Rasanya jam tak terasa saat ia tetap di tempatnya dengan lembaran demi lembaran yang ia buka sudah di halaman terakhir.
Ahyner melirik pada arloji tangannya yang sudah menghabiskan waktu hampir empat jam membaca buku setebal setengah jengkal. Sebenarnya dari raut yang ia keluarkan tak menampakkan wajah tertarik atau tergugah sama sekali, Ahyner menurunkan kakinya dari meja dan melempar buku legendaris yang ia baca itu ke tong sampah, menyalakan korek api mancis yang berbentuk mawar yang diproduksi oleh perusahaannya ia buang ke tong sampah itu membakar buku yang sudah ia baca. Tak membiarkan seorang insan pun bisa membacanya lagi menjadikan ialah orang terakhir yang dapat membaca halaman itu sampai belakang.
Ahyner membuka pintu ruangan itu lalu menyenderkan bahunya di sisi pintu seraya memasukkan kedua tangannya di saku.
Dasi maroon-nya terenggang dengan dua kancing atas kemejanya terbuka menampilkan leher jenjang yang ia miliki juga mempunyai gambar yang sama seperti punggung tangannya, mawar terbakar. Gambar itu tergambar di sisi samping lehernya.
Mata abu-abu yang tajam seperti elang itu menyapu pada pemandangan sekitarnya yang makin ramai, tak sedikit yang kini menatapnya penuh kagum.
Ahyner mengambil vapor dari sakunya, menyesap benda itu di mulutnya dan mengeluarkan asap, kemeja hitam yang dikeluarkan dari celananya itu juga menjadi sorotan.
Mata itu melirik pada bawahannya yang sedang berkumpul di salah satu spot sofa privat yang amat berkelas terpisah dari tempat-tempat lainnya tengah minum-minum dengan beberapa wanita bersama mereka.
Aarnes yang terlihat meminum Vodka tak menggandeng siapa pun karena ia memang tak ingin dan tak mau terekspos dengan seorang perempuan saat terakhir kali delapan tahun lalu, sedangkan Danzel kini tengah bersama Laura—kekasihnya selama dua tahun ini setelah gonta-ganti pasangan, dan Sven yang terlihat hanya menyesap rokok jenis portable melirik ke arahnya.
Valborg ada di sana dengan membiarkan beberapa kupu-kupu malam duduk di pangkuannya dan sesekali berciuman bergantian, begitu pula dengan Dalbert yang tengah b******u panas bersama satu kekasihnya. Mereka berdua terlihat agak mabuk.
Ahyner berjalan ke arah mereka lalu ikut duduk di sana dengan satu sofa yang tak diisi pastinya khusus untuk ia memang disiapkan mengingat perbedaan kasta mereka memang terlihat. Ahyner merentangkan kedua tangannya di kepala sofa.
Ahyner menendang sisi meja dengan sepatunya membuat botol-botol maupun cangkir alkohol di sana juga asbak yang penuh dengan rokok akibat Dalbert yang memang perokok akut, kini terbalik menghamburkan benda-benda itu di lantai dan pecah membuat mata orang-orang yang terpusat pada Ahyner makin menatap kelompok panas yang sedang dibicarakan oleh media itu.
“Oh, wow. Datang-datang dan menghambur tempat kami. Thanks, Mr. Burner,” ucap Sven lalu kembali melirik pada layar tabletnya saat tadi juga sempat menoleh pada meja kaca yang kini dipecahkan oleh kaki Ahyner.
Valborg tetap saja b******u dengan para wanita di pangkuannya, ia tahu dan hafal bahwa kehebohan itu pasti tak jauh-jauh datangnya dari seorang Burner. Valborg menjauhkan bibirnya melepas ciuman wanita-wanita yang bertautan dengannya melirik pada Ahyner yang juga melihat ke arahnya.
