Michael
_
Aku tahu ada sesuatu yang salah bahkan sebelum sesi dimulai.
Bukan pada Jane.
Pada diriku sendiri.
Kecemasan itu sudah ada sejak pagi. Tajam. Gelisah. Menggerogoti saraf seperti pisau kecil yang terus mengikis pelan-pelan dari dalam kepala.
Kota terasa terlalu berisik hari ini.
Suara konstruksi di luar gedung HBN.
Klakson.
Lampu kamera.
Reporter yang masih berkeliaran seperti burung bangkai sejak insiden siaran langsung itu.
Mereka belum selesai memakanku hidup-hidup.
Dan sejujurnya?
Mungkin aku juga belum selesai menghancurkan diriku sendiri.
Saat mobil berhenti di depan Alister Psychological Center, dadaku sudah terasa sesak.
Aku menatap bangunan itu cukup lama sebelum keluar.
Lampu hangat di balik jendela kaca.
Musik jazz samar dari dalam.
Tempat itu biasanya membuat sistem sarafku sedikit tenang.
Biasanya.
Hari ini tidak.
Hari ini semuanya terasa salah.
Aku masuk ke dalam klinik sambil membuka kancing mantel hitamku perlahan. Resepsionis menyapaku dengan senyum gugup yang sudah terlalu sering kulihat dari orang-orang.
Aku bahkan tidak punya energi untuk berpura-pura menawan hari ini.
Lorong menuju ruang Jane terasa lebih sempit dari biasanya.
Ketika pintu terbuka, dia langsung mengangkat kepala dari catatannya.
Dan tentu saja—
dia langsung tahu.
“Kau gelisah hari ini.”
Bukan pertanyaan.
Aku menutup pintu di belakangku pelan.
“Selamat pagi juga untukmu, Doctor.”
Jane memperhatikanku beberapa detik tanpa ekspresi berlebihan.
“Kau tidak tidur.”
Aku tertawa kecil sinis sambil melepas mantel.
“Apakah diam-diam kau cenayang?”
“Tidak.” Suaranya tetap tenang. “Tanganmu gemetar.”
Sial.
Aku langsung memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana secara refleks.
Di luar jendela, hujan turun deras membasahi Blackmore City dengan warna abu-abu kebiruan. Musik jazz mengalun lembut dari lorong klinik.
Biasanya ruangan ini langsung membuatku sedikit stabil.
Hari ini justru terasa terlalu hangat.
Terlalu sunyi.
Terlalu dekat.
Jane memperhatikanku saat aku duduk.
“Kau sudah membetulkan cufflink sembilan kali sejak masuk.”
Aku menyandarkan tubuh perlahan ke kursi.
“Aku suka simetri.”
“Kau suka kontrol.”
Aku tersenyum tipis.
“Kau membuatnya terdengar patologis.”
“Itu menjadi patologis ketika ritualnya mulai mengendalikan hidupmu.”
Nada suaranya tetap sama.
Tenang.
Stabil.
Lembut.
Seharusnya itu membantu.
Anehya, justru membuatku semakin kesal.
Karena sebagian diriku hari ini ingin chaos.
Ingin sesuatu yang lebih keras daripada isi kepalaku sendiri.
Jane menyilangkan kaki dengan elegan lalu membuka notebook kecilnya.
“Seberapa parah kompulsinya tadi malam?”
Aku tertawa hambar.
“Apa kau pernah menanyakan hal yang menyenangkan?”
“Jawab saja.”
Aku mengusap rahang perlahan.
“Empat jam.”
Pena Jane berhenti bergerak.
“Michael.”
“Aku mengecek semua kunci pintu berulang kali.”
“Berapa kali?”
“Aku kehilangan hitungan.”
Dan itu bukan hal baru lagi.
Ritual selalu memburuk setelah trigger emosional.
Terutama setelah mimpi buruk.
Dan mimpi buruk semalam hampir menghancurkanku.
Hujan.
Jeritan.
Darah di kaca pecah.
