“Tidak-tidak! Aku tidak tahu.”
“Tapi Mr. Burner bilang kau adalah Carla! The Lips yang dikabarkan tak pernah terlihat lagi selama 10 tahun ini saat ia menjadi Mafia.”
“Apa yang terjadi padamu dan Mr. Burner?”
“Kenapa kau bisa ada di sini dan tak terlihat lagi? Kau sembunyi di mana?”
Gadis itu terus menggelengkan kepalanya. “Bukan! Aku bukan Carla yang dimaksud Mr. Burner, kalian percayalah! Aku bukan—”
“Tapi kenapa dia bilang kau adalah Carla?”
“Tapi namamu ada Carla!”
“Oh my God, aku memang Carla, tapi bukan Carla yang dimaksud! I don’t know!” Carla mengacak rambutnya frustrasi mendengar penuturan teman-temannya yang tak ada habis selama setengah jam ini, bahkan banyak yang bukan temannya ikut menanyakannya juga.
Carla mencoba menjauh dari kerumunan orang itu dan tetap saja terhalang dengan desakan para wanita-wanita itu.
“Bagaimana bisa?!”
“Aku tidak tahu!” Carla menggelengkan kepalanya mengelak, ia benar-benar tak tahu dan ini semua terjadi begitu saja.
“Tapi ....” Jennifer Jessica Adams, teman dari Carla yang selama satu tahun ini, dia mengecek ponselnya dan menunjukkan tepat di depan wajah gadis itu. “Kau sangat mirip dengannya! Bodohnya aku tak menyadari selama ini!”
Carla melihat seorang gadis yang fotonya sedang berada di sisi saudara termuda dari keluarga Burner itu sangat mirip dengannya, lalu menggelengkan kepala tak mengerti. Ia memang pernah melihat dan membaca kisahnya, tapi ia sama sekali tak ke pikiran bahwa itu adalah dirinya, nyatanya dia adalah anak termuda dari keluarga kecilnya sekarang, sedangkan informasi yang pernah ia baca ialah jika Carla yang dimaksud itu sudah tak memiliki keluarga.
“Aku tak tahu, itu hanya lah kebetulan! Kau tahukan tentang doppelganger di dunia ini? Mungkin saja... aku adalah satu satu doppelganger dari Carla yang dimaksud oleh Mr. Burner itu,” ucap Carla mengedikan bahunya mencoba meyakinkan teman-temannya yang mulai terpengaruh.
Ia kembali berjalan meninggalkan orang-orang kepo itu di lorong klub dan pergi ke sembarang arah tapi tetap saja dikejar.
“Tapi bagaimana bisa? Rambut dan warna mata juga bentuk wajahmu benar-benar persis sama,” ucap Adaline Barats selaku teman Carla juga selama ia kuliah dahulu dan sempat menjadi teman sekamar di asrama.
Carla mengedikan bahunya kesal karena terlalu banyak dikerumuni dan itu membuat ia sesak. “Tidak tahu, sebab itulah ada yang namanya kebetulan di dunia ini.”
Carla berlari dengan menyesuaikan dirinya yang tengah memakai boots matrin high heels, ia tak tahu sedang ada di bagian mana di klub itu karena ini kali pertama ia ke sana membuat ia tersesat.
Carla berlari ke balkon dan menutup pintunya membiarkan Jennifer dan Adaline— selaku teman dekatnya, yang hanya bisa masuk bersamanya membiarkan para wanita-wanita yang tergila dengan Ahyner itu tak bisa masuk membuat kegaduhan dari balik pintu dan ketiganya berlari menjauh dari sana.
“Oh, wow! Beritanya sudah sampai pada ibuku di New York,” ucap Jennifer dengan tersenyum menggoda pada Carla di sela lari mereka. “Sebentar lagi kau akan terkenal karena ini Carla. Tak apa jika itu memang bukan dirimu, tapi... berarti selama ini berita tentang asisten yang tak pernah terekspos lagi itu salah jika dibunuh oleh Mr. Burner? Nyatanya ia tadi ingin menarikmu karena mirip dengan Carla-nya. Oh, kau tak akan tahu seberapa posesif dan dekatnya diri mereka dahulu saat kita ini masih 14 tahunan. Saat ada Mr. Burner, pasti gadis itu ada di sisinya.”
Carla ikut membuka ponselnya masih dengan berlari melihat dengan tercengang berita dia adalah Carla yang tak pernah terlihat lagi di sisi Ahyner menyebar begitu cepat, dari grup angkatan sekolah, perguruan tinggi, dan ratusan temannya langsung mengirimnya pesan yang sangat membeludak berisi keterkejutan yang juga ia rasakan. Berisi mereka semua tak menyangka dan tak menyadari bahwa wajahnya memang nyaris sama dengan Carla yang selalu di sisi Ahyner.
