti sebelumnya. Hal itu membuat ia semakin bingung dan mengira kejadian malam itu hanyalah mimpi buruk karena ia sangat membenci Pangeran shonshan.
Seorang pelayan masuk untuk membantunya membersihkan diri. Pelayan itu menyampaikan bahwa Pangeran shonshan sudah kembali ke istana lewat tengah malam saat Putri Anke tengah tertidur. Hari ini juga Putri Anke harus menyiapkan diri pergi ke istana Pangeran Shonshan dan tinggal di sana sebagai isteri dari putra kaisar. Meski istana Pangeran Zaba dan istana Pangeran Shonshan hanya berseberangan, tetapi Putri Anke tak diperkenankan berkunjung ke istana Pangeran Zaba untuk hal yang tidak penting karena itu akan terlihat memalukan sebagai seorang isteri.
Meski tak ingin pergi, tapi Putri Anke adalah anak yang patuh pada orang tua. Jenderal Bailu dan isteri telah menyiapkan semuanya termasuk upacara pelepasan sang putri kepada keluarga suami yaitu kaisar juga semua anggota kerajaan.
To be continued