Lyondra mencengkeram erat stir mobil audi merahnya saat melihat dari kejauhan, seorang wanita bercadar mengantar kepergian Fathan hingga pagar rumah.
Bahkan wanita itu terlihat mencium tangan Fathan dan dibalas Fathan dengan menyentuh kepala si wanita bercadar yang membuat hati wanita berambut maroon itu meradang cemburu.
"Sialan! Rupanya ini yang membuat Fathan menjauh dariku! Dasar jalang ! Berani kamu menantang Lyondra!" geram Lyondra Smith hingga terdengar gemeretak giginya menahan amarah.
Wanita itu masih berada di tempatnya hingga mobil Aston Martin abu-abu gelap itu meninggalkan depan rumah mewah tersebut.
Lyondra memutuskan untuk menemui wanita bercadar yang tak lain adalah Nazira.
Wanita blasteran Erofa itu ingin melabrak Nazira karena di nilai sudah merebut kekasihnya.
Dengan tak sabar, Lyondra menghentikan mobil merahnya di depan rumah bahkan hampir menabark pagar stainlees rumah berlantai dua tersebut.
Ditekannya bel yang menempel di salah satu tembok pagar dengan penuh kesal.
Namun harapannya buyar saat seorang wanita tanpa cadar dan seorang pria paruh baya yang keluar menemuinya.
"Bisa berlaku sopan tidak di rumah orang lain? Saya pikir yang memainkan bel anak-anak kecil, ternyata orang dewasa yang tak punya sopan!" semprot pria paruh baya yang mengenakan pakaian satpan.
"Ndak pernah mencet bel ya! Sampai semangat begitu?" sindir wanita muda yang lain adalah Mhia yang sebelumnya tengah menyapu ruang tamu.
"Bukan urusan kalian! Aku mau ketemu Fathan!" ucap Lyondra dengan wajah angkuh.
"Kamu siapa?"
"Saya calon istri Fathan!" aku Lyondra membuat kedua orang di depannya kompak saling menoleh.
"Kamu salah orang! Mungkin yang kamu maksud Fathan anaknya Pak Marjuki! Memang nomor rumahnya mirif! !" ucap Mhia seraya terkikik geli."Kalau Tuan Fathan yang punya rumah ini sudah nikah."
"Nikah?" tanya Lyondra dengan kedua mata yang membola karena terkejut.
"Iya, majikan kami sudah punya istri cantik dan sholeha," sahut Mhia.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin Fathan menikah dengan perempuan lain."
"Hehh! Berarti kamu memang salah orang dan salah rumah, Nyonya!" ucap pria paruh baya tersebut lalu beranjak menuju taman menyelesaikan pekerjaannya.
Sementara Mhia masih berdiri di depan pagar menghadap Lyondra.
"Saya tidak buta! Saya barusan melihat Fathan yang saya cari keluar dari rumah ini," ujar Lyondra yang justru membuat dirinya menjadi bahan tertawaan.
"Lah sudah tahu, Tuan Fathan tidak di rumah kenapa masih nanyain juga? Sebenarnya siapa yang kamu cari?"
"Saya ingin bertemu perempuan yang sudah merebut Fathan dariku !"
"Perempuan gila! Yang pelakor itu justru kamu ! Sudah tahu Tuan Fathan punya istri masih gatel aja ngejar pria beristri!" sindir Mhia lantas berbalik hendak pergi.
Namun langkah gadis itu tertahan karena teriakan Lyondra.
"Hei wanita jalang perebut kekasih orang! Keluar kamu! Jangan sok merasa jadi wanita baik di balik cadarmu!" teriak Lyondra membuat Mhia juga Pak Asep merasa kesal.
"Hei pelakor! Jaga mulutmu ya! Jangan menuduh nyonya kami sekotor mulutmu!" bentak Mhia yang lantas menarik pintu pagar agar terbuka.
Namun gerakan Mhia yang ingin memukul Lyondra ditahan oleh sebuah tangan halus yang lantas menarik Mhia hingga berada dibelakang tubuh ramping dengan balutan gamis dan khar warna milo.
"Nyonya!" ucap Mhia terkejut.
Nazira mengangguk dan tersenyum simpul lantas beralih menatap ke arah Lyondra.
"Tak baik ngobrol dengan suara keras di depan rumah, mari kita ngobrol di dalam,"ajak Nazira tanpa sedikit pun ada nada marah dalam bicaranya.
