"Hentikan Lyondra!"
Seketika tangan Lyondra yang akan menampar Nazira berhenti diudara.
Wanita berwajah Erofa itu pun sontak memutar tubuh kebelakang dan memgubah ekspresi wajahnya begitu mengethui siapa yang berkata.
"Fathan!" seru Lyondra dengan tatapan berbinar.
Dengan cepat wanita itu menabrakkan diri ketubuh atletis Fathan dan langsung memeluk pria itu dengan erat seakan tak ada orang lain di sekitar mereka.
"Kenapa kamu jahat ke aku? Kamu menikahi jalang kampungan yang tak punya tata krama! Lihat pipiku sampai memar di tampar olehnya," adu Lyondra dengan sikap manja seraya menunjukkan salah satu pipinya yang ditampar Nazira.
Sementara Nazira hanya memutar bola mata jengah lalu berbalik hendak masuk rumah sebelum suara Fathan menghentikannya.
"Jangan pergi dulu, Nazira!"
Nazira tak.bersuara, wanita berparas rupawan itu hanya kembali berbalik menghadap suaminya tanpa menatap kearah pria dalam pelukan seorang wanita bertubuh seksi itu.
"Dia istriku! Dan kamu jangan coba berbuat kasar padanya jika tak ingin aku campakkan," tegas Fathan.
"Kenapa bukan dia saja yang kamu campakkan? Kamu tidak sadar, dia sama sekali tidak cocok menjadi pendamping seorang bos besar sepertimu," protes Lyondra membuat Nazira hanya mendengkus pelan.
"Cocok tidak cocok, itu urusanku! Dan kamu, jangan coba mencampuri urusanku jika tak ingin aku buat miskin!" ancam Fathan seraya melepaskan belitan kedua tangan Lyondra di tubuhnya."Pergilah! Tunggu aku yang menemuimu! Jangan lagi kamu berani membuat ulah di rumahku ini."
"Oke! Aku akan tunggu kamu di apartemenku. Jika kamu ingkar, aku akan kembali ke sini, untuk menyeret keluar wanita kampung itu!" pekik Lyondra seraya menghentakkan satu kaki sebelum berbalik menuju ke mobilnya.
Fathan tampak tak peduli, pria itu malah berjalan kearah Nazira dan meraih tangan halus sang istri dan membawanya kedalam rumah.
"Kamu tak perlu meladeni Lyondra atau bertanya soal dia, karena itu bukanlah hal yang bisa kamu usik," ucap Fathan seraya menarik Nazira hingga duduk di sofa kamar tidur milik Fathan yang luas.
"Aku tidak mengusik hubungan kamu dan Lyondra. Aku hanya ingin menyambutnya sebagai tamu, agar tidak berbicara keras diluar pagar," bela Nazira tanpa menatap wajah Fathan membuat pria itu kesal.
"Tatap wajahku jika bicara! Aku tidak suka di acuhkan!" ucap Fathan yang lantas membingkai wajah Nazira dengan satu tangan.
"Aku bukan tak sopan padamu, aku hanya menjaga pandangan untuk menjaga hatiku tetap aman," jawab Nazira.
"Kenapa kalau tidak aman? Kamu takut jatuh cinta padaku? Silakan saja kalau mau jatuh cinta, toh semua perempuan yang aku tiduri juga jatuh cinta padaku. Tapi jangan berharap aku akan membalas cintamu," tegas Fathan membuat Nazira mencelos hatinya.
"Aku pastikan aku tak akan jatuh cinta padamu. Hubungan Kita hanya sementara seperti yang tertulis dalam kontrak pernikahan kita," ucap Nazira tak kalah tegas."Jika ternyata Aku mengatakan menyukaimu, itu hanya karena aku ingin memgakhiri pernikahan ini. Jadi Aku harap Kamu jangan terlalu percara diri."
"Oke! Aku pegang perkataanmu. Sekarang ikut, Aku!" ucap Fathan.
"Kemana?"
"Jangan banyak bertanya," ucap pria itu lantas berdiri dari duduknya sembari menarik tangan Nazira.
***
Nazira hanya bisa diam dan mendamaikan hatinya, saat melihat adegan mesra suaminya dengan wanita lain.
"Wow, kau membawa seorang guru agama kesini? Kita akan bicara bisnis, Fathan. Bukan siraman rohani," ucap wanita demgana gaun ketat berpotomgan d**a rendah dengan panjang gaun separuh paha.
"Bukan, dia sekretaris pribadiku
Hanya sementara menggantikan Cecilia yang kupecat."
"Akhirnya kau memecat wanita jalang itu, baguslah. Sehingga kita tidak ada yang menganggu," ucap wanita tersebut yang tanpa malu lantas duduk dipangkuan Fathan, merangkul leher pria itu, dan menempelkan d**a besarnya di d**a Fathan.
Sebelum adegan tak pantas mereka tampilkan, dengan cepat Nazira membuka mulutnya.
"Maaf, Tuan Fathan. Apakah rapatnya bisa segera dimulai, agar saya bisa membuat notulensinya, jika tidak jadi, saya lebih baik permisi pulang."
