Jane Alister
_
Psikolog dilatih untuk mengenali attachment sejak awal.
Biasanya tandanya halus.
Kontak mata yang terlalu lama.
Mulai terlalu banyak bercerita.
Ketergantungan emosional yang menyamar sebagai rasa percaya.
Lalu perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.
Pesan di luar sesi terapi.
Dan di situlah biasanya semuanya mulai runtuh.
Aku menatap layar ponsel di atas meja dapur apartemenku sementara hujan mengetuk lembut jendela besar di ruang tengah.
Unknown Number.
Aku bahkan sudah tahu siapa itu sebelum membuka pesannya.
Michael Hart
Is it normal to still feel exhausted after a panic episode?
Sederhana.
Klinis.
Masuk akal.
Secara teknis… tidak berbahaya.
Aku melirik jam di layar.
11:47 malam.
Terlalu larut untuk komunikasi terapeutik santai.
Aku seharusnya mengabaikannya sampai pagi.
Seharusnya.
Tapi jariku tetap mengetik balasan hampir tanpa berpikir.
Yes. Panic attack berat memberi tekanan besar pada sistem saraf. Coba istirahat malam ini.
Tiga titik muncul hampir seketika.
Lalu:
I don’t sleep well.
Dadaku mengencang sedikit.
Kalimat itu terasa lebih seperti kesepian yang mencoba menjangkau seseorang di tengah gelap daripada sekadar pernyataan biasa.
Professional boundaries, Jane.
Aku meletakkan ponsel dengan sengaja lalu berjalan ke arah jendela apartemen.
Blackmore City berkilau biru keperakan di bawah awan badai.
Indah.
Dingin.
Jauh secara emosional.
Sama seperti orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Ponselku bergetar lagi.
Sorry. Ignore me.
Lalu pesan lain muncul sebelum aku sempat memutuskan akan membalas atau tidak.
Bad night.
Aku memejamkan mata sebentar.
Dan itulah bagian paling berbahaya.
Bukan manipulasi.
Kebutuhan.
Orang-orang yang terluka secara emosional sering meminta maaf karena “terlalu banyak” sambil diam-diam berharap seseorang tidak meninggalkan mereka.
Dan Michael…
Michael membawa luka abandonment seperti luka terbuka yang tidak pernah sembuh.
Aku mengambil ponsel lagi meski tahu aku tidak seharusnya melakukannya.
Did something trigger you tonight?
Kali ini jedanya lebih lama.
Lalu:
Silence.
Tuhan.
Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada seharusnya.
Karena aku mengerti persis maksudnya.
Kadang-kadang kesunyian bisa menjadi begitu keras sampai menghancurkan seseorang.
Aku mengetik perlahan.
Try grounding exercises. Fokus pada sensasi fisik di sekitarmu.
Tiga titik muncul lagi.
That worked better when you did it.
Aku menatap layar terlalu lama setelah membaca itu.
Professional concern.
Hanya itu.
Setidaknya itulah yang terus kuucapkan pada diriku sendiri.
Sayangnya denyut nadiku mengkhianatiku sedikit.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
—
Selama minggu berikutnya, pesan-pesan itu mulai semakin sering muncul.
Awalnya semuanya tetap klinis.
Panic attack lebih ringan hari ini.
Slept four hours.
Didn’t check the locks repeatedly tonight.
Update perkembangan.
Masuk akal.
Profesional.
Tapi attachment emosional jarang tetap masuk akal terlalu lama.
Hari Kamis, pesan-pesannya mulai berubah.
Do you always work this late?
Lalu:
What music do you listen to?
Dan akhirnya:
Have you always lived alone?
Aku seharusnya langsung mengalihkan percakapan kembali ke batas profesional.
Sebaliknya…
aku mulai menjawab seperlunya.
Tidak terlalu personal.
Tidak sepenuhnya terbuka.
Tapi cukup.
Cukup untuk membuatnya merasa diperhatikan.
Cukup untuk membuatnya terus membalas.
Dan itu kesalahanku.
Karena attachment tumbuh dari konsistensi.
Dan Michael sudah terlalu lama kelaparan secara emosional.
