Naya akhirnya memutuskan untuk sedikit menjauh dari kerumunan yang terlalu padat. Dengan langkah hati-hati, ia menyelip di antara orang-orang hingga menemukan area yang sedikit lebih lengang. Nafasnya terasa lebih lega saat ruang di sekitarnya tidak lagi sesak.
Ia berhenti sejenak, lalu kembali menoleh ke segala arah, matanya sibuk mencari sosok yang ia kenal.
“Pada ke mana sih…” gumamnya pelan, nada kesalnya mulai terdengar jelas.
Tangannya bertolak di pinggang, sementara kepalanya terus bergerak ke kanan dan kiri.
“Masa hilang semua sih…” lanjutnya lagi, sedikit menghela napas panjang.
Ia mencoba mengingat arah tadi.
“Tadi dari sana… atau sana ya…” ucapnya bingung, bahkan menunjuk ke dua arah berbeda.
Naya mengacak pelan rambut bagian depannya, jelas mulai frustasi.
“Ya ampun, Nay… ini pertama kalinya lo nyasar di tempat kayak gini,” gumamnya pada diri sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Ia tetap berdiri di tempat yang sama, berusaha mencari petunjuk dari wajah-wajah yang lewat. Namun tetap saja, tidak ada satu pun yang ia kenal.
Akhirnya, ia menghela napas panjang lagi.
“Ya sudah, cari saja sendiri…” ucapnya pelan, mencoba menenangkan diri.
Ia pun mulai melangkah lagi, kali ini dengan langkah yang jauh lebih pelan dan hati-hati. Matanya tetap sibuk menyapu sekitar, berpindah dari satu arah ke arah lain, berusaha menangkap satu saja wajah yang ia kenal di antara kerumunan yang masih padat. Sesekali ia berhenti sebentar, berjinjit sedikit, lalu kembali melangkah.
“Ayo, Nay… fokus…” gumamnya pelan, mencoba mengingatkan dirinya sendiri agar tidak semakin panik.
Namun justru karena terlalu fokus memperhatikan sekitar, perhatiannya menjadi terpecah. Kepalanya terus menoleh ke kanan dan kiri, tanpa benar-benar memperhatikan arah langkahnya sendiri.
Dan tanpa ia sadari, tubuhnya menabrak seseorang.
Bruk.
“Eh!” serunya refleks.
Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan. Dengan heels yang ia pakai, pijakannya menjadi tidak stabil. Tubuhnya terdorong ke belakang, hampir saja jatuh.
“Ah…” desahnya pelan, refleks memejamkan mata.
Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, sebuah tangan dengan sigap menahan pinggangnya. Pegangan itu terasa kuat dan mantap, cukup untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.
Naya langsung terdiam.
Matanya terbuka lebar, napasnya tertahan sejenak karena kaget. Ia bahkan tidak langsung bergerak, seolah butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Beberapa detik berlalu dalam posisi yang cukup dekat itu.
Lalu dengan cepat, ia menegakkan tubuhnya kembali dan sedikit menjauh, gerakannya terlihat canggung.
“Maaf… maaf…” ucapnya buru-buru tanpa sempat melihat siapa orang di depannya.
Tangannya langsung bergerak merapikan kebayanya, memastikan tidak ada bagian yang kusut atau bergeser. Jarinya sedikit gemetar, entah karena kaget atau malu.
“Saya nggak lihat…” lanjutnya cepat, suaranya masih terdengar gugup.
Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri, lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Dan saat matanya bertemu dengan pria di depannya, ia langsung terdiam.
Ekspresinya berubah.
Kaget.
Sekaligus bingung.
Pria itu berdiri tepat di hadapannya, dengan postur tegap dan tatapan yang tenang. Tangannya yang tadi sempat menahan pinggang Naya kini sudah diturunkan, namun matanya masih tertuju padanya, seolah memastikan Naya benar-benar baik-baik saja.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap tanpa kata.
Hingga akhirnya pria itu membuka suara.
“Kalau jalan, hati-hati,” ucapnya tenang, tanpa nada menyalahkan.
Naya berkedip pelan, seperti baru kembali ke kesadarannya.
“Iya… maaf,” jawabnya singkat, kali ini lebih pelan dan tertata.
Ia menunduk sedikit, lalu kembali melirik kebayanya, memastikan semuanya benar-benar rapi.
“Maaf banget, saya benar-benar nggak lihat tadi,” tambahnya lagi, kali ini dengan nada lebih sopan.
Pria itu hanya mengangguk kecil. “hmm.."
