10 years later.
London, Greater London, England 10.34 PM
Musim panas kali itu bisa dikalahkan oleh suasana malam yang sejuk menyapu permukaan kulit menusuk pori-pori dengan suhu dinginnya. Angin berembus agak kencang di malam yang penuh dengan bintang, gedung-gedung pencakar langit berdiri kokoh balap membalap untuk menembus awan. Benda langit yang dapat memancarkan cahayanya sendiri itu bertaburan di langit menemani bulan purnama kali itu.
Langit berwarna hitam pekat pada malam itu dan bulan berbentuk sabit seperti tersenyum ditaburi perkumpulan-perkumpulan bintang yang berkelap-kelip menghiasi. Sebagian makhluk sudah berada di alam kapuk layaknya ilusi semata. Menabuh indahnya mimpi di setiap detik yang mereka punya.
Kendaraan-kendaraan memenuhi jalan dengan mesin mereka yang berderu, suara knalpot membisingkan telinga mereka yang masih lembur di malam itu.
Kota itu dipenuhi dengan insan-insan yang hidup berdampingan juga dipenuhi dengan gedung-gedung tak pula terlupakan, banyak yang menjadi pencuci mata jika lewat di kota besar itu, bagaimana mewah dan indahnya gedung-gedung pencakar langit di sana.
Salah satunya adalah Fire Roses Corp yang gedungnya berdiri tegak di tengah-tengah kota, berlantai 100 dengan rooftop juga tiga tempat parkir helikopter, lambang bunga mawar berkobar yang dilengkapi juga sayap terbakar ada di rooftop sangat besar dan bersinar menyala jika di malam hari seperti benar-benar terbakar karena dilapisi emas dibuat oleh arsitek mendunia yang amat berkelas. Pemiliknya juga yang mendirikan kelompok The Rose on Fire — Ahyner Mirachel Gabriel Burner. Yang menjadi pesaing sekaligus menyanding untuk membalap perusahaan kakaknya yang kini masih bertahan berada di posisi pertama sebagai perusahaan paling berpengaruh di dunia, kini ia yang mendiami posisi kedua siap untuk bertempur dengan perusahaan kakaknya yang membawa nama Burner mendunia makin universal.
Pemuda yang selalu dibicarakan akan membalap kelompok berpengaruh kakaknya sendiri.
Ahyner Mirachel Gabriel Burner. Mafia yang kini mengambil perhatian dunia dengan aksinya yang tak kalah heboh dengan yang pernah kakaknya lakukan dahulu.
Tidak punya sopan memang dia yang padahal dibantu kakaknya agar bisa mempunyai perusahaan sendiri tapi hendak menggusur posisinya. Tapi kakaknya tak bodoh, ia tahu sejak awal bahwa adiknya itu hendak merebut posisinya, kakaknya yang dikenal sebagai iblis dalam dunia gelap itu hanya ingin melihat senekat apa adik bungsunya itu dalam bertindak.
Menggelar julukan The Burning Roses yang dijuluki oleh dunia melihat bagaimana perusahaannya identik dengan mawar dan tato di kedua punggung tangannya bergambarkan mawar terbakar menjadi ciri khas seorang Ahyner.
Pemuda itu kini berada di mobil Bugatti miliknya, ujung ibu jarinya ia gigit menunggu aba-aba dari sang grid girl untuk menurunkan bendera mereka bertandakan balapan sudah dimulai.
Delapan mobil sport sedang bertempur balap di area itu tiga kali putaran.
Saat tanda benar-benar diturunkan, ia langsung menginjak pedal gas dengan kuat dan makin melaju meninggalkan dan bersanding dengan lawannya. Delapan mobil sport sedang bertempur balap di area itu.
Iris abu-abunya melirik setengah detik pada kaca spion melihat pembalap kedua sudah ada di belakangnya mencoba mengejar dan makin melajukan mobilnya untuk membalap lawan pertama yang tengah bersaing dengannya di area itu, yakni pembalap yang menggelar juara di negara Thailand.
Ahyner men-driff mobilnya saat ada di tikungan jalur balap melewati pembalap pertama, ia segera makin memainkan tangannya di setir untuk tetap stabil dan kakinya yang makin keras menginjak gas guna melewati garis putih abu-abu.
