Malam hari nya, Arini awalnya akan berpamitan pada Devano karena tak baik jika dirinya menginap di rumah orang yang sudah berkeluarga, setelah Khansa tidur Arini mengetuk kamar Devano
tok tok
"yah, sebentar"
"maaf pa, saya ingin pamit pulang, karena ini sudah malam, tak baik jika saya terlalu lama disini, Khansa sudah tertidur jadi saya mohon undur diri" pinta Arini
"biar saya mengantar Bu Arini," awalnya Arini menolak namun akhirnya ia menyerah, karena tak baik juga malam-malam wanita masih keluyuran di jalan.
"baiklah kalo begitu" Arini mengangguk.
"sebentar, saya ingin titip anak saya ke babysister nya". Devano mengambil kunci mobil.
"Mir, Mirna" teriak Devano
"iya, pak bos, ada apa?" tanya Mirna
" jaga putri saya dulu, saya mau mengantar Bu Arini pulang, kasihan sudah malam" Mirna mengangguk
"terimakasih, Bu Arini sudah menjaga Khansa seharian ini" Mirna berterimakasih pada Bu Arini. " sama-sama, sus jaga Khansa ya" Arini pamit pada Mirna. "baik Bu" Mirna kemudian masuk ke kamar Khansa.
***
Di dalam mobil tidak ada suara satu kata pun yang terdengar dari Devano atau Arini. tangan Arini terus diremas karena cemas atau gugup.
"pak belok kanan, setelah lampu merah ya" suara Arini tiba-tiba mengagetkan Devano. "oh iya,"
hujan tiba-tiba turun dengan deras. "hujannya deras sekali" ucap Devano "iya" hanya itu yang terdengar dari mulut Arini. sambil memalingkan wajahnya melihat tetesan air di kaca jendela.
"pa, saya turun depan saja, karena mobil tidak bisa masuk," pinta Arini.
"tidak apa, saya antar sampai rumah ya Bu, saya ada payung dibelakang," pinta Devano. entah kenapa Arini tak berani menolak setiap kali Devano meminta. padahal baru berkenalan dengan Devano. entah mengapa perasaan Arini begitu tenang berada di sisi Devano padahal, ia baru mengenal, ia mengingatkan pada sosok orang yang ia sangat cintai, namun takdir berkata lain, sahabatnya telah mengambil kekasih hatinya hampir 3 tahun ini dirinya tak pernah berkenalan dengan lelaki manapun. ia menerima pernikahan dengan terpaksa namun justru ia kabur setelah dirinya hampir dijual oleh suaminya. Beruntung dirinya bisa selamat sampai saat ini, ia merasa bersyukur dirinya telah selamat dari lingkaran setan.
setelah ia kenal dengan keluarga khansa termasuk ayahnya justru kali ini ia merasakan ada hal yang berbeda, namun sayangnya perasaan itu salah karena Devano telah memiliki keluarga. Arini takut jika perasaannya akan tumbuh terhadap Devano.
****
Begitu pula dengan Devano, entah kenapa ia merasa tenang dekat dengan Arini. ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam sehari ini. entah perasaan suka atau hanya ini hanya pelampiasan saja karena ia butuh belayan wanita, Selama satu tahun ini, ia tak pernah mendapatkan hak biologisnya sebagai seorang suami.
****
Ditempat lain Khansa terbangun karena ada petir yang mengagetkan ia. "mbak, ayah dan Bu Arini mana?" tanya Khansa
"oh ayah sedang mengantar, Bu Arini pulang, mungkin sebentar lagi ayah pulang. Khansa jangan nangis ya. kasihan Bu Arini nanti di cari sama mamah dan papah nya gimana" bujuk Mirna. beruntung Khansa anak yang penurut. Khansa mengangguk "baik mbak".
***
"Pa sudah disini saja" ucap Arini.
"Tunggu sebentar" dengan sigap Devano mengambilkan payung dan membukakan pintu mobil untuk Arini. baju Devano basah karena hujan bercampur dengan angin.
sesampainya di teras rumah, Arini tak tega melihat Devano basah kuyup, ia takut nanti masuk angin. akhirnya Arini menawarkan Devano untuk masuk terlebih dahulu.
"Baju bapa, basah silakan masuk dulu pa, kebetulan ada kaos milik Kaka saya yang ada disini, bapa bisa pakai." Devano setuju ia tak tahan kedinginan. " Engga apa saya masuk." Arini sebenarnya juga merasa tak enak khawatir ada orang yang melihat. namun Arini tak tega melihat Devano yang kedinginan.