“Ah, Mirachel. Kau tahukan ayahku menjodohkan diriku dengan seorang anak dari rekannya, kau tak seharusnya menghancurkan malam ini yang mungkin tak bisa aku lakukan lagi. Jadi tolonglah kerja samanya,” ujar Valborg lalu mendorong wanita-wanita yang ada di pangkuannya untuk menjauh, sudah terlanjur bad mood dengan ulah Ahyner yang menghancurkan kesenangannya.
Salah satu rekannya itu memang akan bertunangan beberapa bulan lagi, mengingat pernikahan dalam dunia gelap ini hanyalah tak lebih dari sekadar untuk memperbanyak kekayaan dan keuntungan saja.
Ahyner membuang wajahnya dari Valborg lalu menoleh pada Aarnes yang menjauhkan cangkir dari bibirnya.
“Kau tak mungkin tunduk pada istrimu, Mr. Western. Aku yakin kau akan membangkang dan berselingkuh, lihat saja.” Dalbert berucap di sela ciuman ia dengan wanita seksi yang ada di pangkuannya.
Ahyner mengambil ponsel yang sama jenisnya dengan ponsel kakak tertuanya yang harga tak main-main sampai 700 miliar jika dirupiahkan kurang-lebih, yaitu Falcon Supernova iPhone 6 Pink Diamond dari saku celana lalu mengutak-atik setelah mengambil satu cangkir Tequila dari waiter yang mendatangi mereka menyerahkan minuman di atas nampan, menjauh dari dunia nyatanya beralih ke dunia maya.
Danzel melepas ciuman Laura dari bibirnya lalu melirik ke arah lain, ia melihat-lihat situasi sekitar dan mencoba menikmati malam ini yang pastinya besok adalah jadwal yang padat bagi dia dan mereka semua, mengingat malam istirahat ini malah menjadi malam hiburan dan penuh kesesakan.
Tatapan matanya tertuju pada satu kumpulan di sana yang memerhatikan kelompok mereka, tidak, lebih tepat sebagian besarnya adalah Ahyner.
“Hei, hei. Sepertinya aku melihat tipemu, Mr. Burner,” imbuh Danzel melirik ke arah salah satu gadis di sana yang tengah minum.
Valborg melirik pada pandangan yang dituju pada Danzel lalu menaikkan kedua alisnya singkat. “Oh, dia gadis yang kulihat di perusahaanmu, Mirachel.”
Sven mengalihkan pandangannya dari tablet melihat sosok yang dituju oleh Danzel dan Valborg lalu disusul oleh Aarnes juga Dalbert yang ikut memerhatikan. Dan para wanita yang berada di sekitar gadis itu berteriak-teriak kegirangan seperti mendapat undian dilihat oleh kelima orang tampan di sana.
“Wow, dia cantik, Mirachel. Kau harus melihatnya,” ucap Aarnes singkat menaikkan sebelah sudut bibir tipis melirik pada Ahyner yang masih mengutak-atik ponsel.
Sekitar 20 detik rasanya baru Ahyner mengambil respons, ia mendongakkan wajahnya menaikkan dagu melihat wanita yang sedari tadi dibicarakan oleh mereka mengingat dia memang hanya tertarik oleh wanita berambut kuning keemasan dan bermata sebiru laut karena suatu hal.
Sontak suara histeris langsung menggema di sana saat Ahyner—sosok yang sedari tadi dibincangkan panas oleh wanita-wanita di sana melirik pada gadis yang dituju, padahal bukan mereka yang dilihat, tapi tetap saja Ahyner menoleh ke sudut arah mereka mengingat sosok yang dibicarakan oleh Aarnes itu ada di kumpulan sana.
Ahyner terdiam beberapa saat, jarinya terhenti menyentuh layar ponsel saat tadi sempat mengutak-atik walaupun pandangannya beralih.
“Carla?” Ia berucap yang langsung disambut oleh tatapan kelima pemuda berpengaruh lainnya itu serentak.
