“Kami pulang duluan ya, Mbak Naya, Mbak Ani…” ucap Anis sambil tersenyum sopan. Ia berdiri di depan, mewakili empat temannya yang lain yang juga sudah bersiap pulang setelah seharian bekerja.
Di belakangnya, beberapa karyawan lain ikut melambaikan tangan kecil.
“Iya, Mbak, kami duluan ya…”
“Besok kita lanjut lagi fitting yang pagi itu, ya, Mbak…” tambah salah satu dari mereka.
Naya yang berdiri di dekat pintu langsung menoleh, lalu tersenyum hangat.
“Iya, hati-hati di jalan, ya semuanya,” ucapnya lembut. “Jangan lupa istirahat yang cukup.”
Ani yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk. “Iya, jangan kebanyakan begadang juga. Besok masih panjang kerjaannya.”
Anis tertawa kecil. “Siap, Mbak. Makasih ya…”
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam,” jawab Naya dan Ani bersamaan.
Satu per satu karyawan keluar dari butik. Setelah semua benar-benar kosong, Naya kembali masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman. Ia memeriksa lampu, meja, dan beberapa sudut ruangan, memastikan tidak ada yang terlewat.
Beberapa detik kemudian, ia kembali keluar.
Pintu ditarik perlahan dari luar.
Klik.
Ia mengunci butik dari luar, memastikan kuncinya benar-benar terpasang dengan baik. Tangannya sempat menahan gagang pintu sebentar, seolah memastikan semuanya sudah aman.
Setelah itu, Naya menoleh ke arah Ani.
Ani berdiri tak jauh darinya, masih sibuk dengan ponselnya. Jarinya bergerak cepat di layar, dan senyum kecil terus menghiasi wajahnya.
Naya menyipitkan mata, lalu memasukkan kunci ke dalam tasnya.
“Lo mau gue anter pulang?” tanya Naya santai.
Ani tidak langsung menjawab. Ia malah tersenyum lebih lebar ke arah layar ponselnya, lalu akhirnya mengangkat wajah.
“Nggak usah,” jawabnya ringan. “Gue dijemput cowok gue.”
Nada bicaranya terdengar penuh semangat.
Naya langsung mendengus pelan. “Pantesan dari tadi senyum-senyum sendiri.”
Ani tertawa kecil. “Ya gimana dong, lagi chat sama dia.”
“Baru juga kemarin ketemu,” balas Naya datar.
Ani mengangkat bahu santai. “Tetap saja kangen.”
Naya menggeleng pelan, sedikit heran. “Lo ini ya…”
Ani mendekat sedikit, masih dengan senyum lebar. “Dia bilang sudah di jalan. Sebentar lagi sampai.”
“Ya sudah, sana tunggu saja,” ucap Naya sambil melangkah menuju mobilnya. “Gue duluan.”
Ani mengangguk. “Hati-hati, Nay.”
Naya membuka pintu mobilnya, tapi sebelum masuk, ia sempat menoleh lagi.
“Eh,” panggilnya.
Ani mengangkat wajah. “Apa?”
“Jangan pulang terlalu malam.”
Ani tersenyum kecil, matanya sedikit menyipit. “Iya, ibu.”
Naya langsung mendengus pelan, lalu menggeleng. “Ih, enak aja. Orang masih muda gini…”
Ani tertawa pelan melihat ekspresi kesal setengah bercanda itu.
Tak lama, Naya masuk ke dalam mobilnya. Pintu ditutup, mesin dinyalakan, dan mobil itu perlahan bergerak meninggalkan area butik.
Di belakangnya, Ani masih berdiri di sana, sesekali melirik jalan, sesekali kembali menatap ponselnya dengan senyum yang tak kunjung hilang.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan butik.
Senyum Ani langsung mengembang lebih lebar.
Sementara itu, di sisi lain jalan, Naya melaju di tengah suasana malam yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobilnya, menciptakan suasana tenang yang biasa ia nikmati sendirian.
Ia menekan tombol layar di dashboard.
Tak lama, musik mengalun pelan memenuhi ruang mobil. Lagu yang lembut, cukup untuk menemani pikirannya yang mulai kosong setelah seharian bekerja.
