"Nazira!"
Suara pria memanggil namanya membuat langkah Nazira yang baru keluar dari lobby terhenti.
Gadis itu memperhatikan sesosok pria dengan perawakan tinggi, berpakaian rapi dan berajah tampan tengah berjalan kearahnya.
"Raspati," gumam Nazira saat jarak antara dirinya dan pria itu semakin dekat.
"Kenapa pulang ke Indonesia tidak mengabariku?"
"Aku takut merepotkanmu!"
"Kamu terlalu basa-basi!" kilah Raspati seraya terkekeh."Padahal aku sangat mengharap untuk kamu repotin."
"Janganlah, aku tidak mau merepotkan orang lain," jawab Nazira yang paham akan maksud perkataan Raspati barusan.
"Sedang apa kau disini ?" tanya pria bernama Raspati saat sudah berada dihadapan Nazira.
"Menjenguk Babe," jawab Nazira.
"Maksudmu, Babe Muhrowi? "
"Memangya aku punya berapa , Babe?"
"Ya mungkin saja Babe mertua! Bukannya kamu akan menikah dengan Zulfan Al Katiri?"
"Tidak jadi!"
"Kamu berhasil menolak petjodohan itu?" tanya Raspati sedikit menyelidik dan Nazira pun mengangguk.
"Alhamdulillah, berarti ini menjadi kesempatanku untuk maju yang sebelumnya masih dalam kebimbangan tapi sekarang aku sudah yakin menghadap babe Muhrowi untuk meminang dirimu," ucap Raspati dengan penuh rasa yakin.
"Itu pun tidak bisa kamu lakukan, Raspati!"
Raspati menatap Nazira dengan kedua alis yang tertaut."Kenapa tidak bisa? Kita seiman dan sejalan kenapa tidak bisa?"
"Karena aku sudah menikah!"
Raut terkejut jelas terlihat di wajah tampan khas pria jawa itu. "Menikah? Jangan bercanda jika hanya ingin menolakku."
"Aku tidak bercanda, Raspati."
"Kapan kamu menikah? Mengapa tidak ada yang memberiku kabar soal ini."
"Semalam aku menikah, dan di rumah sakit ini."
"Siapa pria yang telah mendahuluiku. Apa dia Zulfan? Atau Alif?" tanya Raspati.
"Bukan keduanya."
"Lalu siapa? Siapa pria yang mendahuluiku itu? Apa dia putra dari pemilik pesantren teman-teman babe kamu?" kejar Raspati tak terima atas penolakan Nazira.
"Bukan!"
"Lalu siapa?" tanya Raspati semakin menyudutkan Nazira yang merasa tak nyaman.
Dia tahu, Raspati sang kakak kelas yang kini sudah sukses menjadi seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang kesehatan, sudah menyatakan rasa sukanya sejak dia masih duduk dibangku Aliyah.
Bahkan pria itu bersedia menunggu dirinya menyelesaikan study di Kairo, namun kenyatan berkata lain bukan?
"Katakan siapa pria itu, Nazira!"
"Aku suami Nazira! Kamu mau apa?"
Nazira membulatkan kedua matanya saat Fathan tanpa sungkan memeluk bahu dan menarik tubuhnya rapat ke pria itu.
Bisa dilihat raut terkejut di wajah Raspati, dengan kedua tangan mengepal, pria itu menatap kearah Nazira dengan tajam.
“Siapa, Kamu!”
“Apa kamu tuli?” balas Fathan dengan tajam, membuat Nazira merasa takut dan tanpa sadar meremas ujung khimar yang dikenakannya.
"Tentu saja tidak! Tapi aku tak percaya Nazira istri kamu!"
"Aku tidak butuh kamu percaya! Karena aku tak suka seorang pria menggoda wanita milik pria lain! "
"Bulshit! Nazira hanya terpaksa menikah denganmu!"
"Apa urusanmu? Mau terpaksa atau tidak, Nazira adalah istriku. Dan ini yang pertama juga terakhir, aku mengingatkanmu untuk tidak mendekati Nazira," ucap Fathan yang lantas mencium kepala Nazira yang memiliki tinggi sedagunya itu.
"Ayo, kita pulang! Nanti malam,baru jenguk, Babe lagi," ajak Fathan seraya menarik Nazira yang masih dalam rangkulannya.
Nazira bagai kerbau di cocok hidungnya, hanya mengangguk danengikuti langkah Fathan tanpa berani menoleh ke arah Raspati yang menatap penuh rasa kecewa juga kesal.
"Siapa pria itu?" tanya Fathan saat mereka sudah duduk didalam mobil milik Fathan.
Sebuah mobil keluaran pabrikan Inggris yang terkenal dengan mobil mewahnya.
"Dia kakak kelas, Iza sewaktu di Aliyah."
"Pacar kamu?"
"Tentu saja, bukan. Kami hanya berteman dan kebetulan bertemu di depan lobby," aku jujur Nazira.
"Saya pikir, wanita tertutup sepertimu tak memiliki teman pria," sinis Fathan yang jelas membuat Nazira menoleh kearah pria itu.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau pikir saja sendiri," sahut Fathan seraya fokus pada setir mobilnya.
"Saya tidak hidup di gua, tentu saja saya punya teman pria walau dalam konteks seratus persen hanya teman. Namun saya tak pernah menyimpan nama mereka di memory otak saya apalagi menyimpan nomor mereka, paham," balas Nazira dengan tegas membuat smirk terlihat di bibir tipis milik Fathan.
