Suara bip mesin terdengar samar di telinga Lydhia.
Kelopak matanya terasa berat. Kepalanya berdenyut hebat seperti dihantam sesuatu berkali-kali. Dengan susah payah, ia membuka mata.
Langit-langit putih.
Aroma obat-obatan.
Rumah sakit?
Tika mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya masih kabur. Saat ia mencoba mengangkat tangan, rasa nyeri langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Bu, dia sadar!"
Suara seorang wanita terdengar panik.
Beberapa detik kemudian seorang dokter dan perawat bergegas masuk ke ruangan.
"Tika? Bisa dengar saya?" tanya dokter.
Tika mengangguk pelan.
"Apa yang terakhir Anda ingat?"
Tika mengernyit.
Ia mencoba mengingat.
"Aku... pulang kuliah..." jawabnya lirih.
Dokter dan wanita di samping ranjang saling berpandangan.
"Setelah itu?"
Tika menggeleng.
Kepalanya terasa semakin sakit.
Wanita itu tiba-tiba menangis.
"Tika... ya Tuhan..."
"Mama?" Tika menatap bingung.
Wanita itu memang ibunya.
Tapi kenapa wajah ibunya terlihat jauh lebih tua dari yang ia ingat?
Dokter segera memberi isyarat agar wanita itu tenang.
"Kita lanjut nanti saja."
---
Dua hari kemudian Tika diperbolehkan pulang.
Banyak hal terasa aneh.
Ponsel yang diberikan ibunya bukan ponsel yang ia kenal.
Aplikasi-aplikasinya berbeda.
Foto-foto di galeri juga asing.
Ada banyak foto dirinya yang tidak ia ingat pernah diambil.
Yang lebih aneh lagi, beberapa tahun terakhir dalam hidupnya seperti hilang begitu saja.
Dokter mengatakan itu adalah amnesia parsial akibat benturan keras di kepala.
Tika hanya bisa menerima penjelasan itu meski hatinya dipenuhi kebingungan.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah.
Tika menatap bangunan dua lantai itu.
"Rumah siapa?" tanyanya.
Ibunya tampak terdiam sesaat.
"Rumahmu."
"Aku tinggal di sini?"
"Ya."
Tika semakin bingung.
Rumah itu jauh lebih besar daripada rumah yang ia tempati semasa kuliah.
Saat masuk ke dalam, ia merasa seperti tamu yang sedang berkunjung ke rumah orang lain.
Tidak ada satu pun sudut yang terasa akrab.
Ia sedang mengamati ruang tamu ketika suara pintu depan terbuka.
Langkah kaki mendekat.
Tika menoleh.
Seorang pria tinggi masuk ke dalam rumah.
Wajahnya tampan. Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut seolah ia baru saja pulang dari tempat kerja.
Saat mata mereka bertemu, pria itu langsung berhenti melangkah.
Sorot matanya berubah.
Lega.
Sangat lega.
"Tika..."
Pria itu mengucapkan namanya pelan.
Entah kenapa, d**a Tika berdebar.
Ia mengenali wajah itu.
Andi.
Tetangga yang diam-diam ia sukai sejak dulu.
Perasaan yang pernah ia pendam bertahun-tahun tiba-tiba muncul lagi begitu saja.
Namun sebelum Tika sempat berkata apa-apa, ibunya berdiri dengan cepat.
"Sudah pulang?"
Andi mengangguk.
Tatapannya tak pernah lepas dari Tika.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya lembut.
Tika gugup.
Ia bahkan tidak berani menatap pria itu terlalu lama.
"Aku baik."
Andi tersenyum tipis.
Senyuman itu justru membuat jantung Tika berdetak semakin cepat.
Namun sesuatu terasa aneh.
Sangat aneh.
Pria itu berjalan ke dapur, mengambil segelas air, lalu kembali menghampirinya seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa berada di rumah itu.
Bukan seperti tamu.
Bukan seperti tetangga.
Melainkan seperti penghuni rumah.
Tika memperhatikan setiap gerakannya.
Semakin lama, perasaan tidak nyaman mulai muncul.
Kenapa Andi bisa sebebas itu berada di rumahnya?
Dan kenapa tidak ada seorang pun yang terlihat keberatan?
Saat malam tiba, pertanyaan itu semakin mengganggunya.
Karena ketika ia hendak masuk kamar, ia melihat Andi membawa bantal dan selimut menuju ruang keluarga.
"Apa kamu menginap di sini?" tanya Tika spontan.
Andi terdiam sesaat.
Seolah tidak tahu harus menjawab apa.
"Untuk sementara, iya."
"Tapi kenapa?"
Keheningan memenuhi ruangan.
Ibunya yang berdiri tidak jauh dari sana langsung memalingkan wajah.
Ayahnya pura-pura sibuk membaca koran.
Tidak ada yang menjawab.
Tika menatap mereka satu per satu.
Jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.
Perasaan bahwa semua orang sedang menyembunyikan sesuatu semakin kuat.
Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun dari rumah sakit, Tika menyadari satu hal.
Bukan hanya ingatannya yang hilang.
Ada bagian dari hidupnya yang sengaja tidak ingin diceritakan oleh orang-orang di sekitarnya.