Naya bersandar sedikit pada kursinya, satu tangannya memegang setir, sementara yang lain sesekali menyesuaikan volume.
Namun beberapa menit kemudian, musik itu tiba-tiba terhenti.
Digantikan oleh suara dering panggilan masuk yang terhubung dengan sistem mobilnya.
Naya melirik layar.
Nama yang tertera membuat ekspresinya langsung berubah sedikit lebih hangat.
“Kanjeng Ratu.”
Ia tersenyum kecil, lalu menekan tombol untuk mengangkat panggilan.
“Halo, Ma… ada apa?” tanya Naya sambil tetap fokus pada jalan di depannya.
Di seberang sana, suara lembut Bu Syifa terdengar jelas.
“Kamu sudah pulang, Nay?”
Naya melirik jam sebentar. “Ini lagi di jalan, Ma. Mau pulang.”
“Oh… hati-hati, ya,” ucap Bu Syifa. “Mama cuma mau kasih tahu.”
“Iya, Ma. Ada apa memang?” tanya Naya penasaran.
“Mama sama Papa lagi di rumah Om Reno sekarang,” lanjut Bu Syifa. “Kami lagi bahas acara besok.”
Naya langsung mengernyitkan keningnya.
“Acara besok?” ulangnya. “Emang ada acara apa, Ma? Kok Mama sama Papa ke rumah Om Reno segala…”
Nada suaranya terdengar bingung, mencoba mengingat sesuatu yang seolah terlewat.
Di seberang sana, Bu Syifa terdengar menarik napas kecil.
“Kamu ini… masa acara sepupu sendiri lupa,” ucapnya dengan nada setengah mengomel, tapi tetap lembut. “Si Tomi kan sudah lulus sekolah angkatan laut.”
Naya terdiam sesaat.
Lalu matanya langsung melebar.
“Ohh… iya!” serunya spontan. “Toto sudah lulus, ya, Ma?”
Nada suaranya berubah jadi lebih ceria.
“Iya, Nay. Besok itu acaranya. Makanya sekarang lagi dibahas persiapannya di sini,” jelas Bu Syifa.
Naya tersenyum lebar, bahkan tanpa sadar sedikit mempercepat mobilnya.
“Ya ampun… aku sampai lupa,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Padahal itu kan momen penting banget buat dia.”
“Iya, makanya Mama heran kamu bisa lupa,” sahut Bu Syifa.
Naya menghela napas pelan. “Maaf, Ma… akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan di butik.”
“Iya, Mama tahu kamu sibuk,” jawab Bu Syifa lebih lembut. “Tapi tetap harus ingat keluarga juga.”
“Iya, Ma… pasti.”
Naya terdiam sebentar, lalu tersenyum lagi.
“Kalau gitu aku ke sana saja sekarang, ya, Ma,” ucapnya tiba-tiba penuh semangat.
Bu Syifa terdengar sedikit kaget. “Sekarang?”
“Iya. Mumpung masih di jalan juga,” jawab Naya cepat. “Sekalian bantu kalau ada yang bisa dibantu.”
Beberapa detik hening, lalu terdengar suara Bu Syifa yang mulai tersenyum.
“Ya sudah, kalau begitu ke sini saja. Kami masih di rumah Om Reno.”
“Iya, Ma. Tunggu ya,” jawab Naya.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, Ma.”
Panggilan pun terputus.
Naya langsung mengalihkan arah mobilnya sedikit, menuju rumah Om Reno.
Senyumnya masih terpasang.
Di kepalanya, sudah terbayang wajah Tomi, atau yang biasa ia panggil “Toto”.
Sejak kecil, Naya memang sangat dekat dengan sepupunya itu. Karena tidak punya adik, ia selalu menganggap Tomi seperti adiknya sendiri.
Dan sekarang Adik kecilnya itu sudah lulus dari angkatan laut.
Naya tersenyum bangga.
“Hebat juga lo, To…” gumamnya pelan.
Mobilnya melaju lebih pasti di jalanan malam yang lenggang untuk berkumpul dengan keluarganya.
***
Mobil Naya akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Om Reno. Lampu depan mobilnya menyinari pagar tinggi berwarna hitam itu, sementara suasana di dalam terlihat cukup ramai dari kejauhan.
