"Pak.. tapi bapakkan?" tanya Arini terputus.
"Ya aku ingin kamu jadi istri simpanan saya." ucap Devano.
Arini menarik tangannya.
"Kenapa apa kamu tidak mau dengan saya.? " tanya Devano.
"Pak saya ini seorang guru, apa nanti jika saya menjadi seorang istri simpanan dari ayah muridnya." ucap Arini.
"Pasti saya akan dipecat dan reputasi saya akan hancur." ucapnya lagi.
"kalau begitu, jadilah baby sister khansa dirumah agar kita setiap hari dapat bertemu, dan kamu tidak akan hancur reputasi kamu. " pinta Devano.
"Tapi, pak bagaimana jika nanti ibu khansa tahu." ucapnya.
"Kita akan sembunyikan dari semua orang termasuk khansa." ucap Devano.
"Tidak pak ini salah." jawab Arini.
"Arini, setelah pertemuan kita malam itu aku tidak dapat melupakanmu, aku sangat menginginkanmu." jawab Devano.
"Tapi pak," ingin rasanya mencium bibir Arini agar ia percaya bahwa Devano benar-benar mencintainya.
"Semua biaya hidup aku yang tanggung, termasuk kebutuhan keluargamu bahkan aku akan membayar hutang orang tuamu, Baigaimana?" ucap Devano, mendengar tawaran tersebut Arini tidak panjang lebar lagi langsung mengiyakan, mendengar kata kehidupan orangtuanya akan ditanggung Arini langsung menyetujui.
"Baiklah pak, " jawab Arini.
Devano sangat bahagia ia menggenggam jemari Arini, namun saat hendak dicium jemari Arini, khansa berteriak memanggil.
"Ayah.. " Devano terkejut ia mengira khansa marah melihat dirinya menggenggam jemari bu Arini.
"iya sayang.? " tanya Devano.
"Sudah yuk yah khansa ngantuk capek, kita pulang." ucap khansa.
"Oh anak ayah, sudah lelah ya yuk kita pulang?" akhirnya mereka pulang Devano menggendong khansa namun tangan Devano menggenggam tangan Arini. Jantung Arini semakin berdebar kencang.
***
Sesampainya di rumah Devano hanya mengantarkan khansa saja ia kemudian mengantarkan Arini pulang, beruntung tidak ada yang tahu Devano mengantarkan guru cantik Arini.
"Mbak mirna tolong jaga khansa ya, saya ada urusan sebentar." ucap Devano.
"Ya pak bos." jawab mirna.
***
"Khansa belum bangun ya? " ucap arini.
"Ya belum, dia tahu, ayahnya masih ingin berdua dengan guru cantiknya." Devano mulai menggombal.
"Ishh bapak bisa saja." Meski baru beberapa kali bertemu mereka sudah tidak canggung lagi, bahkan seolah kedekatannya seperti sudah hampir bertahun-tahun. mereka tertawa bersama di dalam mobil, sampai-sampai Devano tidak ingin berpisah dengan AriniArini, meski sudah sampai di depan gang rumah kosan milik Arini.
"Arini..." Devano hendak mengatakan sesuatu.
"Apa?" tanya Arini.
"Aku masih ingin bersama kamu, maukah kamu menemani aku sampai larut malam. Aku sangat kesepian." pinta Devano.
Melihat raut wajah Devano yang memang sepertinya kesepian, Arini merasa iba dalam hatinya juga mengatakan ia masih ingin bersama.
"Bapak mau bawa saya kemana? saya ikut bapak saja." ucap Arini.
"Benarkah, kamu mau menemaniku, oke kalau begitu aku ingin bawa kamu kesuatu tempat yang sangat romantis, tidak akan ada orang yang mengganggu kita." ucap Devano.
"Kemana? " tanya arini.
"Kamu nanti juga akan tahu." ucap Devano.
***
Akhirnya sampai juga ditempat yang tidak satu orangpun yang akan tahu mereka sedang berselingkuh.
"Kamu tunggu disini." ucap Devano.
Devano memboking kamar hotel VIP.
"Pak kenpa kita harus kesini." tanya arini.
"Karena aku ingin, kita lebih dekat lagi ngobrolnya." ucap Devano.
"Silakan masuk" Devano mempersilakan arini masuk.
"Aku tidak akan macam-macam, kamu tenang saja ya" arini hanya mengangguk antara takut dan bimbang.
Devano mengambil minuman dingin yang sudah disediakan di lemari pendingin.
"Minumlah sayang." Ucap Devano.
Mendengar kata sayang arini langsung meleleh, iya juga harus kasih sayang sudah lama ia tidak mendengar kata kata tersebut keluar dari mulut orang yang ia sayangi.
Mereka mengobrol, tertawa bersama bahkan.
"Pak, saya ingin mandi rasanya gatal sekali." ucap Arini.
"bagaimana kalau kita mandi dikolam renang, mandi bersama." ucap Devano.
"Tapi pak saya tidak bisa berenang." ucap arini.
"Aku akan mengajarimu." Memang benar-benar setan telah membisiki telinga dan batin mereka akhirnya mereka berenang bersama.
