Cinta kembali pulang ke rumah karena hari sudah malam. Sebenarnya dia hanya ingin tetap di rumah ibunya dan menemani perempuan itu. Kembali ke rumah Bintang sama saja kembali ke neraka. Bara api seolah berkobar dan membungkus dirinya dengan rasa panas tak terkira. Mobil Bintang sudah ada di garasi mobil, itu artinya Bintang juga sudah ada di dalam rumah.
Helaan napas Cinta seolah terasa menyakitkan. Dia baru saja berurusan dengan sang ayah, lalu sekarang dia harus kembali berurusan dengan suaminya. Tidak bisakah dia hidup tenang? Cinta merindukan hari-harinya yang menyenangkan. Tapi, untuk saat ini semua itu harus dikuburkan dalam-dalam. Lebih baik mencoba untuk merencanakan masa depan pernikahannya dibandingkan dia harus menunggu sesuatu yang tidak pasti.
“Astaga!” baru saja dia masuk ke dalam kamarnya, tubuh bagian atas Bintang yang tidak memakai apa pun itu terlihat sangat nyata. Cinta melirik sedikit sebelum dia kembali menutup matanya. “Tidak bisakah kamu tidak sembarangan membuka baju? Kamu tidak tinggal sendiri di sini.” Cinta mengomel dan itu membuat Bintang menyeringai kecil. Sebenarnya, istrinya itu sangat manis, namun sayangnya kelakuannya terlalu menyebalkan.
Cinta tak mendengar apa pun dari Bintang, kemudian membuka matanya dan ternyata lelaki itu sudah mengenakan bajunya. “Saya tahu saya tidak tinggal sendiri, lalu kenapa kalau begitu? Kamu bahkan bisa menikmatinya bukan?”
“Sialan! Aku bukan perempuan m***m!” pelototan mata Cinta seolah ingin menghabisi suaminya saat ini juga. Rasa kesalnya sampai ke ubun-ubun. Sayangnya Bintang hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Lelaki itu lantas naik ke atas ranjang dan ingin segera istirahat. Badannya benar-benar lelah setelah seharian bekerja. Matanya terpejam tak peduli istrinya ingin sekali mengacak-acak dirinya.
Terdengar geraman sebelum langkah kaki Cinta terdengar meninggalkan tempatnya. Suara bantingan pintu kamar mandi terdengar. Bintang membuka matanya sebentar sebelum kembali menutup matanya. Bintang sedang tidak dalam mood yang baik untuk meladeni istrinya yang selalu dalam tegangan tinggi. Hidup Cinta seolah selalu kacau jika tidak mengeluarkan kemarahannya.
Kasur sebelah Bintang terasa bergerak menandakan jika Cinta sudah berada di sana. Bintang sejak tadi hanya menutup matanya tanpa kehilangan kesadarannya. Meskipun tadinya rasa kantuk sudah menggelayut manja, tapi itu tak membuatnya lantas segera tidur. Suara-suara chat terkirim terdengar di telinga Bintang dengan sangat jelas. Entah sedang berbalas pesan dengan siapa perempuan itu.
“Akhiri segera chatmu dan tidurlah. Kamu membuatku tidak bisa tidur.” Cinta tidak menjawab tapi lirikan matanya memberontak hebat. “Jangan memelototiku.” Bintang membuka matanya untuk menoleh ke sisi kirinya dan Cinta sedikit terkejut karena Bintang tahu dia sedang memberontak. Tatapan mata keduanya beradu. Cinta meneguk ludah karena bayangan Bintang bertelanjang d**a kembali menggelayuti kepalanya. Wajahnya memerah karena malu dengan bayangannya sendiri. Bintang tersenyum mengejek seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
“Membayangkan apa?” tanyanya dengan ekspresi wajah menggoda. Entah ide dari mana, secepat kilat Bintang mendekat pada Cinta sampai perempuan itu terjatuh dari tempatnya.
“Sialan! Apa yang kamu lakukan!”
“Selamat tidur, istriku,” katanya dengan senyum mengejek. Kembali ke tempatnya untuk kemudian benar-benar tidur. Tak peduli jika Cinta mencak-mencak tak karuan. Seandainya Cinta bisa diajak bekerja sama, maka ini akan menjadi sangat menyenangkan. Setidaknya, mereka bisa menjadi teman. Siapa tahu lama-lama mereka bisa saling mencintai sejalannya waktu.