Naya ikut mengangguk cepat, lalu segera mengalihkan pandangannya ke samping. Rasa canggung itu datang begitu saja, perlahan tapi pasti, membuatnya tidak nyaman untuk tetap berdiri di situ lebih lama.
Ia menggeser langkahnya sedikit ke belakang, memberi jarak, lalu bersiap untuk pergi.
Namun di dalam hati, ia menghela napas kecil.
“Kenapa sih hari ini…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Pikirannya terasa penuh.
Sudah tersesat.
Sekarang malah menabrak orang.
Ia kembali menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan fokusnya yang sejak tadi terasa buyar. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kejadian kecil dan ia harus segera kembali mencari keluarganya.
Namun tanpa ia sadari…
Pria di depannya belum benar-benar berpaling.
Tatapannya masih tertuju pada Naya.
Lama.
Tenang.
Seolah memperhatikan sesuatu yang membuatnya tidak ingin langsung pergi begitu saja.
Hingga akhirnya—
“Nama?”
Suara itu terdengar jelas, membuat Naya yang sudah hampir melangkah kembali menoleh dengan cepat.
Ia terdiam sejenak, alisnya mengerut, jelas tidak mengerti.
“Maaf?” ucapnya pelan, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Pria itu tetap berdiri dengan sikap yang sama, tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya masih lurus ke arah Naya.
“Nama kamu,” ulangnya, singkat dan tegas, tanpa nada bercanda.
Naya menelan ludah pelan.
Ia mengerutkan kening sedikit lebih dalam, merasa situasi ini mulai terasa aneh.
“Kenapa Anda ingin tahu?” tanyanya balik, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati, namun tetap menjaga sopan santun.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Naya beberapa detik lebih lama, seolah sedang menilai, lalu perlahan melangkah mendekat.
Satu langkah.
Namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka kembali terasa dekat.
Naya refleks menegang. Napasnya tertahan sesaat, dan tanpa sadar ia menggenggam tas kecilnya lebih erat.
“Karena…” ucap pria itu pelan.
Ia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu terasa.
Matanya tetap terkunci pada Naya, tidak berpaling sedikit pun.
“Saya tidak suka kehilangan sesuatu yang sudah menarik perhatian saya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tenang.
Namun memiliki arti yang dalam.
Naya langsung terdiam.
Matanya sedikit membesar, jelas tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari seseorang yang bahkan baru saja ia temui.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Di sekeliling mereka, orang-orang masih bergerak, tertawa, dan saling memanggil satu sama lain dengan penuh haru. Suasana dipenuhi kebahagiaan, pelukan, dan tawa lega setelah upacara yang panjang. Namun di antara Naya dan pria di depannya, suasana justru terasa kontras.
Lebih sunyi.
Lebih tegang.
Seolah dunia di sekitar mereka meredup, menyisakan hanya tatapan yang terlalu intens untuk diabaikan.
Naya mencoba membuka mulut, namun tidak ada kata yang langsung keluar. Ia benar-benar bingung harus merespons seperti apa. Situasi ini terlalu tiba-tiba, terlalu tidak biasa.
Tatapan pria itu terlalu fokus.
Terlalu dalam.
Seolah sedang membaca dirinya tanpa izin.
Perasaan tidak nyaman mulai merayap pelan di dalam dirinya.
Akhirnya, Naya mengalihkan pandangannya ke samping, berusaha memutus kontak mata itu.
“Saya…” ucapnya pelan, namun kembali terhenti.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Lalu perlahan, ia menatap pria itu lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih tegas, mencoba menunjukkan batas.
“Maaf,” ucapnya pelan namun tetap jelas, berusaha menjaga nada suaranya agar terdengar sopan meski rasa tidak nyaman mulai muncul di dalam dirinya. “Saya harus pergi.”
Tanpa memberi ruang bagi pria itu untuk menanggapi, Naya langsung berbalik dan melangkah menjauh, berniat mengakhiri percakapan yang menurutnya sudah cukup dan tidak perlu diperpanjang lagi.
Namun baru satu langkah ia ambil, tangannya tiba-tiba tertahan.
Refleks.
Naya langsung berhenti.
Tubuhnya menegang seketika, dan ia menoleh cepat ke arah tangannya yang kini dipegang oleh pria itu. Pegangannya tidak kasar, tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk menahan langkahnya agar tidak melanjutkan jalan.
Ekspresi Naya langsung berubah.
Kaget.
Kesal.
Dan sedikit tersinggung karena merasa batasnya dilanggar.
“Apa-apaan sih” ucapnya spontan, nadanya mulai meninggi karena emosi yang tidak sempat ia tahan.
