Nazira membaca apa yang tertulis pada layar laptop dihadapannya.
Pada judul tertulis jelas Kontrak Pernikahan dan dia tak ingin melayangkan protes, karena hal ini sejak awal sudah di katakan oleh pria yang menikahinya karena satu kesalah pahaman.
"Jika ada yang ingin kamu revisi silakan saja asal jangan menganggu gugat point satu dan dua, karena itu sudah sangat tegas saya tulis," ucap Fathan seraya meletakkan gelas wine diatas meja.
Nazira menatap tak suka pada gelas wine dihadapannya dan ingin membuang minuman haram itu, namun dia tak mampu untuk melakukannya, karena dia tak bisa mengubah kebiasaan Fathan yang sudah mendarah daging pada diri pria itu begitu saja.
Apalagi status pernikahan mereka yang hanya sekedar pernyataan diatas buku nikah, semakin membuat Nazira menahan diri untuk tidak mencampuri apa yang dilakukan pria berstatus suaminya itu.
"Bolehkah, aku merevisi pada point tiga dan menambahkan satu point lagi?"
"Silakan!" sahut Fathan yang malah asik dengan layar ponselnya, sibuk membalas chat wanita-wanita teman ranjangnya yang berebut ingin selalu menjadi yang utama menjadi penghangat pria itu.
Nazira berusaha tak peduli walau dalam hati, dia sangat ingin mengetahui apa saja yang dikerjakan dan dilakukan suaminya di luar rumah.
Nazira lebih peduli menuliskan point dalam perjanjian kontrak yang tak merugikan dirinya.
"Silakan dibaca, dan saya juga meminta dua point yang saya tulis tidak bisa dibantah dan di ubah olehmu," ucap Nazira seraya memutar laptop hingga menghadap ke Fathan yang duduk didepannya.
Fathan hanya mengendikkan bahu lantas membaca apa yang ditulis Nazira.
"Kamu ingin kita tidur dikamar yang terpisah? Apa alasannya? Bukannya kita sudah menikah?" tanya Fathan sedikit merasa berat.
"Iya, aku minta kamar terpisah denganmu. Karena alasannya sangat jelas, aku tidak mau tidur bersama pria yang di pikirannya ada wanita lain yang namanya disebut dalam tidurnya. Dan juga aku tak mau melihat pria yang berstatus suamiku membawa masuk wanita lain ke kamar hingga aku harus mengungsi, " ucap Nazira sangat tegas.
"Oh hanya karena itu, semalam aku memang mabuk. Dan Ami bersedia mengantarku pulang! Lantas kenapa kamu marah?"
"Karena dia tak hanya mengantarmu pulang, tapi juga menetap di kamar hingga pagi dalam kondisi tanpa busana dibalik selimut bersamamu," balas Nazira berusaha menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak.
Fathan hanya diam, jujur semalam dia hanya ingat Amy mengantarnya pulang karena Abizar juga Wimbo sama mabuknya. Dan terkait apa yang dikatakan Nazira, dia tak ingat karena yang ada di matanya adalah sosok Nazira bukan Amy atau yang lainnya.
"Oke, aku setuju dengan permintaanmu. Namun jika orangtuaku atau orangtuamu datang kamu harus kembali ke kamarku!"
"Iya," jawab Nazira datar, tak ada rasa berat hanya sedikit rasa sesak mengingat bentuk pernikahanan yang dia jalani saat ini.
Mereka membaca kembali point-point yang mereka ajukan dimana Fathan mengajukan dua point untuk kepentingan dirinya yaitu Tidak boleh ada perasaan cinta diantara mereka karena dia tak ingin terikat oleh perasaan yang bisa melemahkannya.
Kedua, pria itu meminta agar Nazira tak mencampuri apa yang dia lakukan juga kerjakan, namun dia tetap akan meminta Nazira untuk bertindak sebagai pasangan pada waktu yang di butuhkan.
Fathan juga menambahkan satu point jika dia akan tetap menafkahi Nazira secara materi dan menanggung semua biaya hidup wanita itu.
Sementara Nazira meminta dua point yang antara lain, meminta kamar tidur yang berbeda untuk bisa sama-sama menjaga privasi dan point satunya meminta agar Fathan membebaskannya beraktifitas luar ruangan dan mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang designer perhiasan dan penulis media dakwah perempuan, selain mengisi kuliah umum di majelis pengajian milik kawannya.
Dan pasangan itu pun sepakat menjalani pernikahan kontrak ini sejak ditanda tangani dan berakhir paling lama satu tahun ke depan tanpa perpanjangan.