***
Cinta bangun sudah tidak menemukan Bintang di sampingnya. Lelaki itu sepertinya sudah pergi ke kantor sepagi ini. Mengabaikan keberadaan suaminya, Cinta bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sarapan sendiri, melakukan kegiatan pagi sendiri, seolah dia tak memiliki teman hidup. Dia bahkan sudah memiliki suami, tapi makan berdua dalam satu meja hanya pernah dilakukan beberapa kali itu pun karena ketidaksengajaan.
Cinta berjalan melewati koridor menuju ruangannya, tapi ada kasak-kusuk terdengar dari obrolan beberapa perempuan. Mereka mengatakan jika Galih membawa istri barunya ke kantor. Ada terselip pujian untuk Arini, ada juga yang mengutuknya.
“Dia masih muda dan cantik. Tapi tetap saja dia adalah perempuan jahat. Merebut milik orang lain, apa yang bisa dibanggakan dari itu.” Satu orang berbicara demikian. Lalu yang lain menimpali.
“Zaman sekarang, kecantikan selalu menjadi sesuatu yang dikejar perempuan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menggadaikan harga dirinya dengan uang. Ibu Nova bahkan masih secantik itu, tapi namanya lelaki, godaan selalu menjadi nomor pertama untuk dipertimbangkan.”
“Namanya juga laki-laki. Melihat yang lebih muda sedikit, pasti akan terbuai.”
“Itulah kenapa Bu Cinta dan Pak Galih tidak akur.”
Menjadi topik gossip bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan. Tapi, Cinta merasa jika mereka adalah sesama perempuan, pasti akan merasa yang dilakukan oleh ayahnya adalah sebuah kesalahan. Kesalahan sangat besar bahkan. Pelakor memang sangat marak sekarang seolah mengambil milik orang lain adalah sesuatu yang wajar. Pencuri tidak merasa salah justru tertawa.
Cinta meneruskan jalannya untuk sampai ke ruangannya. Meletakkan tas jinjingnya dan perasaan kesal seolah tak bisa lagi dibendung. Jadi, ayahnya sudah berani membawa istri barunya datang ke kantor sekarang? Kemarin membawanya ke rumah, sekarang membawanya ke tempat kerja. Entah ke mana perginya moral dua orang tersebut. Ke mana perginya akal sehat ayahnya yang selama ini dimilikinya? Apakah cinta bisa membutakan semuanya? Ini benar-benar tidak masuk akal.
“Maaf, Bu. Ada ibu Arini ingin bertemu dengan Anda.” Bahkan asisten Cinta masih proses menyampaikan laporannya, tapi seorang perempuan berbaju abu-abu itu sudah masuk begitu saja tanpa izin. Hal itu membuat Mega – asisten Cinta terkejut. Raut wajahnya terlihat tak suka meskipun dia berusaha tak menegurnya.
“Terima kasih, Mega. Kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu.” Cinta selalu memperlakukan orang-orang yang bekerja dengannya dengan hangat. Karena itulah dia disukai banyak orang di kantornya.
Setelah pintu tertutup rapat, Cinta menguncinya menggunakan remot yang dipegangnya. Arini sepertinya sedikit terkejut karena Cinta berbuat sejauh itu, bukankah memberikan peringatan kepada sekretarisnya untuk tidak membiarkan orang lain masuk ke ruangannya, itu sudah lebih dari cukup. Tapi, tentu saja Cinta berpikir berbeda. Ini akan menjadi hari bersejarah untuk dirinya. Berhadapan secara langsung dengan istri ayahnya yang sedang hangat diperbincangkan di kantor ini.
Istri kedua Galih itu masih berdiri di tempatnya, pun dengan Cinta. Cinta berjalan beberapa langkah dengan pasti dan berdiri di tengah ruangan. Jarak antara dirinya dengan Arini tidak terlalu jauh, jadi dia bisa tahu dengan jelas raut wajah yang tercetak di sana. Cinta tak akan memulai berbicara jika Arini tak memulainya lebih dulu. Kalaupun dia harus membuang waktunya percuma hanya dengan beradu pandang dengan pelakor di depannya, dia akan menebusnya malam nanti untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Kamu tidak mempersilahkan saya duduk?” Arini pada akhirnya berbicara untuk memulai semuanya. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Arini setelah ini, itu akan segera terungkap. Hari ini, Cinta sudah bertekad untuk memberikan waktu berharganya untuk meladeni perempuan ular itu dengan cuma-Cuma.
***