Arini mengenakan pakaian berenang, sungguh terlihat sangat seksi dimata Devano, wadah untuk dua gundukan kembar tersebut berukuran 38, seolah Devano sudah hafal dengan ukuran lingkaran milik Arini.
Rambut Arini terurai panjang, Devano berkali-kali menelan salivanya, batinnya meronta ia menginginkan lebih dari sekedar hanya memandang.
'Aku harus segera menikahi Arini, pokoknya harus." batin Devano.
"Pak aku tidak bisa berenang." Devano mengangkat tangannya untuk menurunkan Arini.
"Sini biar aku bantu." Arini menyerahkan kedua tangannya, dan ia langsung menceburkan diri.
***Byuur
Arini basah tercebur, Devano mengajari arini berenang. tidak terasa sudah hampir satu jam berada di kolam renang arini mulai merasa kedinginan.
"Pak sudah yuk aku mulai tidak tahan karena dingin." pinta arini.
"Aku akan menghangatkanmu." ucap Devano pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh arini.
"Hah apa pak?" tanya arini pura-pura tidak mendengar.
"Oh tidak tiak apa.. apa." arini memakai handuk begitu pula Devano.
"Pak aku duluan ya ke kamar mandinya, " ucap arini.
"Ya." jawab Devano singkat.
melihat arini milik Devano selalu saja menegang, sampai ia merasakan lelah.
"Haduh, sabar ya tong.. belum halal" ucap Devano
Arini keluar dari kamar mandi lehernya terlihat jenjang karena rambutnya ditutup oleh handuk kecil, Yang sudah berganti pakaian seragam dari sekolahnya sebagai guru. meski sudah tertutup pakaian Devano masih melihat leher arini terlihat jelas mulus putihnya.
Devano akhirnya mandi membersihkan diri, entah apa yang dilakukan Devano dikamar mandi sampai lama, Arini melihat jam Sudah jam Hampir jam Sebelas malam.
"Ya Tuhan, ini sudah jam segini bagaimana aku pulang, bagaimana kalau ada tetangga yang melihatku. Mati deh... dasar bodoh... bodoh." umpat nya.
"Pak ini sudah malam" ucap Arini. setelah Devano keluar dari kamar mandi.
"Ya, aku akan antar kamu pulang." jawab Devano.
"Tapi pak... saya takut ada tetangga yang tau saya pulang jam segini bersama laki-laki yang mereka tidak kenal, apa kata mereka." ucap Arini.
"Lalu." tanya Devano dalam hatinya ia senang jika harus bermalam dengan Arini.
"Sepertinya saya harus menginap saja, besok saya tidak masuk supaya tidak begitu tahu dan curiga saya pulang bersama bapak." ucap Arini.
"Serius kamu ingin berjalan disini.? " tanya Devano lagi. Arini mengangguk.
"Baiklah kalau begitu aku temani kamu disini," ucap Devano.
"Hah bapak bermalam disini, tidak... tidak.. tidak lebih baik bapak pulang saja," Ucap arini.
"Serius kamu aku tinggal, kalau nanti ada apa-apa jangan salahkan aku ya." ucap Devano menakuti.
"Maksud bapak? " tnya arini polos.
"biasanya hotel inikan kosong terus ya tau sendiri kalau kosong siapa yang jadi penghuninya." mendengar hal tersebut arini langsung bergidig ngeri..
"Ihh bapak." ucapnya manja.
"Serius, aku pulang ya." Devano mencoba menggoda arini, ia tahu pasti arini tidak akan berani sendiri.
"Jangan, bapak tetap disini temani saya ya. " Devano tersenyum menang.
Arini mengganti pakaiannya lagi, dilihatnya di lemari hanya ada pakaian tidur yang berbentuk tidak beraturan.
"Baju apa ini? Memangnya ditempat sebesar ini tidak ada lagi ya pakaian yang lain, zminimalnya kalau ber-AC itu ya mbok ya tertutup, eh ini malah kurang bahan begini." Arini mengurungkan niatnya untuk memakainya.
"Loh katanya mau ganti kok enggak jadi?" Tanya Devano.
"Tidak ada pakaian, yang ada pakaian aneh" Devano mengangkat alisnya sebelah,
"Maksudnya? " Tanya Devano
"Lihat saja" ucap arini.
Devano beranjak dan melihat pakaiannya. ia tersenyum ia tahu, karenaa ia lebih pengalaman, saat bulan madu dengan Melani pakaian yang dikenakan Melani hanya seperti ini.
"Oh itu nama pakaian tidur," ucap Devano.
"saya kalau tidur tidak pakai seperti itu pak, pakai kaos oblong lebih nyaman." ucap arini.
"Ya mana ada disini, kalau kamu tidak mau pakai ya sudah, resikonya pakaian kamu besok akan berantakan seolah kamu memang melakukan hal yang tidak-tidak. " Ucap Devano.
Setelah berfikir akhirnya arini mau memakainua.
"Tapi bapak tidur di Kursi panjang itu kan" ucap arini.
"iya... iya sayang." jawab Devano.
Akhirnya arini berganti pakaian yang ada di dalam lemari.
Terlihat begitu seksi Devano berkali-kali menelan salivanya.
"Arini menutup tubuhnya menggunakan selimut." Devano hanya tersenyum.
"Dengan begini saja aku bahagia" batin Devano, meski tidak benar.