Selain menjadi don, pebisnis, CEO, m*******i, dan banyak lagi hal yang ia pimpin atas namanya, salah satunya adalah pembalap, ia suka melewati garis finis dengan posisi pertama.
Pemuda itu keluar dari mobil sport-nya setelah men-driff mobil berlawanan arah dengan jalurnya tadi lalu mengambil shotgun yang menjadi teman duduknya tadi saat ia membalap.
Ahyner menyandarkan pinggangnya di cup mobil dengan membidik sebuah mobil dengan salah satu shotgun miliknya.
Mata abu-abunya yang tajam menutup sebelah guna membidik secara benar, bibirnya tipis terlihat agak pucat, hidungnya mancung dilengkapi pula dengan rahang yang amat tegas, rambutnya berwarna blonde kemerahan tersisir rapi ke arah samping menambah kharismanya makin memesona, d**a dan bahunya lebar tempat nyaman bersandar bagi para hawa untuk menenangkan pikiran mereka, tingginya sekitar 183 cm lebih, kulitnya seputih kertas dan tampannya sepanas neraka.
Jarinya segera menarik pelatuk menandakan sebentar lagi ledakan akan terjadi mengingat ia membidik tepat di mesin mobilnya.
Mobil yang menjadi bidikannya itu oleng dan meledak setelahnya membuat pembalap yang lain berusaha keras menghindar dari kendaraan terbakar itu agar tak mengenai kendaraan mereka.
Tiga mobil sport lainnya melewati garis finis dan keluar dari mobil masing-masing.
Ahyner menjauhkan shotgun dari depan wajahnya menatap dingin ke arah mobil yang terbakar menyebabkan sopirnya pasti ikutan ditelan api.
Salah satu telinganya tertindik dengan liontin salib terbalik, ia merenggangkan dasi maroon yang terlilit di kerah kemeja hitam dengan tangan yang bergambar mawar terbakar di punggung tangannya. Bajunya tak dimasukkan ke dalam celana membuat ia terlihat makin bad, dua kancing atasnya ia buka setelahnya.
Ahyner Mirachel Gabriel Burner, Rose from Hell juga salah satu julukannya mengingat betapa pesonanya sukar untuk dilawan membuat hawa panas bagi mereka melihat ia yang menjadi sangat bad boy di saat-saat tertentu.
Ketiga pintu mobil yang tadi melewati garis finis kini terbuka menunjukkan masing-masing pengendaranya.
Aarnes Aleksei Matveyev, sekretaris utama dan orang paling ditaruh kepercayaan dari Ahyner sendiri, pemuda yang berasal dari Rusia ini tak jarang selalu berada di sisi bosnya.
Aarnes menuju tempat Ahyner berada lalu memasukkan kedua tangannya di dalam saku melihat pemandangan mobil terbakar itu adalah salah satu hobi dari Ahyner, dia tahu bosnya ini suka melihat api. Tak sedikit korek api bermacam-macam bentuk ada padanya dan tentu tak dapat dihitung berapa kali api ledakan yang ia buat.
“Berhentilah suka membuat orang celaka, Mr. Burner,” ucap ketus salah satu orang yang kini berada di sisi Ahyner yang lain. Ia memutar kedua bola matanya jengah membuang wajah dari bosnya itu.
Sebut dia Sven, alias Sven Cyrille Damien Clarke, pemuda kepercayaan kedua dari bosnya, pemuda asal Prancis yang menjadi pendiam kedua setelah bosnya, ia selalu terlihat dingin dan sinis dengan sorot matanya yang tajam menyamakan sorot elang Ahyner.
“Taruhannya adalah mobil itu, Mirachel Burner, kenapa kau malah meledakkannya?” Danzel Ackerley Allen, sekretaris ketiga setelah kedua yang lain, pemuda yang berasal dari Inggris, anak dari seorang yang berpengaruh di negaranya. Ia berada di sisi Ahyner yang lain bersebelahan dengan Sven.
Sebut mereka Antithesis Quattuor alias Empat Antitetis yang diberikan pada mereka berempat berasal dari bahasa Latin dari Mafia Italia pada mereka melihat sendiri aksi pertama mereka sembilan tahun lalu sudah menggemparkan dunia pergelapan di usia yang masih cukup muda, bertentangan arah dengan yang sebenarnya.
