Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki area parkir kompleks angkatan laut. Deretan kendaraan sudah memenuhi hampir seluruh lahan, menandakan betapa besarnya acara yang akan berlangsung hari itu.
Pak Dimas memutar setir dengan hati-hati, mencari celah untuk parkir. Setelah menemukan tempat yang cukup, ia mematikan mesin.
“Sudah, kita turun,” ucapnya sambil membuka sabuk pengaman.
Naya yang duduk di belakang segera membuka pintu. Ia turun perlahan, tangannya otomatis merapikan kebayanya agar tetap rapi. Begitu kakinya menapak tanah, matanya langsung menyapu sekitar.
Ratusan orang terlihat memadati area itu.
Ada keluarga, kerabat, bahkan anak-anak kecil yang ikut datang. Semuanya tampak rapi, sebagian bahkan mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghadiri momen penting tersebut.
Naya sedikit membulatkan mata, terlihat terkejut.
“Banyak banget ya, Ma…” ucapnya sambil menoleh ke arah ibunya.
Bu Syifa yang baru saja turun dari mobil ikut melihat sekeliling, lalu mengangguk pelan.
“Iya,” jawabnya tenang. “Namanya juga mereka datang untuk menghadiri pelantikan anggota keluarga mereka.”
Ia melangkah mendekat ke Naya, suaranya terdengar lebih lembut.
“Masuk tentara itu nggak mudah, Nay,” lanjutnya. “Prosesnya panjang, berat, dan penuh perjuangan. Jadi kalau ada satu saja anggota keluarga yang berhasil jadi abdi negara… mereka pasti bangga.”
Naya terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Ia kembali melihat sekitar, memperhatikan wajah-wajah penuh harap dan bangga dari orang-orang yang hadir.
Namun tiba-tiba, ia menoleh lagi ke arah ibunya dengan ekspresi sedikit jahil.
“Tumben Mama bijak…” ucapnya spontan.
Bu Syifa langsung melirik tajam.
“Kamu ini ya…” balasnya sambil menggeleng, antara kesal dan ingin tertawa. “Dibilangin serius malah begitu tanggapannya.”
Naya langsung nyengir. “Iya, iya… maaf. Tapi bener kok, Ma. Keren juga ya…”
Bu Syifa menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Makanya… nanti jangan macam-macam.”
Naya mengangkat kedua tangannya. “Iya, siap, Bu.”
Di saat itu, Pak Dimas berjalan menghampiri mereka setelah memastikan mobil terkunci dengan aman.
“Sudah?” tanyanya sambil menatap keduanya.
“Sudah, Pa,” jawab Naya.
Pak Dimas mengangguk, lalu menunjuk ke arah depan.
“Ayo, kita gabung sama yang lain dulu. Om Reno dan keluarga sudah di sana,” ucapnya.
“Mereka di mana, Pa?” tanya Naya sambil sedikit berjinjit, mencoba melihat lebih jauh.
“Di dekat tenda utama, sebelah kiri,” jawab Pak Dimas.
Naya langsung mengangguk semangat. “Ya sudah, ayo cepat.”
Bu Syifa tersenyum melihat tingkah anaknya. “Sabar sedikit.”
Mereka pun berjalan bersama, menyusuri keramaian menuju titik kumpul keluarga.
Sepanjang jalan, Naya terus memperhatikan sekitar. Sesekali ia melihat para calon prajurit yang sudah bersiap di kejauhan, membuat hatinya ikut berdebar.
“Ma…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Nanti kalau Toto sudah pakai seragam lengkap… pasti keren banget ya.”
Bu Syifa tersenyum bangga. “Pasti.”
Pak Dimas menimpali, “Bukan cuma keren. Tapi juga tanggung jawabnya besar.”
Naya mengangguk pelan, kali ini tanpa bercanda.
“Iya…” gumamnya.
Langkah mereka terus berlanjut.
Di tengah keramaian, di antara banyaknya orang yang hadir, Naya merasakan sesuatu yang berbeda.
Rasa bangga dan tidak sabar untuk segera melihat “adiknya” berdiri sebagai seseorang yang kini telah resmi mengabdikan diri untuk negara.
***
Mereka bertiga terus berjalan menyusuri area yang semakin ramai. Suara orang-orang yang saling memanggil, anak kecil yang berlarian, hingga obrolan keluarga yang penuh antusias terdengar di mana-mana.
