Fathan sengaja tak mengenalkan pekerjaannya pada Nazira . Pria itu tak ingin Nazira mengetahui apa bisnis hitam yang dia jalani di awal pernikahan mereka.
Walau Fathan kaya, namun pria itu tak memiliki rumah sebagai tempat tinggal.
Karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor juga club malam yang pada bagian atasnya dikhususkan bagi tempat tinggal dirinya juga orang-orang kepercayaannya.
Hingga keinginan untuk membeli rumah itu muncul setelah kepulangannya dari perjalanan bisnis di Kairo dan Prancis.
"Jadi kamu mau beli rumah dimana?" tanya Abizar waktu itu saat Fathan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah rumah yang benar-benar rumah.
"Dikawasan yang aman dan nyaman tentunya," sahut Fathan seraya pandangannya sibuk dengan layar ipad yang menampilkan penawaran kawasan hunian modern.
Akhirnya Fathan menyuruh Buan mengarahkan mobil kekawasan hunian Elite yang cukup ternama di Jakarta.
Sebuah rumah dengan design modern berlantai dua, dengan halaman belakang yang luas dan halaman depan yang di lengkapi dengan taman bunga menjadi pilihan Fathan.
Dan hari itu juga dia memerintahkan anak buahnya untuk membantu menata rumah
"Istana yang indah, semoga kehidupan didalamnya pun sama indahnya," puji David seraya pandangannya mengitari rumah baru pak bosnya.
"Ya moga saja Nyonya rumah berkenan, dan pak bos jadi kerasan dirumah," sambung Buan setengah menyindir pria yang sudah menjamin hidupnya.
"Memang pak Boss mau menikah?" tanya Wimbo bingung
"Memang membeli rumah karena menikah? Suka-suka saya dong," sahut Fathan membuat rekannya kompak nyengir.
"Satu keajaiban besar jika bos Fathan si Don Juan menikahi satu wanita secara hukum agama dan negara," ujar David sedikit menyindir kegemaran Fathan yang suka berganti pasangan tanpa punya niat menikahi salah satunya.
"Playboy insaf, kok seperti judul novel ya," kekeh Abizar sementara yang di jadikan obyek obrolan tengah sibuk menata kamar tidur utama yang terkesan mewah dengan farniture mahal dan modern.
"Apa.kamar ini diperuntukan bagi Lyondra, Boss?" tanya Wimbo usil.
"Bukan, Lyondra sudah punya apartemen, mewah," sahut Fathan acuh.
"Lantas untuk siapa, Bos?"
"Yang jelas, untuk saya dan pasngan saya nantinya."
"Aamin, moga pak Bos mendapat istri yang cantik juga sholeha," doa Wimbo juga Buan membuat Abizar dan David terkekeh karena melihat senyum masam dibibir Fathan.
"Bagaimana kabar Mato Angin?" tanya Fathan saat mereka bersantai di teras belakamg yang sangat teduh.
"Kemarin polisi menemukan gudang barang ilegal milik mereka. Dan langsung disita!" lapor Wimbo yang memang di tugaskan untuk mengintai pergerakan musuh besar kelompok Elang Hitam milik Revindra Raka.
"Baguslah, lalu apakah pengiriman barang milik kita ada kendala?"
"Masih terpantau lancar, Bos! karena mata-mata Mato Angin sudah kita lenyapkan. Tinggal dua orang yang masih dalam pngawasan tim kita."
"Apa itu Lyondra?" tanya Fathan.
"Iya, dan khusus dia. Kami tak berani mengambil tindakan karena menyangkut pak Bos!" jawab Wimbo membuat aura marah terlihat di wajah Fathan.
"Untuk Lyondra itu urusanku, siapkan saja bukti keterlibatan wanita lacur itu! "
"Woke, Boss! " sahut Wimbo juga Buan kompak.
Fathan menggelengkan kepala pelan menghalau ingatan akan obrolan saat dirinya membeli rumah besar dan mewah yang kini ditempatinya bersama Nazira, wanita cantik bercadar yang berstatus istri seorang Fathan Khalil Afkar.
***
Suasana malam yang semakin b*******h, membuat pengunjung Club Nine Cloud milik Fathan semakin bersemangat menikmati semua yang di sajikan oleh pengelola club exclusive itu.
"Kemana saja kau selama tiga hari? Aku mencarimu tapi ponselmu tak merespon panggilanku!" keluh Lyondra wanita Fathan yang tengah duduk di pangkuan pria itu.
Dres separuh paha yang di pakai wanita dengan make up tebal itu tak mampu menutupi sepasang kaki panjangnya yang terekpose begitu saja, membuat mata lelaki tak ingin beralih saat menatapnya.
"Aku ada pekerjaan yang sangat penting!" jawab Fathan yang sedikit meleguh saat lidah Lyondra bermain di lehernya.
"Tiga hari tak bersamamu, membuat aku seperti orang sakau! Aku haus sentuhanmu, Bestie!" bisik Lyondra dengan suara mendesah membuat Fathan meremang dan tangan nakalnya pun mulai berkeliaran di tubuh sintal Lyondra yang sangat menggoda gairah pria.
Ruangan dimana mereka berada memang ruang pribadi milik Fathan yang kerab pria itu gunakan untuk mengumbar nafsu dengan wanita yang berbeda.
