Dua kepala dan dua hati yang berbeda dibawah satu atap yang sama, ibarat dua orang yang tak saling mengenal satu dengan lainnya.
Nazira begitu pula Raspati jelas terkejut saat terdengar suara pria yang memanggil dengan sebutan Nyonya Fathan.
Nazira pun melebarkan kedua mata karena terkejut, saat tiba-tiba sebuah tangan kekar merangkul bahunya serta menyentuh sisi kiri kepalanya begitu saja.
"Saya Fathan Khalil Afkar, suami Nazira. Maaf, kami harus segera pulang!" ucap pria yang ternyata Fathan itu seraya menarik bahu Nazira agar mengikutinya.
Fathan tak memberi kesempatan sedikit pun pada Raspati untuk pria itu mengenalkan diri atau membual padanya.
'Dari mana dia datang? Bukannya dia tadi sudah pergi ke kantor?' tanya Nazira dalam hati.
Nazira lantas dibantu Fathan naik ke mobil berbody tinggi dan duduk dikursi penumpang depan. Bahkan pria itu memasangkan safety belt sebelum dia sendiri masuk ke mobil.
"Kenapa diam? Tidak rela menjauhkanmu dari pria tadi?" tanya Fathan yang kali ini menjalankan mobil Jeep Grand Charokke Limited Hitam miliknya.
"Tidak!"
"Dia pacar kamu?"
"Bukannya tadi saya sudah bilang, jika Saya tidak punya kekasih!"
"Lantas? Kenapa kamu diam?"
"Hanya terkejut saja, kamu tiba-tiba kembali datang!"
"Kenapa terkejut? Bukannya aku suamimu, jadi kapan pun aku datang tak perlu membuatmu terkejut," sahut Fathan membuat Nazira merasa tertampar akan statusnya saat ini.
"Bukan seperti itu, maksudku bukannya tadi kamu sudah pergi duluan? "
"Memang kenapa? Aku tidak boleh kembali untuk menjemput istriku?"
Nazira kembali diam, ada rasa kesal karena Fathan selalu bisa menjawabnya walau tak sesuai dengan apa yang dia tanyakan.
"Kita mau kemana?" tanya Nazira sedikit bingung karena arah yang dilewati bukan arah kerumah orangtuanya.
"Pulang!"
"Pulang? Tapi arah rumah babe bukan ini!"
Fathan menoleh sesaat kearah Nazira lantas menepuk pelan kening gadis itu membuat Nazira terpekik kaget.
"Kamu itu istri saya, jadi kamu pulang kerumahku, bukan kerumah babe kamu!"
Nazira hanya meringis seraya mengelus keningnya."Tapi tas pakaian aku masih di rumah, Babe!"
"Kita beli yang baru!"
"Pemborosan! Aku belum perlu pakaian baru," tolak Nazira merasa tak enak jika menerima sesuatu dari Fathan.
"Sudah jangan cerewet! Aku tidak semiskin itu hanya karena membelikanmu pakaian!" sahut Fathan yang di jawab Nazira dengan mengendikkan bahu.
***
Dan Fathan memang gila, pria itu sukses membuat Nazira tercengang dengan apa yang dia lakukan.
Pria itu membelikan banyak pakaian muslimah untuk Nazira. Mungkin bila Nazira tak melarangnya, Fathan akan menghabiskan isi butik milik designer ternama itu.
"Pemborosan sekali! Buat apa membeli banyak pakaian seperti ini. Lebih baik uangnya di tabung!"
"Saldo tabunganku sudah terlalu banyak! Bahkan tidak bakal membuatku jatuh miskin," cetus Fathan dengan wajah angkuhnya.
"Jangan sombong! Nasib seseorang itu tidak selalu beruntung," sahut Nazira kesal dengan sikap angkuh seorang Fathan si bos besar.
"Itu teorimu, Nyonya! Bagiku tidak berlaku !" sahut pria itu yang lantas membawa semua belanjaan milik Nazira ke mobil dan kembali membantu Nazira naik ke mobil miliknya yang lumayan tinggi.
"Kenapa mobil ini tinggi sekali? Serasa naik ke truck," komentar Nazira saat Fathan sudah menjalankan kembali benda beroda empat itu.
"Memangnya kamu pernah naik truck? Atau biasa naik unta?" balas Fathan membuat Nazira ingin memukul wajah tampan pria itu menggunakan tas cangklongnya.
Kedua mata Nazira menatap kearah bangunan dua lantai di depannya yang terkesan mewah dengan halaman rumput yang di tumbuhi tanaman bunga dan pohon hias yang tertata rapi.
Siang tadi , dia memang tak sempat memperhatikan bentuk luar dari rumah pria yang berstatus suaminya ini.
Piikirannya masih di d******i dengan kejengkelan atas provokasi Fathan sehingga akhirnya mereka menikah.
Jantung Nazira hampir copot, saat Fathan memeluk pinggangnya sewaktu membantu turun dari mobil.
Bahkan pria itu tetap memeluknya seraya menatap kearah Nazira yang membuat gadis itu salah tingkah.