Ahyner memerhatikan mata gadis itu yang juga mengunci tatapan padanya, hanya dia sendiri yang tak histeris di antara banyaknya wanita-wanita lain yang ada di sampingnya. Mungkin karena terlalu terkejut.
Gadis itu tak berkedip saat menatap mata abu-abu milik Ahyner. Gadis itu mengenakan baju kantoran, jas hitam, kemeja putih juga rok jeans, dan sepatu boots martin sebetis.
Di tangannya menggenggam secangkir gelas alkohol dan satu tangannya lagi menggenggam seutas tali tas selempang miliknya yang tergantung di salah satu bahu. Rambut kuning keemasan yang diurai agak berantakan juga lipglos miliknya agak memudar.
“Carla?!” seru Danzel lalu mereka semua yang ada di sisi Ahyner melirik kepada gadis itu lagi. Siapa yang tak kenal Carla? Sosok yang menjadi asisten alias bibirnya bos mereka bertahun-tahun lalu dan tak pernah terlihat lagi genap satu bulan lagi maka sudah sepuluh tahun.
Mereka tak pernah mendengar sekali pun Ahyner membahas gadis itu, mau ditanya ataupun sesuatu semacamnya, pemuda itu tak pernah menjawabnya, mereka hanya pernah mendengar setiap pemuda ini mabuk, maka ia akan selalu bergumam nama gadis itu.
Sven yang tadinya sempat mengutak-atik tablet dan terkejut juga kini menegakkan punggungnya sama seperti kelima orang terdekat dari Ahyner itu.
“Namanya memang Carla,” ucap Sven membuat Ahyner yang tadinya menggenggam secangkir alkohol kini retak di tangannya. “But... not Carla Carolina.” Ucapan Sven itu tak membuat Ahyner merenggangkan tangannya untuk melepaskan cangkir yang hampir pecah itu.
Ahyner terpaku di tempatnya, gadis itu kini berkedip saat melihat ke arahnya sedari tadi lalu gadis itu menaruh cangkir yang ada di tangannya ke meja dan berbalik untuk muntah di salah satu tong sampah yang ada di sana.
Benar saja, tak lebih dari beberapa detik kemudian cangkir yang Ahyner genggam tadi terpecah di tangannya, dan ia makin menggenggam tangan sendiri membuat pecahan kaca itu menggores kulit miliknya.
“Namanya Carla Calestie Ambrosius, anak bungsu dari keluarga sederhana Ambrosius,” ucap Sven melanjutkan setelah melihat data yang ia lihat dari balik tabletnya.
“Ah, kebetulan? Maybe?” ucap Danzel mengendikan bahunya ragu, karena mereka benar-benar tak tahu apa yang terjadi antara Ahyner juga Carla —alias yang menjadi bibirnya dahulu.
Pemuda itu sangat tertutup pada mereka tentang masalah pribadinya, bahkan tak ada yang pernah mendengar bahwa Ahyner pernah mengucapkan nama gadis itu ketika ia sadar sepenuhnya seperti sekarang. Seperti memang menyembunyikan sangat erat apa yang sebenarnya terjadi pada dia dan Carla, yang selama ini media menebak-nebak keberadaan satu sosok itu yang tak pernah terekspos lagi dengan Ahyner setelah media mengetahui bahwa keluarga termuda dari Burner itu tak benar-benar bisu.
Banyak yang mengatakan ia sudah mati akibat dibunuh musuh dari keluarga Burner itu, dan banyak yang mengatakan Ahyner sendiri yang membunuhnya karena media tahu bahwa dia tak benar-benar bisu dan tak lagi membutuhkan The Lips miliknya, dan banyak lagi dugaan-dugaan yang media buat tentangnya, dan Ahyner tak pernah membuka mulutnya sedikit pun tentang hal itu membuat ketiga sekretaris itu pun tak pernah tahu apa yang terjadi.
