Nazira terjengkit saat telinganya menangkap suara wanita berbicara tak jauh dari tempatnya duduk.
"Ehh... Iya, Bu. Ada apa?" Nazira balik bertanya pada seorang ibu yang betdiri sopan di depannya.
Dari pakaian.yang dikenakan terlihat jelas jika si ibu tersebut pekerja di rumah besar milik Fathan Khalil Afkar.
"Saya pengurus rumah tuan Fathan, Nyonya Fathan mau makan sekarang? Ini sudah masuk waktu makan siang."
Nazira tercengang sesaat, kebingungan jelas tergambar di wajah cantiknya.
'Cepat juga, pria tengil itu mengabarkan status barunya pada semua orang,' gumam Nazira lantas mengangguk.
"Saya nunggu Tuan Fathan saja, Bu. Jika boleh," jawab Nazira akhirnya tak ingin membuat wanita berwajah lembut itu menunggu terlalu lama.
"Boleh saja sih, Nyonya. Tapi, Tuan Fathan tidak pernah makan siang di rumah, bahkan makan malam pun sangat jarang sekali."
"Oh ya, lantas buat apa dia memiliki rumah sebesar ini jika hanya untuk tidur saja," ucap Nazira seraya menghela nafas.
Wanita berwajah teduh itu terlihat tersenyum lantas menyilakan Nazira untuk memgikutinya.
"Nanti, Nyonya akan tahu sendiri apa yang dikerjakan Tuan dirumah. Kami sendiri pun tidak tahu, apa pekerjaan Tuan Fathan."
"Oh begitu, baiklah. Terima.kasih ya, Bu. Oh ya, nama saya Nazira, ibu sendiri siapa?" tanya Nazira setelah duduk di kursi meja makan mewah berbentuk oval dengan enam kursi itu.
"Saya Siti tugas saya mengatur makan Tuan Fathan dan urusan dapur. Sedangkan ini Mhia yang bertugas membersihkan rumah." Wanita bernama Siti itu mengenalkan gadis yang berdiri disebelahnya.
"Hemm, karena Tuan Fathan belum pulang, bersediakan bu Siti juga Mhia menemani saya makan?"
"Jangan Nyonya, kami takut dimarahi Tuan Fathan," tolak Bu Siti.
"Tidak akan dimarahi, karena saya yang meminta kalian untuk menemani saya makan. Mari duduk sini," ucap Nazira lembut seraya menunjuk kursi di dekatnya.
Walau ragu, akhirnya Bu Siti serta Mhia duduk dan menemani Nazira makan siang.
Karena merasa bingung mau melakukan apa, Nazira pun memutuskan untuk pergi kerumah sakit menjenguk ayahnya.
Karena dia tak memiliki nomor ponsel milik suaminya, dia pun menelphone Abizar meminta untuk menyampaikan ke Fathan tetkait keinginannya menjenguk Babe Muhrowi.
Nazira mengeryitkan kening saat suara panggilan masuk tanpa nama tertera di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, ini dengan siapa?"
"Walaikumsalam, aku suamimu. Kata Abizar kau ingin pergi kerumah sakit? "
"Iya, aku ingin menjenguk babe dan pulang kerumah babe mengambil pakaianku."
"Oke, aku izinkan. Tapi pergi minta antar pak Asep."
"Baik, terima kasih. Assalamualaikum," jawab Nazira yang lantas menggeleng karena Fathan langsung menutup panggilan tanpa menjawab salam.
Nazira tak peduli, dia memilih mencari pak Asep sesuai intruksi Fathan untuk mengantarnya ke rumah sakit karena jika nekad naik taksi dia tidak tahu arah mana rumah sakit tersebut berada.
Empat tahun di Kairo membuat Nazira tak hafal dengan seluk beluk kota besar ini.
***
Nazira hanya bisa duduk dalam diam saat sang babe kembali memberinya petuah terkait pernikahan.
"Pokoknya, Babe tidak mau dengar, pernikahanmu berakhir dengan perceraian. Suka tidak suka, mau tidak mau. Ini jalan takdir yang kamu ambil. Jalani itu sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang kalian perbuat."
Nazira hanya bisa menghela nafas pelan, ingin rasanya dia menyela ucapan sang ayah. Namun hal tersebut tak mungkin dia lakukan.
Nazira tak ingin menambah panjang catatan dosanya karena membantah perkataan orangtuanya.
Selain itu, penjelasan apa pun tak akan mengubah penilaian ayah, ibu juga keluarga pada dirinya. Jadi diam dan menerima adalah cara terbaik baginya saat ini.
"Iya, Be. Izza tahu. Dan Insha Allah, bisa menjalani petnikahan ini sesuai dengan apa yang di perimtahkan Allah."