"Cukup menarik!" ucap Fathan lantas melepas rangkulannya di pinggang Nazira dan memerintahkan penjaga rumahnya untuk membawakan tas belanjaan mereka.
Sementara Nazira hanya berjalan dibelakang Fathan berusaha mengimbangi langkah panjang pria itu.
Rumah yang mewah, itu menurut penilaian Nazira. Interior yang menunjukkan status sosial.pemiliknya berpadu dengan berbagai furniture dan barang mewah yang tertata apik.
Mereka lantas menaiki anak tangga yang sedikit memutar menuju ke lantai dua yang juga tak kalah mewah.
"Tinggalkan kami!" perintah Fathan pada dua orang pekerja di rumahnya.
Dua orang tersebut pun mengangguk patuh dan segera meninggalkan pasangan tersebut.
"Ini kamar tidur!" Tunjuk Fathan pada ruangan yang luasnya tiga kali dari luas kamar tidur Nazira di rumah orangtuanya.
"Iya aku tahu, lantas dimana kamar tidurku?" tanya Nazira to the point membuat Fathan mengeryitkan kening.
"Kamar tidurmu?" tanya pria itu.
"Iya kamar tidurku. Bukannya pernikahan kita hanya sebatas pernikahan di atas buku nikah saja. Itu kan yang kamu katakan kemarin."
Terdengar kekehan Fathan membuat Nazira balik mengeryitkan keningnya.
Pria itu lantas menjatuhkan diri ke sofa panjang berukuran besar."Apa suami istri harus tidur terpisah?"
"Iya jika pernikahan tersebut tak di dasari oleh perasaan suka satu dengan lainnya," jawab Nazira masih berdiri membelakangi pintu.
"Itulah yang tidak aku sukai dari pernikahan. Selalu ada yang di tuntut hingga menjadikan rasa egois memiliki lebih tinggi dari sekedar kesenangan. Aku tidak suka di kekang oleh satu ikatan. Dan perlu kamu tahu, aku penyuka kebebasan dan tidak percaya dengan apa itu cinta!" ucap Fathan yang lantas berdiri, berjalan ke arah Nazira.
Dengan cepat mendorong tubuh ramping semampai itu hingga terpapar ke dinding kamar dan mengurung dengan tubuh atletisnya.
Ingatan Nazira langsung kembali pada kejadian di kamar hotel Ramses, Tepi Sungai Nil dua bulan yang lalu.
Dimana Fathan juga menahan tubuhnya seperti ini, bahkan aroma musk yang dipakai pria itu menguar memasuki hidung Nazira.
"Apa kamu tengah mengujiku?"
"Menguji apa?" tanya Nazira gugup, bahkan detak jantungnya terasa cepat dan hawa hangat menjalari kedua pipinya.
"Menguji gairahku! Kamu tahu, aku penyuka wanita cantik dan bertubuh molek. Sementara Kamu membuatku penasaran dengan pakaianmu ini," ucap Fathan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nazira.
"Ka-kamu... Ma-mau ap-apa?" tanya Nazira gugup.
"Bukannya kita sudah sah sebagai suami istri? Pada yang bukan istri saja aku bisa menikmati mereka secara bebas, apalagi yang sudah sah."
"Please! Aku belum siap untuk itu. Aku belum mengenalmu dengan baik," elak Nazira berusaha membebaskan diri.
"Tak perlu untuk saling mengenal kalau hanya ingin bercinta. Karena yang di butuhkan dan yang memegang kendali hanya nafsu bukan perasaan!" tegas Fathan membuat Nazira mengigit bibirnya di balik niqob warna dusty yang dia kenakan.
Dan tanpa Nazira duga, tiba-tiba Fathan melepas pengikat niqob tersebut membuat wajah cantik Nazira terlihat keseluruhan.
"Sudah aku duga, kamu memiliki wajah yang sangat cantik," puji Fathan seraya menjalankan jemari tangannya ke wajah Nazira dan merasakan kelembutan kulit wajah sang istri yang terasa alami.
Hasrat pria itu pun bergejolak saat dadanya bersentuhan dengan bagian lembut dan kenyal milik Nazira.
Fathan melimgkarkan tangannya di pinggang rampimg Nazira dan menarik tubuh wanita itu rapat kedirinya.
Sementara satu tangannya menahan tengkuk Nazira agar wanita itu tak menggerakkan kepalanya.
Dengan gerak cepat, Fathan berhasil menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang lembut.
Pria itu tersenyum disela aktifitasnya saat merasakan jika tak ada perlawanan dari Nazira.
'Benar-benar masih polos!' bathin pria itu tanpa melepas pagutannya dibibir lembut Nazira yang hanya pasrah dalam kungkungan tubuh pria berstatus suaminya itu.
Fathan baru membebaskan Nazira saat suara panggilan di ponselnya berbunyi untuk ketiga kalinya.
"Selalu saja menganggu di waktu yang penting!" omel Fathan lalu membuka pintu dan menghilang meninggalkan Nazira yang langsung jatuh ke lantai.
Kedua kaki gadis itu terasa lemas setelah apa yang Fathan lakukan padanya.