"Silakan masuk pak, tunggu sebentar" Devano masuk, ia melihat ruangan yang begitu sempit tak ada kamar hanya ada ruangan yang dibatasi dengan dinding dari triplek, dan sebuah kamar mandi.
"Maaf pak beginilah kosan saya, oh ia bapa mau saya buatkan kopi atau teh? dan ini kaosnya silakan bapa berganti pakaian terlebih dahulu" Devano mengambil kaos oblong dari tangan Arini. "Terimakasih,boleh juga bisa saya minta kopi "
"Baju kamu juga basah, kenapa tidak ganti baju dahulu, baru nanti saya" ujar Devano, Arini tersenyum rambutnya yang terurai menambah kecantikannya bertambah Dimata Devano.
"Saya akan ganti di kamar mandi, bapak silakan disini ya" Arini tersenyum ia malu karena kosannya tidak memiliki kamar hanya ada sekat antara ruang tamu dan belakang.
Setelah berganti pakaian, Arini membuatkan kopi s**u untuk Devano, sedangkan ia juga membuat capuccino hangat.
"silakan diminum, pa kopinya supaya hangat, hujannya masih deras," Arini menyodorkan kopi susunya di lantai karena ia tak memiliki kursi atau meja yang ada hanya tikar dari anyaman rotan.
"Makasih, Bu" Arini tersenyum "Panggil saja saya Arini, karena usia saya masih 24 tahun, yang jelas saya masih muda dari bapa" Arini terkekeh."ya, kamu benar usia saya diatas tiga puluh tahun." jawab Devano.
"Maaf pak saya hanya bercanda." tawa arini terlihat manis. "Kalau boleh saya tahu ibu arini tinggal disini sendiri, atau ada keluarga?" tanya Devano ragu.
"Saya sendiri pak, saya melarikan diri dari mantan suami saya yang hendak menjual saya pada cukong-cukong kaya raya, beruntung ada bu Broto yang menolong saya dan membawa saya kerumahnya, hampir tujuh bulan saya berada di rumahnya namun lama-kelamaan saya malu harus menumpang dan akhirnya saya memutuskan untuk pindah ngekost sendiri, dan dari beliau jugalah saya dikenalkan pada ketua yayasan sekolah khansa, beruntung ketua yayasannya baik mau menerima saya meskipun tidak memiliki ijazah, karena ijazah saya tertinggal semua di rumah orangtua di kampung, alhamdulilah saya bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan dengan memakai bahasa inggris." jelas arini.
" Jadi ibu.. oh maksud saya Arini sudah menikah?" tanya devano lagi.
"Ya saya sudah pernah menikah pak, karena dipaksa. Saya menikah untuk melunasi hutang bapak saya, karena pada saat itu lelaki yang berjanji akan menikah dengan saya justru ia telah berhianat, ia menikah dengan sahabat karib saya sendiri dari situlah saya frustasi tidak tahu harus berbuat apa." ucap Arini.
"Maaf saya begitu lancang bertanya, membuka luka lama kamu. " jawab Devano.
"tidak apa-apa pak, justru saya senang bapak mau mendengar kesedihan saya"jawabnya.
“Baik bu, kalau begitu saya permisi dahulu." suara petir terdengar kencang sampai-sampai Arini tak sadar ia memeluk devano.
“maaf Pa, saya tidak sengaja saya takut suara petir” detakan jantung devano terdengar jelas oleh Arini, Arini melepaskan Pelukan Devano, " tidak apa-apa" wajah devano memerah saat dipeluk oleh Arini.
“terimakasih Banyak bapak sudah mengantar saya."
Setelah Devano dan Arini berbincang-bincang, Arini bercerita tentang masa lalunya sedang devano mencurahkan isi hatinya selama satu tahun ini, yang selalu merasa kesepian, ditinggalkan istrinya demi tugasnya sebagai wanita karier. Dari situlah Arini merasakan kekaguman dari seorang pengusaha muda ini, begitu sebaliknya devano yang kagum akan keberanian Arini meninggalkan mantan suaminya yang kurang ajar.
Tak ada satu kata yang keluar dari mulut devano dan Arini, selang beberapa menit telpon berdering, Khansa menghubungi ayahnya, karena ia takut dengan suara petir.
“kalau begitu saya permisi dahulu, terimakasih atas kopinya”.
Devano pulang dengan perasaan bercampur aduk, baru kenal dengan Arini namun ia merasakan ada kenyamanan dari dirinya yang ingin bersama.