Fey memaksa kakinya turun dari mobil. Langkahnya terasa berat menyusuri pelataran parkir menuju pintu masuk dari gedung perkantoran yang menjadi tujuannya. Seolah neraka tengah menantinya di ujung lorong pintu masuk.
Vina yang berjalan disamping Fey, menatap wanita itu curiga. Semenjak bertemu kedua orangtuanya, Vina mendapati wajah lesu Fey bahkan wanita itu berulangkali menghela nafas berat. Apa yang terjadi dengan sahabatnya? Batinnya.
“Fey, kamu kenapa?”
Fey berpaling menatap sahabatnya. Ingin rasanya menceritakan masalah yang tengah dihadapinya saat ini tapi mengingat mereka punya rapat yang sangat penting, Fey mengurungkan niatnya. Dia memilih menunda rasa penasaran sahabatnya. Fey menggeleng lemah lalu melanjutkan langkahnya memasuki ruang rapat.
Selama rapat berlangsung, tidak ada satu patah katapun yang singgah di ingatan Fey. Otaknya lebih banyak mengulang kata-kata Mama. Ferdinand, perjodohan, pertunangan, pernikahan! Kata-kata itu terus berputar di otak Fey seperti roller coaster hingga membuatnya mual.
Fey meraih gelas di atas meja untuk minum. Namun gerakannya terhenti sejenak begitu merasakan tatapan menusuk yang datang entah darimana arahnya. Merasa terganggu, Fey melempar pandangan ke sekeliling, mencari sumber yang telah berhasil membuat semua bulu di tubuhnya berdiri tegak tapi tidak ada seorangpun yang sedang menatapnya. Semua orang fokus mendengarkan presentasi yang menjelaskan rancang bangun untuk proyek kali ini. Fey menggelengkan kepala, otaknya semakin kacau karena sekarang dia mulai berhalusinasi.
“Maaf, Bu direktur. Apa ada yang salah?” Suara Cakka membuat Fey terusik dan berbalik menatapnya.
Fey menggeleng lagi. “Silahkan lanjutkan.”
"Hhhh ... Kata-kata Mama mulai merusak sel-sel otak ku." Batinnya nelangsa.
***
Fey bangun dengan wajah segar. Dia mengelus lembut Dino, kucing kesayangannya sambil mendengarkan ringkasan Vina tentang masalah perjodohan yang telah Fey ceritakan. Semalam Vina menggedor pintu apartemennya dan memaksa Fey menceritakan penyebab keanehan sikapnya beberapa hari ini. Dengan keadaan setengah mengantuk dan kesal, Fey menceritakan semua yang terjadi.
Pagi ini Vina masih berteriak kegirangan, dia sangat mendukung keputusan Mama Mey untuk menjodohkan Fey. Menurutnya Fey memerlukan perantara untuk menemukan jodohnya. Disaat Vina menganti pasangannya seperti menganti sprei dirumahnya (3 hari sekali), Fey malah terus berkutat dengan satu laki-laki b******k seperti Carrel. Sudah saatnya Fey memikirkan dirinya dan membangun cinta romantis ala-ala drama Korea.
“Kenapa kamu cemberut gitu, Fey? Emangnya kamu nggak mau punya seseorang yang selalu nanyain dimana kamu, udah makan, udah tidur, mimpi indah."
Mendengar rentetan kata-kata Vina membuat Fey merinding dan semakin mual. "Cukup!" Tahannya sebelum benar-benar muntah.
"Kenapa?" Vina terkekeh geli. "Lagian Fey, mending kamu menyerah deh nyari pasangan jalur mandiri. Dari tiga puluh dua cowok yang mendekati kamu, nggak ada satupun yang beres."
"Ada," bantah Fey. "Sani," gumamnya pelan.
Vina mendesah lelah. "Sani lagi, Sani lagi. Sampai kapan kamu mikirin tuh cowok. Belum tentu juga dia mikirin kamu."