Ahyner Mirachel Gabriel Burner sebagai ketuanya, Aarnes sebagai wakil utamanya, dan Sven juga Danzel yang menjadi wakil semunya.
Si Empat Antitetis, yang sukar untuk dilupakan namanya.
Ahyner menoleh pada Danzel yang terukir seringai di salah satu sudut bibirnya. “Kalian yang akan menggantinya, bukan?” Sungguh, suara bosnya itu sangat deep menusuk pendengaran mereka, jika ketiga Burner yang lain sudah berat, maka saudara termuda dari keluarga Burner ini lebih berat dan sangat sukar untuk dihilangkan hawa dinginnya.
Sven makin memutar bola matanya mendengar penuturan itu, mereka semua tahu Ahyner memang benar-benar mendapat gantinya dengan mobil mereka.
Tak beberapa lama kemudian tiga mobil lain yang agak lebih lama melewati ledakan yang Ahyner buat melewati finis dan memarkirkan mobil mereka juga.
Valborg, salah satu dari rekannya yang ikut dalam balapan ini menggaruk tengkuknya melihat ke arah mobil yang sudah mengobar besar itu. Ia tahu siapa pelakunya, siapa lagi jika bukan si pemegang shotgun itu?
“Woah-woah, Mr. Burner. Kau pasti akan kehilangan dua berlianmu malam ini, dia sedang membawa berkas kepemilikan salah satu material berharga dari Jerman bersamanya,” ucapnya lalu menoleh bergantian pada keempat orang itu.
Aarnes menaikkan kedua alisnya agak lama lalu menunjuk mobil sport miliknya seraya berucap, “Berkas itu ada padaku sekarang.” Ia berucap lalu dibalas anggukan songong dari Valborg, ia pun tahu jika kelompok ini memang tak akan mau kehilangan benda berharga yang ada di depan mereka.
Valborg melempar kunci mobilnya pada Sven, begitu pula pada kedua rekannya yang lain yang ikut turun dari mobil tadi sehabis dia. Aarnes mengambil napas berat lalu mengambil kunci mobilnya juga, begitu pula Danzel yang menyerahkan benda itu pada Sven.
Sven mendecak singkat lalu menyimpan keenam kunci mobil itu termasuk kunci mobilnya sendiri di dalam sakunya mengingat bosnya yang memenangkan pertaruhan ini pasti tak akan sudi menerima itu menggunakan tangannya sendiri.
Itulah salah satu alasan Sven kesal, mobil yang baru ia beli minggu lalu menjadi taruhan karena apa yang mereka gunakan sekarang apa yang ditaruhkan dan sekarang terserah pada Ahyner. Walaupun mobil sport itu bisa ia beli dalam waktu kurun tiga bulan gajinya, tetap saja ia kesal.
Sudah kaya, Ahyner semakin sultan. Mengingat memang pemuda ini suka mengoleksi mobil sport dan tak terhitung sudah berapa basemant gedung yang menyimpan mobil-mobilnya yang tersebar di belahan dunia.
Ahyner menurunkan shotgun miliknya bertumpu pada jalan melihat api itu mengobar makin besar.
Valborg melipat kedua tangannya di depan d**a lalu melihat pada ketua dari kelompok The Rose on Fire itu, ia terlihat heran melihatnya, kenapa ia senang melihat api? Ia tahu nama belakangnya adalah Burner, tapi jika itu adalah alasannya, maka itu sangat konyol.
“Ah, Mr. Burner, aku dengar perusahaan Golden Rose milikmu dibobol?” Valborg bersender pada mobil yang tadinya miliknya kini sudah menjadi hak Ahyner. Dengan aksi mereka yang bisa mendapatkan jutaan dolar per harinya, tak mungkin Ahyner hanya membangun satu perusahaan.
Aarnes tahu bahwa bosnya itu tak akan menjawab Valborg mengingat betapa irit si mantan bisu ini untuk berucap setiap katanya.
“Ya, begitulah. Perusahaan utama dari pembobol itu sudah dibakar habis olehnya,” ucap Aarnes mewakili Ahyner yang tampak enggan untuk bicara.
Valborg mengangguk kecil lalu segera menggandeng Dalbert—selaku salah satu rekannya yang tadi juga mengikuti balapan itu.
