Lentera di tangan Lyra bergetar hebat, nyala apinya menari-nari, membuang bayangan yang mengerikan di antara pepohonan. Setiap suara gemerisik daun, setiap lolongan serigala di kejauhan, terasa seperti ancaman yang semakin nyata. Hutan Aethelgard di malam hari adalah labirin gelap yang penuh misteri, dan Lyra kini berjalan di dalamnya, jauh dari keamanan Rumah Ibadah Lyra. Jejak darah hitam pekat yang ia ikuti tampak seperti ular yang merayap di atas tanah, memaksanya melangkah lebih dalam ke dalam kegelapan.
"Kenapa... kenapa aku melakukan ini?" bisik Lyra pada dirinya sendiri, suaranya parau oleh ketakutan. "Aku seharusnya tidak ada di sini. Aku seharusnya di dalam... aman..."
Namun, setiap kali ia merasa ingin berbalik, kata-kata dari kitab leluhurnya kembali berbisik di telinganya. " 'Jangan menghakimi, karena setiap jiwa memiliki kisah yang belum kau dengar.' " Kata-kata itu adalah jangkar yang menahan dirinya dari melarikan diri, sebuah janji yang ia buat pada dirinya sendiri, pada keyakinannya.
"Mungkin... mungkin ini bukan makhluk jahat," ia mencoba meyakinkan dirinya. "Mungkin ini hanya seekor binatang yang terluka parah. Ya... hanya binatang..."
Namun, jejak darah itu terlalu besar, terlalu banyak. Dan aura kegelapan yang ia rasakan sebelumnya terlalu kuat untuk berasal dari binatang biasa. Instingnya, meskipun diliputi ketakutan, mengatakan bahwa ia sedang mendekati sesuatu yang tidak wajar. Sesuatu yang berbahaya.
Langkah kakinya menjadi lebih lambat, lebih hati-hati. Udara semakin dingin, dan aroma darah yang pekat semakin menusuk hidung. Jejak itu berakhir di sebuah area rimbun, dipenuhi semak-semak lebat dan pohon-pohon yang akarnya menonjol keluar dari tanah.
"Di sini," gumam Lyra, mengangkat lentera tinggi-tinggi. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul dadanya seperti palu.
Ia mendorong semak-semak itu perlahan, membuat sedikit suara. Dan apa yang ia lihat, membuat napasnya tertahan.
Di balik semak-semak, tergeletak sosok raksasa yang tidak bergerak. Zirah hitamnya hancur di beberapa bagian, penyok dan tergores. Tanduk hitamnya yang melengkung mencuat dari kepalanya. Rambutnya panjang, hitam legam, dan wajahnya... wajahnya mengerikan, dengan taring yang menonjol dan mata merah darah yang kini terpejam rapat. Seluruh tubuhnya berlumuran darah hitam, dan sebuah luka menganga di dadanya, tempat zirah itu pecah, mengeluarkan asap kehitaman yang perlahan menghilang di udara dingin. Pedang besar, sehitam malam, tergeletak tak berdaya di sampingnya.
Ini bukan binatang.
Ini adalah monster. Ini adalah... setan.
Ketakutan murni, yang ia coba lawan selama ini, kini menguasai dirinya. Ia mundur selangkah, napasnya terengah-engah. Lututnya lemas. Lentera di tangannya nyaris terjatuh.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Lyra, air mata menggenang di matanya. Ini adalah makhluk yang diceritakan oleh Elara. Ini adalah makhluk yang ditakuti seluruh Eldoria. Ini adalah perwujudan kegelapan dan kekejaman.
Namun, saat ia menatap lebih lama, ia melihat sesuatu yang aneh. Sosok raksasa itu tidak bergerak. Ia tidak menggeram, tidak mengancam. Napasnya teratur, namun sangat dangkal. Dan luka di dadanya... luka itu begitu mengerikan, begitu dalam, seolah-olah ia sedang sekarat. Sosok itu tampak... tak berdaya.
"Tapi... dia sedang menderita," gumam Lyra, matanya terfokus pada luka yang menganga. "Dia tidak bergerak. Dia tidak menyerang."
Pikirannya kembali diliputi konflik. Rasa takut mengatakan padanya untuk lari, untuk memanggil bantuan. Sir Kaelan, Pemburu Setan, mereka pasti akan datang dan membunuh monster ini. Itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Itu adalah hal yang wajar.
"Tapi apakah itu benar?" bisik suara lain di dalam hatinya, suara yang lebih tenang dan bijaksana. "Apakah membunuh makhluk yang tidak berdaya, bahkan jika ia adalah setan, adalah hal yang benar?"
Lyra teringat cerita naga yang murka. Ia teringat ajaran leluhurnya tentang belas kasih dan siklus kehidupan. Ia teringat ajaran tentang bagaimana kebencian hanya memenjarakan jiwa.
Ia menelan ludah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
"Ini adalah makhluk yang menderita," ia berkata pada dirinya sendiri, suaranya lebih tegas kali ini. "Dan ajaranku melarangku untuk mengabaikan penderitaan."
Ia tidak bisa membunuhnya. Itu adalah pelanggaran terhadap prinsipnya. Bahkan jika makhluk ini telah melakukan kekejaman yang tak termaafkan di masa lalu, saat ini ia hanyalah sebuah sosok yang sekarat. Sebuah kehidupan. Sebuah jiwa.
Rasa takutnya tidak hilang, tetapi ia berhasil menundukkannya. Ia harus merawatnya. Itu adalah satu-satunya jalan. Apa pun risiko yang harus ia tanggung. Ia harus membuktikan, pada dirinya sendiri dan pada ajarannya, bahwa belas kasihnya tidak mengenal batas.
"Apa pun yang terjadi... aku akan merawatmu," bisik Lyra pada sosok raksasa yang tak sadarkan diri itu. "Aku akan membantumu pulih."
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apakah ia akan mati di tangan makhluk ini jika ia sadar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika penduduk desa atau para Pemburu Setan menemukannya. Tapi ia tahu satu hal. Ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja untuk mati.
Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Lyra melangkah mendekat, mengarahkan lentera ke wajah pucat Kazimir. Dupa yang ia nyalakan di kuil seolah-olah menguar, bercampur dengan aroma darah yang aneh, menciptakan sebuah paradoks. Sosok yang seharusnya hanya membawa kehancuran, kini tergeletak tak berdaya, membutuhkan belas kasih dari seorang gadis yang dibesarkan untuk mencintai semua bentuk kehidupan.
Ini adalah keputusan yang paling berani, paling gila, dan paling berbahaya yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Maafkan aku, Sang Cahaya Pelindung," bisik Lyra, air matanya mengalir membasahi pipinya. "Aku harap... aku telah membuat pilihan yang benar."