Setelah kejadian malam tersebut Devano setiap hari yang mengantar khansa, Mang Diman supir yang biasa mengantar jemput khansa kini hanya mengantar mirna ke pasar.
"Mang, biar saya yang mengantar khansa ke sekolah ya." ucap Devano.
"Baik tuan." jawab mang Diman.
"Asiiik... hari ini aku diantar ayah. Khansa ingin diantar ayah setiap hari. " pinta khansa.
"Boleh sayang, mulai sekarang ayah akan antar khansa kesekolah dan jemput khansa." jawab Devano.
"Khansa senang ya diantar ayah." ucap Melani. "Iya dong mah." ucap khansa. Mirna dan mang Diman tersenyum.
"Ya sudah yuk kita berangkat." ajak Melani. Devano dan Melani mengantar Khansa.
Khansa sangat bahagia melihat kedua orangtuanya rukun seperti sekarang ini tidak seperti biasanya yang selalu ribut dan bertengkar.
"Mah, khansa sangat senang sekali melihat mamah dan ayah tidak ribut seperti biasanya." Melani tersenyum ia menatap putrinya ia juga merasa sangat berdosa pada keluarganya.
"Iya sayang, mamah dan ayah janji tidak akan bertengkar lagi." ucap Melani.
"Janji"" ucap Khansa.
"Ya, janji." ucap Melani.
"Asiiikk... itu berarti mamah dirumah aja uda enggak sibuk lagi cari uang. " khansa sangat menginginkan ibunya berada dirumah.
Tidak terasa sampai juga di sekolah khansa.
"Sudah sampai." ucap Melani.
Di depan gerbang sudah menanti Arini, ia sedang menunggu kedatangan murid-murid nya. Dengan ramah arini menyapa orangtua dari murid-murid nya, arini melihat kedatangan khansa yang ditemani oleh orangtuanya.
Arini tersenyum pada Melani dan khansa. "Assalamu'alaikum. Selamat pagi khansa" sapa Arini.
"Walaikumsalam, selamat pagi bu Arini." jawab khansa. Arini pun menyalami Melani.
"Sehat bu? " Tanya Arini.
"Alhamdulillah, sehat Terimakasih ya sudah menjaga khansa. Alhamdulillah khansa hanya demam biasa jadi hari ini khansa bisa sekolah lagi. " jawab Melani.
"Enggak apa bu saya senang membantu khansa, apalagi saya juga disini hanya merantau tidak memiliki keluarga. " ucap Arini.
"Ya sudah saya permisi, titip anak saya ya bu." pinta Melani.
"insyaallah bu saya akan jaga khansa. " jawab Arini.
Melani pergi meninggalkan Arini, khansa menggandeng tangan Arini. Tiba-tiba mata Arini tertuju pada ayah khansa begitu juga dengan Devano, matanya tertuju pada senyum Arini.
"Manis." ucap Devano dalam hatinya. Sepanjang jalan Devano dan Melani hanya diam.
Devano masih terbayang wajah Arini, pesona Arini sudah membutakan Devano.
***
Melani pergi selama satu minggu dengan alasan ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tentu saja justru Devano lebih senang berbeda waktu dulu Devano tidak setuju jika Melani harus pergi lama, namun sekarang justru Devano ingin, ia dapat bertemu dengan Arini di sekolah khansa.
"Selamat pagi bu Arini. " sapa Devano. pesona Devano membuat hati Arini berdebar-debar.
"Pagi pak. " Jawab Arini.
"Oh ya khansa, ayah ingin berbicara dengan bu Arini khansa boleh main dulu ya." pinta Devano.
"Baik ayah" ucap khansa berlari.
"Makasih sayang, jangan lari nanti jatuh.' ucap Devano lagi
" Ya ayah. " jawab khansa sambil tersenyum manis.
"Good Girl. " ucap ayahnya.
"Bu Arini... " ucap Devano.
Devano belum berani berbicara karena banyak orangtua murid yang masih mengantarkan anaknya,
"Ya pak, bisa saya bantu?" ucap arini.
Devano sebenarnya ingin mengatakan sesuatu namun ia tidak ingin Arini curiga, bahwa dia ingin lebih dekat dengan guru dari anaknya.
"Oh iya begini, saya ingin minta bantuan bu Arini kalau boleh, setiap pulang sekolah khawatir saya telat menjemput bu Arini bisa menjaga putri saya sampai saya menjemputnya."Devano beralasan.
" Baik pa saya akan menjaga khansa," ucap Arini.
