Jane Alister
_
Orang-orang selalu mengira ketenangan berarti seseorang baik-baik saja.
Padahal tidak.
Terkadang ketenangan hanyalah kelelahan yang belajar bersikap sopan.
Hujan turun perlahan di luar jendela apartemenku malam itu ketika aku duduk bersila di sofa sambil memeriksa hasil asesmen klinis hampir tengah malam. Cahaya skyline Blackmore City memantul biru dan perak di balik kaca besar apartemen.
Kota ini tidak pernah benar-benar tidur.
Ia hanya menjadi lebih sunyi dalam kesepiannya.
Aku mengusap mataku pelan sebelum meraih cangkir teh di meja.
Dingin.
Tentu saja.
Aku lupa meminumnya lagi.
Televisi menyala pelan di sudut ruangan dengan volume rendah sementara headline berita terus berjalan di bawah wajah para presenter yang tampak sempurna membicarakan politik, skandal selebriti, dan kepanikan pasar saham.
Wajah Michael Hart sesekali masih muncul di layar.
Bukan siaran langsung.
Rekaman lama.
Wawancara lama.
Potongan video sebelum kehancurannya di televisi nasional.
HBN berusaha mempertahankan ilusi.
Terlambat.
Aku mengambil remote lalu mematikan suara televisi sepenuhnya sebelum menyandarkan tubuh ke sofa.
Apartemen ini terasa terlalu sunyi malam ini.
Bukan damai.
Sunyi.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Damai terasa aman.
Kesunyian terkadang terasa seperti ditinggalkan.
Pandangan mataku perlahan jatuh pada bingkai foto di rak buku dekat jendela.
Aku dan ayahku.
Satu-satunya foto keluarga yang masih kupajang.
Aku berdiri pelan lalu berjalan mendekati bingkai itu.
Lucu.
Seberhasil apa pun hidupku sekarang, kesedihan tetap menemukan cara untuk hidup diam-diam di dalam benda-benda biasa.
Aku menyentuh permukaan bingkai dengan ujung jari.
Di foto itu aku berusia sepuluh tahun.
Rambut pirang berantakan.
Gigi depan ompong.
Tertawa ke arah sesuatu di luar kamera.
Ayahku terlihat lelah bahkan saat itu.
Ia meninggal tiga minggu setelah foto itu diambil.
Serangan jantung.
Dokter bilang karena stres berkepanjangan.
Tapi yang paling kuingat justru suara ibuku malam itu di rumah sakit.
“Ayahmu bekerja sampai mati hanya untuk membuat kita tetap hidup.”
Kalimat itu mengubah seluruh hidupku.
Karena sejak saat itu…
bertahan hidup terasa menjadi tanggung jawabku juga.
Setelah ayah meninggal, semuanya berubah sangat cepat.
Apartemen kami.
Keuangan.
Rasa aman.
Ibuku bekerja membersihkan kantor hingga larut malam sambil berpura-pura tidak menangis di kamar mandi.
Aku belajar terlalu cepat bahwa masa kecil adalah kemewahan yang tidak dimiliki keluarga miskin.
Di usia dua belas tahun, aku mulai mengajar anak-anak lain demi uang tambahan.
Lima belas tahun, bekerja di toko buku setiap akhir pekan.
Tujuh belas tahun, hidupku dipenuhi beasiswa dan nilai sempurna karena gagal bukan pilihan.
Aku menjadi terobsesi pada pencapaian seperti beberapa orang terobsesi pada cinta.
Karena sukses terasa lebih aman daripada kehilangan.
Dan perlahan…
aku menjadi sangat ahli dalam bertahan hidup.
Masalah dari mode bertahan hidup adalah…
ia tidak pernah mengajarkanmu cara beristirahat.
Ponselku bergetar pelan di meja.
Nora.
Aku mengangkat panggilannya.
“Kamu masih bangun,” katanya tanpa basa-basi.
“Kamu meneleponku tengah malam.”
“Yang berarti kamu masih bekerja.”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu mengenalku terlalu baik.”
“Itu karena kamu sangat mudah ditebak secara emosional.”
“Kasar.”
“Kamu melewatkan makan malam lagi, kan?”
Aku diam.
“Jane.”
“Aku minum kopi.”
“Itu bukan makanan.”
“Aku tahu.”
Nora menghela napas panjang di ujung telepon.
“Seluruh kepribadianmu cuma work addiction yang memakai sweater mahal.”
Aku tertawa kecil.
“Selamat malam, Nora.”
“Tidur sana, psikopat.”
Telepon langsung terputus.
