Lydia tidak bisa tidur.
Sudah hampir satu jam ia memandangi langit-langit kamar yang terasa asing baginya.
Menurut ibunya, ini adalah kamarnya.
Namun tidak ada satu pun kenangan yang muncul saat ia melihat lemari, meja rias, atau rak buku di sudut ruangan.
Seolah-olah ia sedang menempati kamar milik orang lain.
Perlahan ia bangkit dari tempat tidur.
Kepalanya masih sedikit pusing, tetapi rasa penasaran jauh lebih kuat.
Tika berjalan mengelilingi kamar.
Di atas meja rias terdapat beberapa foto dalam bingkai.
Ia mengambil salah satunya.
Foto dirinya bersama kedua orang tuanya.
Foto lain menunjukkan dirinya bersama beberapa teman yang wajahnya masih ia kenali.
Lydia mengembuskan napas lega.
Setidaknya masih ada sesuatu yang terasa familiar.
Namun saat hendak meletakkan bingkai itu kembali, matanya menangkap sesuatu.
Ada bekas kosong di sudut meja.
Seperti ada bingkai foto lain yang baru saja dipindahkan.
Ia mengernyit.
Kenapa harus dipindahkan?
Lydia menoleh ke seluruh ruangan.
Perasaan aneh kembali muncul.
Seakan ada sesuatu yang hilang dari kamar itu.
Sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Tok.
Tok.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Andi berdiri di sana sambil membawa segelas s**u hangat.
"Belum tidur?"
Lydia langsung duduk tegak.
Jantungnya kembali berdebar tidak karuan.
"Aku nggak ngantuk."
Arkha masuk dan meletakkan gelas di meja samping tempat tidur.
"Kata dokter kamu harus banyak istirahat."
Lydia memperhatikan pria itu diam-diam.
Arkha terlihat sangat nyaman berada di kamar ini.
Terlalu nyaman.
Seolah ia sudah berkali-kali masuk ke sini.
Padahal setahu Lydia, mereka tidak pernah sedekat itu.
Bahkan sebelum kecelakaan, ia hanya berani memandangi Arkha dari kejauhan.
"Ada apa?" tanya Arkha saat menyadari dirinya diperhatikan.
Lydia buru-buru mengalihkan pandangan.
"Nggak ada."
Arkha tersenyum kecil.
Entah kenapa, senyum itu terasa hangat.
Hangat hingga membuat Lydia merasa aman.
Padahal mereka tidak dekat.
Harusnya begitu.
"Kalau butuh apa-apa, panggil aku."
Lydia mengangguk.
Namun saat Arkha hendak keluar, sebuah pertanyaan tiba-tiba meluncur dari bibirnya.
"Arkha."
Pria itu berhenti dan menoleh.
"Kita dekat ya?"
Arkha terdiam.
Hanya beberapa detik.
Tetapi cukup lama untuk membuat Lydia menyadarinya.
Sorot mata pria itu berubah.
Ada sesuatu di sana.
Kesedihan.
Kerinduan.
Dan rasa sakit yang sulit dijelaskan.
"Sangat dekat," jawabnya pelan.
Jantung Lydia berdebar.
"Aku nggak ingat."
"Aku tahu."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Tetapi entah kenapa membuat hati Lydia terasa sesak.
Arkha tersenyum tipis sebelum keluar dari kamar.
Pintu kembali tertutup.
Meninggalkan Lydhia sendirian dengan pikirannya.
---
Sekitar pukul dua dini hari, Lydhia akhirnya keluar kamar karena haus.
Rumah sudah gelap.
Semua orang tampaknya telah tidur.
Saat melewati ruang keluarga, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Arkha tertidur di sofa.
Lampu kecil di sudut ruangan masih menyala.
Selimut yang menutupi tubuh pria itu hampir terjatuh ke lantai.
Lydia ragu sejenak.
Lalu tanpa sadar berjalan mendekat.
Ia membungkuk dan menarik selimut itu hingga menutupi tubuh Arkha dengan benar.
Namun tepat saat ia hendak menjauh—
Sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.
Lydia terkejut.
Arkha ternyata terbangun.
Pria itu menatapnya dengan mata setengah sadar.
Dan tanpa melepaskan tangannya, Arkha berbisik pelan.
