Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba.
Pagi itu, suasana di kamar Naya terasa berbeda dari biasanya. Sinar matahari masuk melalui jendela, memantul lembut pada cermin besar di hadapannya. Di sana, Naya berdiri dengan kebaya yang ia rancang sendiri khusus untuk acara pelantikan sepupunya.
Kebaya itu terlihat anggun, dengan detail yang sederhana namun tetap mewah. Potongannya mengikuti bentuk tubuhnya dengan pas, sementara kainnya jatuh dengan elegan hingga ke bawah.
Naya memperhatikan dirinya di cermin, memutar sedikit tubuhnya ke kanan dan kiri.
“Hmm… oke,” gumamnya pelan. “Masih sesuai ekspektasi.”
Ia merapikan bagian lengan, lalu menyentuh sedikit bagian rambutnya yang sudah ditata rapi.
“Kalau Toto lihat, pasti dia komentar…” lanjutnya pelan sambil tersenyum kecil.
Tak lama, ponselnya yang terletak di meja bergetar.
Naya berjalan mendekat, lalu mengambilnya. Ia membuka grup chat karyawan butik.
Senyumnya muncul lagi.
“Ya sudah, kasih kabar dulu,” gumamnya.
Ia mulai mengetik.
---
Pagi semuanya 😊
Hari ini aku nggak ke butik ya. Aku ada acara keluarga, pelantikan sepupu.
Tapi kerjaan tetap jalan seperti biasa.
Kalau ada yang urgent, langsung hubungi aku atau Mbak Ani.
Jangan lupa fitting jam 10 sama klien yang kemarin, dan tolong dicek ulang pesanan yang mau dikirim hari ini.
Semangat ya semuanya ❤️Beberapa detik setelah pesan itu terkirim, notifikasi balasan langsung berdatangan.
“Iya, Mbak siap!”
“Semoga acaranya lancar, Mbak!”
“Tenang, butik aman 😄”
---
Naya tersenyum melihat respon mereka.
“Anak-anak ini…” gumamnya pelan, ada rasa bangga yang tidak bisa ia sembunyikan. Baginya, butik itu bukan sekadar tempat kerja, tapi juga rumah kedua yang ia bangun bersama orang-orang yang ia percaya.
Tak lama, ponselnya kembali bergetar.
Nama Ani muncul di layar.
Naya langsung mengangkat panggilan itu.
“Halo, Ni…”
Di seberang, suara Ani terdengar cukup semangat. “Nay, lo sudah siap belum?”
Naya terkekeh kecil sambil melirik dirinya di cermin. “Sudah dong. Dari tadi malah sudah rapi.”
“Wah… tumben banget,” goda Ani tanpa jeda.
“Enak saja. Gue juga bisa rapi, ya,” balas Naya cepat, pura-pura kesal.
Ani langsung tertawa. “Iya, iya… pasti hari ini lo cantik banget.”
Naya tersenyum kecil, matanya kembali memperhatikan detail kebaya yang ia kenakan. “Ya… lumayan lah.”
“Lumayan apaan,” sahut Ani cepat. “Pasti niat banget kan, secara acara Toto.”
Naya mengangguk, meski tahu Ani tidak bisa melihatnya. Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Iya… ini penting buat dia.”
Ani terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar lebih lembut.
“Salam ya buat dia. Maaf gue nggak bisa ikut.”
“Iya, nanti gue sampaikan,” jawab Naya pelan.
“Ya sudah, hati-hati di jalan.”
“Iya, Ni. Jaga butik, ya.”
“Tenang. Semua aman.”
Panggilan pun terputus.
Naya menurunkan ponselnya perlahan, lalu kembali menatap dirinya di cermin.
Kali ini, senyumnya berbeda.
Lebih hangat.
Lebih penuh makna.
Matanya menatap pantulan dirinya sendiri dengan keyakinan.
“Hari ini hari besar lo, To…” ucapnya pelan. “Gue pastikan lo nggak bakal malu punya kakak kayak gue.”
Ia tersenyum kecil setelah mengatakannya, seolah benar-benar berbicara langsung pada Tomi.
Tangannya meraih tas kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia memastikan sekali lagi isi di dalamnya, lalu mengangguk puas.
“Oke… siap,” gumamnya.