Setelah terdiam agak lama, pemuda itu membuka bibirnya. “No, she’s my girl,” ucap Ahyner tegas lalu berdiri dari tempatnya segera menuju ke arah gadis yang masih memuntahkan makanannya di tong sampah.
Aarnes, Danzel, Sven, Valborg, dan Dalbert segera berdiri juga dari tempatnya menyusul ke arah Ahyner yang sudah dekat dengan tempat gadis itu membuat teriakan makin histeris.
Ahyner menarik salah satu pergelangan tangan gadis itu yang menggenggam ujung-ujung tong sampah membantunya untuk mengeluarkan makanan sisa yang tadi bergejolak ingin keluar dari perutnya dan satu tangannya lagi menyeka bibir miliknya.
Ahyner menarik tengkuk gadis itu yang tertutup oleh rambutnya dengan tangan yang masih berdarah lalu mencium bibir gadis itu yang membuat teriakan makin heboh. Terlebih sang gadis, ia membulatkan mata terkejut lalu berusaha agak menjauhkan wajahnya kaku.
Tapi pemuda itu terlalu keras menekan tengkuknya membuat ia susah untuk mundur, ia agak mendorong pemuda yang sangat-sangat dibicarakan oleh temannya tadi sampai terlepas lalu menyeka bibirnya menekukkan alis tanda bingung.
“S-sorry, Sir?” ucap gadis itu yang bergerak sepetak menjauh mundur.
“Carla.” Ahyner berucap yang sangat deep membuat hawa meleleh mendengar suaranya yang dalam itu. Seruan makin heboh setelah mereka mendengar sendiri suara Ahyner yang benar-benar jarang terdengar.
Gadis itu terlihat sangat gelagapan sehabis dicium tiba-tiba begitu saja, apa lagi ia baru saja muntah dan baru mendengar sorakan sekeras ini seumur hidupnya. “Y-yes, it's me?”
Ahyner kembali menarik pergelangan tangan gadis itu lalu menarik pinggang rampingnya sampai bersentuhan dengan tubuhnya mencium bibir gadis itu kembali setelah menyeka bibir sang gadis terlebih dahulu.
Gadis yang disebut Carla itu segera mencoba bergerak menjauh, tapi tentu saja ditahan, ia agak mendorong d**a pemuda itu, terlihat dari wajahnya ia sangat terkejut dan kejadian itu terjadi begitu cepat untuknya tanpa tahu apa pun atau bagaimana cara meresponsnya.
Sampai gadis itu hampir kehabisan oksigen dan wajahnya hampir membiru, barulah Ahyner menjauhkan wajahnya guna mengambil napas, gadis itu terlihat terengah-engah dan mendorong d**a Ahyner agar menjauh.
“Wow-wow! Something’s wrong here,” seru Aarnes yang berada di belakang Ahyner kemudian disusul kelima yang lain. Ia melihat ada penolakan dari gadis satu ini membuat ia melerai.
“Sorry, kau sepertinya mengingatkan dia pada seseorang?” ucap Valborg dengan menaikkan sebelah alisnya pada Ahyner kemudian pada gadis itu yang berusaha menenangkan situasi panas di sana.
“Your name is Carla Carolina?” ucap Danzel dengan menaikkan kedua alisnya tanda agak bingung, ini tak pernah berlangsung sebelumnya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. “No.”
“Liar,” ucap Ahyner yang makin menegas dengan tatapan yang makin menajam menatap lurus pada gadis itu. Rahangnya terlihat mengeras.
“Keep calm, Mr. Burner.” Aarnes bertutur lalu melirik pada gadis itu. “Kau bukan... Carla?”