Ibuku yang meraih ke arahku dari kursi depan mobil.
Lalu sunyi.
Aku menelan ludah keras.
Jane langsung menangkap perubahan itu.
“Apa yang terjadi di mimpimu?”
“Tidak ada.”
“Kau baru saja dissociate.”
“Aku duduk tepat di sini.”
“Tubuhmu iya,” katanya pelan. “Pikiranmu pergi sekitar tiga puluh detik lalu.”
Yesus.
Aku membenci betapa akuratnya dia membaca diriku.
Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu kecil lagi.
Aku berdiri mendadak lalu berjalan ke arah jendela.
Blackmore City terbentang di bawah kami dalam hujan perak dan lampu kendaraan yang kabur.
Indah dari kejauhan.
Tidak terlalu indah ketika harus hidup di dalamnya.
Jane tetap duduk di belakangku.
Tidak memaksa.
Tidak mendekat mendadak.
Pintar.
“Kapan mimpi buruknya mulai memburuk?” tanyanya lembut.
Aku menatap skyline tanpa menjawab.
Karena aku sudah tahu ke mana arah percakapan ini.
Menuju dirinya.
Selalu menuju dirinya.
Ibuku.
Satu-satunya topik yang bisa membuatku berubah menjadi sesuatu yang tidak stabil dalam hitungan detik.
“Michael.”
Aku memejamkan mata sesaat.
“Jangan.”
“Bicara padaku.”
Kata-kata berbahaya.
Orang-orang selalu berpikir kerentanan otomatis menyembuhkan.
Padahal terkadang kerentanan terasa seperti berdarah di depan publik.
Aku mengembuskan napas kasar.
“Dia biasa bernyanyi saat badai.”
Kenangan itu keluar begitu saja sebelum sempat kutahan.
Jane diam.
Mendengarkan.
Entah kenapa itu justru membuat semuanya terasa lebih buruk.
“Dia pikir itu bisa menenangkanku,” lanjutku pelan. “Waktu aku kecil.”
Hujan menghantam jendela lebih keras.
Guntur samar terdengar dari kejauhan.
Dan tiba-tiba dadaku mengencang.
Terlalu cepat.
Terlalu familiar.
“Siapa namanya?” tanya Jane hati-hati.
Dan di situlah semuanya hancur.
Tubuhku membeku total.
Napasku berhenti selama satu detik mengerikan.
Lalu panik meledak begitu saja.
Brutal.
“Tidak.”
Kata itu keluar terlalu tajam.
Jane sedikit mengernyit.
“Michael—”
“Aku bilang jangan.”
Detak jantungku menghantam tulang rusuk begitu keras sampai terasa menyakitkan.
Sesuatu di ruangan itu mendadak berubah.
Pencahayaan.
Suara.
Udara.
Salah.
Semua terasa salah.
Aku mencengkeram sisi rak buku di dekatku begitu kuat sampai bingkai foto di atasnya bergetar.
Bernapas.
Tidak bisa.
Bernapas.
Dinding terasa semakin dekat.
Jane berdiri perlahan sekarang.
Gerakannya hati-hati.
Suaranya tetap stabil.
“Lihat aku.”
“Aku tidak bisa.”
Tanganku gemetar hebat.
Pinggiran ruangan mulai kabur.
Suara hujan terdengar semakin keras—
seperti tabrakan logam.
Seperti malam itu.
Tidak.
Tidak.
Jangan sekarang—
“Michael.”
Ibuku menjerit.
Kaca pecah.
Bau bensin.
Dadaku terkunci total.
Aku tidak bisa menarik napas.
Panic attack itu seperti mati di depan dirimu sendiri.
Tubuhmu berhenti mempercayai kenyataan.
Otakmu menjerit bahaya bahkan saat kau sebenarnya aman.
Masalahnya…
aman tidak pernah benar-benar ada lagi bagiku.
Aku mendorong kursi di sampingku terlalu keras sampai menghantam dinding.
Jane mengumpat pelan.
“Michael, tetap di sini.”