Dengan langkah ringan, Naya keluar dari kamar. Suara heels-nya terdengar pelan menyusuri lantai rumah.
Begitu sampai di ruang tamu, Naya melihat kedua orang tuanya sudah menunggu di sana.
Bu Syifa duduk dengan anggun di sofa, sementara Pak Dimas berdiri di dekat meja, sibuk merapikan jam tangannya.
Saat melihat Naya muncul dari arah tangga, Bu Syifa langsung menoleh. Matanya seketika berbinar, lalu senyum lebar menghiasi wajahnya.
“MasyaAllah…” ucapnya spontan, sedikit berdiri dari duduknya. “Cantik sekali anak Mama.”
Naya tersenyum manja, lalu berjalan mendekat dengan langkah pelan.
“Masa sih, Ma?” balasnya sambil sedikit memutar tubuhnya, seolah memperlihatkan kebaya yang ia kenakan.
Pak Dimas ikut menoleh, memperhatikan putrinya dari ujung kepala sampai kaki. Ia lalu mengangguk pelan, senyum bangga terlihat jelas di wajahnya.
“Cantik,” ucapnya singkat namun penuh arti. “Kebayanya desain sendiri?”
Naya langsung tersenyum lebih lebar, matanya berbinar bangga.
“Iya dong, Pa. Masa nggak,” jawabnya ringan.
“Pantas saja beda,” sahut Bu Syifa sambil berdiri, lalu mendekat untuk merapikan sedikit bagian bahu Naya. Tangannya halus membetulkan lipatan kecil di kebaya itu. “Ini benar-benar kamu banget. Elegan, tapi tetap sederhana.”
Naya menatap ibunya dengan hangat. “Makasih, Ma.”
Bu Syifa lalu mengelus pipinya pelan, matanya penuh kasih.
“Pasti nanti kamu jadi tontonan banyak orang,” ucapnya setengah bercanda, tapi juga serius.
Naya langsung terkekeh kecil. “Nggak apa-apa, Ma. Nanti kalau ada ibu-ibu persit yang nanya, tinggal aku suruh ke butik saja.”
Pak Dimas langsung mengangkat alis. “Nah, mulai lagi jualannya…”
Naya menoleh cepat. “Loh, sekalian promosi, Pa. Kesempatan nggak datang dua kali.”
Bu Syifa menggeleng sambil tersenyum. “Dasar kamu ini ya… dari kecil memang nggak pernah berubah.”
“Iya dong, Ma. Harus pintar manfaatin momen,” balas Naya santai.
Mereka bertiga tertawa kecil, suasana terasa hangat dan ringan.
Pak Dimas kemudian mengambil kunci mobil dari atas meja, lalu menoleh ke arah istri dan anaknya.
“Sudah siap semua?” tanyanya sambil sedikit mengangkat kunci di tangannya.
Naya langsung mengangguk mantap. “Siap, Pa.”
Bu Syifa juga tersenyum, lalu meraih tasnya. “Ya sudah, kita berangkat. Yang lain sudah nunggu di sana.”
Naya menghela napas pelan, lalu tersenyum penuh semangat.
“Akhirnya…” gumamnya kecil, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia pun melangkah mengikuti kedua orang tuanya keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di depan.
Pak Dimas membuka pintu depan untuk Bu Syifa, memastikan istrinya duduk dengan nyaman terlebih dahulu. Setelah itu, ia berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi.
Sementara itu, Naya membuka pintu belakang, lalu duduk dengan anggun. Ia merapikan kebayanya agar tidak kusut, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.
Mesin mobil pun dinyalakan, dan perlahan mereka mulai meninggalkan halaman rumah.
Suasana di dalam mobil awalnya tenang. Hanya suara mesin dan musik pelan yang mengalun.
Namun tidak lama, Bu Syifa menoleh sedikit ke belakang.
“Naya…” panggilnya dengan nada yang sudah terdengar ‘berarti sesuatu’.
Naya langsung menegakkan duduknya sedikit. “Iya, Ma?”
Bu Syifa menyipitkan mata, menatap putrinya dengan ekspresi penuh arti.
“Nanti jaga sikap loh,” ucapnya pelan tapi tegas. “Jangan jahilin Tomi dulu. Kasihan nanti dia malu harus hadapin kelakuan kamu yang di luar nalar itu.”
