Lampu sorot besar baru saja dipadamkan, meninggalkan bau gosong dari kabel dan suasana bising khas after-show. Beberapa teknisi sibuk menggulung kabel tebal, sementara yang lain menutupi kamera mahal dengan kain hitam. Suasana terasa lelah dan berantakan.
April melangkah cepat, sepatu bot hak tingginya berdentum di lantai studio beton yang dingin. Ia mengejar Yura dan Mela yang berjalan cepat menuju pintu keluar. Wajah April tampak sangat kesal, kontras dengan make-up yang tersisa dari syuting tadi.
"Lu beneran keterlaluan, Ra! Tiba-tiba banget nyuruh gue pura-pura kerasukan di closing! Padahal kan skripnya enggak gitu!"
Yura berhenti tanpa menoleh, jari-jarinya asyik menggulir layar ponselnya, membaca kolom komentar di media sosial. Ekspresinya datar dan acuh tak acuh, yang memang menjadi ciri khasnya.
"Gue pun juga muak sama acara sampah ini," jawab Yura tanpa menoleh. "Udah setahun berjalan, yang kita dapatin cuma caci maki dan rumor gimik dari netizen."
April mengernyitkan dahi. Ia merasa jawaban itu sama sekali tidak nyambung dengan keluhannya " aah.. ok..tapi.."
Ucapan April terpotong. Dari kejauhan, di ujung koridor yang remang-remang, mereka melihat Roby,sang manajer berdiri di depan pintu ruangannya. Wajah Roby tegang, seperti harimau yang baru saja kehilangan mangsanya, dan tangannya memberi isyarat mendesak agar ketiga bintang itu segera masuk.
***
Aroma terapi lavender menyelimuti udara, berusaha menciptakan ketenangan palsu. Ironisnya, siaran ulang acara paranormal pesaing stasiun TV lain bergema dari layar plasma besar. Yura, April, dan Mela duduk berdesakan di sofa kulit berwarna cokelat tua. Di depan mereka, Sudah ada Roby yang sedari tadi mondar-mandir seperti singa kelaparan.
Yura menghela napas panjang, menahan rasa jengkel yang memuncak. Tiga menit yang lalu, ia dimarahi habis-habisan oleh Roby karena aksi off-script yang hampir merusak acara tadi.
Yura sudah muak. Setahun lebih ia harus berbohong, memalsukan indra keenam, dan menipu jutaan penonton. Orang-orang mulai curiga, rating anjlok. Ia heran, mengapa Roby sekeras kepala ini mempertahankan acara konyol itu.
Di samping Yura, Mela yang selalu berusaha menghindari konflik justru terlihat asyik menonton acara paranormal di televisi, sambil mengunyah keripik yang ada di dalam toples yang dia pegang.
" wiih...anjir!" Seruan Mela yang tiba-tiba memecah keheningan tegang, membuat Yura dan April tersentak menoleh.
Mela gelagapan, segera menunjuk ke layar TV. "Eh, maaf. Tapi lihat, itu penampakannya jelas banget, sumpah! Kayak beneran!"
Roby, yang sedari tadi gusar mondar-mandir, akhirnya berhenti dan mengikuti arah pandangan Mela ke layar TV. Ia melihat klip hantu yang tampak meyakinkan di layar pesaing mereka.
Senyuman tipis perlahan merekah di wajah Roby. Ia menatap ketiga gadis itu dengan mata berbinar-binar penuh ambisi.
April menelan ludah, firasat buruk mulai muncul.
"Kita sudah terlalu lama main aman dengan studio dan efek palsu," kata Roby,Ia mengambil remote dan mematikan TV, membuat ruangan hening seketika.
"Kita akan buat acara uji nyali. Vlog uji nyali yang nyata. Kita akan beri netizen realitas, sampai mereka tidak punya pilihan selain percaya,"
April, merasa perutnya terpelintir.
"Tapi, Om, kita... kita kan enggak bi..,"
"Tentu saja bisa. Kita hanya perlu berakting lebih baik di lokasi yang tepat." potong roby
Entah apa yang ada di kepala Roby, tetapi bagi Yura, ini terdengar cukup menarik.
***
Sebuah mobil sedan putih mengilap perlahan berhenti di depan sebuah rumah minimalis di kawasan pinggiran kota yang. Sudah mulai ramai, Roby, sang supir, menekan klakson dua kali yang terdengar agak nyaring.
Tak lama, sesosok pria bergegas keluar dari pintu rumah yang dicat hijau lumut. ia segera membuka pagar besi yang berdecit pelan. Senyum lebar dan tulus terkembang di wajahnya, membalas pandangan Roby. Roby menekan tombol di dasbor, dan pintu bagasi belakang mobil pun terbuka secara otomatis . Fahri memasukkan ransel dan koper kecilnya dengan sigap, lalu buru-buru duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Roby tak membuang waktu. Dalam hitungan detik, mobil melaju mulus, Semua penumpang lain yang sudah berada di mobil, memperhatikan pria berkemeja biru dengan kaos hitam di dalamnya itu. Fahri masih terlihat sangat antusias, senyumnya tak luntur, membuat yang lain saling pandang dengan ekspresi bingung bercampur penasaran.
"Dia siapa, Om?" tanya April yang duduk di kursi depan, tepat di samping Roby.