Fathan lantas mengeprint lembar kontrak pernikahan mereka dan langsung menanda tanganinya begitu pula dengan Nazira.
Pria itu lantas mengulurkan tanganya agar Nazira membalas jabat tangannya itu."Deal."
Nazira mengangguk lantas menyimpan salinan kontrak pernikahan miliknya sementara Fathan menyimpan salinan miliknya ke laci meja diruang kerja miliknya yang terletak di sebelah ruang tamu.
Fathan lantas keluar rumah ketika Wimbo sang asisten menjemputnya dan membiarkan Nazira dirumah bersama para asisten rumah yang hanya bisa jadi penonton.
"Jadi Bu Iza tidur dikamar ini?" tanya Bu Siti, asisten rumah yang berusia lebih tua dari yang lainnya.
"Iya, Bu!"
"Kenapa, Nyonya? Bukannya Nyonya istri Tuan Fathan?" tanya Kamila asisten yang bertugas mengurus kebersihan rumah.
"Iya itu benar! Namun ada beberapa hal yang tak bisa saya sampaikan ke kalian. Saya memang meminta kamar tidur terpisah bukan karena tak ingin melayani suami, namun saya kadang butuh waktu untuk diri sendiri. Ya anggap saja, ini ruang kerja saya, karena kalau sudah terlalu asik bekerja, saya sering malas untuk berpindah tempat walau untuk sekedar tidur," jswab Nazira memutus dugaan yang simpang siur di kepala dua asistennya.
"Oh jadi ini hanya ruang kerja, saya pikir, Nyonya Iza mau pisah ranjang dengan Tuan Fathan," ucap Kamila.
"Tentu saja tidak," jawab Nazira yang jelas saja berbohong
Bersama asisten rumah, Nazira menata kamar kerja yang juga di lengkapi ranjang single, lemari pakaian berukuran sedang dan meja kerja yang dilengkapi komputer keluaran terbaru yang dibelikan oleh pemilik rumah tersebut yang tak lain Fathan Khalil Afkar.
Sementara itu, Fathan yang baru sampai di kantornya langsung dihadapkan pada laporan anak buahnya.
Fathan tampak mengepalkan kedua tangannya, bahkan sebatang cerutu yang tadi terselip di sela jari tengah dan telunjuknya menjadi korban dalam kondisi patah dan hancur ditangan pria itu.
Tatapan mata Fathan yang bernetra hitam pekat tampak menusuk siapa saja yang bersitatap dengannya.
“Katakan! siapa diantara kalian yang sudah bosan, makan duit saya! Sebelum saya menemukan kebobrokan kalian, dan membuat kalian tinggal nama!” hardik Fathan lalu meneguk beer langsung dari kalengnya hingga habis.
“Kalau dari tim Alpha jelas tidak ada yang berani lambe turah, Bos! Kami masih doyan duit dari bos Fathan,” sahut Wimbo yang duduk didekat jendela asik mengintip gadis-gadis bau kencur yang sedang bermain basket di lapangan yang tak jauh dari markas The Black Eyes pimpinan Fathan Khalil Afkar.
“Tim Betha dan Deltha juga kagak ada, Bos! Kami masih butuh duitnya, Boss untuk modal hidup,” ujar Baron yang di angguki si Nungki.
“Mana si Izra? kenapa dia kagak ada disini?” tanya Devin sahabat Fathan yang berprofesi sebagai pengacara, walau kadang lebih banyak ngurusin perceraian dari pada pidana.
“Izra masih sakit, dia di temani sama Yusa. Tusukan pisau dari anak buah Thomas mengenai limpanya,” lapor Nungki terkait kondisi ketua tim Charlie.
“Biaya perobatan Izra apa sudah diselesaikan?” tanya Fathan pada Wimbo yang kini sudah mengubah pandangannya kearah sekelompok perempuan yang tengah senam zumba.
“Sudah semua. Bos! Bahkan biaya untuk hidup keluarganya juga sudah diberikan,” jawab Wimbo seraya meminta Buan untuk menunjukkan bukti transfer ke rekening adiknya Izra ke Fathan. Fathan mengangguk dan kembali dalam mode berpikirnya.
“Bos, gue boleh kagak? Menyampaikan kecurigaan gue keseseorang?” tanya Buan.
“Curiga boleh aja, asal jangan memfitnah!” sahut Fathan masih bersandar di kursi kerjanya yang berukuran besar. Biar dikata penjahat, pak Bos ini masih tahu, kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
“Gue curiga pada, Lyondra! Karena tuh perempuan beberapa kali gue lihat, bertemu dengan anak buahnya Thomas, si Axel itu.”