"Kamu pulang juga..."
Lydia membeku.
Kalimat itu terdengar aneh.
Sangat aneh.
Seolah Arkha sedang berbicara kepada seseorang yang telah lama pergi.
Bukan kepada tetangganya.
Bukan kepada teman lamanya.
Melainkan kepada seseorang yang sangat berarti baginya.
••••
Lydhia memandangi pintu kamar yang sudah tertutup.
Entah kenapa, kehadiran Arkha di rumah itu terasa janggal baginya.
Bukan karena ia tidak mengenal pria itu.
Justru sebaliknya.
Ia mengenal Arkha sejak kecil.
Rumah mereka bersebelahan.
Arkha sering bermain di halaman rumahnya dulu.
Namun seingat Lydhia, hubungan mereka tidak pernah sedekat itu.
Mereka hanya tetangga.
Tidak lebih.
Lalu kenapa Arkha bisa keluar masuk rumah ini sesuka hati?
Kenapa kedua orang tuanya terlihat biasa saja?
Dan yang paling aneh, kenapa Arkha sampai menginap?
Malam itu Lydhia terus memikirkan hal tersebut hingga akhirnya tertidur.
---
Keesokan paginya, Lydhia terbangun karena aroma masakan.
Perutnya langsung terasa lapar.
Ia turun ke lantai bawah dan melihat ibunya sedang menata sarapan di meja makan.
Ayahnya membaca koran seperti biasa.
Sementara Arkha...
Arkha sedang membantu membawa piring dari dapur.
Lydhia sampai berhenti di anak tangga.
Ia menatap pria itu beberapa saat.
Arkha yang menyadari kehadirannya langsung tersenyum.
"Udah bangun?"
"Iya."
Lydhia duduk di kursinya.
Matanya masih mengikuti setiap gerakan Arkha.
Pria itu mengambilkan segelas air untuk ayahnya.
Lalu membantu ibunya mengambil sendok.
Seolah-olah itu rumahnya sendiri.
"Makasih, Kha," kata ibu Lydhia.
"Iya, Bu."
Lydhia hampir tersedak mendengarnya.
Bu?
Sejak kapan Arkha memanggil ibunya seperti itu?
Bukankah biasanya dia memanggil Tante?
Lydhia semakin bingung.
Setelah sarapan selesai dan Arkha keluar sebentar ke halaman, Lydhia langsung mendekati ibunya.
"Ma."
"Hm?"
"Aku mau tanya."
Ibunya menoleh.
"Tanya apa?"
Lydhia menurunkan suaranya.
"Kenapa Arkha nginap di sini?"
Gerakan tangan ibunya langsung berhenti.
Hanya sesaat.
Tapi Lydhia menyadarinya.
"Ya... karena dia bantu jaga kamu."
"Sampai nginap?"
"Iya."
"Tapi kenapa harus dia?"
Ibunya tersenyum tipis.
"Karena dia peduli sama kamu."
Lydhia mengerutkan dahi.
"Tapi setahu aku, kita nggak sedekat itu sama Arkha."
Kali ini ibunya benar-benar terdiam.
Ayahnya yang sedang minum teh bahkan sampai berdeham pelan.
Lydhia memandang keduanya bergantian.
"Aku salah ngomong?"
"Nggak," jawab ayahnya cepat.
"Terus?"
Ibunya menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Mungkin karena kamu lupa banyak hal, Dhi."
"Lupa apa?"
Ibunya tampak berpikir beberapa saat.
"Lima tahun itu waktu yang panjang."
Lydhia terdiam.
Ia tahu itu.
Dokter juga mengatakan hal yang sama.
Ia kehilangan banyak kenangan.
Namun tetap saja...
Rasanya aneh.
"Aku sama Arkha dekat?"
Ibunya tersenyum kecil.
"Kalian memang cukup dekat."
"Cukup dekat sampai dia nginap di rumah?"
Pertanyaan itu membuat ibunya kehabisan jawaban.
Lydhia semakin curiga.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara pintu depan terbuka.
Arkha masuk membawa beberapa kantong plastik.
"Aku beli buah yang disarankan dokter."
"Oh ya? Taruh aja di dapur," kata ibunya.