Naya menekan klakson beberapa kali.
“Tin… tin… tin…”
Ia sedikit memajukan badannya, mencoba mengintip ke dalam melalui celah pagar. Dari dalam, tampak cahaya lampu terang dan beberapa bayangan orang yang lalu-lalang.
“Wah, sepertinya benar-benar lagi sibuk,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Tak lama, seorang satpam bergegas keluar dari pos jaga. Ia berjalan cepat menuju gerbang, lalu sedikit menunduk saat mengenali siapa yang datang.
“Eh, Non Naya…” ucapnya ramah sambil segera membuka kunci gerbang.
Pagar besar itu pun perlahan terbuka.
Naya menurunkan kaca jendela mobilnya, wajahnya langsung terlihat jelas dengan senyum hangat.
“Malam, Pak Amad,” sapanya.
“Malam, Non. Silakan masuk,” balas Pak Amad sopan sambil menggeser pagar lebih lebar.
Mobil Naya pun perlahan masuk ke halaman rumah yang cukup luas itu. Lampu taman yang menyala membuat suasana terlihat hangat, sementara beberapa mobil yang sudah terparkir rapi menandakan bahwa memang banyak anggota keluarga yang sudah datang lebih dulu.
Naya memutar setir dengan hati-hati, lalu memarkirkan mobilnya di sisi halaman, tidak jauh dari kendaraan lainnya.
Begitu mesin dimatikan, ia menghela napas kecil, seolah melepas lelah setelah perjalanan. Tangannya meraih tas di kursi samping, lalu ia membuka pintu mobil.
Ia melangkah keluar, sepatu heels-nya menyentuh lantai dengan suara pelan. Angin malam sedikit meniup rambutnya, membuatnya refleks merapikannya dengan jari.
Naya sempat menoleh ke arah gerbang.
Pak Amad masih berdiri di sana, memastikan semuanya aman.
“Makasih ya, Pak Amad,” ucap Naya dengan senyum hangat.
Pak Amad mengangguk sopan. “Sama-sama, Non. Dari tadi di dalam sudah ramai. Sepertinya lagi kumpul semua.”
Naya tersenyum kecil. “Iya, kelihatan banget dari luar.”
“Silakan masuk saja, Non,” lanjut Pak Amad.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Naya pun berbalik, lalu melangkah menuju pintu utama rumah. Semakin dekat, suara-suara dari dalam terdengar semakin jelas.
Tawa, obrolan, dan beberapa suara orang yang saling menyahut memenuhi udara.
Naya tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.
“Wah… rame banget…” gumamnya pelan, matanya berbinar.
Dengan semangat yang tiba-tiba muncul, ia mempercepat langkahnya. Tangannya mendorong pintu yang memang sudah tidak terkunci.
Begitu pintu terbuka, suasana hangat langsung menyambutnya.
Tanpa ragu, Naya melangkah masuk dan langsung berseru dengan suara nyaring.
“Halo semuanya! Naya yang cantik dan imut ini datang!”
Seketika, hampir semua kepala di dalam ruangan menoleh ke arahnya.
Beberapa orang langsung tertawa.
“Ya ampun, masih saja ya percaya diri begitu,” celetuk salah satu sepupunya.
“Si paling cantik datang…” sahut yang lain menggoda.
Namun sebelum yang lain sempat menimpali lebih jauh, seorang wanita paruh baya bangkit dari duduknya dengan wajah berbinar.
“Naya!” panggilnya penuh hangat.
Itu adalah Tante Yuli, istri dari Om Reno.
Ia langsung berjalan cepat menghampiri Naya, lalu meraih kedua bahunya.
“Kamu akhirnya datang juga,” ucapnya dengan senyum lebar. “Tante kira kamu nggak sempat datang.”
Naya langsung memeluknya dengan erat. “Mana mungkin aku nggak datang, Tante. Ini kan acaranya Toto.”
Tante Yuli tersenyum haru, lalu mengusap punggung Naya pelan. “Iya… kamu memang paling perhatian.”
Naya melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tante-nya itu dengan senyum hangat.
“Tante apa kabar?” tanyanya lembut.
“Baik, Nak. Kamu sendiri? Kelihatan capek…” jawab Tante Yuli sambil memperhatikan wajah Naya lebih dekat.