Naya berjalan di samping Bu Syifa, sesekali menarik sedikit ujung kebayanya agar tidak terinjak.
“Ma… ini kalau jatuh, aku nggak tanggung jawab ya,” bisiknya pelan.
Bu Syifa langsung menoleh. “Makanya jalan yang benar, jangan sambil lihat kanan kiri terus.”
Naya mengerucutkan bibirnya. “Aku lagi observasi suasana, Ma.”
Pak Dimas yang berjalan di depan mereka terkekeh kecil. “Observasi katanya…”
“Serius, Pa,” balas Naya cepat. “Ini kan pengalaman baru. Aku belum pernah datang ke acara pelantikan begini.”
Bu Syifa mengangguk pelan. “Iya, makanya dinikmati. Jangan malah cari masalah.”
“Iya, iya…” sahut Naya, kali ini lebih patuh.
Tak lama, Pak Dimas menunjuk ke arah sekumpulan orang di dekat tenda besar.
“Itu mereka,” ucapnya.
Naya langsung mengikuti arah yang ditunjuk. Matanya berbinar saat melihat wajah-wajah yang ia kenal.
“Itu Tante Yuli!” serunya pelan.
Tanpa menunggu lama, ia sedikit mempercepat langkahnya.
“Tante!” panggilnya.
Tante Yuli yang sedang berbincang langsung menoleh. Wajahnya seketika berubah cerah.
“Naya!” balasnya, lalu membuka tangan.
Naya langsung memeluknya dengan hangat.
“Tante… ramai banget ya,” ucap Naya sambil sedikit tertawa.
“Iya, Nak. Semua keluarga pada datang,” jawab Tante Yuli.
Bu Syifa dan Pak Dimas ikut mendekat, saling menyapa dengan Om Reno dan anggota keluarga lainnya.
“Sudah dari tadi di sini?” tanya Pak Dimas.
“Sudah,” jawab Om Reno. “Sebentar lagi juga mulai.”
Naya melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke sekitar.
“Om… Toto di mana?” tanyanya penasaran, matanya langsung mencari-cari.
Om Reno tersenyum kecil. “Belum bisa ketemu sekarang. Mereka lagi persiapan di dalam.”
Naya sedikit menghela napas. “Yah… aku sudah nggak sabar.”
Tante Yuli menepuk pelan lengannya. “Sabar. Nanti juga lihat di lapangan.”
Naya mengangguk, tapi ekspresinya jelas masih tidak sabar.
Di sisi lain, beberapa sepupu mulai mendekat.
“Wah, akhirnya datang juga,” ujar salah satu dari mereka.
“Iya dong,” jawab Naya santai. “Mana mungkin aku absen.”
“Dandan banget hari ini,” goda yang lain.
Naya langsung mengangkat dagunya sedikit. “Harus. Ini acara penting.”
“Bukan karena mau ketemu Toto?” sahut sepupunya lagi sambil menyenggolnya.
Naya langsung menatap tajam. “Eh, itu beda urusan.”
Mereka semua tertawa.
Tak lama, suara pengeras mulai terdengar dari arah lapangan utama.
“Perhatian, kepada seluruh tamu undangan…”
Suasana perlahan mulai berubah.
Orang-orang mulai bergerak menuju tempat duduk yang sudah disediakan.
“Sudah mulai,” ucap Pak Dimas.
“Ayo, kita duduk,” tambah Bu Syifa.
Mereka pun berjalan menuju deretan kursi yang telah diatur rapi menghadap lapangan.
Naya duduk di antara kedua orang tuanya. Matanya langsung tertuju ke depan, ke arah lapangan luas tempat para calon prajurit akan tampil.
Beberapa menit kemudian, barisan mulai terlihat.
Rapi.
Tegap.
Seragam yang dikenakan terlihat gagah di bawah sinar matahari.
Naya tanpa sadar menahan napas.
Matanya berusaha mencari satu sosok di antara puluhan orang yang berjalan dengan langkah serempak itu.
“Itu…” gumamnya pelan.
“Mana?” tanya Bu Syifa.
Naya sedikit mencondongkan tubuhnya. “Yang di barisan tengah… yang paling tinggi… itu kayaknya Toto…”
Pak Dimas ikut memperhatikan. “Iya… itu dia.”