Kumpulan orang berpengaruh itu kini berkumpul di sana mengikuti balapan yang pertaruhannya tak main-main bisa sampai miliar mereka keluarkan begitu saja satu malam.
Dalbert menelepon salah satu pihaknya dengan tabung akustik di salah satu telinga. “Ya, kemarilah, Babe. Kita akan bersenang-senang setelah ini.” Ia berucap lalu mematikan secara sepihak.
Valborg menoleh pada Ahyner yang seperti masih tak menganggap mereka dan menoleh pada enam mobil sport yang bergantian datang ke sana menggantikan mobil taruhan mereka yang jatuh ke tangan seorang pemimpin dari kelompok Roses itu.
“Ah, kemarin lusa aku sempat ke perusahaanmu, Mr. Burner. Aku melihat salah satu calon pekerjamu yang sangat cantik, kedua karyawan berbeda di perusahaanmu menyatakan perasaan mereka di hari itu dan ia menolak keduanya.” Valborg berucap.
Ahyner masih saja melihat pada mobil yang sudah tak terlalu besar apinya itu.
Sven melirik pada Valborg singkat. “Aku sempat melihatnya.” Sven menyapu pandang pada Ahyner yang kini merekatkan kembali kancing pergelangan tangannya yang tadi terbuka. “Dia sangat cantik, dan dia berambut kuning keemasan juga bermata sebiru laut.”
Mereka semua yang ada di sana menoleh pada Ahyner, mereka tahu bahwa pemuda itu hanya akan berhubungan dengan seseorang yang kuning rambutnya dan biru matanya, itu mereka simpulkan setelah melihat bertahun-tahun bagaimana pemuda ini selalu menarik wanita dengan kedua ciri-ciri itu untuk bisa berhubungan dengan dia, jika tidak maka selamat tinggal, ia tak akan melirik mereka sedikit pun.
Ahyner melirik datar pada Sven. “I don't care.” Ia berucap singkat lalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan mereka di sana dengan menginjak pedal gas melajukan mobilnya.
Aarnes, Danzel, dan Sven segera ke mobil ganti mereka dan mengikuti Ahyner dari belakang dibuntuti pula pada Valborg dan Dalbert.
Sedang keenam mobil taruhan itu sudah mulai diangkut untuk sampai ke salah satu basemant milik Ahyner di negara Inggris itu.
Ahyner menginjak pedal gas kuat menembus jalan menciptakan bunyi-bunyi klakson bersahutan setiap mobilnya lewat dengan menyelip tiap celah yang ada dan tak sedikit yang mengklakson dari kejauhan untuk memuji mobil Bugatti yang amat seksi itu. Apa lagi disusul kelima mobil sport lain yang berisi bawahan juga rekannya dan beberapa mobil sport lain membawa bodyguard yang akan selalu mengawal Ahyner.
Ia berhenti tepat di depan sebuah klub yang terkenal di ibu kota itu. Ahyner keluar lebih dahulu yang langsung dikawal oleh Aarnes, Danzel, dan Sven di sampingnya juga beberapa bodyguard. Membuat teriakan dan decakan kagum terdengar melihat bagaimana pemuda yang bisa membawa nama marga mereka yang sudah tinggi makin meninggi.
Bos mereka ke sini bukan untuk senang-senang dengan para kupu-kupu malam, salah besar, ia sedang ditunggu di ruang VVIP sana oleh salah satu rekannya dari negara ini. Mengingat dia orang yang sibuk mengurus perusahaan-perusahaan yang ia bangun di negara-negara lain ingin membalap kakaknya yang sudah mempunyai cabang perusahaan di bagai belahan benua.
Tak sedikit yang menatap sangat kagum pada orang itu, ia sangat sempurna dalam urusan fisik.
Bodyguard menekan tombol lift untuk dimasuki oleh keempat orang itu naik ke lantai paling atas sedangkan bawahannya yang lain lewat lift lain mengingat perbedaan kasta pada orang itu.
“Ahyner, pengamannya sudah diketahui.” Sven berucap setelah melirik pada tablet miliknya yang kini ia simpan di balik jas.
Lift terbuka menampilkan bodyguard yang sudah berdiri di depan sana siap mengawal orang berpengaruh itu.
