Alex merasa di atas angin karena Fey hanya menatapnya dengan ekspresi takut. Alex yakin, dia sudah berhasil menaklukkan hati Fey. Artinya, semua rencana yang diaturnya berjalan dengan baik.
"Lalu?"
Alex mengernyit heran, "lalu?"
"Itu cuma one night stand dan aku sama sekali nggak ingat apapun yang terjadi malam itu," ungkap Fey santai. Ekspresi nya berubah datar. Seolah apa yang sedang mereka bicarakan hanyalah masalah sepele. "Lagipula disini." Fey membawa tangan Alex ke arah perutnya. "Tidak ada apapun selain feses."
Alex tercengang dengan kalimat santai Fey. Seolah apa yang mereka lakukan malam itu tidak sedikitpun meninggalkan jejak rasa di hatinya. "Kamu sering melakukannya?"
Fey terdiam sejenak. Menimbang jawaban seperti apa yang bisa membuatnya lolos dari masalah ini. "Hanya saat butuh," sahutnya dengan jawaban menggantung.
Alex benar-benar dibuat mati langkah. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikirannya akan mendapatkan jawaban yang sungguh di luar ekspektasi. Alex mengira wanita di depannya ini adalah sosok lugu dan polos.
"Menurut saya tidak ada lagi alasan bagi anda untuk menyetujui pernikahan ini tuan Alex Ferdinand," ujar Fey lugas.
Rahang Alex mengeras, dia merasa tertantang dengan sikap keras kepala Fey. "Tidak, pernikahan ini harus tetap terjadi dan aku akan memastikan pernikahan kita diselenggarakan secepat mungkin."
"Apa alasan kamu begitu menginginkan pernikahan ini. Bahkan kita nggak saling kenal," sergah Fey frustasi. Dia benar-benar kehabisan ide untuk membuat Alex menolak keinginan orangtuanya.
Alex tersenyum. Dia mulai menyadari skenario yang tengah dimainkan Fey. Wanita itu tengah berusaha membuat Alex menolak pernikahan ini. "Aku menemukan kartu mati mu Fey," desis Alex dalam hati.
"Aku sama sekali tidak punya niat untuk membatalkannya." Alex maju, mempersempit jarak diantara mereka. Begitu melihat pergerakan Fey yang berusaha menghindarinya, Alex segera menutup pergerakan.
Fey mundur teratur begitu melihat Alex bergerak maju ke arahnya. Sayangnya, Fey mengambil arah yang salah. Dia mundur tanpa melihat tembok di belakangnya hingga Alex dengan gampang mengurungnya, mengungkung tubuh Fey diantara kedua lengan kekarnya.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Sergah Fey panik.
Alex terkekeh. "Sayang, kamu tidak akan bisa lari dari pernikahan ini dan disini-" Alex menggantung kalimatnya. Matanya menatap perut Fey dan mengelusnya perlahan. "Aku bisa melakukannya lagi dan aku pastikan akan membuatnya benar-benar terisi."
Fey mendelik kaget. Wajahnya memerah menahan emosi atas kalimat melecehkan yang dilontarkan Alex. Fey mengumpulkan kekuatannya untuk menolak tubuh Alex mundur dan segera keluar dari cengkeramannya.
"Kamu gila!" Desis Fey marah lalu segera berlari keluar ruangan.
Alex terdiam. Matanya menatap sendu kepergian Fey. "Aku akan segera mendapatkan mu, Fey." Batinnya.
***
"Fey, kamu kenapa?" Buru Vina heran begitu melihat Fey keluar dari ruangan Alex dengan wajah merah menahan tangis. Fey menghela nafas panjang.
"Sebenarnya ada apa sih Fey, dari tadi kamu cuma menghela nafas doang. Cerita dong," ujar Vina sembari meletakkan gelas berisi teh di hadapan Fey.
Fey menghela nafas lagi, kali ini lebih dalam. "Vin, kamu ingat pas kita ke Bar Minggu lalu?"
Vina berfikir sejenak. "Pas kamu menghilang gitu aja?"
Fey mengangguk kaku. "Malam itu aku mabuk terus ketemu sama cowok." Fey mengigit bibir bawahnya, menimbang kalimat yang cocok untuk menggambarkan kronologi kejadian.
"Terus," Vina mulai tidak sabar dengan cara bicara Fey yang bertele-tele. "Kamu one night stand?" Tebaknya.
Fey tercengang, kaget dengan tebakan Fey. "Kok kamu tahu?"
