Mereka sudah duduk berhadapan sekarang. Keduanya sudah menunjukkan kesiapan mereka untuk saling menyerang satu sama lain dan tidak ada kata mundur untuk mendapatkan kebenaran masing-masing. Seperti itulah kira-kira yang terjadi. Ruangan Cinta yang bernuansa putih itu terasa seperti ruang kematian. Tumpukan dokumen yang belum sempat Cinta buka, sedikit memenuhi mejanya. Tempat itu benar-benar hening seperti tak ada kehidupan di dalamnya.
“Saya perlu mengatakan inti dari pembicaraan ini sebelum saya menjabarkannya.” Arini pada akhirnya menyudahi kekakuan itu. Berbicara dengan santai seperti sedang mengobrol dengan seorang kawan. Perempuan seperti itu memang selalu bisa mengaduk emosi orang lain dengan sifat pura-puranya. Pembawaannya memang terlihat tenang, tapi siapa yang tahu bagaimana di dalam hatinya. Cinta mencoba untuk tidak terpancing. Lebih baik dia mendengarkan apa pun yang akan dikatakan oleh Arini lebih dulu dan tentu saja dia akan menanggapinya juga.
“Pertama, mungkin kamu merasa marah karena pernikahan yang kami lakukan – saya dan ayahmu, tidak meminta izin kepadamu dan ibumu terlebih dulu. Sejujurnya saya tidak merasa perlu untuk melakukannya. Karena apa? Pernikahan kami terjadi karena kami saling menyayangi satu sama lain. Tidak ada kaitannya dengan kalian berdua.”
Cinta tak habis pikir dengan pikiran gila Arini. Jadi begitukah mental seorang pencuri? Dia menjadi kasihan kepada ayahnya. Membuang seseorang dengan kualitas bagus, tapi justru menarik orang dengan kualitas buruk. Baiklah, karena dia menjadi pihak yang waras, maka Cinta harus benar-benar mendengarkan apa pun yang akan dikatakan oleh Arini kepadanya.
“Lalu kedua. Sepertinya saya akan bergabung di perusahaan ini. Saya sedang mempertimbangkan jabatan yang saya inginkan, tapi_” Arini menatap ruangan di sekitarnya dan menyeringai, ruangan ini dan posisi yang kamu miliki juga tidak buruk.”
Sialan! Tangan Cinta mengepal erat karena merasa emosinya hampir menguar. Ditahannya mati-matian agar dia tak menonjok perempuan itu. Cinta berpikir panjang. Kalau sampai dia melakukan kekerasan, bukan tidak mungkin jika Arini akan membawanya terlibat dengan pihak kepolisian. Tidak, dia tak akan terpengaruh.
‘Keluarkan semua kata-katamu, Arini. Aku tidak terpengaruh’ Itu adalah sugesti yang diberikan untuk dirinya sendiri.
“Lalu ini yang ketiga dan terakhir. Tentang Dery, dia memang teman saya. Dia juga yang membantu saya untuk mendapatkan ayahmu. Mau bagaimana lagi, untuk mendapatkan Galih, tentu bukan hal yang mudah. Karena itu, saya membutuhkan bantuan.”
Ya, Dery. Lelaki yang mendapatkan tonjokan dari Bintang saat menghinanya waktu itu. Lelaki yang telah membuat kulitnya sedikit melepuh karena kopi panas, dan lelaki yang pada awalnya mendekatinya dengan alasan jika Dery adalah lelaki yang mengagumi Cinta. Dia ingin berhubungan baik lalu lambat laun menjadi seseorang yang akan mendampingi Cinta untuk seumur hidupnya. Menjadi suami dari perempuan itu. Tapi siapa yang sangka, semua itu hanya akal-akalan Dery dan Arini untuk menjebak Cinta dan Galih. Incaran utamanya tentu saja Galih.
Semua yang dikatakan oleh Arini ini sebenarnya sudah diketahui oleh Cinta. Tapi sayangnya setelah Arini sudah berhasil menikah dengan Galih. Sangat terlambat memang. Tapi, alih-alih Cinta mengatakan kebenaran itu kepada Galih, dia hanya diam saja. Seseorang yang telah dibutakan oleh cinta tidak akan mungkin menggunakan logikanya dengan benar. Pun dengan ayahnya. Lelaki itu pasti akan menolak kebenaran yang dikatakan oleh putrinya.