Kesunyian kembali memenuhi apartemen.
Aku berjalan ke jendela besar ruang tamu sambil memandangi hujan yang jatuh membasahi kota.
Kebanyakan orang berpikir psikolog memiliki hidup emosional yang sempurna.
Padahal banyak dari kami masuk ke dunia psikologi karena terlalu mengenal rasa sakit sejak awal.
Menyembuhkan orang lain terasa lebih mudah dibanding menghadapi diri sendiri.
Dan itu masalahku.
Seluruh hidup dewasaku dipenuhi oleh:
pasien,
riset,
pekerjaan,
telepon darurat,
dan orang-orang yang perlahan pergi tanpa kusadari.
Aku pernah bertunangan.
Tiga tahun lalu.
Daniel.
Seorang arsitek.
Senyumnya tenang.
Tangannya indah.
Ia sering membawakanku kopi saat aku lembur di klinik.
Ia juga sering berkata:
“Kamu peduli pada semua orang kecuali dirimu sendiri.”
Dulu aku mengira itu romantis.
Ternyata itu peringatan.
Pada akhirnya Daniel lelah bersaing dengan pekerjaanku, pasien-pasienku, dan ketidakmampuanku membutuhkan seseorang secara emosional.
Malam ketika ia pergi, ia mengatakan sesuatu yang belum pernah benar-benar kulupakan.
“Kamu cuma tahu cara mencintai orang yang terluka.”
Dadaku terasa sesak tiba-tiba.
Aku berjalan ke dapur lalu menuangkan teh baru hanya untuk menghindari pikiranku sendiri.
Petir bergemuruh pelan di luar sana.
Badai selalu membuat Blackmore City terlihat seperti adegan film.
Orang kesepian memang menyukai hal-hal sinematik.
Mungkin karena keindahan sementara bisa mengalihkan rasa kosong.
Laptopku tiba-tiba menyala karena notifikasi baru.
Confidential Patient Update:
Michael Hart.
Aku langsung mengernyit.
HBN mengirim laporan tambahan tentang kondisi Michael setelah kejadian siaran langsung itu.
Gangguan tidur memburuk.
Mudah marah.
Menarik diri secara sosial.
Perilaku kompulsif meningkat.
Aku membaca laporan itu perlahan.
Lalu satu bagian membuatku berhenti.
Pasien dilaporkan sering terjaga hingga dini hari sambil menonton ulang rekaman wawancara atau siaran lama untuk membantu mengontrol kecemasan.
Menarik.
Penderita trauma sering melekat pada pola repetitif untuk merasa aman.
Suara tertentu.
Rutinitas tertentu.
Lingkungan yang bisa diprediksi.
Tetapi tetap saja…
entah kenapa detail itu terus tinggal di kepalaku lebih lama dari seharusnya.
_________________
Michael Hart
_
Aku membenci malam sekarang.
Siang hari lebih mudah.
Masih ada distraksi.
Meeting.
Panggilan telepon.
Orang-orang.
Tapi malam menghapus semuanya.
Tidak ada kamera.
Tidak ada pertunjukan.
Tidak ada penonton.
Hanya kesunyian… dan semua iblis yang cukup kuat untuk mengikutiku pulang.
Hujan menghantam kaca penthouse ketika aku berjalan mondar-mandir tanpa alas kaki untuk keempat kalinya dalam dua puluh menit terakhir.
Periksa pintu.
Terkunci.
Periksa lagi.
Masih terkunci.
Sekali lagi.
Aman.
Dadaku sedikit mengendur.
Lalu menegang lagi beberapa detik kemudian.
Aku berjalan ke dapur.
Merapikan kursi bar.
Meluruskan coaster.
Menggeser lilin dekoratif setengah inci agar tepat berada di tengah meja marmer.
Lebih baik.
Belum cukup baik.
Aku mencuci tangan.
Sabun.
Air.
Ulangi.
Kulit di sekitar buku jariku sudah memerah dan perih.
Tetap tidak cukup.
Otakku masih berteriak:
Tidak aman.
Kotor.
Salah.
Aku menatap bayanganku sendiri di cermin kamar mandi.
Mata lelah.
Lingkar hitam.
Ketenangan yang retak.
Sekarang seluruh negeri menganggapku gila.
Mungkin mereka benar.
Aku kembali ke ruang tamu lalu mengambil botol whiskey dari kabinet.
Berhenti.
Menatapnya beberapa detik.
Lalu meletakkannya kembali.
Kemenangan kecil.
Terapi ternyata kadang berhasil mengajarkan pengendalian diri.