Aarnes membuka pintu akses di sana dan Ahyner masuk setelahnya diikuti dengan ketiga sekretaris kepercayaan itu membiarkan bodyguard-bodyguard berjaga di setiap sudut gedung klub itu mengingat betapa banyaknya musuh pada keluarga Burner yang sembunyi dari balik tembok.
Ahyner duduk di kursi yang disiapkan untuknya dengan pakaian yang kembali normal. Jas hitam, dasi maroon juga semua kancingnya tertutup terlihat ia sedang mode formal.
“Perpindahan pekerjanya sudah dilakukan hari ini, Mr. Burner, mereka rolling dari klub Seventeen ke klub Romandian,” ucap Daroll selaku salah satu m*******i yang beraliansi dengan Ahyner. Umurnya lebih tua dengan pemuda itu, ia adalah duda dan tak terinput pada seorang wanita belakangan ini.
Pemuda itu hanya melihat saja sebagai respons, ia mengambil pil dari balik jasnya dan memasukkan di dalam mulut. Ahyner melirik sebentar saja lalu kembali berdiri seraya tangannya mengibas sekali di udara dan berjalan keluar dari ruangan itu membiarkan Aarnes yang membereskan tentang penyusup satu itu.
Aarnes menendang tenggorokan orang itu cepat membuat pemiliknya sampai terjengkang ke belakang jatuh dengan sofa yang ikut gugur bersamanya, Aarnes menginjak d**a orang itu lalu mengambil senapan dan mengarahkan tepat di kepala orang itu.
Dor!
Saking cepatnya pergerakan Aarnes sampai penyusup itu tak bisa melawan, bahkan untuk berteriak ia tak diberi kesempatan oleh salah satu orang terhandal dari The Rose on Fire itu.
Danzel menendang salah satu kaca di sana seketika pecah dan ia mengambil sebuah koper di sana, sedangkan Sven mengutak-atik tablet menghilangkan jejak mereka dari CCTV di sini yang bisa ia retas dengan mudah.
Danzel menopang gagang koper itu dengan satu jari tengahnya yang ia topang di bahu mengikuti Aarnes juga Sven yang sudah ada di depannya menyusul pada Ahyner yang sudah membuka pintu.
Aksi mereka begitu cepat, bahkan langkah Ahyner yang beberapa petak saja untuk sampai ke pintu di sana sudah selesai satu urusan mereka untuk mengambil alih klub itu tinggal 20% lagi.
Aksi mereka yang sangat gesit itu yang membuat mereka berempat yang sudah terlatih itu sangat mencuri perhatian dunia sejak sembilan tahun lalu.
Aarnes dan Sven segara mengambil pistolnya dari balik saku membidik orang-orang dari kelompok yang memberontak mereka yang ada di lantai itu.
Ahyner merenggangkan dasinya kembali lalu berjalan turun dari sana menggunakan tangga yang sudah dikosongi untuk dia lewati.
Bos mereka itu segera menarik tangan seorang wanita yang sedang menjadi tamu di sana setelah di ujung tangga lalu melumat bibirnya singkat, Ahyner melepaskan ciuman kilat itu lalu sempat meludah ke lantai dan segera ke salah satu ruangan privat yang ada di sana.
Wanita itu kebetulan berambut kuning keemasan dan mata yang biru itu segera mendapat teriakan heboh dari wanita yang iri.
Ahyner membuka akses pintu dari sidik jari yang ia ambil dari wanita yang bukan sembarang wanita itu, ia adalah putri dari pria yang baru dibunuh oleh Aarnes di lantai atas yang mempunyai akses untuk masuk di ruang privat di klub itu.
Suasana memanas karena mendengar baku tembak terdengar bersahut-sahutan dari pihak Ahyner dengan pemilik klub ini.
Ahyner masuk dan Danzel segera membuka kopernya yang terdapat keamanan berlipat-lipat bisa ia ketahui sehari sebelumnya dan mengakses dengan cepat mengambil chip yang tersimpan di koper itu.
Chip-nya dipasang oleh Sven di laptop yang ada di koper itu juga dan mengutak meretas dengan cepat keamanan yang tersimpan di sana.
Ia segera menghapus data orang-orang mereka yang sempat tertahan di negara Swiss yang beraliansi dengan rekannya tadi, aliansi hanyalah sebuah kata tak bermakna bagi Ahyner. Mereka yakin pemberontak ada di mana-mana, bahkan rekannya sendiri tak menutup kemungkinan.