“Jadi, bagaimana pendapatmu tentang itu?” Arini benar-benar wanita ular yang busuk. Memang inilah tujuannya menikah dengan Galih. Mendapatkan harta dari sang ayah dan kini saatnya dia akan melakukannya satu persatu. Selama Cinta masih hidup di dunia ini, maka hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Saham yang dimiliki sang ayah memang lumayan, tapi milik kakeknya lebih besar lagi. Pun, dengan miliknya sendiri.
“Jadi sekarang giliranku berbicara?” tanya Cinta.
“Tentu.”
Demi Tuhan, Cinta tidak pernah mengenal perempuan licik seperti Arini ini sebelumnya. Entah dari mana ayahnya mengenal perempuan itu, tapi ini sangat menjengkelkan.
“Untuk poin pertama. Saya menyadari satu hal. Manusia rendahan dengan mental pencuri, memang tidak pernah mengenal bagaimana tata krama itu harus digunakan. Mengambil milik orang sesukanya dan segera mengklaim milik orang lain sebagai miliknya, itu sangat menjijikkan. Saya marah? Tentu saja. Tapi sekarang saya paham satu hal jika kalian memang sama-sama tak bermoral. Kamu dan ayahku. Astaga, aku bahkan merasa jijik memanggilnya papa.”
Baru satu tanggapan, tapi Arini sudah menunjukkan wajah kesalnya. Ternyata, ketahanan Arini tidak sedalam itu. Baiklah, Cinta akan bermain-main sebentar dengan perempuan itu.
“Kata-katamu sangat kasar sekali.”
“Tutup mulutmu dan dengarkan saja apa yang akan aku katanya. Ini giliranku.” Cinta membungkam mulut Arini dengan cara yang sangat elegan. Bahkan tidak ada keinginan untuk mengeluarkan suara dengan nada tinggi. Wanita ular!
“Lalu poin yang kedua tentang bergabungnya dirimu di sini dan akan merampas apa yang aku miliki?” Cinta terkekeh dan menggeleng geli. “Perusahaan punya aturan. Kamu tidak bisa dengan mudah masuk dan bergabung di perusahaan hanya karena Galih. Dia memang sekarang memiliki jabatan yang paling tinggi di sini. Tapi, jangan lupakan kecaman orang lain jika dia melakukan ini.” Tidak mudah melakukan apa yang diinginkan oleh Arini tanpa masalah.
“Kemudian poin yang ketiga. Manusia sampah macam kalian ini, memang selalu memikirkan hal buruk tanpa pertimbangan. Dery melakukan kebohongan ini dan bekerja sama denganmu itu bukan hal asing di telingaku. Aku tahu semuanya dan bagiku itu bukan sesuatu yang perlu aku pikirkan.”
“Kamu pasti kecewa kan karena Dery ternyata hanya mempermainkanmu?” Arini sepertinya tak bisa menahan ucapannya lebih lama lagi. Karena itu dia segera menyahut ucapan Cinta.
“Kecewa?” Cinta seolah berpikir. “Aku bilangnya bukan kecewa, tapi lebih kepada anugerah. Karena pada akhirnya Tuhan membuka mataku lebar-lebar dan menyingkirkan parasit tak berguna seperti Dery. Oh, sorry. Sepertinya aku sedikit kasar.” Satu lawan satu tidak berarti apa pun bagi Cinta. Dia mudah sekali mengenali medan pertempuran, jadi hanya mengaduk lawan bicaranya balik, bukan masalah besar.
Terbukti bagaimana raut wajah Arini yang mengeluarkan ekspresi marahnya. Dia dihina sedemikian rupa oleh anak bau kencur. Sumpah serapah pastilah sedang menggelung batinnya.
“Sekarang, bersenang-senanglah dengan Galih. Siapa tahu dengan seperti itu kamu juga bisa bahagia. Ya, setidaknya sebelum hal buruk terjadi kepada kalian. Karena kita semua tahu, memiliki sesuatu dengan cara yang tidak benar, pasti akan berakhir menyedihkan. Jadi, kamu harus berhati-hati. Galih, tidak selamanya ada di atas. Perputaran roda itu benar-benar ada.”
Tepat setelah Cinta mengatakan itu, dering ponselnya terdengar dan itu dari ayahnya. Ada suara gedoran juga di pintu kokoh milikinya.
“Coba lihat siapa yang sedang menghubungiku sekarang?” tatapan mencemooh itu benar-benar mengesalkan. Menerima panggilan telepon, sebuah suara segera terdengar.
“Buka pintunya, Cinta. Apa yang sedang kalian lakukan di dalam?” nada suaranya terdengar berantakan seolah mengkhawatirkan sesuatu. Membuat Cinta merasa ini sungguh permainan yang sangat menarik.
***