____________________
Michael Hart
_
Aku tahu aku mulai melewati batas.
Bagian paling mengerikannya?
Aku tidak cukup peduli untuk berhenti.
Aku duduk sendirian di ruang kerja penthouse hampir tengah malam sambil menatap pesan terakhir dari Jane lebih lama daripada yang seharusnya.
Sleep matters more than productivity, Michael.
Kalimat sederhana.
Tidak intim.
Tidak menggoda.
Tidak tidak pantas.
Tapi entah kenapa dadaku selalu terasa lebih ringan setiap nama Jane muncul di layar.
Menyedihkan.
Benar-benar menyedihkan.
Aku mengusap mata lelah lalu berdiri dan mulai mondar-mandir di ruangan.
Skyline kota membentang tanpa akhir di balik dinding kaca penthouse.
Hujan lagi.
Blackmore City terasa seperti kota yang terjebak badai selamanya.
Cocok.
Ponsel masih berada di tanganku saat aku berjalan ke dapur.
Aku mengecek kunci pintu lagi secara otomatis.
Pintu depan.
Terkunci.
Masih terasa tidak aman.
Aku mengeceknya dua kali lagi.
Lalu mengambil segelas air daripada whiskey.
Kemenangan kecil lainnya.
Terapi rupanya benar-benar mengubahku dalam cara-cara kecil.
Sayangnya terapi juga menciptakan masalah jauh lebih besar.
Jane.
Dr. Jane Alister.
Perempuan yang perlahan menjadi bagian paling aman dari hariku.
Aku membenci kenyataan itu.
Karena attachment emosional selalu berubah menjadi kehancuran pada akhirnya.
Tetap saja…
aku membuka kembali chat kami.
Meng-scroll ke atas perlahan.
Semua balasannya memiliki energi yang sama seperti saat sesi terapi.
Tenang.
Stabil.
Lembut.
Tidak ada performa.
Dan justru itulah yang paling memengaruhiku.
Jane tidak pernah berpura-pura di depanku.
Semua orang lain selalu melakukannya.
Publicist.
Eksekutif.
Pasangan.
Media.
Semua orang menyesuaikan diri di sekitar Michael Hart.
Jane tidak.
Dan entah kenapa itu membuatku semakin menginginkan perhatiannya.
Jariku melayang di atas keyboard sebelum akhirnya mengetik:
Are you awake?
Tiga menit berlalu.
Tidak ada balasan.
Dadaku langsung mengencang secara irasional.
Konyol.
Lalu akhirnya:
Yes.
Rasa lega menghantam terlalu cepat.
Terlalu kuat.
Aku bersandar pelan di meja dapur.
Do psychologists ever get tired of listening to damaged people?
Balasannya kali ini lebih lama.
People aren’t damaged because they’re hurting.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu sekali lagi.
Tuhan.
Tidak ada yang berbicara padaku seperti dia.
Tidak hati-hati.
Tidak lembut.
Tidak seperti aku masih bisa diselamatkan.
Aku mengetik sebelum sempat berpikir terlalu jauh.
What made you become this compassionate?
Jeda panjang.
Lalu:
Experience.
Jawaban menarik.
Terlalu samar.
Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
That sounds emotionally suspicious, Doctor.
Tidak ada balasan hampir lima menit.
Lalu akhirnya:
Go to sleep, Michael.
Aku tertawa pelan sendiri.
Mengalihkan topik.
Jelas menyembunyikan sesuatu.
Dan tiba-tiba aku ingin tahu semuanya tentang dia.
Insting berbahaya.
Sangat berbahaya.
______________________
Jane Alister
_
“Kau terlihat lebih bahagia.”
Aku langsung mengangkat kepala dari meja kerja.
Nora berdiri di ambang pintu sambil membawa kopi dan ekspresi curiga tingkat tinggi.
“Aku terlihat lelah.”
“Kau terlihat terdistraksi secara emosional.”
“Itu bukan diagnosis medis.”
“Seharusnya iya.”
Dia meletakkan kopi di mejaku lalu menyipitkan mata.
“Ini gara-gara pasien selebriti itu, kan?”