“Lyondra? Kagak mungkin dia berani! Dia masih menyukai ketek saya!” sergah Fathan membela wanita penghangat tempat tidurnya.
“Jangan marah dulu, Bos! Apa yang dikatakan Buan, Sembilan puluh persen benar. Saya juga beberapa kali melihat Lyondra masuk ke mobil milik Axel dan sepertinya, wanita bos lagi doyan selingkuh!” Baron menambahkan.
“Apa yang dicari wanita itu? Apa dia kurang puas sama aku?” tanya Fathan yang membuat anak buahnya menahan tawa.
“Ya kali aja, torpedo si Axel lebih mantap dari torpedonya Pak Bos!” ledek Baron membuat Fathan mendengkus.
“Kamu pikir torpedo saya, seukuran punya bocah baru di sunnat!” kesal Fathan seraya membuka kembai kaleng beer yang ke delapan untuk hari ini.
“Pokoknya begini saja, deh!tolong semua yang emang masih doyan ama duitnya bos Fathan, jaga diri kalian. Maksimalkan mata dan telinga kalian untuk mencari siapa pengkhianat yang sudah berani netap disini!” Abizar yang sedari tadi diam dan hanya menyimak obrolan mereka, kini ikut berbicara.
Abizar sama seperti Devian, teman baik pak bos mulai mereka masih unyu-unyunya pakai seragam putih abu-abu ampe jadi bangke seperti sekarang.
“Oke! Gue setuju apa saran, komandan Abizar! Tapi omong-omong, Excavator yang di TBM udah loe tarik semua kagak?” tanya Devian dengan selidik.
“Sudah kelar semua, urusan illegal logging, itu jadi urusan TMB dan kepolisian. Gue sudah tegasin, kalau semua alat berat itu milik Fathan Rent yang tidak tahu menahu soal tambang liar itu.”
“Cerdas juga, Loe! Jadi gue kagak usah turn tangan untuk masalah ini,” sahut Devian seraya meraih sekaleng sofhdrink dan meminumnya.
“Lagian pengacara perceraian kayak. Elo! apa paham illegal logging? Yang Elo tahu itu hanya perselingkuhan diantara dua kaki dan nikah siri aja,” ledek Abizar yang dibalas dengan tendangan kaki Devian di tulang kering pria berpostur mantly itu.
Fathan lantas berdiri dari duduknya, dan membuat semua anak buahnya yang berada diruang kerja pria itu pada menoleh kearah pria pemilik tinggi 183 cm dengan wajah blasteran itu.
“Kemana, Bos?” tanya Abizar penasaran.
“Cari lubang! Bosen ngadepin batangan kek elo semua!” sahut Fathan acuh.
“Lubang terus yang dicari bos! Sesekali cari yang halal, kenapa?” tanya Nungki yang sudah punya dua istri dan tiga anak itu.
“Yang halal, kadang maunya memonopoli. Sementara banyak barang bagus yang datang silih berganti. Dan bos Fathan tidak mungkin melewatkannya!” ledek Wimbo sang asisten yang sangat paham dengan kelakuan bosnya ini.
“Tuh, coba mikirmu seperti Wimbo, cerdas dikit kenapa!” sahut Fathan seraya keluar dari ruang kerjanya di ikuti Wimbo dan Baron.
“Gue kagak mikir kek gituan, punya dua aja sudah bikin gue empet. Kalau nekad cari lubang lagi, bakal di sunnat sampai habis punya, Gue!” keluh Nungki membuat Abizar menjitak kepala pria yang usianya lebih tua tiga tahun darinya itu.
“Makanya, puas-puasin dulu nakalnya, baru cari yang halal dan bertobat! Kalau masih pengen nakal, jangan nikah dulu. Nungki !”ledek Abizar.
“Yee … gue nikah juga karena hasil gue nakal! Kalau kagak si Elva kagak lahir duluan sebelum Gue ijabin emaknya!” sahut Nungki membuat Abizar dan Devian mendengkus.
“Makanya kalau mau nakal, buangnya di luar! Jangan keenakan buang di dalam. Akhirnya mbledung! dan di seret loe ke penghulu,” sahut Buan seraya terkekeh geli.
“Jangan mengungkit kebodohan, Gue! Jangan songong, Loe! Karma itu berlaku!” sahut Nungki seraya menonyor kening Buan sebelum keluar dari ruang kerja pak Bos yang sudah terasa pengap dengan bau rokok dan minuman berakohol bercampur wangi parfum nyong-nyong yang nyengat banget.
Next