"Tunggulah sebentar," sahut Fathan yang kewalahan akibat cumbuan teman wanitanya ya g terus menempel dilehernya.
"Untuk apa? Menonton adegan 21+ kalian, aku tidak mau mencemari mata juga pikiranku dengan adegan tak pantas kalian," sergah Nazira yang lantas berdiri.
"Biarkan saja, dia pergi, Honey! Kehadiran dia hanya membuat permainan kita dibatasi," ucap si wanita seraya terus menghisap dan menjilati leher juga d**a Fathan yang kini sudah terlepas dari dasi juga kancing kemejanya.
Nazira tak ingin berlama-lama, wanita cantik bercadar itu lantas berbalik memuju pintu.
"Nazira! Tunggu!" Terdengar suara Fathan namun Nazira tak ingin menghentikan langkahnya.
Nazira yang berjalan cepat hampir saja menabrak seorang wanita yang juga berjalan tergesa-gesa.
"Maaf!" ucap Nazira tanpa ingin melihat wanita didepannya yang menatap kesal kearahnya.
"Kalau jalan pakai mata! Makanya jangan pakai topeng seperti itu! Dasar kampungan," bentak si wanita yang Nazira tidak tahu siapa dia.
Nazira tak menjawab, wanita itu memutuskan untuk melanjutkan langkah menuju lift.
Samar dia mendengar dari dua pria anak buah Fathan terkait wanita yang tadi memakinya.
"Bakalan ada perang nih!"
"Bener banget! Dua perempuan seksi dan hot bakal perang hanya karena bos Fathan."
"Termyata rudalnya pak boss membuat banyak perempuan jadi gila dan kecanduan ya!"
"Ya begitulah, pak boss! "
Berkali-kali Nazira mengucap istigfar dan mengelus dadanya mendengar fakta buruk terkait pria yang berstatus suaminya itu.
Buru-buru wanita itu pun masuk ke lift lantas bergegas mencari taksi yang membawanya menjauh dari tempat laknat tersebut.
***
"Aku dengar dari Buan, kalau kemarin Lyondra melabrak Nazira, apa benar?" tanya Abizar saat melihat Fathan baru keluar dari kamar khusus diruang lerja pria itu.
Dimana sebelumnya, seorang perempuan berpakaian seksi terlebih dahulu keluar dengan tampang lelah dan terburu-buru.
Dia adalah Lyondra yang tersenyum angkuh kearah Abizar.
"Itu benar!"
"Lepaskan Lyondra! ingat kamu, sekarang punya istri yang lebih dari segalanya di banding perempuan lacur itu!" ujar Abizar mengingatkan Fathan.
"Itu urusanku!" sahut Fathan datar membuat semua anak buahnya hanya mengendikkan bahu.
"Nazira adikku, Aku tidak mau, kamu menyakitinya, Boss! Ingat, boss yang membawa adikku masuk ke pernikahan konyol ini. Jika bukan karena provokasi yang boss lalukan, Nazira pasti saat ini masih menikmati kesendiriannya dengan melanjutkan pendidikannya di Kairo," geram Abizar tak tertahankan.
"Nazira istriku! Dan aku memiliki hak penuh terhadapnya. Jadi jangan ajari aku soal tanggung jawab, Abizar!" sahut Fathan seraya menegak wine digelasnya.
"Hak penuh apa? Hak penuh untuk menyakitinya? Jika sepetti itu, lebih baik kamu lepaskan Nazira. Jangan kamu ikat sementara kamu terus melakukan hobimu meniduri banyak wanita."
Fathan meletakkan gelas ditangannya dengan kasar membuat semua yang ada di ruangan tersebut tersentak.
Fathan lantas bangun dari duduknya dan berjalan kearah Abizar yang sama menatapnya dengan tajam
"Kamu ingin melawanku? Terkait Aku dan Nazira, itu urusanku! Walau kamu kakak sepupumya Nazira atau ayahnya sekalipun, tak layak mengusik dan ikut campur dalam pernikahanku dengan Nazira."
"Aku tidak menentangmu, Aku hanya tak ingin kamu menyakiti adikku. Jika kamu tidak menyukainya, bilang padaku. Aku sendiri yang akan membawa Nazira kembali kerumah orangtuanya." ucap Abizar tak gentar dengan tatapan tajam Fathan yang menghunjam.
"Silakan berkhayal, karena aku gak akan melepaskan tiket surgaku begitu saja!" tegas Fathan.
"Jangan memanfaatkan Nazira!"
"Bukan aku yang mau, tapi adikmu sendiri yang menyerahkan diri padaku. Jadi, jangan usik pernikahanku dengan Nazira!" tegas Fathan lantas berjalan kearah pintu.
"Lebih baik, kau urus Mato Angin dan gerombolan Mark. Agar aku tak menganggapmu musuh!" ucap Fathan sebelum memghilang di balik pinru.
"b*****h! Awas saja, jika kamu membuat Nazira menangis dan tersakiti, aku sendiri yang akan memghabisimu, Fathan!" geram Abizar seraya menghantamkan tangannya ke dinding.
"Sabar, Bang! Aku yakin, Boss tak akan berlaku kasar pada Nazira."
Abizar tak menjawab, pria itu habya mendemgkus kasar.