Kegelapan malam terasa semakin dingin, namun keringat dingin membasahi dahi Lyra. Ia berdiri terpaku, menatap sosok raksasa yang terkapar di balik semak-semak. Ini adalah Kazimir, Raja Setan, yang kini hanyalah sebuah tumpukan daging dan darah yang tak berdaya. Napasnya masih tercekat, namun ia tahu ia tidak bisa berdiam diri.
"Oke, Lyra," ia berbisik pada dirinya sendiri, mencoba memompa keberanian ke dalam dirinya. "Kau harus membawanya ke dalam. Sekarang juga."
Tantangan pertama adalah memindahkan tubuh raksasa itu. Beratnya luar biasa. Tubuhnya yang kekar, otot-otot yang mengembung, dan zirahnya yang hancur, semua menambah beban yang mustahil bagi seorang gadis kurus seperti Lyra.
"Bagaimana... bagaimana caranya?" ia bertanya pada dirinya sendiri, matanya memindai sekeliling. "Aku tidak akan bisa menghela tubuh ini sendirian."
Ia teringat akan sebuah gerobak kayu tua yang ia simpan di belakang rumah ibadah untuk mengangkut kayu bakar. Gerobak itu sudah usang, namun mungkin bisa membantu. Dengan cepat, ia berlari ke belakang, mengambil gerobak itu dan menyeretnya kembali ke tempat Kazimir terbaring.
"Baiklah... ayo kita coba," gumamnya.
Lyra mencoba memegang bahu Kazimir yang lebar dan kokoh. Kulitnya terasa dingin seperti marmer, dan teksturnya aneh, tidak seperti kulit manusia. Ia mendorong dan menarik, menggunakan setiap inci kekuatannya. Otot-ototnya menjerit. Ia berhasil menggeser tubuh Kazimir sedikit demi sedikit, menyusunnya sedemikian rupa sehingga ia bisa menariknya ke atas gerobak.
"Ayo... sedikit lagi..." ia mengerang, menghela napas berat.
Setelah beberapa menit perjuangan, dengan seluruh tenaganya terkuras habis, ia berhasil memindahkan tubuh raksasa itu ke atas gerobak. Kini, tantangan berikutnya adalah mendorongnya masuk ke dalam. Pintu belakang rumah ibadah terlalu kecil. Ia tidak bisa membawanya masuk ke ruang utama.
Pikirannya berpacu, mencari solusi. Ia teringat akan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik altar utama, sebuah gua yang jarang sekali ia gunakan, hanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai. Gua itu terhubung ke luar melalui sebuah terowongan sempit.
"Itu satu-satunya cara," ia memutuskan.
Dengan gerobak yang berat, Lyra mulai menariknya perlahan. Roda-roda kayu yang tua berderit pelan, suaranya terdengar seperti raungan di keheningan malam. Ia harus berhati-hati, jangan sampai ada suara yang menarik perhatian binatang buas atau, lebih buruk lagi, manusia.
Perjalanan singkat itu terasa seperti selamanya. Otot-ototnya sakit, tangannya lecet, dan ia berkali-kali terhuyung. Namun, tekadnya untuk menyelamatkan makhluk ini jauh lebih kuat dari rasa sakit fisiknya.
Akhirnya, ia mencapai gua. Pintu batu yang menyembunyikannya sangat berat, namun ia berhasil membukanya. Cahaya lentera menyinari ruang sempit yang lembap dan berbau tanah. Di sudut gua itu, ada tumpukan jerami kering. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan rahasianya.
"Hanya... sedikit lagi..." ia bergumam.
Dengan sisa tenaganya, ia berhasil mendorong gerobak ke dalam gua, lalu menutup pintu batu itu kembali. Gelap. Gelap total. Hanya cahaya lentera yang menjadi satu-satunya sumber penerangan.
Di dalam, ia mencoba memindahkan Kazimir dari gerobak ke atas tumpukan jerami. Ini adalah perjuangan yang lebih berat dari yang sebelumnya. Ia harus memanggul tubuhnya yang tak berdaya sedikit demi sedikit. Saat ia melakukannya, tangannya menyentuh kulit Kazimir yang dingin dan keras, dan ia melihat dari dekat luka-luka yang mengerikan. Goresan dalam dari cakar binatang buas, memar-memar, dan yang paling parah, luka tusukan dari pedang suci yang masih menganga di dadanya. Luka itu memancarkan aroma aneh, campuran belerang dan sesuatu yang lain, sesuatu yang suci.