"kebetulan khansa anak yang manis dan pintar,, saya suka dengannya, hitung-hitung dari pada saya bosan dirumah lebih baik saya bersama khansa." entah kenapa justru Arini mengatakan hal demikian, Arini sebenarnya juga memiliki keinginan lebih dari sekedar menjaga khansa.
"Baik kalau begitu, ini kartu nama saya jika ada apa-apa hubungi saya di nomer yang ini." ucap Devano.
Arini menerima kartu nama tersebut dengan ramah ia menerimanya.
"Kalau begitu saya pamit, permisi." Ucap Devano.
"Ya pak, Hati-hati dijalan." ucapnya lagi.
***
Sepanjang jalan Devano teringat senyum manis dari Arini, entah setan apa yang merasuki Devano, setelah selama satu tahun meski berstatus kepala keluarga namun dirinya sama saja seperti hidup sendiri, isterinya jarang pulang membuat dirinya kesepian. Selama satu tahun ia pendam hasrat gairah cintanya, ia masih menanamkan rasa setia dan cintanya pada istrinya namun kali ini ia merasa kalah, setan lah yang mengalahkan segalanya. Setan telah menggoyahkan hati dan pikirannya untuk melangkah lebih jauh.
"Arini... Arini.. . aku harus memiliki kamu, harus bagaimanapun caranya." ucap Devano.
***
Kini hampir setiap hari Khansa bersama Arini, menunggu ayahnya untuk menjemput dirinya.
"Khansa, bu guru boleh tanya Tidak?" Arini mencoba berusaha mengorek informasi tentang kehidupan muridnya dengan keluarga.
"Tentu saja bu guru," jawab Khansa.
"Memangnya mamah kerja ya setiap hari mamah pulang jam berapa?" tanya Arini.
"Mamah tiap hari pulang larut, tapi kadang-kadang mamah juga tidak pulang." jawab khansa.
"Oh begitu, terus ayah? memangnya tidak marah ya." tanya Arini lagi.
"Emmm... dulu mamah dan ayah memang sering bertengkar tapi sekarang sepertinya ayah sudah tidak marah lagi." jawab khansa.
"Oh begitu." Arini mengira Devano pengertian terhadap istrinya.
"Ya sudah kita main lagi yuk." ajak arini berusaha mengalihkan kesedihan khansa.
"Oke" ucap khansa.
Tiba-tiba Devano datang.
**Tok.. tok.. . tok*
"Ya masuk." ucap Arini.
"Pak Devano silakan masuk pak." Arini mempersilakan duduk.
"maaf saya telat bu." ucap Devano.
"Tidak apa pak, tadinya saya mau bawa khansa ke tempat kosan saya, tapi pak Devano sudah keburu kemari menjemput ya sudah tidak jadi." jawab arini.
"Maaf merepotkan, padahal saya tidak masalah jika harus pulang dulu dirumah ibu." jawab Devano.
"Iya kasihan supaya khansa bisa istirahat dirumah." jawab Arini.
"Bagaimana kalau kita pulang bersama, sudah tidak ada orang lagi kan bu.? " tanya Devano. kesempatan Devano untuk mengantar Arini.
"Tidak ada hanya saya dan khansa saja. Tidak usah pa biar saya nanti berjalan kaki saja, lagian dekat ini." ucap Arini.
"Ayo bu.. tidak apa, ayah khansa lapar sebelum kita pulang khansa ingin makan dulu yah. " pinta khansa.
"Boleh, kita ajak bu Arini juga ya sekalian." pinta Devano.
"Ayo bu." ajak Khansa.
"Tidak usah terimakasih kalian berdua saja ya, khansa dan ayah." Khansa menggeleng.
"Pokoknya bu Arini harus ikut" khansa memaksa, akhirnya Arini mengikuti keinginan muridnya.
***
Mereka pergi bertiga makan ditempat yang khansa sukai. khansa asik bermain di arena bermain setelah makan, Devano dan Arini duduk berdampingan layaknya seorang ayah dan ibu bagi putrinya yang sedang bermain.
Diam tanpa ada suara yang terdengar. Akhirnya lama kelamaan entah siapa dulu yang memulai percakapan akhirnya mereka mulai tidak canggung lagi.
Arini semakin mengagumi Devano begitu juga dengan Devano, entah ada angin atau bisikan dari mana Devano menggenggam jemari Arini.
**Deg.** jantung Arini langsung berdetak kencang.
"Pak.. " ucap Arini.
"Ijinkan aku lebih dekat dengan dengan bu Arini, " ucap Devano.
"maksud bapak apa? " tanya Arini.
"Saya ingin bu Arini lebih dari sekedar guru untuk anak saya, tapi sebagai pendamping saya." jelas Devano.