Naya langsung tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Ya ampun… dia keren banget…” ucapnya lirih, hampir tidak percaya.
Bu Syifa menatap Naya sekilas, lalu tersenyum melihat reaksi putrinya.
“Bangga ya?” tanyanya pelan.
Naya mengangguk tanpa berpaling dari lapangan.
“Bangga banget…”
Matanya terus mengikuti setiap gerakan barisan itu.
Langkah tegas.
Tatapan lurus ke depan.
Dan di sana Tomi berdiri dengan tegap, bukan lagi sebagai anak kecil yang dulu sering ia jahili. Tapi sebagai seorang pria yang siap mengemban tanggung jawab besar.
Naya tersenyum, matanya sedikit berkaca. “Selamat ya, To…” bisiknya pelan.
Di tengah keramaian dan suara komando yang menggema ada satu perasaan yang memenuhi hatinya. Bangga, sangat bangga.
***
Upacara pun akhirnya selesai dengan penuh khidmat.
Suara komando terakhir yang tegas menggema di seluruh lapangan, diikuti dengan tepuk tangan panjang dari para tamu undangan yang sejak tadi menyaksikan dengan penuh haru dan kebanggaan. Banyak wajah yang terlihat berkaca-kaca, ada yang langsung memeluk keluarga di sebelahnya, ada juga yang hanya tersenyum lebar sambil mengusap air mata secara diam-diam.
Tak lama kemudian, pengumuman pun terdengar melalui pengeras suara.
“Seluruh keluarga dipersilakan untuk menghampiri peserta…”
Kalimat itu seolah menjadi aba-aba yang ditunggu-tunggu. Dalam hitungan detik, suasana berubah drastis. Orang-orang mulai berdiri dari kursi mereka, sebagian berjalan cepat, bahkan ada yang hampir berlari kecil menuju lapangan demi bisa segera bertemu dengan anggota keluarga mereka.
“Sudah boleh!” ucap Naya dengan penuh semangat, wajahnya langsung berbinar. Ia berdiri dengan cepat dari kursinya, hampir saja lupa dengan kebayanya yang harus tetap dijaga.
Pak Dimas ikut berdiri, sambil menepuk ringan bahu Naya. “Ayo, kita ke sana duluan sebelum makin penuh.”
Bu Syifa mengangguk sambil merapikan tas di tangannya. “Iya, nanti keburu ramai, susah nyarinya.”
Tanpa menunggu lama, mereka bertiga bersama Om Reno dan Tante Yuli langsung berjalan menuju lapangan. Sementara beberapa kerabat lainnya memilih tetap di pinggir, menunggu suasana sedikit lebih lengang.
“Naya, jangan jauh-jauh dari Mama,” pesan Bu Syifa sambil berjalan di sampingnya.
“Iya, Ma…” jawab Naya cepat, meskipun langkahnya sudah sedikit lebih maju dari yang lain karena terlalu bersemangat.
Begitu kakinya menginjak lapangan, Naya langsung disambut oleh lautan manusia yang bergerak ke berbagai arah. Suasana menjadi jauh lebih padat dibandingkan saat upacara berlangsung. Suara panggilan nama, tawa, hingga tangisan haru bercampur menjadi satu.
Naya berjalan di antara kerumunan itu dengan penuh percaya diri. Kebaya yang ia kenakan membuatnya tampak mencolok di antara yang lain.
Beberapa pasang mata terlihat memperhatikannya.
Ada yang sekadar melirik, ada juga yang benar-benar menoleh.
Naya menyadari itu.
Tanpa sadar, dagunya sedikit terangkat, langkahnya semakin tegap.
“Ya wajar sih…” gumamnya pelan dengan senyum kecil. “Emang cantik.”
Namun di tengah langkahnya yang penuh percaya diri itu, tiba-tiba—
Ia merasakan sesuatu yang tidak beres.
Langkahnya tertahan.
“Eh…” ucapnya refleks.
Ia menunduk, lalu mendapati ujung kebayanya tersangkut pada heels yang ia kenakan sendiri.
“Duh… apaan sih…” keluhnya pelan, sedikit panik.
Ia langsung membungkukkan badan, berusaha melepaskan kain yang tersangkut itu dengan hati-hati. Tangannya bergerak pelan, takut kalau sampai merusak kebaya yang ia buat sendiri.