Saat Sven yang pintar IT itu sibuk, Ahyner memecahkan sebuah box kaca yang terpajang sebuah buku dengan sikunya. Buku legendaris yang sempat ia ketahui menjadi aset di klub ini, salah satu alasan mengapa ia melakukan ini adalah buku itu selain Daroll yang berkhianat padanya membantu salah satu musuhnya untuk menjebak bawahannya yang ada di Swiss minggu lalu.
Lagi pula selain menjadi Mafia, CEO, pembalap dan banyaknya hal itu, ia juga mempunyai hobi membaca, terlebih buku yang tak sembarang orang bisa mendapatkannya. Contohnya yang ada di tangannya kini. Buku yang bilangnya dari leluhur Mafia Australia entah bagaimana caranya ada di tangan Daroll dan dia tak ingin mengetahui itu.
Ahyner membuka jasnya dan menanggalkan di kursi pemilik di sana, ia mengeluarkan kembali bajunya dari dalam celana dan melepas dua kancing atasnya setelah merenggangkan dasi seraya duduk di kursi itu menopang kedua kakinya di atas meja, kemudian membuka buku agak usang itu.
Ketiganya tahu bahwa Ahyner memang suka untuk membaca, ketiga orang itu segera keluar meninggalkan pemilik baru bagi klub paling ternama di ibu kota ini setelah misi mereka berhasil merengut tiga keuntungan sekaligus dari salah satu Mafia Inggris itu, pertama adalah pemilik klub ini, kedua orang mereka terbebas dari tahanan, dan terakhir buku legendaris itu.
Aarnes melirik pada wanita yang tadi sempat Ahyner cium sudah tergeletak di lantai mengeluarkan busa dari mulutnya, tentu saja pil yang tadi Ahyner masukkan ke dalam mulutnya saat ada di ruang VVIP tadi ia salurkan pada wanita yang menjadi pewaris itu membuat ia kehilangan nyawanya selain Ahyner guna mengambil sidik jarinya tadi saat berciuman singkat agar bisa mengakses ruangan pemilik.
Dan tentu saja melihat satu-satunya pewaris juga pemilik dari club ini sudah kehilangan nyawanya mengingat ia tak ada pasangan hidup, orang-orang yang tadi melawan atas nama bosnya kini segera dicap dan chip segera terpasang di belakang leher mereka sebagai orang baru dari kelompok The Rose on Fire.
Sebut mereka kelompok Mafia dari Rofie, yang dikenal sangat gesit dalam menjalankan aksi besar mereka yang tak membuang waktu.
Dipimpin oleh seorang Ahyner Mirachel Gabriel Burner, yang menyandang status The Burning Roses, alias Mawar Terbakar. Kelompok yang sudah menyaingi kelompok The Burning Fire Group yang dikenal bisa menggemparkan dunia dengan aksi gila mereka yang dipimpin tak lain dan tak bukan oleh kakaknya sendiri— Kanzie Glodereus Qiel Burner.
Kini giliran adiknya sendiri yang akan menurunkan kasta kakaknya itu mengingat ia sudah bisa sampai di nomor kedua perusahaan paling berpengaruh di dunia setelah menggusur perusahaan Gloress Diamond milik kakaknya saat berada di posisi keempat.
Banyak hal yang sudah diraih Ahyner, ia memang akan membalap kakaknya itu sedikit lagi mengingat pemilik itu—Kanzie yang tak lagi sangat berfokus pada pekerjaannya seperti sedia kala beberapa tahun belakangan.
Kini Ahyner yang masih berumur muda itu akan menurunkan kakaknya dari posisi pertama. Mengingat Kanzie meraih posisi itu dan di tahun-tahun ke depannya di umurnya yang dulu menginjak 24 tahun walau sempat digusur menggusur oleh perusahaan lain, kini akan diambil alih dan tersingkir oleh Ahyner yang sekarang juga sudah berusia 25 tahun dan yang tercatat menjadi rival paling berat untuk perusahaan ternama itu.
Perusahaan Fire Roses Corp yang dipimpin oleh Ahyner Mirachel Gabriel Burner, selaku adiknya sendiri.