Gadis itu agak terdiam beberapa saat menoleh bergantian pada keenam orang berpengaruh itu dengan sangat-sangat bingung juga takut. “I-iya... namaku adalah Carla, tapi bukan... Carla Carolina, namaku Carla Calestie.” Perkataan itu membuat Aarnes yang tadi menatapnya kini melirik lagi pada Ahyner yang mengepalkan tangannya yang masih penuh darah itu.
“No, Sir. Keep calm, she's not,” ungkap Aarnes setelah mendengar itu, ia merasa bahwa Ahyner agak terpengaruh alkohol kali ini, dengan pengaruhnya yang membuat dia mengingat kembali pada sosok gadis yang tak lagi bersamanya selama 10 tahun belakangan dan ketika melihat ke arah gadis ini maka ia teringat, dan itu agak wajar karena memang rambut wanita ini kuning keemasan juga beriris biru laut sama persis seperti asisten Ahyner dahulu yang mereka lihat dari layar. Tapi bukan berarti karena ciri-ciri itu dia adalah Carla yang selama ini berada di sisi bosnya dahulu.
“Maaf, Sir. Kau salah orang,” ucap gadis itu lalu mundur dengan agak takut kemudian berjalan cepat meninggalkan keenam pemuda itu. Ia tahu bahwa mereka adalah Mafia, jadi ia tak bisa sembarangan untuk bertindak di sekitar mereka.
Ahyner mengepalkan tangannya amat dongkol, ia membuang dasinya ke sembarang arah lalu berjalan pergi dari depan bartender itu disusul kelima yang lain.
“Wow, kau mabuk, Mr. Burner. Tenanglah,” ujar Danzel yang mengikuti Ahyner pergi ke meja bar di sana lalu mengambil sebuah botol Rum menuju ke ruang VVIP di tempat itu.
Ahyner menggelengkan kepalanya mengingat tadi, apa dia terlalu mabuk sehingga melihat gadis itu seperti Carla? Tapi tak mungkin karena mengingat dia tak lebih dari satu cangkir meminum alkohol itu bisa membuat ia berhalusinasi. Ia tak selemah itu.
Ahyner duduk di salah satu sofa dengan menatap lurus ke arah depan, tatapannya berkali lipat tajamnya seperti biasa.
Sekarang mereka tahu satu hal, bahwa bukan Ahyner yang membuang atau apa pun isu yang bilang bahwa Ahyner melenyapkan gadis itu dari sisinya.
“Dia hilang, Ahyner?” ucap Aarnes hati-hati melihat bosnya itu masih terlihat sangat kesal.
Ahyner tak menggubris, ia meminum alkohol yang ada di tangannya dengan gusar, seolah telinganya seketika tuli dan ia tak mendengar sama sekali apa yang dibicarakan oleh kelima orang itu.
Ia tak pernah merasa seseorang adalah Carla selain gadis tadi yang benar-benar mirip dengannya, tapi kenapa dia bersikap seolah tak mengenalnya? Kenapa selama ini dia pergi darinya? Kenapa dia menghilang begitu saja? Apa salahnya? Apa yang gadis itu pikirkan sehingga meninggalkan dirinya?
Ahyner menghempas botol alkohol itu ke dinding lalu mencengkeram kepalanya sakit. “Get out.”
Seketika ucapan itu terlontar dari bibirnya sangat tajam dan penuh dengan peringatan, kelima orang itu segera keluar dari sana dengan perasaan yang campur aduk dan penuh tanda tanya.
Ahyner teringat kembali pertanyaan yang selalu ia pikirkan setiap hari karena kehilangan gadis itu, ia merasa tak lengkap dengan tak hadirnya sosok itu di sisinya selama 10 tahun ini.
Jika gadis itu memang bukan Carla, lalu mengapa dia sangat merasa bahwa gadis itu adalah The Lips-nya? Gadisnya yang selama ini menghilang dan menghantui pikirannya tiap saat mengingat buntunya ia jika membahas soal Carla di otaknya.
Tapi jika itu memang Carla, mengapa dia tak mengaku? Mengapa dia pergi? Mengapa dia merasa asing dengannya?!