Arkha mengangguk.
Lydhia memperhatikan pria itu.
Arkha terlihat sangat santai.
Tidak canggung sama sekali.
Sementara dirinya justru merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
Saat Arkha melewati meja makan, Lydhia akhirnya memanggilnya.
"Arkha."
Pria itu menoleh.
"Hm?"
"Kita memang dekat ya?"
Arkha tampak berpikir sebentar.
"Lumayan."
"Lumayan?"
"Iya."
"Seberapa lumayan?"
Arkha tertawa kecil.
"Pertanyaan macam apa itu?"
Lydhia ikut tersenyum.
••••
Dua hari berlalu sejak Lydhia pulang dari rumah sakit.
Kondisinya semakin membaik.
Meski sesekali masih merasa pusing, dokter mengatakan itu normal.
Yang belum normal adalah hidupnya.
Setiap pagi Arkha datang.
Setiap siang Arkha ada.
Bahkan setiap malam sebelum pulang, pria itu selalu memastikan obat-obatnya sudah diminum.
Awalnya Lydhia merasa canggung.
Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa.
Sore itu Lydhia sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara segar.
Sudah lama ia tidak keluar kamar.
Arkha baru saja selesai menyiram tanaman di halaman.
"Capek?" tanya pria itu.
Lydhia menggeleng.
"Nggak juga."
Arkha duduk di kursi sebelahnya.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Angin sore berembus pelan.
Suasana terasa nyaman.
Aneh.
Padahal mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya.
Atau setidaknya itu yang diingat Lydhia.
"Kamu nggak kerja?" tanya Lydhia.
"Kerja."
"Kok sering di sini?"
Arkha tersenyum tipis.
" Gak apa-apa, masalah gampang bisa diatur."
"Bosmu baik banget."
"Yah begitulah."
Lydhia tertawa kecil.
Arkha ikut tersenyum melihatnya.
Tanpa sadar, keduanya terdiam cukup lama.
Sampai akhirnya ponsel Arkha berdering.
Pria itu mengangkat panggilan tersebut.
"Iya."
"..."
"Nanti saya ke sana."
"..."
"Sebentar lagi."
Lydhia memperhatikan ekspresinya.
Begitu telepon ditutup, Arkha langsung berdiri.
"Aku pergi sebentar."
"Oh ya silahkan"
"Nggak akan lama."
Lydhia mengangguk.
Namun saat Arkha berjalan menuju mobil, tiba-tiba muncul perasaan aneh di dadanya.
Perasaan yang sulit dijelaskan.
Seolah ia tidak ingin pria itu pergi.
Lydhia menggeleng cepat.
Mungkin karena beberapa hari terakhir Arkha selalu ada di dekatnya.
Jadi terasa aneh saat pria itu pergi.
Hanya itu.
Tidak lebih.
---
Malam harinya, Lydhia terbangun karena haus.
Saat turun ke dapur, ia mendengar suara kedua orang tuanya berbicara dari ruang tengah.
Awalnya ia tidak berniat menguping.
Namun namanya disebut.
"Sepertinya Lydhia mulai curiga," kata ibunya pelan.
"Aku tahu."
"Bagaimana ini? nggak mungkin disembunyikan terus."
Ayahnya menghela napas panjang.
"Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter bilang jangan dipaksa."
"Tapi sampai kapan?"
Lydhia membeku di tempatnya.
Mereka sedang membicarakannya?
"Kasihan Arkha," lanjut ibunya.
"Dia juga capek."
"Aku tahu."
"Tapi untungnya dia nggak pernah mengeluh."
Lydhia mengernyit.
Kenapa mereka membahas Arkha?
Bukankah Arkha hanya tetangga mereka?
Sebelum sempat mendengar lebih banyak, lantai kayu di bawah kakinya berbunyi pelan.
*Krek* .
Suara percakapan langsung berhenti.
"Lydhia?" panggil ayahnya.
Lydhia buru-buru melangkah masuk ke ruang tengah.
"Mau minum."
Ibunya tersenyum canggung.
"Oh."
Tak ada lagi yang melanjutkan pembicaraan itu.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Lydhia yakin bahwa bukan hanya dirinya yang kehilangan sesuatu.
Semua orang di rumah ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.