Siang hari telah merangkak pergi, digantikan oleh senja yang menawan. Di dalam Rumah Ibadah Lyra, cahaya redup dari lentera minyak menerangi ruangan, menari-nari di atas ukiran-ukiran kuno di dinding. Lyra masih duduk bersila di depan altar, kitab Daun Kehidupan di pangkuannya. Namun, kini matanya tidak lagi terfokus pada tulisan, melainkan menatap kosong ke depan. Pikirannya melayang, teringat percakapannya dengan Elara pagi tadi.
"Apakah memang begitu?" ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. "Apakah setan... benar-benar adalah kejahatan murni?"
Ia memejamkan mata, membiarkan ajaran yang ia baca merasuk ke dalam dirinya. Lyra terbiasa dengan ketenangan dan kedamaian. Dunia luar, dengan segala kekejaman dan kebenciannya, terasa seperti sebuah dongeng yang jauh, sebuah cerita menakutkan yang tidak pernah ia alami. Tapi kata-kata Elara tentang pertempuran besar di Dataran Kematian telah menciptakan keretakan kecil di dinding perlindungannya.
"Bagaimana aku bisa berbelas kasih pada makhluk yang membunuh tanpa ragu?" ia bertanya lagi pada dirinya, mencari jawaban dari dalam jiwanya. "Bagaimana aku bisa melihat cahaya dalam makhluk yang hanya menyebarkan kegelapan?"
Ia membuka matanya, mengambil kitab kuno itu, dan membalik halaman-halamannya perlahan. Sebuah halaman tua yang telah menguning menarik perhatiannya. Itu adalah cerita leluhur, sebuah hikayat kuno yang diwariskan secara lisan dan kemudian dituliskan. Lyra mulai membaca, suaranya mengalun lembut.
" 'Pada masa-masa awal, ketika dunia masih muda dan belum ada nama bagi kebaikan atau kejahatan,' " ia membaca. " 'Leluhur kita, Sang Penjaga Anggrek pertama, berjalan di antara hutan dan gunung. Ia menemukan seekor naga yang murka, yang nafasnya membakar segala yang ia sentuh, dan air matanya adalah asam yang menghancurkan. Penduduk desa terdekat ingin membunuhnya, tapi Sang Penjaga Anggrek melarang mereka.' "
Lyra berhenti sejenak, merenungkan kisah itu. Ini adalah kisah yang ia tahu dari kecil, tapi maknanya kini terasa lebih dalam.
" 'Penduduk desa bertanya,' " ia melanjutkan membaca, menirukan dialog kuno itu, " 'Bagaimana bisa kami membiarkannya hidup, Nona? Dia adalah mahluk dari neraka! Dia akan membakar kami, dan anak-anak kami!' "
" 'Dan Sang Penjaga Anggrek menjawab,' " Lyra melanjutkan, suaranya berubah menjadi lebih bijaksana, " 'Apakah naga itu lahir dengan amarah? Ataukah amarah itu adalah akibat dari ketakutan dan kebencian yang ia rasakan dari kalian? Mungkin kalian melihat kejahatan di matanya, tapi aku melihat kesendirian yang mendalam.' "
Lyra menutup kitab itu perlahan, meresapi setiap kata.
"Kesendirian yang mendalam," ia mengulanginya. "Apakah itu yang dirasakan oleh makhluk-makhluk itu? Terasing, tidak dimengerti, dan hanya tahu satu cara untuk hidup: kekerasan?"
Tentu saja, ia tahu bahwa setan-setan yang menyerang Eldoria adalah monster-monster mengerikan yang membunuh tanpa ampun. Tapi apakah mereka memilih untuk menjadi seperti itu? Atau seperti yang dipercayai oleh leluhurnya, apakah mereka hanya... tercipta dengan cara seperti itu, dengan takdir yang berbeda?
"Ajaran kita... itu mengajarkan bahwa kehidupan adalah sebuah siklus," bisik Lyra pada dirinya sendiri, kini ia berdiri dan berjalan ke jendela. Bulan sabit sudah muncul, sinarnya menembus dedaunan. "Setan bukanlah musuh yang harus dihancurkan. Mereka hanyalah... bagian lain dari keseimbangan. Mereka adalah kegelapan yang memungkinkan cahaya untuk bersinar. Jika kita menghancurkan mereka sepenuhnya, apa yang akan terjadi pada cahaya?"