Bagai sepasang musafir yang terdampar di tengah gurun pasir yang gersang dan panas.
Mereka berusaha meneguk sebanyak-banyaknya kenikmatan yang tak semestinya mereka lakukan sebagai pasangan yang tak memiliki ikatan pernikahan.
Lyondra semakin menggila dengan memimpin permainan. Wanita ambisius yang sangat haus kekayaan juga kehangatan.
"Selama tiga hari ini, dengan siapa saja kau bermain, Deer? " tanya Fathan di sela cumbuannya pada daerah sensitive wanita yang sudah dalam kondisi polos tanpa kain penutup itu.
"Uhh ahh.. emmh! ti-tidak.. ad-da! ahh, lebih kuat lagi, Bestie!" erang Lyondra dengan tangan yang menekan belakang kepala Fathan.
"Tiga hari tanpa bermain, untuk wanita hyper sepertimu, itu sangat luar biasa!" ucap Fathan seraya menjauhkan kepalanya dari dekapan Lyondra.
Lyondra yang sudah di kuasai oleh gairah, menatap Fathan dengan sepasang matanya yang berkabut.
"Aku berkata benar! aku hanya ingin bermain denganmu saja, Bestie!" sahut Lyondra yang kembali menyerang Fathan bagai singa betina yang lapar.
Wanita itu bahkan mampu membalik tubuh kekar Fathan hingga berada di bawahnya dan kembali memimpin permainan dengan posisi women on the top dengan penuh agresif.
Dan saat akan sampai ke puncak, Fathan begitu saja melepaskan tautan mereka membuat Lyondra menjerit marah.
"Bestie! apa yang kamu lakukan!" teriak marah Lyondra seraya menatap Fathan yang bangun dari atas ranjang.
"Aku sudah selesai!" sahut pria itu, seraya meraih kimono tidur yang tersampir pada kursi di dekat ranjang.
"Kamu bohong! kau tak akan selesai sebelum kita sama-sama terkapar!" protes Lyondra berusaha menarik kembali Fathan ke atas ranjang.
Namun pria itu menjauhkan tubuhnya dari jangkauan tangan Lyondra.
"Ada apa dengan kamu! Apa kamu punya wanita yang melebihi permainanku?" tanya Lyondra seraya meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Bukan urusanmu! lebih baik kau enyah dari hadapanku!" ucap Fathan seraya meneguk anggur merah langsung dari botolnya.
"Aku salah apa? Tiga hari aku menunggumu dengan penuh rindu, tapi kamu malah mencampakkan aku!" Lyondra berteriak marah, dan Fathan sama sekali bergeming dari tempatnya.
Fathan lalu meraih sebuah amplop coklat dan nelemparkannya ke Lyondra.
"Silakan bawa pulang itu! jika kau tak bisa menjelaskan sekarang!"
"Apa ini?" tanya Lyondra seraya membuka amplop berwarna coklat tersebut.
Sementara Fathan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Vardome! siapa yang melakukan ini? Benar-benar cari mati!" runtuk Lyondra saat mengetahui apa isi dalam amplop persegi panjang tersebut.
Beberapa lembar photo dirinya tengah berada di atas pangkuan pria dalam kondisi polos tanpa busana.
Ekspreai puas penuh hasrat terlihat jelas di wajahnya dalam photo tersebut.
Lyondra langsung saja meraih pakiannya yang berserakan di lantai, mengenakan kembali dengan terburu-buru.
Saat dia selesai berpakaian, tampak Fathan keluar dari kamar mandi dengan terbungkus kimono mandi.
"Fathan! Aku bisa menjelaskannya!" teriak Lyondra berusaha menahan Fathan.
"Menjelaskan apa?" tanya Fathan dengan suara datar tanpa minat.
"Menjelaskan soal photo ini!" jawab Lyondra seraya menunjukkan photo tersebut ke Fathan.
"Menjelaskan, kalau photo tersebut hanya editan? atau ingin mengatakan, kalau kau di paksa melakukan itu?"
"Aku di jebak!"
"Siapa yang menjebakmu? dijebak namun menikmati! sungguh tidak konsisten," ucap Fathan dengan nada sinis.
Pria itu lantas mengenakan pakaiannya dengan cepat dan melempar tas milik Lyondra ke wanita tersebut.
"Pergilah! selesaikan urusanmu!" usir Fathan seraya membuka pintu kamarnya menyilakan Lyondra pergi.
Sementara itu, beberapa kilometer dari Club Nine Cloud, tampak seorang wanita tengah bersimpuh di atas sajadah dalam ke khusyukan bacaan sholatnya.
Terdengar alunan ayat suci yang sangat merdu dan di akhiri dengan doa penuh pengharapan.
"Ya Rabb, yang Maha membolak-balikkan hati. Tiada daya bagi hamba, tanpa adanya campur tangan dariMu. Hamba hanya memohon, lindungi suami hamba dari hal-hal yang merugikan dan membahayakan imannya. Beri dia segala perlindungan dan kemudaham dalam semua urusannya. Berikan pula ladang amal yang luas bagi bakti hamba ke suami dan kedua orang tua. Kuatkan iman hamba dalam mengingatMu."
***