"Lalu, kemana Fathan? Kenapa kamu datang seorang diri?"
"Fathan sedang banyak pekerjaan, Be!" jawab Nazira, namun belum juga wanita itu menambahkan kalimatnya, tiba-tiba pintu kamar rawat inap itu terbuka, menampilkan sosok yang membuat Nazira terkejut.
"Saya datang, Be! Maaf terlambat karena baru selesai meeting."
Tampak Fathan berjalan menghampiri ranjang fimana ayah Mertuany berbaring. Menyalami tangan pria paruh baya tersebut lanjut ketangan ibu Mertuany.
Lantas dengan sok akrabnya, Fathan mencium puncak kepala Nazira membuat gadis itu mendebgkus pelan.
"Kak Fathan sudah makan siang?" balas Nazira pada pria yang duduk disebelahmya.
Hanya sekedar basa-basi agar sang ayah tak lagi memberinya siraman rohani.
"Sudah, dikantor," jawab Fathan disertai senyum tengilnya membuat Nazira ingin memukul pria berwajah rupawan itu.
"Bagaimana kondisi, Babe? Sudah rada mendingan?" tanya Fathan tanpa memghiraukan tatapan kesal Nazira.
"Alhamdulillah, kata dokter lusa sudah boleh pulang."
"Jika ada perawatan lanjutan, bilang saja, Be. Biar Fathan yang urus semuanya."
"Terima kasih, Nak Fathan. Kalau boleh minta tolong, Babe minta, tolong jaga Nazira dan bimbing dia agar bisa menjadi istri yang baik," pinta Babe Muhrowi membuat Nazira meringis dalam hati.
'Dijagain pria playboy. Apa ada baiknya? Yang ada makan hati, Be,' jerit hati Nazira.
Namun berbeda dengan Fathan yang justru tersenyum bangga."Tentu saja, Be. Sekarang Nazira sudah menjadi tanggung jawab saya."
Babe Muhrowi mengangguk, mereka pun melanjutkan obrolam hingga suara ponsel Fathan berbunyi mengharuskan pria itu untuk pergi terlebih dahulu.
Sama seperti saat datang tadi, Fathan pun mencium tangan kedua mertuanya juga kepala Nazira yang tertutup hijab.
"Saya kembali ke kantor dulu," pamit Fathan sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Babe, yakin Fathan bisa menjadi imam yang baik, buat kamu Iza."
"Bener, terlihat sekali kalau dia menyayangimu, Izza. Sikapnya ke kamu, Umi lihat sangatlah manis," ucap Umi Syarifah membuat Nazira terpaksa mengangguk untuk mengiyakan.
"Izza sekalian minta izin, mau mengambil pakaian dan buki-buku Izza dirumah, Babe, Ummi."
"Silakan, Nak. Dan ingat apa yang tadi babemu pesankan," jawab Ummi Syarifah mewakili suaminya yang tengah beristirahat.
Pukul lima sore, Nazira pun betpamitan pada orangtuanya. Dengan langkah pelan, wanita berparas cantik yang tertutup cadar itu menyusuri lorong rumah sakit milik keluarga kaya raya itu.
Saat langkahnya mencapai lobby, kembali fia bertemu dengan Raspati, sang kakak kelas.
"Loh ketemu lagi, kok masih disini? Bukannya tadi kamu pergi bersama pria yang mengaku suami kamu?" tanya Raspati spontan.
Jujur dia sangat kecewa mendengar jika gadis yang ditunggunya siang malam itu telah menikah.
Rasa rindu juga cinta yang selama empat tahun di simpan seakan meluap entah kemana meninggalkan rasa perih dihati.
"Iya, saya kembali untuk mwnjenguk, Babe. Kakak sendiri ngapain masih disini?" jawab Nazira seraya menjaga jarak agak jauh dari Raspati.
"Saya baru selesai rapat dengan management rumah sakit. Bisa kita lanjut ngobrol di kafe depan situ? Tidak nyaman sekali ngobrol sambil berdiri diantara lalu lalang orang lewat," usul Raspati, walau dia tahu. Nazira pasti akan menolak bila hanya berdua saja.
"Maaf, saya tidak bisa."
"Sudah aku duga. Hal ini yang membuat aku menyukai kamu, Izza,"aku Raspati membuat Nazira semakin menundukkan pandangannya.
Sementara itu, tanpa Nazira tahu. Seorang pria berpenampilan maskulin masuk.ke lobby dan berjalan kearahnya.
Raut wajah rupawannya terlihat kaku menatap kearah pria dan wanita di depannya.
"Nyonya Fathan!" ucap pria itu membuat Nazira dan Raspati sontak menoleh.