Aku mencengkeram rak buku lebih kuat.
Rak itu miring sedikit.
Buku-buku jatuh ke lantai dengan suara keras.
Terlalu keras.
TERLALU KERAS.
“BERHENTI!”
Suaraku sendiri bahkan tidak terdengar seperti manusia lagi.
Aku mundur sempoyongan, menjatuhkan lampu meja kecil di samping sofa.
Kaca pecah berserakan.
Dan tiba-tiba aku kembali berusia sepuluh tahun.
Hujan deras.
Mobil ringsek.
Darah.
Ibuku yang mencoba meraihku—
“Tidak… tidak… tidak…”
Aku mencengkeram rambutku sendiri keras-keras.
Tidak bisa bernapas.
Tidak bisa berhenti.
Tidak bisa keluar dari ini.
Lalu tiba-tiba—
Tangan hangat.
Jane.
Dia memegang kedua pergelangan tanganku sebelum aku menghancurkan sesuatu lagi.
“Michael.”
Suaranya menembus kepanikan seperti pisau tajam.
“Lihat aku.”
Aku tidak bisa.
Seluruh tubuhku gemetar tanpa kontrol.
Jane melangkah lebih dekat.
Terlalu dekat.
Aku seharusnya menjauh.
Tapi aku tidak melakukannya.
“Bernapas bersamaku,” bisiknya lembut.
“Aku tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak—”
Tangannya bergerak perlahan menyentuh sisi wajahku.
Kulit hangat.
Tekanan lembut.
Dan realitas sedikit bergeser kembali.
“Michael,” bisiknya lagi. “Kau ada di sini. Bukan di sana.”
Ruangan masih kabur.
Tapi mata hijaunya menahanku tetap sadar.
Tidak ada takut di sana.
Tidak ada jijik.
Hanya tenang.
Tuhan.
Napas ku tersendat lagi.
“Dia meninggal,” kataku tercekat tiba-tiba.
Pengakuan itu keluar tanpa peringatan.
Ekspresi Jane langsung melunak.
“Aku tahu.”
“Aku tidak bisa menyelamatkannya.”
Rasa malu dalam kalimat itu terasa mematikan.
Karena itulah luka sebenarnya.
Bukan kecelakaannya.
Rasa bersalah.
Rasa bersalah seorang anak sepuluh tahun yang tidak pernah benar-benar hilang.
Panas menyengat di belakang mataku.
Memalukan.
Aku mencoba memalingkan wajah, tapi Jane tetap menggenggam tanganku erat.
“Tetap di sini.”
Teknik grounding.
Kontak fisik.
Kontak mata.
Stabilisasi sensorik.
Secara klinis?
Brilian.
Secara emosional?
Menghancurkan.
“Sebutkan lima hal yang bisa kau lihat,” katanya pelan.
Aku menatapnya seperti orang tenggelam.
“Jane…”
“Lima hal.”
Napas ku bergetar.
“Jendela.”
“Bagus.”
“Mejamu.”
“Lanjutkan.”
“Lampu.”
Suaraku retak.
Ibu jarinya mengusap pelan kulit tanganku yang gemetar.
Gerakan kecil.
Tapi sialan—
aku merasakannya di seluruh tubuh.
“Rak buku,” bisikku.
“Dan satu lagi.”
Aku menatap langsung ke matanya.
“Kau.”
Sunyi.
Berat.
Menyesakkan.
Dan sesuatu berubah tepat saat itu.
Bukan romantis.
Belum.
Lebih berbahaya dari itu.
Kepercayaan.
Dadaku masih sakit.
Nadiku masih kacau.
Tapi perlahan…
sangat perlahan…
kepanikan mulai melepaskan cengkeramannya.
Jane tetap dekat selama itu.
Terlalu dekat.
Aku bisa mencium aroma vanilla samar dari kulitnya.
Rambut pirangnya jatuh berantakan di satu sisi bahu akibat kekacauan tadi.
Pecahan kaca berkilau di dekat kaki kami.