Ia mencoba menarik tangannya, bersiap meluapkan kekesalannya lebih jauh.
Namun sebelum ia sempat melanjutkan, sebuah suara memanggil dari belakang.
“Naya”
Suara itu terdengar jelas di tengah keramaian.
Naya langsung menoleh.
Matanya membesar seketika saat mengenali suara itu.
“Toto” ucapnya refleks.
Di sana, Tomi berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia masih mengenakan seragamnya dengan rapi, tubuhnya tegap, wajahnya terlihat serius namun juga menunjukkan kelegaan karena akhirnya menemukan Naya.
Ia langsung berjalan mendekat tanpa ragu.
“Naya, lo ke mana aja sih” ucap Tomi dengan nada yang terdengar kesal sekaligus khawatir. “Bunda sama Mama cariin lo dari tadi, tahu.”
Mendengar itu, Naya langsung menarik tangannya dari pria tersebut. Kali ini genggaman itu terlepas tanpa perlawanan.
Ia tidak menoleh lagi.
Langsung melangkah cepat menghampiri Tomi.
“Gue nyasar” jawabnya singkat, masih membawa sisa kesal dari kejadian sebelumnya.
Tomi menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan campuran rasa lega dan jengkel.
“Ya ampun, Nay, dibilangin jangan jauh-jauh” ucapnya sambil menggeleng pelan.
Naya mendengus kecil. “Iya, gue juga nggak sengaja. Tadi cuma berhenti bentar, tahu-tahu udah nggak lihat siapa-siapa lagi.”
Tomi mengangguk kecil, mencoba memahami penjelasan Naya meskipun raut wajahnya masih menyisakan sedikit kekesalan, lalu ia pun berkata dengan nada yang lebih tenang sambil memberi isyarat agar Naya segera mengikutinya.
“Ya sudah, sekarang ikut gue. Mereka lagi nunggu di sana.”
Namun saat ia hendak berbalik, langkahnya tiba-tiba terhenti begitu saja ketika tatapannya tanpa sengaja bergeser ke arah pria yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan, bahkan sempat terlintas niat untuk menegur karena melihat lengan Naya yang tadi sempat ditahan, tetapi begitu matanya benar-benar fokus pada sosok pria itu, ekspresinya langsung berubah dalam sekejap. Tubuhnya menegang, pundaknya otomatis tegap, dan sikap santainya menghilang tanpa sisa seolah ada sesuatu yang memaksanya untuk langsung bersikap formal.
“Siap.”
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Tomi dengan suara tegas dan penuh hormat, sangat berbeda dari cara bicaranya beberapa detik yang lalu. Naya yang berdiri di sampingnya langsung menoleh dengan bingung, keningnya berkerut karena tidak mengerti dengan perubahan mendadak itu.
“Hah?”
Tomi tidak menjawab, ia tetap fokus menatap pria tersebut lalu sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan yang jelas.
“Maaf, Pak.”
Nada suaranya kini terdengar serius dan terkendali, membuat Naya semakin tidak memahami situasi yang terjadi di depannya. Ia melirik Tomi, lalu kembali menatap pria itu, lalu kembali lagi ke Tomi, mencoba menyusun sesuatu dari sikap yang ia lihat. Cara Tomi berdiri yang kini jauh lebih tegap, cara bicaranya yang berubah formal, serta tatapan hormat yang begitu jelas, semuanya terasa tidak biasa dan membuat pikirannya mulai bekerja lebih keras.
“Pak?”
Gumam itu keluar pelan dari bibir Naya, hampir tidak terdengar, namun cukup untuk menunjukkan kebingungannya sendiri. Ia kembali menatap pria itu, kali ini dengan pandangan yang berbeda, lebih hati-hati dan tidak lagi seacuh sebelumnya.
Perlahan, kesadaran itu muncul di benaknya bahwa pria yang tadi menahan tangannya bukanlah orang biasa, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain langsung berubah sikap di hadapannya.
Suasana yang tadinya hanya terasa canggung kini berubah menjadi jauh lebih kaku dan berat. Naya terdiam di tempat, tidak lagi bergerak, matanya bergantian menatap Tomi dan pria itu, mencoba memahami perubahan situasi yang begitu cepat. Di dalam hatinya muncul rasa tidak enak yang perlahan naik, membuatnya menggenggam tas kecilnya sedikit lebih erat.
Ia menarik napas pelan, mencoba tetap tenang meskipun pikirannya mulai dipenuhi banyak kemungkinan, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu terjadi, Naya benar-benar merasa bahwa ia mungkin telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
.
.
Bersambung...