Malam semakin larut, namun Lyra tidak bisa tidur. Ia duduk di samping tubuh Kazimir yang terkapar, lentera kecil di sampingnya menjadi satu-satunya sumber cahaya di dalam gua yang lembap. Udara terasa dingin, namun di dalam, ada ketegangan yang membuat malam ini terasa begitu panjang dan mencekam.
Ia telah menghabiskan berjam-jam merawatnya. Mengganti perban yang kotor, membersihkan luka yang kembali berdarah, dan memastikan pasta herbalnya tetap menempel. Setiap sentuhan terasa seperti sebuah pelanggaran, sebuah tindakan yang bertentangan dengan akal sehatnya, namun ia tetap melakukannya.
"Napasku terasa pendek... aku tidak bisa membiarkanmu mati," bisik Lyra pada dirinya sendiri, jemarinya yang gemetar menyentuh dahi Kazimir yang dingin. "Kau harus bertahan."
Selama berjam-jam ini, ia telah memiliki kesempatan untuk mengamati makhluk ini lebih dekat. Ia adalah perwujudan dari apa yang ia dengar sebagai "kengerian", namun saat ia melihatnya terbaring tak berdaya, ia mulai melihat hal lain. Di balik luka dan kotoran, ada sebuah kekuatan yang tersembunyi. Otot-ototnya yang kuat, meskipun kini kempis karena kelemahan, membentuk pahatan yang sempurna. Tanduknya yang melengkung bukan hanya menakutkan, tetapi juga megah, seperti mahkota alami dari seorang raja.
Bahkan wajahnya, dengan taring yang menonjol dan rahang yang tajam, memiliki semacam simetri yang aneh, sebuah keindahan yang mengerikan.
"Kau bukan hanya monster," gumam Lyra, tangannya menyentuh sisik zirah yang hancur di bahunya. "Kau... kau adalah perwujudan kekuatan. Sebuah ciptaan yang unik."
Saat tangannya menyentuh kulitnya yang dingin, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan dingin yang ia duga. Di balik kulitnya yang dingin, ada kehangatan yang aneh, sebuah energi yang memancar, meskipun kini sangat lemah. Itu bukanlah hawa dingin yang mematikan yang ia bayangkan dari setan, melainkan sebuah energi yang redup, seperti bara api yang masih menyala di tengah hujan.
"Bagaimana bisa?" ia bertanya-tanya, bingung. "Aku pikir... setan adalah makhluk yang dingin dan tanpa kehidupan."
Ia mengangkat tangannya, mencoba merasakan aura makhluk itu dengan indra spiritualnya yang dilatih. Aura kegelapan itu masih ada, pekat dan berat, namun di dalamnya, ada sebuah kehangatan yang berdenyut, sebuah cahaya yang sangat redup, seperti bintang yang sekarat.
Ini adalah sebuah paradoks. Sebuah teka-teki yang tidak bisa ia pecahkan. Bagaimana mungkin kehangatan dan cahaya bisa ada di dalam kegelapan yang pekat?
"Mungkin... mungkin ajaranku benar," bisik Lyra pada dirinya sendiri, air mata menggenang di matanya. "Mungkin bahkan di dalam kegelapan yang paling pekat, ada percikan cahaya yang tersembunyi."
Melihat kondisinya, Lyra merasa sedih. Bukan karena ia merasa kasihan pada monster, melainkan karena ia melihat penderitaan. Ia melihat sebuah kehidupan yang sedang berjuang untuk bertahan.
Dengan hati-hati, ia bangkit dan berjalan ke sebuah sudut gua, tempat ia telah meletakkan altar kecil dari batu pipih. Ia menaruh dupa kecil di atasnya, menyalakannya. Aroma herbal yang menenangkan segera menyebar, melawan aroma belerang di udara.
Lyra berlutut, menutup matanya. Ia tidak memohon perlindungan dari makhluk ini. Ia tidak memohon keselamatan. Ia memohon sesuatu yang lain.
"Oh, Cahaya Pelindung," ia mulai berdoa, suaranya lembut dan tulus. "Aku memohon belas kasihmu. Aku memohon kesembuhan. Bukan hanya untuk mereka yang baik, tetapi untuk semua yang menderita."
"Makhluk yang terbaring di sini... ia telah terluka. Ia telah jatuh. Ia telah menderita. Aku mohon, berikanlah ia kekuatan untuk bertahan. Bukan untuk menyerang, bukan untuk menghancurkan, tetapi hanya untuk menemukan kedamaian."
"Ajaran kita mengatakan, 'Setiap tunas memiliki hak untuk tumbuh, setiap sungai memiliki hak untuk mengalir,' " ia melanjutkan, suaranya kini dipenuhi kekuatan iman. "Dan setiap jiwa memiliki hak untuk hidup. Jangan biarkan dia lenyap, bukan seperti ini.
Berikan dia kesempatan untuk menemukan jalan lain. Jalan yang damai."
Ia terus berdoa, memusatkan seluruh energi spiritualnya. Ia membayangkan sebuah cahaya hangat yang turun dari langit, menyelimuti tubuh Kazimir, menyembuhkan luka-lukanya. Ia tidak tahu apakah doanya akan terkabul. Ia hanya tahu bahwa inilah yang harus ia lakukan.
Waktu berlalu. Fajar mulai menyingsing, memancarkan cahaya biru kelabu ke dalam gua melalui celah kecil di atap. Lyra masih berlutut, namun kini ia merasa lelah secara spiritual. Doanya telah menguras tenaganya, namun ia merasa damai.
Ia bangkit, berjalan kembali ke samping Kazimir. Ia meletakkan tangannya di keningnya yang dingin. Dan saat itulah, ia merasakan sesuatu. Kehangatan yang ia rasakan sebelumnya, kini sedikit lebih kuat. Napas Kazimir, yang tadinya sangat dangkal dan terputus-putus, kini terdengar lebih teratur, lebih dalam.
Luka di dadanya, meskipun masih mengerikan, tidak lagi memancarkan asap kehitaman. Darah hitam itu kini mengering, dan seolah-olah, luka itu perlahan-lahan mulai menutup.
"Sebuah tanda," bisik Lyra, air matanya menetes. Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata harapan. "Sebuah tanda bahwa doaku didengar. Sebuah tanda bahwa ia akan bertahan."
Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kelegaan. Malam yang panjang dan menegangkan telah berakhir. Pertempuran batinnya telah dimenangkan. Ia telah membuat pilihan yang benar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa belas kasihnya, imannya, dan ajarannya telah diuji, dan ia telah lulus.
"Tidurlah, makhluk yang terluka," bisik Lyra, menutupi tubuhnya yang raksasa dengan sehelai kain tebal. "Mungkin kau tidak akan percaya, tapi sekarang, kau aman. Kau aman bersamaku."