Arga mengusap puncak kepala istrinya, menatapnya dengan senyuman, dan penuh kebahagiaan. "Kamu menggemaskan kalau pakai ginian!" seru Arga sambil beralih mengusap perut Rania.
Istrinya itu segera mendengus, dan menepis halus tangan suaminya. Wajahnya tampak kesal dan seakan menahan diri dari sesuatu. "Sudahlah, aku bisa telat kalau di sini terus!"
"Baiklah. Belajar yang baik Sayang!"
"Bisa diatur kalau Mas memberi nilai A untuk aku di mata kuliahnya Mas!"
Arga tak menjawab, tapi terus menatap kepergian Rania sampai hilang dari pandangannya. "Perempuan itu, kenapa selalu bisa menjawabku. Giliran soal perkuliahan dia malah nomor terbelakang!" gemas Arga.
Pria itu pun berjalan, dengan arah yang berlawanan dari Rania, ke ruang dosen.
*****
"Perut kamu udah semakin keliatan Ran, apa kamu