Vina mengatur posisi untuk duduk lebih nyaman. "Sebenarnya hari itu aku liat kamu keluar dari Bar bareng cowok tapi aku nggak bisa melihat jelas muka tuh cowok." Aku-nya.
"Terus kenapa kamu?"
Vina mengangkat bahunya, "aku kira kalian emang udah janjian. Lagian nggak mungkinlah aku menganggu orang yang lagi kencan."
"Sialan!" Maki Fey.
"Terus, kenapa kamu kesel banget pas keluar dari kantor Alex?"
"Karena dia cowok yang malam itu ONS sama aku."
Vina membulatkan matanya dan menutup mulutnya kaget. "Serius?" Serunya bersemangat. "Bagus dong!"
Fey mengernyitkan dahinya. "Apanya yang bagus?"
"Ini kebetulan yang bagus. Berarti kalian jodoh."
Fey berbalik menatap Vina. "Vin, dia mau kami segera menikah dan aku nggak mau itu terjadi."
"Lho? Apa alasannya? Kamu aneh deh. Bukannya bagus kalo dia mau bertanggung jawab."
"Pertama, aku sama sekali nggak kenal sama dia. Kedua, aku nggak mau nikah karena terpaksa dan yang ketiga, ini yang paling krusial. Aku nggak cinta sama dia," tutur Fey bersemangat. Ia membuat gerakan menghitung dengan jari-jarinya.
Vina berdecak kesal mendengar alasan Fey yang terkesan dibuat-buat. Vina merentangkan jarinya, meniru gaya Fey. "Pertama, kalian kan bisa saling mengenal dari sekarang. Kedua, kalau kamu udah mengenal dia dengan baik, hati mu pasti bakalan menerima dan yang ketiga-" Vina menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Fey. "Berhenti membuat alasan konyol! Kamu nggak pernah mencoba mencintai laki-laki manapun selain Sani."
Fey terdiam, hatinya membenarkan kalimat Vina. Sani, yah ... Sani! Nama itu tidak pernah menghilang dari hati dan pikirannya. Seolah kata Sani terpahat di dinding hatinya.
"Terus aku harus gimana, Vin?" Rintih Fey sendu.
Vina menatap kasihan. "Jalani dulu, Fey. Kamu harus berjuang dan melepaskan dirimu dari Sani."
Fey membalas tatapan Vina dalam, mungkin apa yang dikatakan Vina ada benarnya. Selama ini Fey hanya menjalin hubungan sebatas kata "pacar", dia tidak pernah melibatkan perasaan. Bahkan saat melihat Carrel selingkuh, Fey lebih takut menghadapi reaksi Mama daripada menangisi nasibnya yang selalu gagal dalam cinta.
"Baiklah," ucap Fey lirih.
***
"Alex,"
Alex berbalik untuk melihat siapa pemilik suara yang memanggil namanya. Keningnya mengerut begitu mendapati teman yang sudah lama tidak pernah terlihat. Vina berdiri di depan pintu apartemennya dengan ekspresi kesal.
"Kenapa Vin? Kok nggak ngabarin kalau mau datang."
Tanpa aba-aba, Vina mengayunkan telapak tangannya hingga mendarat di pipi Alex. "b******k," kecamnya kasar.
"Apa-apaan ini!" Bima yang mendengar keributan segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. "Kenapa datang-datang main nampar aja!"
"Bukan urusanmu! Urusan ku sama dia." Tuding Vina kasar kearah Alex.
Alex mendesah pasrah. "Apa ini berhubungan sama Feyleria?"
Vina menatap Alex tajam. Sebenarnya tujuannya ke rumah Alex bukan untuk membuat keributan, Vina hanya datang untuk menggertak Alex agar laki-laki itu tidak mempermainkan perasaan Fey. Meski dari luar, Fey terlihat ceria menjurus konyol, sebenarnya Fey mempunyai hati yang sangat rapuh. Sekali tersakiti, luka di hatinya akan membekas dan sulit untuk disembuhkan.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam." Bujuk Alex.
Vina tidak membalas, dia hanya melenggang masuk ke rumah Alex tanpa menunggu si pemilik rumah.
"Kenapa sih?" Bisik Bima bingung.
Alex menggeleng pelan, "nanti aku ceritain." Sahutnya.
Bima mengangguk mengerti. Dia mengikuti langkah Alex masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah dimana Vina telah menunggu. Wanita itu duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya. Bima beringsut di belakang Alex, takut dengan tatapan tajam Vina, yang terlihat seperti tentara yang siap menyerang.