Tak satu pun dari kami bergerak.
“Bagus,” bisiknya saat napasku mulai stabil. “Bagus sekali.”
Lalu aku melihat keadaan ruangan.
Buku berserakan.
Lampu pecah.
Kursi terbalik.
Rasa malu langsung menghantamku.
“Oh Tuhan.”
Aku mundur cepat.
“Maaf.”
“Michael—”
“Aku minta maaf.”
Terlalu dekat.
Terlalu terbuka.
Jane perlahan melepaskan tanganku.
Dan anehnya—
kehilangan kontak itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada seharusnya.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
Aku mengusap wajah kasar dengan kedua tangan.
“Harusnya kau melihatku sebelum terapi,” gumamku pahit. “Setidaknya dulu aku masih bisa pura-pura normal.”
Ekspresi Jane berubah lembut.
“Kau mengalami respon trauma.”
“Aku menghancurkan kantormu.”
“Kau mengalami panic episode.”
“Aku membuatmu takut.”
“Tidak,” katanya pelan. “Kau tidak membuatku takut.”
Aku menatapnya tajam.
“Bagaimana kau bisa tidak takut padaku?”
Pertanyaan itu lolos begitu saja.
Jane menahan tatapanku.
“Karena aku tahu perbedaan antara kekerasan dan rasa sakit.”
Tuhan.
Kalimat itu menghantam terlalu dalam.
Ruangan kembali sunyi selain suara hujan di luar.
Tubuhku masih sedikit gemetar karena adrenalin.
Jane membungkuk mengambil salah satu buku yang jatuh.
Secara refleks aku ikut membantu.
Dan tangan kami bersentuhan di dekat pecahan lampu.
Listrik.
Cepat.
Nyata.
Kami berdua membeku sesaat.
Lalu Jane menarik tangannya lebih dulu.
Profesional.
Terkontrol.
Aku membenci betapa aku memperhatikan itu.
“Kau harus pulang dan istirahat,” katanya pelan.
Aku mengangguk sekali.
Tidak percaya suaraku cukup stabil untuk bicara.
Aku mengambil mantel di dekat pintu, tapi berhenti sebelum keluar.
Dadaku mengencang lagi.
Bukan panik kali ini.
Sesuatu yang lebih buruk.
Attachment.
Karena tiba-tiba meninggalkan ruangan ini terasa menyakitkan.
Aku menoleh.
Jane sedang merapikan rak buku sambil pura-pura keadaan di antara kami belum berubah total.
Padahal sudah.
Dan dari ketegangan di bahunya—
dia juga tahu itu.
—
Malam itu aku tidak bisa berhenti memikirkan tangannya.
Menyedihkan.
Benar-benar menyedihkan.
Aku berdiri sendirian di dapur penthouse jam dua pagi sambil mengulang memori itu berkali-kali seperti pecandu yang mengejar rasa candu berikutnya.
Suaranya.
Sentuhannya.
Cara dia berkata:
“Kau ada di sini. Bukan di sana.”
Belum pernah ada orang yang menenangkanku saat panic attack sebelumnya.
Biasanya orang ikut panik.
Atau menjauh.
Atau terlihat tidak nyaman.
Jane tetap tinggal.
Dan itulah masalahnya.
Aku mencuci tangan lagi.
Lalu lagi.
Tetap tidak tenang.
Karena sekarang otakku mulai mengasosiasikan rasa aman dengan seseorang.
Secara spesifik:
Dr. Jane Alister.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
Aku berjalan ke arah jendela besar yang menghadap Blackmore City.
Hujan masih membungkus skyline dengan pantulan cahaya biru dan perak.
Kota itu terlihat tidak berujung malam ini.
Kesepian juga.
Jari-jariku tanpa sadar menyentuh bagian pergelangan tangan tempat Jane menggenggamku tadi.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku sadar aku ingin seseorang tetap tinggal.
Bukan secara fisik.
Secara emosional.
Dan pikiran itu jauh lebih menakutkan daripada panic attack itu sendiri.