"Kembali lagi di acara Malam Jumat, malam horor,Malam yang penuh teka-teki," ujar Host, dengan senyum lebar yang terasa dipaksakan dan kontras dengan suasana gelap. Ia tampil rapi dalam setelan jas hitam, memancarkan aura yang profesional
"Malam ini, kita kedatangan seorang narasumber yang kabarnya belakangan ini sering diganggu oleh makhluk gaib, Selamat malam, Ibu Sri. Bagaimana kabar Anda?"
Fokus kamera bergeser ke area tengah panggung. seorang wanita paruh baya dengan riasan wajah yang sengaja dibuat pucat, duduk di sofa.
"Alhamdulillah baik, Mas," jawabnya pelan,
"Bisakah di ceritakan sedikit tentang pengalaman horor ibuk itu?" pinta Host, memasang mimik serius.
"Eee... iya, Mas," Ibu Sri tampak gelagapan. Rambutnya yang mulai beruban menambah kesan rapuh. "Sejak saya tinggal di rumah baru, pundak saya selalu terasa sangat berat. Dan setiap malam, menjelang tidur, saya sering melihat ada bayangan hitam besar yang lewat di depan kamar saya." Nada bicaranya begitu lemah, diperkuat dengan ketakutan yang meyakinkan.
"Hmm, tentu itu sangat mengganggu kehidupan Ibu Sri, ya." ujar Host, memasang ekspresi empatik.
ibu Sri mengangguk samar, tatapannya kosong, seperti di bawah tekanan.
"Oke, pemirsa. Tidak perlu berlama-lama lagi. Mari kita tanyakan hal ini kepada Tiga bintang kita malam ini, yang selalu siap membantu memecahkan misteri di setiap episode. apakabar ladies!" sapa Host penuh semangat, memanggil sorot lampu ke arah tiga bintang utama di sisi panggung.
"Malam," balas mereka bertiga dengan serempak.
"Baik. Menurut kalian bertiga, apa yang sebenarnya terjadi pada narasumber kita malam ini? Apakah ada yang mengikuti Ibu Sri?" tanya host.
"Dari yang kami lihat, Ibu Sri ini memang ketempelan. Sosoknya hitam besar, dan berbulu lebat" ucap Yura. wanita berambut pixie cut pendek itu menatap dingin ke sudut ruangan, seolah-olah ia benar-benar dapat melihat sosok tersebut.
"Oh, jadi apakah makhluk itu sekarang ada di sini bersama kita?" tanya Host,suaranya sedikit meninggi untuk menambah ketegangan.
Yura mengangguk pelan, tanpa mengubah ekspresi datarnya.
"Dan sedari tadi dia melihat ke arah sini, Seperti, ingin meminjam tubuh April, mungkim ingin berkomunikasi dengan kita," jawab Yura ngasal,
wanita berambut pirang panjang, yang dikenal sebagai medium itu, spontan menoleh kaget ke arah Yura. Ada kilatan amarah tersembunyi di matanya saat ia menatap tajam rekan kerjanya itu.
Padahal sebelum acara dimulai, mereka sudah sepakat untuk tidak ada adegan kerasukan lagi.Tapi Yura seenak jidatnya saja meminta April melakukan hal gila ini.
Tapi bagaimanapun, ini adalah siaran langsung, dan ia tidak punya pilihan selain mengikuti alur yang sudah dilempar.
April memejamkan matanya dan menarik napas perlahan. Lampu backlight biru kini menyisakan cahaya tunggal yang dramatis di belakangnya. April menundukkan kepalanya, membiarkan sebagian wajahnya tertutup oleh rambut pirangnya yang panjang. Ini adalah isyarat bahwa ia sudah siap berakting.
Keheningan sesaat, yang hanya dipecah oleh instruksi di control room, pecah saat Yura bertanya dengan nada mendesak."Dengan siapa di sana?"
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara tawa April yang serak dan dibuat-buat, menggema di ruangan itu dengan nuansa yang sengaja dikendalikan.
"Apa yang kamu mau?,"Yura terdengar lelah, ingin cepat-cepat menyelesaikan show yang membosankan ini.
April, yang tampaknya juga lelah dengan tawa yang itu-itu saja, memutuskan untuk mengakhiri kekonyolan ini dengan akselerasi. Tiba-tiba, ia melompat ke arah Host. Suasana tegang yang dibuat-buat seketika berubah menjadi ricuh.
Host yang terkejut dan ketakutan, refleks berteriak dan mundur.
"Woah!"
Sementara itu, Mela, dikenal karena perannya sebagai pembaca doa, langsung memulai perannya. Dia memegangi April dan mulai melafalkan doa-doa.
Kepanikan ini membuat kru kamera dan produser di balik monitor kebingungan. April, yang menyadari kamera belum juga dimatikan, naik ke atas sofa dan berteriak histeris dengan tenaga penuh. Yura hanya memperhatikan kekacauan yang memang di sengaja itu dengan wajah datar sebuah pertunjukan sempurna.
Host, yang berhasil terlepas dari cengkeraman April, segera menggunakan kesempatan itu untuk menutup acara sambil mengatur napas.
"Baik, pemirsa! Siaran langsung yang menegangkan hari ini terpaksa kita akhiri demi keamanan. Sampai jumpa di episode selanjutnya, dan tetaplah waspada!"