Aku pura-pura sibuk merapikan berkas.
Ekspresi netral.
Postur profesional.
Sayangnya Nora mengenalku terlalu baik.
“Kau mengirim pesan dengannya.”
Aku langsung menatapnya.
“Aku tidak mendiskusikan komunikasi pasien.”
“Oh Tuhan.” Nora terlihat setengah ngeri setengah penasaran. “KAU memang chatting dengannya.”
Aku diam.
Dan diamku sudah cukup sebagai jawaban.
Nora perlahan duduk di seberang meja.
“Itu berbahaya.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu hentikan.”
“Aku mengelolanya secara profesional.”
“Benarkah?”
Pertanyaan itu menggantung tidak nyaman di udara.
Karena jujur saja?
Aku sendiri tidak yakin lagi.
Attachment Michael berkembang terlalu cepat setelah panic attack di kantorku.
Trauma bonding klasik.
Dia mempercayaiku sekarang.
Bergantung padaku sekarang.
Dan bagian terburuknya?
Sebagian diriku menyukai fakta bahwa dia membutuhkanku.
Kesadaran itu langsung membuatku merasa bersalah.
Psikolog seharusnya menjaga jarak emosional karena suatu alasan.
Tapi kesepian sering mengaburkan penilaian secara perlahan.
Terutama ketika orang lain yang sama kesepiannya mulai terasa familiar secara emosional.
Nora menyilangkan tangan.
“Kau tahu ke mana ini akan berakhir kalau kau tidak hati-hati.”
“Aku tahu.”
“Dia vulnerable.”
“Aku tahu.”
“Dan kau punya savior complex.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang kuharapkan.
Aku memalingkan pandangan ke jendela kantor.
Hujan lagi.
Selalu hujan di kota ini.
“Dia tidak memanipulasiku,” kataku pelan.
“Aku tidak bilang dia memanipulasimu.”
Karena memang bukan itu masalahnya.
Justru itulah yang membuat semuanya lebih berbahaya.
Attachment Michael terasa tulus.
Mentah.
Tidak terkontrol.
Dan itu berarti kami berdua belum benar-benar melihat tepi jurang yang mulai kami dekati.
Ponselku bergetar lembut di atas meja.
Nora langsung memberiku tatapan penuh penilaian moral.
Aku mengabaikannya dan tetap melihat layar.
Michael
Did you eat today?
Tuhan.
Itu seharusnya tidak memengaruhiku secara emosional.
Nyatanya?
Sangat memengaruhiku.
Karena di antara panic attack, sesi terapi, dan pesan tengah malam…
Michael mulai memperhatikanku juga.
Bukan hanya sebagai psikolog.
Sebagai manusia.
Nora melihat ekspresiku saat itu juga.
“Oh tidak.”
“Apa?”
“Kau mulai attached.”
“Aku tidak attached.”
“Kau menatap ponselmu seperti perempuan yang baru menerima surat cinta dari medan perang.”
Aku tertawa kecil meski seharusnya tidak.
Lalu berhenti tertawa hampir seketika.
Karena jauh di dalam diriku…
mungkin Nora tidak sepenuhnya salah.
_________________
Michael Hart
_
Aku mulai menyusun hariku berdasarkan balasan pesannya.
Dan di situlah aku sadar situasinya mulai serius.
Kalau Jane membalas cepat, kecemasanku langsung turun.
Kalau dia lama membalas, kompulsiku memburuk.
Menyedihkan.
Katastropik secara emosional.
Dan sepenuhnya di luar kontrolku.
Aku duduk di ruang makeup HBN sementara stylist menyiapkanku untuk wawancara rekaman yang sebenarnya tidak penting.
Jaringan televisi masih belum mengizinkanku kembali siaran live penuh.
Damage control phase.
Luar biasa.
“Kau terlihat terdistraksi,” kata makeup artist hati-hati.
Aku nyaris tidak mendengarnya.
Perhatianku tetap terpaku pada layar ponsel.
Unread.
Aku mengirim pesan pada Jane empat puluh tiga menit lalu.
Belum dibalas.
Dadaku mulai mengencang.
Tenang.
Dia bekerja.