Ia memperhatikan Fahri yang kini melepas kacamata berbingkai tebal yang sedikit berembun. Begitu kacamata itu terlepas, mata April sedikit terkesima. Bola mata Fahri yang berwarna cokelat hangat itu memancarkan sorot mata yang ramah.
Fahri, yang sadar diperhatikan, langsung mengulurkan tangan ke depan. "Halo, salam kenal. Nama saya Fahri," ucapnya dengan suara bariton yang lembut.
April menyambut uluran tangan itu dengan gaya yang sedikit centil dan genit. "Panggil aja April," jawabnya sambil tersenyum menggoda.
Roby melirik sekilas dari kaca spion depannya, melihat interaksi kedua anak muda itu. "Ini Fahri, (translator) kita," jelas Roby. Ia berhenti sebentar, mengatur gigi mobil saat melewati tikungan. "Fahri ini pernah magang di kantor media tempat Om kerja dulu. Kebetulan, investor yang meminjamkan rumahnya untuk kita syuting itu asli orang Turki, dan Fahri pernah kuliah di Turki selama tiga tahun. Iya, kan, Far?"
"Hehe, iya, Om. Betul sekali," sahut Fahri. Ia kemudian menjulurkan tangannya ke arah Yura yang duduk di sebelahnya.
Fahri benar-benar terkesima melihat Yura.hidung kecil yang macung di tambah dengan polesan blush on warna peach yang sama dengan warna bibirnya,menambah kesan imut di wajah yura,Meskipun Yura wanita dingin,tapi tidak terlihat di perawakan tubuh nya yang mungil dan mata nya yang bulat itu, Yura akhirnya menjabat tangan Fahri, tidak hanya putih, tetapi kulit yura juga terasa sangat lembut. Aroma parfum Yura yang musk membuat jantung Fahri berdebar kencang, bahkan pipinya sekarang sudah sedikit memerah.
"Kamu pasti Yura, kan?" ucapnya dengan nada sedikit gugup.
Yura mengernyitkan dahi tipisnya, tatapannya tajam dan menyelidik.
"Oh, aku sering nonton acara kalian, jadi aku tahu," Fahri buru-buru menjelaskan, suaranya sedikit meninggi untuk meredakan kecanggungan.
Namun, bukan itu yang membuat Yura menatap Fahri dengan ekspresi terganggu. Tangan Fahri yang sedari tadi masih menggenggam erat tangan Yura belum juga dilepas. Dengan sekali tarikan yang cukup kuat, Yura menarik tangannya hingga membuat Fahri tersentak dan tersadar dari lamunan fantasinya. Senyum malu-malu dan sedikit salah tingkah segera muncul di wajah Fahri.
Dan ini Mela," Roby kembali menengahi, membantu Fahri beralih ke arah Mela yang duduk di pojok.
Mela, yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan senyum kecil, menggapai salaman itu dengan ramah.
***
Sudah dua jam lamanya mereka melewati jalanan yang sunyi dan berliku. Kegelapan pekat di luar jendela didominasi oleh siluet hutan rimbun yang mengelilingi mereka. Lampu depan mobil adalah satu-satunya sumber cahaya, menembus kabut tipis di udara. Berpapasan dengan pengendara lain bisa dibilang hanya dengan hitungan jari,
Seminggu yang lalu, Roby mati-matian mengirim proposal kepada beberapa investor untuk mendapatkan tambahan biaya produksi acara. Salah satu investor anonim tiba-tiba menawarkan untuk syuting di rumahnya, lengkap dengan fasilitas mewah. Roby, yang selalu berpikir untung, langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Siapa sangka, rumah sang investor ternyata jauh di pedalaman hutan. Tapi, itu justru bagus untuk syuting vlog horor kan, Roby mencoba meyakinkan dirinya sendiri sambil fokus pada setir.
"Om, kenapa nggak ngajak kru atau yang lainnya?"Tanya april memecah keheningan
"Tuan rumah tidak suka kalau terlalu banyak orang asing mengunjungi rumahnya. Lagi pula, kita nanti hanya bikin vlog santai, Kita berlima sudah cukup. Fahri juga bisa bantu jadi kameramen utama," jawab Roby, berusaha terdengar santai sambil melirik Fahri.
Fahri, yang duduk di samping Yura, tersenyum antusias, mengingat ia pernah bekerja di media,menjadi kameramen tentu bukan hal yang sulit baginya.
"Tidak suka orang asing, tapi malah mengundang lima orang asing," timpal yura dengan datar
Roby menghela napas panjang, mencoba meredam sindiran Yura.
"Ya, yang punya rumah kebetulan salah satu investor utama kita, dan sekaligus penonton setia kita," jelas Roby. "Intinya, dia mau memfasilitasi kita, jadi jangan banyak protes."
Mela, yang selama ini diam sibuk memperhatikan rimbunnya pohon di luar, menimpali dengan polos.
"Tapi aneh banget nggak sih, ? Punya rumah mewah, tapi malah di hutan dan jauh dari kota."
"Mungkin aja dia introvert akut kayak Yura. Yura juga bakalan milih tinggal di tengah hutan, ya kan ra" April mencoba menganalisis keanehan itu dari sudut pandang yang berbeda
Yura yang disamakan dengan investor anonim itu berpikir sejenak. Ide April cukup menarik, meski sebenarnya dia lebih tertarik untuk tinggal di dekat pemakaman