Aku menjatuhkan tubuh ke sofa sambil mengusap wajah kasar dengan kedua tangan.
Penthouse ini terasa terlalu besar saat malam.
Terlalu sepi.
Kemewahan berubah menyedihkan ketika tidak ada siapa pun untuk dibagikan.
Lampu kota di balik jendela terlihat kabur karena hujan.
Di bawah sana jutaan orang tetap menjalani hidup mereka sementara aku duduk sendirian mencoba agar pikiranku tidak hancur.
Menyedihkan.
Ponselku terus bergetar di meja.
Pesan belum dibaca.
Publicist.
Eksekutif HBN.
Orang-orang yang pura-pura peduli sambil diam-diam takut rating turun.
Aku mengabaikan semuanya.
Sebaliknya, tanpa benar-benar tahu kenapa, aku membuka browser.
Lalu mengetik:
Dr. Jane Alister interviews.
Hasil pencarian langsung muncul.
Video konferensi.
Panel kesehatan mental.
Kuliah universitas.
Aku memilih salah satunya.
Jane muncul di layar memakai blazer hijau gelap sambil berbicara tenang di sebuah konferensi psikologi dua tahun lalu.
Tidak dramatis.
Tidak mencoba menarik perhatian.
Hanya tenang.
Dan anehnya… menarik.
Aku bersandar perlahan sambil mendengarkan.
“Penderita trauma sering kali menjadi ahli dalam terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya terputus secara emosional dari dirinya sendiri.”
Dadaku langsung terasa sesak.
Sial.
Rasanya seperti dia sedang membicarakanku secara langsung.
Aku menonton video lain.
Lalu satu lagi.
Tanpa sadar waktu terus berjalan.
Jane berbicara tentang:
regulasi emosi,
duka,
trauma masa kecil,
attachment wounds.
Suaranya selalu sama.
Tenang.
Hangat.
Aman.
Aman.
Kesadaran itu langsung membuatku tidak nyaman.
Sudah bertahun-tahun aku tidak mengasosiasikan rasa aman dengan manusia lain.
Namun entah kenapa…
mendengar suara Jane membuat kepanikan di dadaku sedikit mereda.
Tidak memaksa.
Tidak menghakimi.
Hanya tenang.
Aku memutar ulang satu wawancara dua kali.
Pewawancaranya bertanya:
“Kenapa Anda memilih menjadi psikolog?”
Jane tersenyum kecil sebelum menjawab.
“Karena rasa sakit mengubah manusia. Dan terkadang seseorang hanya butuh satu orang yang mau tinggal cukup lama untuk memahami rasa sakit itu.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari seharusnya.
Tinggal cukup lama.
Aku menatap layar yang dijeda.
Ekspresi Jane terlihat lebih lembut di luar sesi terapi.
Lebih manusiawi.
Kurang terjaga.
Menarik.
Sangat menarik.
Tanpa sadar aku mulai memperhatikan detail-detail kecil.
Cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga saat berpikir.
Cara matanya berubah sedih ketika topik pembicaraan menyentuh kehilangan.
Ada kesepian di dalam dirinya juga.
Disembunyikan rapi.
Dikontrol profesional.
Tapi ada.
Dan kesadaran itu membuat sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh perlahan di dadaku.
Koneksi.
Aku langsung membencinya.
Karena keterikatan selalu berubah menjadi kehancuran pada akhirnya.
Tetapi malam itu…
jam tiga pagi…
aku duduk sendirian di penthouse mewah sambil memutar ulang video psikologku berbicara tentang penyembuhan seperti suaranya mampu membuat gelap di kepalaku sedikit lebih sunyi.
Dan itu mungkin berarti aku sudah berada dalam masalah besar.
Suara Jane terus memenuhi ruangan.
“Orang tidak menjadi rusak secara emosional karena mereka lemah,” katanya lembut di video lain. “Sebagian besar luka muncul karena mereka bertahan hidup di lingkungan di mana cinta terasa tidak aman.”
Aku memejamkan mata perlahan.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu…
napasku melambat dengan alami.
Tanpa obat.
Tanpa alkohol.
Tanpa ritual.
Hanya suaranya.
Tuhan.
Itu berbahaya.
Sangat berbahaya.
Karena orang-orang yang rusak secara emosional tidak pernah jatuh dengan aman.
Kami melekat secara katastrofik.
Dan jauh di dalam diriku, aku mulai menyadari satu hal yang menakutkan:
Aku mulai menantikan bertemu Dr. Jane Alister lebih daripada apa pun dalam hidupku.