Ia bisa saja merasa jijik, namun ia melawannya. "Belas kasih tidak memilih," ia mengingatkan dirinya. "Belas kasih tidak menghakimi berdasarkan rupa."
Dengan gemetar, ia mulai perawatan. Ia mengambil air dari mata air suci yang ia simpan dalam sebuah kendi. Air itu terasa dingin dan murni, dan ia menuangkannya pada kain bersih untuk membersihkan luka. Saat air suci menyentuh luka Kazimir, sebuah reaksi aneh terjadi. Asap kehitaman mengepul dari luka itu, dan Kazimir mengerang pelan, tubuhnya sedikit bergerak.
"Sakit?" bisik Lyra, tangannya gemetar. "Maafkan aku... aku hanya ingin membersihkannya."
Ia tahu sihir suci di pedang itu pasti meracuni tubuh iblisnya, dan air suci yang ia gunakan mungkin memperburuknya. Namun, ia harus membersihkannya agar tidak infeksi.
Lyra kemudian mengambil beberapa herbal dari tasnya. Herbal-herbal itu memiliki khasiat penyembuhan dan anti-infeksi. Ia menumbuknya, menciptakan pasta hijau kental, dan dengan hati-hati ia mengoleskannya pada luka-luka di tubuh Kazimir. Aroma herbal yang segar segera berbenturan dengan aroma belerang dari tubuh Kazimir.
Saat ia mengoleskan pasta itu, Kazimir kembali mengerang, kali ini lebih jelas. Ia menggertakkan giginya dalam tidur pingsannya, otot-ototnya menegang. Itu adalah erangan penderitaan yang mendalam, erangan dari makhluk yang sedang berjuang melawan rasa sakit.
"Tenanglah," bisik Lyra lembut, menyentuh keningnya yang dingin. "Kau akan baik-baik saja."
Meskipun wujudnya mengerikan, meskipun ia adalah monster, ia tetap merasakan rasa sakit. Ia memiliki kesadaran, ia memiliki penderitaan. Ini adalah realisasi yang mengejutkan bagi Lyra. Bahwa di balik wujud yang menakutkan itu, ada sesuatu yang bisa merasakan, yang bisa menderita.
Ia menyelesaikan pekerjaannya, membalut luka-luka Kazimir dengan perban bersih. Darah hitam itu kini terhenti. Tubuhnya masih dingin, namun ia tidak lagi berlumuran darah.
Dengan tugasnya selesai, rasa lelah luar biasa menghantam Lyra. Ia duduk di samping tubuh Kazimir, napasnya terengah-engah. Ia menatap sosok raksasa itu dalam diam. Apa yang telah ia lakukan? Ia telah membawa musuh umat manusia ke dalam rumah ibadahnya, ke tempat suci miliknya.
"Apa yang akan aku katakan jika seseorang datang?" ia bertanya pada dirinya sendiri, suaranya dipenuhi ketakutan. "Apa yang akan aku lakukan jika Sir Kaelan datang mencarinya?"
Ini adalah rahasia yang mengerikan. Sebuah rahasia yang bisa mengancam nyawanya, rumah ibadahnya, dan seluruh desa. Konsekuensinya terlalu berat untuk ia tanggung. Ia bisa saja dituduh sebagai penyihir hitam, sebagai pengkhianat, atau bahkan dituduh bersekutu dengan setan.
Namun, saat ia menatap sosok yang terbaring itu, rasa ketakutan itu sedikit mereda. Di balik semua kejahatan yang mungkin telah dilakukannya, ia hanyalah makhluk yang menderita, membutuhkan belas kasih. Dan belas kasih, ajarannya, adalah kekuatan yang tidak mengenal batas.
"Aku akan menjagamu," ia berjanji, pada dirinya sendiri dan pada sosok yang tak sadarkan diri itu. "Aku akan merahasiakanmu. Sampai kau pulih."
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ia tahu satu hal. Keputusannya telah dibuat. Ia telah memilih jalannya, dan ia akan melangkahinya, apa pun risikonya.