Orang punya hidup di luar dirimu.
Pikiran itu seharusnya menenangkan.
Sebaliknya, sesuatu yang lebih gelap mulai bergerak diam-diam di bawah tulang rusukku.
Bagaimana kalau suatu hari dia berhenti membalas?
Bagaimana kalau dia pergi juga?
Aku berdiri mendadak dari kursi.
Makeup artist langsung terkejut.
“Mr. Hart?”
“Aku butuh sebentar.”
Aku keluar ke lorong sebelum panic attack benar-benar muncul.
Terlalu banyak suara.
Terlalu banyak orang.
Terlalu banyak tekanan.
Ponselku tetap diam.
Aku mengeceknya lagi.
Masih tidak ada.
Tuhan.
Ini buruk.
Bukan sekadar tertarik.
Bukan sekadar attachment.
Dependency.
Aku bersandar di dinding lorong dan memejamkan mata.
Bagian paling mengerikannya bukan karena aku menginginkan Jane secara emosional.
Bagian paling mengerikannya adalah betapa cepat otakku mulai mengasosiasikan dirinya dengan rasa aman.
Dan begitulah obsesi dimulai.
Bukan secara dramatis.
Secara perlahan.
Satu kebutuhan emosional setiap kalinya.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Rasa lega langsung membanjiri d**a bahkan sebelum aku membuka pesannya.
Berbahaya.
Sangat berbahaya.
Sorry. Long session today.
Aku mengembuskan napas gemetar.
Menyedihkan.
Satu kalimat darinya dan sistem sarafku langsung stabil lagi.
Aku mengetik terlalu cepat.
I thought you were ignoring me.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Lalu:
Michael.
Bahkan lewat teks aku bisa merasakan kekhawatiran di balik satu kata itu.
Aku mengusap rahang perlahan.
Dia tahu.
Tentu saja dia tahu.
Dia psikolog.
Dia pasti sudah menyadari attachment ini sejak lama.
Lalu pesan lain muncul.
You cannot depend on me for emotional regulation.
Kalimat itu terasa seperti air dingin disiram langsung ke wajahku.
Karena dia benar.
Dan karena sebagian diriku sudah tahu aku terlalu jauh tenggelam untuk berhenti dengan mudah.
Aku menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengetik:
I know.
Jeda lagi.
Lalu:
Boundaries matter.
Aku tertawa kecil pahit.
Boundaries.
Menarik sekali mengingat dia tetap membalas semua pesanku.
Aku menyandarkan kepala ke dinding lorong.
Lampu fluorescent di atas terasa melelahkan.
Kau tahu bagian terburuknya? ketikku akhirnya.
Tidak ada balasan.
Jadi aku lanjut mengetik.
I don’t even think this is about attraction anymore.
Tiga titik langsung muncul cepat sekarang.
Cepat.
Khawatir.
Then what is it about?
Dadaku mengencang.
Kejujuran tiba-tiba terasa sangat berbahaya.
Tapi kelelahan membuat orang menjadi nekat.
Dan aku sudah terlalu lelah untuk terus berbohong.
Aku menatap tanganku yang sedikit gemetar.
Lalu mengetik kebenarannya.
When my mind gets loud, your voice is the only thing that makes it quiet.
Sunyi.
Terlalu lama.
Penyesalan langsung menghantam.
Terlalu jujur.
Terlalu terbuka.
Aku hampir menghapus pesan itu ketika balasan muncul.
Michael—
Lalu berhenti.
Tidak ada lanjutan.
Nadiku mulai naik lagi.
Katakan aku tidak boleh mengirim pesan lagi.
Katakan aku harus mundur.
Katakan aku melewati batas.
Sebaliknya…
setelah hampir satu menit penuh…
pesan terakhir Jane muncul pelan di layar.
Try to sleep tonight.
Hanya itu.
Profesional.
Terkontrol.
Aman.
Tapi entah kenapa justru terasa lebih menyakitkan daripada penolakan.
Karena di balik semua kontrol itu…
aku bisa merasakan sesuatu yang lain juga.
Godaan.
Dan jauh di dalam diriku…
aku yakin Jane juga merasakannya.