Lyra menyentuh ambang jendela, merasakan kayu yang dingin dan tua. Ia memejamkan mata dan memulai latihan spiritualnya. Ini bukan meditasi untuk mencari kekuatan, melainkan untuk memperkuat hubungannya dengan alam. Ia membayangkan dirinya sebagai sebuah pohon, akar-akarnya menancap dalam ke dalam bumi, menyerap energi kehidupan. Batangnya adalah kekuatan, dan daun-daunnya adalah belas kasih.
Ia merasakan setiap detak jantung alam semesta. Suara jangkrik, desiran angin, napas malam yang dingin. Segalanya adalah satu. Semua makhluk terhubung, seperti benang-benang tak terlihat yang membentuk jaring laba-laba raksasa. Membunuh satu benang, akan merusak seluruh jaring.
Dalam keadaan meditasi yang mendalam, Lyra merasakan dirinya berada di antara dua dunia: ketenangan di dalam kuil dan kekacauan di luar. Ia bisa merasakan aura kehidupan dari pohon-pohon di sekitarnya, dari hewan-hewan yang bersembunyi di semak-semak. Ia merasakan kedamaian, dan ia mengirimkan doa belas kasih kepada setiap makhluk yang ada.
Tiba-tiba, di tengah ketenangan itu, sebuah gelombang energi asing menghantamnya. Itu adalah sensasi yang dingin, asing, dan terasa sangat salah. Seperti sebuah luka yang terbuka di tengah-tengah keharmonisan. Itu adalah aura kegelapan yang pekat, tapi anehnya... di dalamnya ada nada kesakitan yang tak tertahankan.
Lyra tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak kencang, memecah ketenangan yang ia rasakan.
"Apa itu?" ia bergumam, tangannya gemetar. "Apa yang barusan terjadi?"
Itu bukan aura iblis yang kuat seperti yang sering ia dengar dari cerita-cerita Elara. Itu adalah aura yang redup, terputus-putus, seolah entitas yang memancarkannya sedang sekarat. Aura kegelapan yang terkoyak oleh rasa sakit.
Ia memindai sekeliling kuil, tapi tidak ada apa-apa. Hutan terlihat sama tenangnya. Daun-daun masih berdesir, serangga masih berbunyi. Tapi Lyra tahu. Ia bisa merasakannya. Ada sesuatu yang tidak biasa di luar sana. Sesuatu yang asing, terluka, dan sangat dekat.
"Ya Tuhan..." bisiknya. "Mungkin Elara benar. Mungkin ada sisa-sisa pertempuran yang melarikan diri."
Tetapi insting spiritualnya mengatakan hal yang berbeda. Aura itu... terasa unik. Bukan seperti aura monster yang membabi buta. Ada sebuah... kebanggaan yang terluka di dalamnya.
Lyra menekan tangannya ke dadanya, merasakan jantungnya yang berdebar. Ketakutan merayap masuk, namun ajarannya segera melawan.
"Belas kasih," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Belas kasih harus menyelimuti semua. Tidak boleh ada pengecualian."
Ia kembali ke altar, menyalakan sebuah dupa kecil, asapnya beraroma harum, seolah menolak kegelapan yang ia rasakan. Lyra berlutut, mencoba bermeditasi lagi, mencoba menenangkan dirinya. Namun, sensasi aura asing itu tetap ada, berdenyut di batas kesadarannya, seperti suara detak jarum jam yang terus berbunyi.
"Apakah ini cobaan?" bisiknya pada Sang Cahaya Pelindung. "Apakah ini ujian untuk keyakinanku?"
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi, ada ketakutan alami manusia terhadap yang tidak diketahui dan bahaya. Di sisi lain, ada ajaran suci yang mengatakan bahwa ia harus memberikan belas kasih kepada setiap makhluk yang menderita.
Malam semakin larut. Cahaya bulan memudar, digantikan oleh kegelapan yang lebih pekat. Lyra tetap di posisinya, berlutut, mencoba menemukan jawaban. Ia tahu, di luar sana, di kegelapan hutan yang dingin, sesuatu sedang terjadi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak yakin akan kedamaian di rumah ibadahnya.