"Apa yang kamu lakukan pada Fey?"
"Kamu tenang dulu deh, jangan ngamuk-ngamuk gitu." Saran Bima.
"Diam, jangan ikut campur! Ntar aku timpuk pake ini." Ancam Vina sambil mengangkat high heels yang dikenakannya.
Meski hubungannya dengan Bima telah lama berakhir tapi setiap kali Vina bertemu dengan Bima. Emosinya menjadi tidak terkontrol.
"Kamu punya niat apa sama Fey?"
Alex duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Vina. "Aku nggak punya niat apapun sama Fey."
"Jadi? Kenapa kamu sama Fey keluar bareng dari Bar malam itu dan-" Vina menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan. "Dan melakukan itu."
Alex mendesah pelan begitu mendengar pertanyaan Vina. Dalam hati ia merutuki apa yang telah dilakukannya.
"Alex, kamu gila! Kamu memanfaatkan orang yang nggak sadar. Kamu tahu dia mabuk malam itu 'kan?" lanjut Vina dengan nada emosi.
"Aku tahu Vin, malam itu aku benar-benar hilang akal. Makanya aku mau bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan." Sesal Alex.
"Jadi kamu maksa Fey menikah cuma karena tanggung jawab?" Sentak Vina emosi.
Alex segera melambaikan tangan. "Tidak, dari awal tahu tentang perjodohan ini, aku sudah terlanjur suka sama Fey."
Vina mendesah, perlahan senyum mengembang di bibirnya. "Itu yang mau aku dengar, Alex."
Alex dan Bima saling bertukar pandangan.
"Aku kesini bukan buat nge-judge kamu. Aku cuma mau dengar alasan kamu ngedeketin Fey. Aku harap kamu nggak melukai hati Fey."
Alex mendesah lega dan buru-buru berganti posisi ke sebelah Vina. "Terus dia bilang apa? Fey tertarik sama aku?" Buru Alex antusias.
"Nggak. Bahkan dia membencimu, setiap kali menyebut nama mu, dia akan mengutuk mu."
Semangat Alex yang tadinya menggebu-gebu seketika sirna. "Kenapa?"
"Karena kamu memulai hubungan ini dengan cara yang salah."
Alex mengangguk membenarkan. Dia juga mengakui kebodohannya yang terburu-buru ingin memiliki Fey. "Tapi aku nggak suka melihat Fey bersama orang lain bahkan dia menangisi laki-laki lain," pungkas Alex lirih.
Vina telah lama mengenal Alex, semenjak SMA. Ketiganya menjadi teman, sampai akhir semester di Universitas. Gara-gara hubungannya yang kandas bersama Bima, berimbas pada pertemanannya dengan Alex. Tapi sejauh yang Vina tahu, Alex laki-laki yang baik. Bahkan dengan wajah tampan dan kekayaan yang dimilikinya, Alex sama sekali tidak memanfaatkannya untuk menggaet para wanita.
Justru ular piton di sebelahnya yang hobi mengkoleksi wanita. Vina menembakkan sorotan laser hingga terasa menembus tubuh Alex menuju orang yang bersembunyi di baliknya.
"Kalian mau ngobrol berdua aja?" Tanya Alex karena Vina terus melihat Bima. Vina dan Bima mengibaskan tangan bersamaan.
"Ogah!" Cibir Bima.
"Sama, aku juga ogah. Males banget." Timpal Vina.
Alex mengulum senyum geli melihat kelakuan dua temannya. Padahal, jelas keduanya menunjukkan sikap saling tertarik tapi gengsi yang tinggi selalu menjadi penghalang.
"Vin, kamu bisa kan bantuin aku?"
"Bantuin apa? Ngedeketin Fey?"
Alex mengangguk cepat.
Vina menepuk pundak Alex. "Tenang aja, tanpa kamu minta aku udah melakukannya karena itu Fey mau mencoba menjalani hubungan sama kamu sebelum nanti dia memutuskan menerima pernikahan atau enggak sama kamu." Jelas Vina panjang lebar.
Alex mengembangkan senyum lebar. "Thanks, Vin."
"Tapi ingat, aku bakalan menghajar kamu kalau sampai melihat Fey sedih." Tegas Vina mengancam.
"Aku janji Vin, aku akan membuat Fey bahagia." Janji Alex pada Vina, terlebih pada dirinya sendiri.
*****