Naya tertawa kecil, mengibaskan tangannya santai. “Sedikit, Tante. Tadi habis dari butik, lumayan ramai. Tapi begitu ingat Toto, langsung semangat lagi.”
Tante Yuli tersenyum bangga. “Memang ya… dari kecil kalian berdua itu dekat sekali. Kayak kakak adik beneran.”
Naya mengangguk cepat. “Ya memang dia adikku, Tante. Walaupun beda orang tua,” balasnya setengah bercanda.
Dari dalam ruangan, beberapa suara langsung menyahut.
“Loh, Naya sudah datang?”
“Ke sini dulu, Nay!”
“Nggak berubah ya, tetap heboh!”
Naya menoleh, lalu melambaikan tangan kecil dengan gaya santainya.
“Iya, sabar… satu-satu disapa! Jangan rebutan dong,” jawabnya ceria.
Beberapa orang langsung tertawa mendengar jawabannya.
Suasana yang tadinya sudah ramai kini terasa semakin hidup dengan kehadiran Naya. Tawa, candaan, dan obrolan ringan saling bersahutan, membuat ruangan itu dipenuhi kehangatan keluarga.
Naya kembali menoleh ke Tante Yuli, lalu sedikit menunduk mendekat.
“Totonya mana, Tante?” tanyanya penasaran, matanya mulai mencari ke sekitar ruangan.
Tante Yuli menggeleng pelan. “Belum ada, Nay. Dia masih di kesatuan. Besok saja kita ketemu langsung di sana, pas acaranya.”
Naya langsung mengerucutkan bibirnya, sedikit kecewa. “Yah… aku kira dia sudah di rumah.”
Di saat itu, Om Reno yang duduk tak jauh dari mereka ikut menimpali.
“Nanti setelah penugasan juga dia bakal lebih sering di barak,” ucapnya santai. “Jadi memang nggak bisa sering-sering pulang.”
Naya langsung menoleh cepat. “Hah? Di barak terus?”
Om Reno mengangguk. “Iya. Namanya juga sudah jadi bagian dari angkatan laut. Ada aturan dan tanggung jawab yang harus dijalani.”
Naya menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke sofa terdekat.
“Yah… berarti aku nggak bisa jahilin dia dong nanti…” ucapnya dengan nada kecewa, tapi tetap terdengar manja.
Beberapa sepupu yang mendengar itu langsung tertawa.
“Kasihan amat Tomi,” celetuk salah satu dari mereka. “Baru juga lulus, sudah ditungguin buat dijahilin.”
Naya langsung menoleh sambil menunjuk. “Eh, itu bentuk sayang, ya! Bukan jahil!”
“Iya, iya… sayang versi Naya,” sahut yang lain menggoda.
Naya mendengus pelan, lalu kembali menatap Tante Yuli.
“Padahal aku sudah banyak rencana mau ganggu dia,” gumamnya setengah serius.
Tante Yuli tertawa kecil, lalu mengusap lengan Naya. “Kamu ini ya… sudah gede masih saja suka usil.”
Naya tersenyum lebar. “Ya kan seru, Tante. Dari dulu juga dia nggak pernah bisa menang lawan aku.”
Om Reno menggeleng sambil tersenyum. “Sekarang sudah beda, Nay. Dia sudah jadi perwira. Nanti kamu yang kena hukum.”
Naya langsung membulatkan mata. “Ih, masa sih, Om? Dia berani sama aku?”
“Coba saja nanti,” jawab Om Reno santai.
Naya terdiam sejenak, lalu menyilangkan tangan di d**a.
“Ya sudah… kita lihat saja nanti,” ucapnya dengan nada menantang, meski di ujung bibirnya terselip senyum.
Suasana kembali dipenuhi tawa.
Di tengah canda itu, Naya tampak benar-benar menikmati momen bersama keluarganya. Meski tidak bisa langsung bertemu dengan Tomi malam itu, hanya dengan mendengar kabar tentangnya saja sudah cukup membuat hatinya hangat.
Dan dalam diam, ada rasa bangga yang perlahan tumbuh.
Karena “adiknya” itu kini sudah menjadi seseorang yang membanggakan.
.
.
Bersambung...