Naya langsung bereaksi, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak terima.
“Ihh… mana ada aku kayak gitu,” bantahnya cepat. “Anak Mama ini anggun, tahu. Jadi nggak mungkin bikin malu.”
Pak Dimas yang sedang menyetir langsung tersenyum kecil, seolah sudah bisa menebak arah percakapan itu.
Bu Syifa menoleh sekilas ke arah suaminya, lalu kembali ke Naya dengan tatapan yang sama.
“Anggun dari mana?” ucapnya datar. “Kemarin saja kamu masih iseng sembunyiin kunci mobil Papa.”
Naya langsung tersenyum canggung. “Itu kan… bercanda, Ma.”
“Bercanda menurut kamu,” balas Bu Syifa cepat. “Papa kamu sampai muter-muter nyari.”
Pak Dimas akhirnya ikut tertawa pelan. “Iya, Papa sampai hampir telat gara-gara itu.”
Naya mendesah pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, tapi ekspresinya masih terlihat berusaha membela diri.
“Ya kan akhirnya ketemu juga…” gumamnya pelan, seolah itu alasan yang cukup kuat.
Bu Syifa langsung menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tipis namun penuh arti.
“Nggak sadar diri…” ucapnya ringan.
Ucapan itu langsung membuat Pak Dimas tertawa lebih jelas dari sebelumnya. Suara tawanya memenuhi mobil, membuat suasana semakin cair.
Naya langsung menatap ke depan, pura-pura kesal. Ia menyilangkan tangan di d**a.
“Dua lawan satu ini namanya,” ucapnya dengan nada protes.
Pak Dimas melirik ke arah kaca spion, menatap Naya sekilas dengan senyum kecil.
“Makanya, jangan aneh-aneh,” sahutnya santai.
Naya mengerucutkan bibirnya. “Iya, iya… nanti aku baik-baik saja.”
Belum sempat suasana tenang, Bu Syifa langsung menimpali dengan cepat.
“Bukan nanti,” ucapnya tegas. “Dari awal sampai akhir acara.”
Naya langsung menoleh sedikit ke depan, wajahnya menunjukkan ekspresi pasrah.
“Iya, Ma…” jawabnya sambil menghela napas panjang.
Beberapa detik suasana kembali hening. Hanya suara mesin mobil dan musik pelan yang terdengar.
Namun tiba-tiba, sudut bibir Naya terangkat. Ia tersenyum sendiri, seolah memikirkan sesuatu.
“Paling cuma sedikit saja…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Tapi Bu Syifa yang duduk di depan langsung menangkapnya.
“Sedikit apanya?” tanyanya cepat, nada suaranya langsung berubah curiga.
Naya langsung tersentak, lalu menggeleng cepat.
“Nggak ada!” jawabnya buru-buru.
Pak Dimas kembali tertawa kecil melihat reaksi itu.
“Lihat kan, Ma… itu sudah mulai,” ucapnya sambil masih tertawa.
Bu Syifa menggeleng lagi, kali ini sambil tersenyum.
“Kamu ini ya… nggak pernah bisa diam,” ucapnya pada Naya.
Naya mendesah lagi, tapi kali ini diiringi senyum kecil.
“Ya kan biar hidup nggak tegang terus, Ma,” balasnya santai.
Pak Dimas menimpali, “Tegangnya bukan hidup, tapi orang-orang di sekitar kamu.”
Naya langsung mengangkat alis. “Ih, Papa juga ya…”
Mereka bertiga kembali tertawa.
Sepanjang perjalanan, obrolan kecil dan candaan terus mengisi suasana. Kadang Naya membalas, kadang Bu Syifa mengingatkan, dan Pak Dimas hanya menimpali dengan komentar santai yang justru membuat suasana semakin hidup.
Di balik semua itu, jelas terlihat satu hal.
Meski terdengar seperti perdebatan kecil, tidak ada satu pun kata yang benar-benar menyakitkan. Semuanya terasa ringan, dan terasa hangat.
Karena di antara candaan dan saling menyela itu, tersimpan rasa sayang yang begitu besar. Hubungan seorang ibu dan anak yang penuh warna, dan seorang ayah yang selalu menjadi penyeimbang di tengah-tengah mereka.
Mobil terus melaju, membawa mereka menuju ke tempat yang dituju.
.
.
Bersambung...