"Syukurlah, kalau begitu. Berarti saya tak perlu mengajarimu fungsi sebagai istri."
Nazira memilih tak menjawab perkataan Fathan, dia tahu perdebatan ini tak memiliki tujuan juga arti bagi pria disampingnya.
"Kita mau kemana?" tanya Nazira saat arah mobil Fathan tak mengarah ke rumah orangtuamya.
"Tentu saja pulang! Apa kamu ingin malam pertama di hotel? Cepat sekali kamu tergoda denganku," ledek Fathan yang tentu saja membuat Nazira kesal.
"Turunkan aku disini!" pinta Fathan saat mobil berhenti di lampu merah.
"Mau ngapain? Ngamen?" sahut Fathan.
"Aku mau pulang kerumah babe!" sergah Nazira sangat kesal.
"Rumah babe dari sini sangat jauh, nanti kamu diculik orang dan di jadikan boneka di rumah bordil."
"Kam-mu... !" Nazira tak melanjutkan perkataannya karena keburu otaknya merasa takut dengan perkataan Fathan.
Sementara Fathan hanya terkekeh dan berkata," Ternyata kamu lucu juga. Cukup menghibur," ucapnya seraya menepuk pelan kepala Nazira.
***
Fathan membawa Nazira kerumah miliknya yang masih terbilang baru.
Karena pria itu memang baru membelinya sepulang dari perjalanan bisnis luar negerinya.
"Kamu jangan pergi kemana-mana! Saya ada urusan pekerjaan!" ucap Fathan yang bersiap pergi.
"Apa kamu menjadikan saya tahanan disini?" tanya Nazira yang memilih duduk di sofa ruang santai.
"Kamu istriku, sudah sepantasnya kamu berada di rumah, bukan keluyuran tak jelas!" sahut Fathan tak peduli dengan tatapan kesal sepasang mata indah milik Nazira.
"Terserah kamu aja, toh aku sudah kalah!" sahut Nazira akhirnya saat Fathan telah sampai di depan pintu lalu pergi bersama dua pria yang menjemputnya.
Lamunan Nazira kembali.pada pembicaraannya dengan Abizar pagi tadi di rumah sakit.
Nazira sadar, walau dia berkata yang sebenarnya tetap saja tidak akan mengubah keputusan.
Hidup sang ayah tergantung di tangannya sebagai anak satu-satunya keluarga Muhrowi Zahdan.
"Abang percaya dengan apa yang kamu katakan, karena abang tahu, wanita seperti apa yang menarik gairah Fathan. Bukan wanita serba tertutup seperti yang kamu kenakan saat ini," ujar Abizar yang masih tak percaya jika teman baiknya yang terkenal bastrad menikahi adik sepupunya yang dikenal sholeha.
"Tapi semua sudah terjadi, Bang! Iza tak bisa lagi menolak dan lari."
"Tapi walau punya sifat buruk terhadap wanita, Fathan sebenarnya sangat baik dan care. Dia bahkan langsung membawa Cing Muhrowi ke rumah sakit dan menempatkan dikamar perawatan VIP, menanggung semua biaya perawatan tanpa perlu meminta izin."
"Iya, tapi akhirnya, Iza serasa punya hutang budi ke dia, Bang Izar!"
"Tak perlu di pikirkan, karena Fathan tak akan memintanya kembali. Abang paham betul dengan sifatnya itu,"
"Tapi tetap saja, Bang. Nazira tetap berstatus istri Fathan. Lalu bagaimana rumah tangga Iza nanti dengan pria yang suka berganti pasangan. Masa Iza punya Imam seorang pezina," keluh Nazira dengan kesal.
"Ya sekarang itu jadi tugas kamu buat mengubah dia menjadi hanya setia pada satu wanita, yaitu kamu."
"Sepertinya sulit!"
"Tak sulit jika di jalani," sahut Abizar membuat Nazira mendengkus pelan.
"Lalu perempuan yang tadi menjemputnya, benar pacarnya?"
"Bukan pacar, karena seorang Fathan tak pernah mengumbar kata cinta. Bos Fathan hanya mencari kehangat saja," sahut Abizar membuat Nazira bingung.
"Bukan pacar tapi prilaku mereka malah diluar batas jika hanya berstatus pacar," protes Nazira.
"Memang bukan pacar, Lyondra itu patner diatas ranjang, bisa dibilang pasangan kumpul kebonya Fathan."
Kedua mata Nazira membola dan spontan gadis itu menutup mulutnya."Pasangan kumpul kebo?"
"Iyalah kumpul kebo! Lantas apa namanya jika seorang pria dan wanita dewasa kerab berada dalam satu kamar dan bergumul hampir setiap hari?"
Nazira jelas meringis dan semakin merasa miris pada nasib dirinya sendiri.
Bagaimana dia yang masih Virgin dinikahi oleh seorang pria yang sudah berkali-kali merasakan tubuh wanita dan itu berganti-ganti wanita.
"Ya sudah jalani saja, walau nanti kamu kudu banyak sabar ngadepin sifat Fathan yang angin-anginan juga kerab gonta ganti wanita," ucap Abizar seraya menepuk kepala Nazira pelan.
Dan lamunan Nazira pun buyar saat suara lembut wanita menyapanya.
"Nyonya, mau makan sekarang?"