Fey terdiam, benar yang dikatakan Vina. "Sani janji akan kembali tapi sampai saat ini, dua tahun berlalu, Sani tidak pernah muncul." Batinnya sedih.
"Udahlah Fey, turutin aja apa kata Tante. Mungkin si Ferdinand itu jodoh yang baik buat kamu."
Fey menatap marmer di lantai kamarnya dengan tatapan kosong. "Mungkin ini saat yang tepat untuk melupakan mu, San ..."
***
Fey menatap layar ponselnya. Lima panggilan tidak terjawab, sudah cukup membuatnya merasa ini adalah hari terburuk, apalagi adanya tambahan pesan yang berisi kalimat ultimatum yang cukup tegas. Setelah suasana tenang yang dirasakannya beberapa hari terakhir, Fey mengira semuanya aman. Mama pasti melupakan perihal perjodohan tapi ternyata Fey salah. Hari ini apa yang dipikirkan Fey hancur, Mama hanya membuat suasana cooling down sesaat.
“SEGERA TEMUI FERDINAND ATAU MAMA AKAN MENARIK SELURUH SAHAM WIJAYA DI PERUSAHAAN MU!”
Wow! Baru kali ini Fey menerima surat ancaman se-lugas ini. Mama memang tipe wanita yang tidak dapat dibantah. Bahkan Papa pun tidak akan bisa berkutik di hadapan Mama.
Gawat! kalau Mama benar-benar menjalankan ancamannya, 30% dari saham perusahaan ini adalah milik Mama dan Papa. Jika itu ditarik sepenuhnya, sudah pasti akan terjadi goncangan hebat dalam perusahaan yang dibangun Fey dengan tetes keringat dan air mata ini.
Akhirnya setelah mempertimbangkan plus-minus dari keputusannya dengan berat hati Fey memutuskan untuk menemui laki-laki bernama Ferdinand. Tapi, kenapa Fey yang harus menemuinya? Seharusnya laki-laki yang menemui wanita, kenapa ini kebalikannya?!
Akhirnya disinilah Fey, didepan kantor laki-laki itu. Setelah sebelumnya, Fey berhasil membuat kerusuhan di kantornya. Seluruh petugas office boy dan cleaning service diturunkan untuk mencari kartu nama berwarna hitam dengan nama Alexander Ferdinand yang Fey buang entah kemana.
“Fey, kayaknya ini kantor rekanan kerja kita,” kata Vina. Keningnya mengerut mencoba mengingat sesuatu. "Oh ya, itu loh. Perusahaan yang join project pembangunan jalan layang. Kamu ingat 'kan? Tiga hari yang lalu.”
Fey menggeleng pelan. Beberapa hari ini isi kepalanya terlalu kacau, akibatnya tidak ada satupun aktivitas perusahaan yang menempel di ingatannya. Seperti sekarang ini, pikirannya berkecamuk antara masuk atau tidak ke dalam gedung perkantoran mewah di hadapannya.
“Coba aku liat kartu namanya." Vina menarik kartu itu dari tangan Fey. “Ah!" Jeritnya tiba-tiba membuat Fey kaget.
“Kenapa sih?"
“Ini, ini! Inikan Alex yang punya perusahaan itu, yang aku ceritain," seru Vina sambil menggoyang-goyangkan pundak Fey.
Cerita? Yang mana? Kapan?
“Vin, aku sudah cukup pusing. Jangan menambahnya dengan suara sumbang mu itu.” Fey melepaskan tangan Vina dari pundaknya dan segera memasuki lobi menuju meja resepsionis. Vina tergopoh-gopoh berlari mengikutinya.
“Saya mau bertemu Alexander Ferdinand," ujar Fey tanpa basa-basi. Wanita dibalik meja resepsionis meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar komputer.
“Sudah buat janji?”
