Kegelapan malam telah menelan seluruh hutan Aethelgard. Di dalam Rumah Ibadah Lyra, satu-satunya sumber cahaya adalah sebuah lentera kecil yang memancarkan nyala api kuning keemasan. Lyra terbaring di atas tikar jerami, berusaha memejamkan mata. Namun, tidurnya gelisah. Pikirannya masih dipenuhi oleh aura asing dan rasa sakit yang ia rasakan selama meditasinya. Gelombang energi itu... terasa begitu nyata, begitu dekat.
"Ini hanya imajinasiku, Lyra," ia berbisik pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. "Jangan biarkan ketakutan mengambil alih."
Namun, di tengah keheningan yang mencekam, sebuah suara memecah malam. Bukan suara jangkrik atau desiran angin, melainkan sebuah erangan yang rendah dan terputus-putus. Suara itu terdengar seperti suara kesakitan yang tak tertahankan, berasal dari luar, di suatu tempat di dekat dinding belakang rumah ibadah.
Lyra sontak bangkit, duduk tegak di tempat tidurnya. Napasnya tertahan. Ia memejamkan matanya, mendengarkan dengan seksama. Erangan itu kembali terdengar, lebih jelas kali ini, diikuti oleh suara gemerisik semak-semak.
"Siapa di sana?" bisik Lyra pelan, meskipun ia tahu tidak akan ada yang menjawab.
Ketakutan menusuknya. Ajarannya tentang belas kasih dan siklus kehidupan adalah satu hal, tetapi menghadapi bahaya di tengah malam yang gelap adalah hal lain. Pikirannya melayang, teringat cerita-cerita dari Elara tentang monster-monster yang kejam.
"Tidak... tidak mungkin," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ini pasti hanya binatang yang terluka."
Namun, erangan itu terlalu manusiawi. Terlalu penuh dengan penderitaan yang mendalam.
Lyra tahu ia tidak bisa mengabaikannya. Hatinya, yang dilatih untuk berbelas kasih, berkonflik dengan naluri alaminya untuk berlindung. Ia bisa saja bersembunyi di dalam, mengunci pintu, dan berharap apa pun yang ada di luar sana akan pergi. Tapi bagaimana jika itu adalah seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan?
"Aku... aku harus memeriksanya," putusnya, suaranya gemetar namun tekadnya tak tergoyahkan. "Aku tidak bisa membiarkan makhluk yang terluka menderita begitu saja."
Dengan tangan gemetar, Lyra mengambil lentera dari meja kecilnya, menyalakan sumbunya dengan korek kayu. Nyala api kecil itu terasa seperti satu-satunya sumber keberanian yang ia miliki. Ia mengenakan jubah putihnya, melilitkannya erat-erat di tubuhnya, dan berjalan perlahan menuju pintu belakang.
Setiap langkah terasa seperti gema di keheningan rumah ibadah. Pintu kayu berderit pelan saat ia membukanya. Angin dingin malam segera menerpa wajahnya, membawa serta aroma hutan yang pekat... dan aroma yang lain. Aroma darah.
Lyra melangkah keluar, mengangkat lentera tinggi-tinggi. Ia memindai sekeliling halaman belakang yang kecil dan sempit. Tidak ada siapa-siapa. Semak-semak dan pepohonan tampak seperti bayangan menakutkan yang tak bergerak.
"Apakah aku hanya berhalusinasi?" ia bergumam pada dirinya sendiri, rasa lega dan kekecewaan bercampur aduk.
Tiba-tiba, cahaya lentera jatuh pada sesuatu di tanah. Sesuatu yang gelap dan basah. Jantung Lyra kembali berdebar kencang. Ia mengarahkan lentera lebih dekat, dan terengah-engah.
Di tanah, tepat di ambang pintu, ada genangan darah hitam pekat. Darah itu tidak seperti darah manusia atau binatang yang biasa ia lihat. Darah ini memiliki kilauan aneh, dan baunya... baunya tidak amis seperti darah normal, melainkan seperti tanah yang terbakar dan besi.
"Darah... darah siapa ini?" bisik Lyra, menutupi mulutnya dengan tangan. Matanya membelalak ketakutan.
Ia mengikuti jejak darah itu. Jejak itu tidak terputus, mengalir dari pintu belakang ke arah semak-semak rimbun yang membatasi halaman dengan hutan. Jumlahnya sangat banyak, seolah-olah makhluk yang terluka itu telah kehilangan banyak sekali darah.
Konflik batinnya memuncak. Jejak ini adalah bukti nyata dari aura yang ia rasakan. Ini bukan binatang biasa. Ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbahaya. Elara dan cerita-cerita tentang monster di luar sana berkelebat di benaknya.
"Lari kembali ke dalam! Kunci pintunya! Bersembunyi!" Suara ketakutan di dalam dirinya berteriak.
Namun, suara hati yang lain, suara yang dibentuk oleh ajarannya, menjawab. "Ada makhluk yang menderita di luar sana, Lyra. Menderita, dan mungkin sekarat. Bisakah kau mengabaikannya?"
Air mata menetes di pipi Lyra, mengalir hangat di antara dinginnya malam. Ia tahu ini adalah ujian yang ia gumamkan saat ia berlutut di depan altar. Apakah ia benar-benar akan berpegang teguh pada ajaran belas kasihnya, bahkan ketika dihadapkan pada ketakutan terbesarnya?
" 'Jangan menghakimi, karena setiap jiwa memiliki kisah yang belum kau dengar,' " ia mengulang mantra dari kitabnya, mencoba mencari kekuatan. " 'Belas kasih adalah kekuatan terbesar, bukan ketakutan.' "
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya. Ia harus membuat keputusan. Lari, atau... membantu.
"Aku tidak bisa lari," ia akhirnya memutuskan, suaranya kini dipenuhi tekad yang aneh. "Aku adalah Lyra, penjaga rumah ibadah ini. Aku tidak akan mengabaikan makhluk yang menderita, bahkan jika itu adalah..."
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Lentera di tangannya masih bergetar, namun langkahnya kini lebih mantap. Dengan hati-hati, ia melangkah maju, mengikuti jejak darah yang pekat. Jejak itu mengarah ke dalam semak-semak rimbun, di mana kegelapan semakin tebal.
"Aku akan mengikuti jejak ini," bisik Lyra pada dirinya sendiri, seolah mengikat janji. "Aku akan mencari tahu siapa yang terluka."
Ia mengangkat lentera lebih tinggi, menyorotkan cahayanya ke dalam semak-semak yang gelap dan misterius. Setiap gemerisik daun, setiap suara serangga, kini terdengar seperti ancaman. Namun, di matanya yang dipenuhi air mata, terpancar tekad yang tak tergoyahkan. Belas kasih telah memilih jalannya, dan ia akan mengikutinya, melangkah lebih dalam ke dalam kegelapan yang mengancam, jauh dari batas aman Rumah Ibadah Lyra.