Ahyner mengidap gangguan Psikosomatis selama sembilan tahun ini, penyakit yang melibatkan pikiran dan menjalar pada tubuh hanya karena mengingat dan terlalu memikirkan apa yang membuat Carla pergi darinya. Apa karena ia bisa bicara makanya dia pergi? Apa ia merasa tak berguna?
Ahyner makin mencengkeram kepalanya merasa bahwa kepalanya sangat sakit, penyakit depresinya kambuh setelah melihat gadis yang ia rasa adalah sosok yang selama ini ia cari. Gadisnya, Carla miliknya.
Ahyner tak bisa berhenti berpikir di dalam kepalanya, membuat darah mengalir dari telinga dan hidungnya tak sanggup untuk mengungkapkan seribu pertanyaan yang ada di otaknya kini membuat dampaknya makin parah. Depresi kronis distimia, yang mengganggu dirinya selama bertahun-tahun ini berusaha ia tutupi dan bahkan ia sampai mengalami cedera otak saking tak kuat untuk menjawab semua pertanyaannya sendiri.
“Damn!” Ahyner menyeka hidungnya yang mengalir oleh darah itu, mengingatkannya kembali pada situasinya yang seperti ini terakhir kali ia alami saat seminggu setelah hilangnya Carla dan kini muncul kembali setelah 10 tahun.
Gadis itu tak pernah luput dari ingatannya sebentar saja, mengingat pengaruh besar dari gadis itu sangat memengaruhinya bahkan sampai 10 tahun lamanya.
Ahyner mencoba berpikir jernih sejernih-jernihnya. Jika dia adalah Carla, dia tak seharusnya mengelak begitu saja dan pasti jika tujuannya adalah menjauh dari dirinya, mengapa ia menampakkan diri tepat di depan wajahnya jikalau memang rencananya adalah menghindar dari dia? Berpikirlah jernih, Ahyner.
Darah mulai berhenti mengalir beberapa detik sebelumnya dan benar-benar berhenti saat otaknya meyakinkan dia bahwa gadis itu bukan Carla.
Ahyner menyeka darah dari hidungnya yang tak pernah keluar darah selama sepuluh tahun ini mendecap geram. Orang ataupun musuhnya memang tak bisa menyerang dia sampai berdarah seperti ini, tapi dia sendiri yang menyebabkannya membuat pemuda itu makin jengkel.
Sesuatu bilang padanya jika itu adalah Carla, tapi otak dan pikirannya bersikeras bahwa itu bukan Carla jika logisnya memang selama ini ia simpulkan Carla pergi menjauh dan menghindar dari dia, mengapa ia muncul kembali? Tak mungkin ia akan mengambil risiko sebesar itu mengingat bahwa Ahyner sangat mengenalnya dan pasti dapat mengenali dirinya saat berada di depan matanya. Jadi itu menutup kemungkinan jika ia adalah Carla miliknya.
Tapi kenapa sesuatu bilang bahwa itu adalah Carla?! Ia tak tahu hal apa yang berlawanan dengan pikirannya kini. Ia memang selalu berpikir logis dan ia akan berpikir yang sangat masuk akal di dunia ini dengan teori ataupun hukum alam maupun ilmiah. Jadi ia agak bimbang dengan apa yang mencoba melawan pikirannya itu.
Ahyner menyentuh telinga kanannya itu yang mengalir satu tetes darah menodai tindik yang ia pakai kemudian menyekanya kasar.
“Asshole.” Ia bergumam lalu melap setetes darah itu dengan sapu tangan sekaligus menyeka darah yang tadi sempat mengalir dari tangannya.
Tak ada di dunia ini yang tak bisa dijelaskan oleh teori, semuanya bisa dipikirkan secara logis saat ia berusaha berangan bahwa dunia memang ingin dia berpikir seperti itu.