Fey baru akan menjawab, namun dicegah Vina. Sekretarisnya mengambil alih pembicaraan, tidak lama dia muncul bersama wanita resepsionis yang sama, namun kali ini wanita itu menyambut Fey dengan ekspresi ramah, malah terlihat terlalu ramah.
Bertiga mereka naik lift ke lantai sepuluh. Fey langsung dipersilahkan masuk ke ruangan Presiden Direktur. Fey penasaran, apa sebenarnya yang di katakan Vina hingga membuat semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Fey, aku ikutan masuk ya."
Fey menatap Vina curiga. "Jangan-jangan nih anak mata-mata Mama." Pikir Fey. Melihat dari betapa antusiasnya Vina terhadap pertemuan ini. "Buat apa, tunggu disini aja," cegah Fey.
Vina memasang wajah cemberut tapi Fey tidak perduli. Dia berdiri di depan pintu dengan label CEO yang tercetak. Dengan berat hati Fey membuka pintu ruangan itu. Langkahnya terasa berat saat berjalan mendekati sosok tegap nan atletis yang tengah berdiri menghadap keluar kaca.
“Selamat siang, nama saya Feyleria." Menunggu beberapa detik, tapi tidak ada respon dari pemilik ruangan. Fey mendesis kesal karena sosok itu tidak berbalik untuk menyambut kedatangannya. "Saya datang untuk membicarakan tentang-"
“Pernikahan?” Potong suara berat yang berbalik untuk menatap Fey tajam.
Sesaat Fey terpesona dengan tampang calon tunangannya. Wajah tampan dengan lesung menghiasi pipi kirinya. Senyumnya tampak menawan meski dengan ekspresi meremehkan. Setelan jas hitam sangat pas membalut tubuhnya, seakan pakaian itu memang diciptakan untuk pemiliknya.
“Duduk." Perintah Alex.
Fey mengikuti perintahnya tanpa membantah. Tak lama dia sadar dan beralih pada kebingungan, kenapa tubuhnya yang dengan patuh menuruti perintah laki-laki itu. Apa yang terjadi?
“Aku sudah mendengar tentang pertunangan kita dan aku setuju." Alex duduk dihadapan Fey, mengintimidasinya.
Fey mengerjapkan matanya beberapa kali, otaknya berusaha keras untuk memproses informasi yang baru saja masuk melalui telinganya. "Se-setuju?" Ucap Fey terbata. "Kenapa?"
Alex melukis senyum tipis di wajahnya lalu bangkit dari kursi untuk berdiri tepat dihadapan Fey. Dia ingin mengikis jarak diantara keduanya. Jari Alex mengangkat dagu Fey agar mendongak untuk menatapnya.
"Secepat itu kamu melupakan ku, Fey?" Desah Alex tepat didepan wajah Fey.
Sejak beberapa hari yang lalu Alex menyimpan pertanyaan yang sama. Dimulai saat Fey dengan mudahnya melewati Alex tanpa ekspresi apapun. Wanita itu seolah tidak mengenalinya.
"Melupakan? Maksud kamu apa?"
"Malam indah kita. Malam saat kamu mabuk dan melemparkan diri mu pada ku."
Mata Fey membulat. Ingatan pagi ter-sial dalam hidupnya kembali muncul. "Ka-kamu?!"
Alex tersenyum puas. Jarinya beralih membelai pipi Fey. "Malam itu aku sangat puas, Fey. Apakah kamu ingat berapa kali kamu o*****e?" Godanya.
Alex memainkan anak rambut yang mencuat dari balik gerai rambut sebahu milik Fey. Ingin rasanya dia membenamkan hidungnya disana, menghirup aroma yang sama seperti malam itu.
"A-aku,"
"Fey, tidak ada alasan bagi kamu untuk menolak pernikahan ini. Lagipula aku harus segera bertanggung jawab atas calon buah hati kita 'kan?" Alex mengelus perut rata Fey yang di balut kemeja putih.
A-APA?!
*****