"Aku, ngobrol dengan pelakor? Nggak level. Lebih baik kamu tingalkan Fathan! Karena kamu hanya menyulitkan dia saja! Dan juga, kamu merusak citra Fathan dengan menikahi wanita berkerudung sepertimu! Kamu pasti sengaja menjebak dia kan, agar menikah denganmu!"
"Mohon maaf, terkait permintaan juga pertanyaan, Anda, Saya tidak bisa jawab di sini. Jika ingin tahu jawabannya mari masuk dan mengobrol di dalam, jika tidak mau silakan nyonya pulang. Karena kami di rumah ini bukanlah pengangguran yang punya banyak waktu luang untuk ngobrol ," jawab Nazira dengan sangat tenang.
Namun ketenangan Nazira justru membuat Lyondra kesal karena merasa tersindir.
"Tidak perlu menyindir saya! Kamu pikir saya pengangguran?" bentak Lyondra membuat Nszira juga Mhia saling pandang.
"Kalau seperti itu, saya minta maaf, jika perkataan saya tadi menyinggung. Nyonya," ucap Nazira seraya menangkupkan kedua tangan di depan d**a diiringi dengan anggukan.
"Jika Nyonya tidak mau masuk, saya saja yang masuk, tetapi mohon maaf saya minta Nyonya untuk meninggalkan depan rumah suami saya," ucap Nazira seraya berbalik.
Namun tiba-tiba wanita berparas cantik dan lembut itu terpekik kaget saat ada yang menarik khimar lebarmya hingga kepala Nazira tertarik ke belakang.
"Dasar bar-bar! Pelakor! Jalang! Bisanya menyakiti orang! " maki Mhia yang tak rela majikannya di perlakukan semena-mena.
"Siapa yang jalang?! Justru perempuan sok suci ini yang jalang! Dia sudah memperdaya Fathan hingga mau menikahinya! Dasar perempuan sampah!" maki Lyondra berang.
Dengan cepat Mhia berusaha melepaskan tangan Lyondra dari kerudung yang dipakai Nazira.
Namun Lyondra tak mau melepaskannya. Senyum sinis wanita itu mengembang saat melihat tembok pagar dan dengan cepat mendorong Nazira hingga membentur tembok tersebut.
"Auwww!" pekik Nazira kaget seraya terhuyung memegangi kepalanya yang membentur tembok hingga terjatuh ke lantai garasi.
Dengan cepat Mhia juga bu Siti yang tergopoh keluar dari rumah membantu Nazira sementara pak Atep mengamankan Lyondra.
Dan Lyondra baru berhenti berteriak memaki Nazira saat Pak Asep membentaknya.
"Sudah, Nyonya! Lebih baik nyonya pergi sekarang! Atau saya panggil keamanan perumahan untuk membawa anda ke kantor polisi karena sudah melakukan penyerangan!" ancam Pak Atep seraya memegangi kedua tangan Lyondra.
"Apa hak kamu mengancam saya? Kamu cuman pembantu! Saya akan bilang ke Fathan untuk membuang kalian semua! Manusia tak berguna! Mamusia-manusia sampah !" maki Lyondra seraya meludah kearah pak Atep.
Plaakk!
"Sialan!" pekik Lyondra seraya memegangi pipi kanannya yang memerah.
Kedua matanya menatap marah kearah Nazira yang sudah menamparnya.
"Kamu boleh menghina aku dengan apa yang menurutmu pantas kamu katakan padaku! Tapi tidak pada Pak Atep juga Bu Siti ! Beliau orang tua, tak pantas kamu memaki mereka seperti itu!" ucap Nazira dengan tatapan marah walau nada bicaranya masih terdengar biasa.
"Kamu tidak perlu mengajariku sopan santun! Karena aku masih lebih baik dari kamu yang perebut kekasih orang!"
"Terserah kamu mau bicara apa! Yang perlu kamu ketahui, Saya dan Fathan sudah menikah secara hukum agama juga negara. Jadi silakan saja kalau merasa keberatan, sampaikan pada suami saya ! Sekarang saya minta Anda keluar!"
"Bangke! Berani kamu ngusir aku! Jangan sombong ! Sebentar lagi, kamu yang akan diusir dan di tendang dari rumah ini, perempuan jalang!"
Lyondra terus memaki dan berontak saat pak Atep juga Mhia berusaha menghalaunya.
Wanita berpakaian seksi itu baru berhenti saat terdengar suara pria dibelakangnya.
"Hentikan Lyondra!"
***