“Jangan sampai sobek… jangan sampai sobek…” gumamnya berulang kali dengan suara pelan.
Beberapa detik terasa cukup lama baginya di tengah keramaian itu. Orang-orang terus berlalu-lalang di sekitarnya, namun ia tetap fokus dengan kainnya sendiri.
Akhirnya—
“Ah, lepas…” ucapnya lega.
Ia langsung berdiri kembali, merapikan bagian bawah kebayanya, lalu menghembuskan napas panjang.
“Fiuh… hampir saja,” gumamnya.
Ia mengibaskan sedikit ujung kebayanya, memastikan semuanya kembali rapi, lalu kembali mengangkat kepala dengan percaya diri.
“Oke… lanjut,” ucapnya pelan.
Namun saat ia kembali mengangkat wajah dan melihat ke depan, langkah Naya langsung terhenti seketika. Ada jeda singkat yang terasa aneh, seolah sesuatu tidak pada tempatnya. Matanya segera bergerak cepat, menyapu seluruh arah di sekelilingnya, dari kanan ke kiri, lalu ke depan dan belakang, berulang kali, mencoba memastikan apa yang ia lihat.
“Lah…?” gumamnya pelan, alisnya mulai mengerut dalam.
Kerumunan di sekitarnya kini terasa jauh lebih padat dari sebelumnya. Orang-orang bergerak tanpa pola, saling berpapasan, saling memanggil nama, sebagian tertawa, sebagian menangis haru. Namun di antara semua itu, tidak ada satu pun wajah yang ia kenali.
Naya memutar tubuhnya perlahan, lalu lebih cepat, mencoba menangkap satu saja sosok yang familiar.
“Ma?” panggilnya, kali ini sedikit lebih keras.
Suaranya tenggelam begitu saja di antara kebisingan.
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke arah lain dengan cepat.
“Pa?” ulangnya, nada suaranya mulai berubah, ada kegelisahan yang mulai terdengar jelas.
Tetap tidak ada sahutan.
Naya menelan ludahnya pelan. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, tidak teratur.
“Tadi di sini kan…” gumamnya lirih, berusaha mengingat dengan paksa.
Ia berjinjit, mencoba meninggikan tubuhnya agar bisa melihat lebih jauh di antara kepala-kepala orang yang bergerak. Namun pandangannya tetap terhalang. Yang terlihat hanya punggung orang, bahu orang, dan wajah-wajah asing yang terus berlalu tanpa henti.
“Ya ampun…” desahnya pelan, napasnya mulai terasa sedikit berat.
Ia kembali memutar tubuhnya, kali ini lebih cepat, hampir terburu-buru. Matanya bergerak ke segala arah tanpa henti, berharap menemukan satu titik yang dikenalnya.
“Tadi Mama di sebelah sini…” ucapnya ragu, bahkan ia sendiri tidak yakin dengan arah yang ia tunjuk.
Ia mencoba melangkah ke arah itu, menyelip di antara kerumunan.
“Permisi… permisi…” ucapnya pelan sambil berusaha tetap sopan.
Namun langkahnya terhambat oleh orang-orang yang terus bergerak. Setiap kali ia maju sedikit, arus manusia justru mendorongnya ke arah lain.
Ia berhenti lagi.
Semakin ia mencoba mengingat, semakin kosong kepalanya.
Semua terlihat sama.
Semua terasa asing.
“Naya… tenang… tenang…” bisiknya pada diri sendiri, suaranya lebih pelan kali ini.
Tangannya menggenggam tas kecilnya lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri.
Sekali.
Dua kali.
Namun tetap saja, rasa panik itu perlahan naik.
Ia kembali memanggil, kali ini lebih lirih.
“Ma…”
Tetap tidak ada jawaban.
Di sekelilingnya, orang-orang mulai bertemu dengan keluarga mereka. Pelukan hangat, tangisan bahagia, tawa lega, semuanya bercampur menjadi satu pemandangan yang seharusnya menghangatkan.
Namun bagi Naya terasa semakin menyesakkan.
Ia berdiri di tengah lautan manusia yang dipenuhi kebahagiaan itu… sendirian.
Bingung.
Kehilangan arah.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia melangkah ke lapangan itu, rasa percaya dirinya benar-benar mulai goyah.
.
.
Bersambung...