“Oh, wow! Tiba-tiba saja seluruh dunia mencariku, ini tak benar!” Carla menggelengkan kepala heran, mematikan ponselnya yang tak bisa berhenti berdering sedetik saja dan berhenti berlari dengan Jennifer dan Adaline yang ikut ngos-ngosan. Mereka berhenti di dekat pintu lain dari balkon yang sudah lumayan jauh dari tempatnya mengunci pada fans dari Ahyner.
Adaline tersenyum pada Carla lalu menyikut gadis itu pelan. “Aku sangat iri padamu, Carla. Jika saja diriku yang mirip, maka aku yang akan dicium oleh Mr. Burner.”
“Ya! Dan aku ingin tahu rasanya dicium oleh orang yang sangat berpengaruh seperti Mr. Burner di depan umum seperti dirimu, Carla!” Jennifer berseru girang juga.
Carla menjilat tipis bibirnya. “Padahal aku tadi... baru muntah, ew.” Ia mengingat kembali saat-saat peristiwa itu terjadi, untung saja ia tadi sempat melap bibirnya yang habis muntah tak tahan minum alkohol yang memang sedari dulu dilarang untuk meminum itu oleh orang tuanya.
“Oh astaga, Carla!! Your first kiss!!” seru Jennifer bersamaan dengan menggenggam tangan satu sama lain melihat Carla yang terlihat membulatkan matanya.
Carla menyentuh bibirnya lalu menggigit bibir itu takut. “Aku pasti akan dimarahi oleh Arvid!!” Mengingat kembali bahwa beritanya tersebar, itu tak mungkin tak akan terdengar pada kakak sulungnya, Arvid Ambrosius.
“Tak mungkin, dia adalah Ahyner Mirachel Gabriel Burner, Carla!! Pemimpin perusahaan kedua berpengaruh di dunia dan sudah menginjakkan perusahaan itu ikut mengambil posisi di hectocorn yang omsetnya sudah lebih dari 100 miliar dolar, kau gila Arvid akan marah?! Pasti si mata duitan itu akan senang!” Adaline menepuk pundak temannya itu kasar.
“Dia tetap saja Arvid, Adaline! Dia akan mengadu pada mom and dad!” Carla membayangkan mimpi buruk baginya, Arvid adalah kakak laki-laki satu-satunya, dia sangat dekat dengan Carla yang selalu bersamanya sedari kecil. Bahkan dia yang melarang Carla untuk tak boleh meminum alkohol, mengonsumsi obat-obatan, dan masuk ke klub, padahal umurnya yang sudah cukup dan bisa masuk untuk mengetahui apa itu remang-remang sebuah bar dan klub, dia yang membuat peraturan itu untuk Carla.
“Mungkin saja Arvid yang akan marah karena kau masuk ke tempat ini, tapi tidak mungkin jika ibu dan ayahmu, aku akan pastikan itu!” Adaline berucap dengan penuh percaya diri, seperti sangat yakin dengan apa yang ia katakan.
Carla menepuk kedua pipi tirusnya sendiri, dia akan membayangkan dirinya tidur di ruang tamu mengingat dahulu Arvid pernah memberitahu bahwa ia tak mengerjakan tugas kimia dari guru dan dihukum pada kedua orang tua mereka sehingga ia juga mendapat hukuman di rumah.
“Wow, tak dapat dipercaya! Kau sudah masuk berita internasional, Carla.” Jennifer berucap dengan tersenyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Carla memutar kedua bola mata lalu kembali berjalan menoleh pada situasi sekitar untuk aman jika ia berjalan dan tak diserbu oleh para wanita yang tergila-gila dengan Ahyner.
“Itu bukanlah sebuah penghargaan, Jennifer! Jika saja aku menjadi tokoh orang terkaya di dunia ini karena hasil kerja kerasku, mungkin aku akan bangga, tapi jika karena dicium dan dituduh sebagai Carla asisten dari Mr. Burner yang hilang selama ini, maka itu sama sekali tak berkesan!” Carla melangkah dan hampir saja membuka ganggang pintu yang langsung ditepis oleh Adaline yang terlihat mengerutkan keningnya.
“Tapi kau dicium oleh seseorang yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia ini, Carla. Kau harusnya bersyukur karena itu dialami olehmu, tak sembarang orang bisa begitu. Kau harus lebih bisa mensyukuri apa yang telah ditentukan oleh takdir.” Adaline berucap lalu mengambil kacamatanya dan memberikan pada Carla yang terlihat sedikit ketus. “Dan pakai ini untuk penyamaran tingkat bawah, mungkin saja mereka tak akan mengenalimu.”
Carla mengambil dan memakai kacamata hitam dan menutup wajahnya menggunakan sapu tangan, begitu pula dengan Adaline juga Jennifer yang juga melakukan penyamaran. Pasti wanita-wanita di sana akan mencari mereka untuk dikoyak-koyak mengingat Carla yang mengunci mereka semua di ujung sana bahkan gedorannya masih terdengar. Maka dari itu dibutuhkan penyamaran seadanya mengingat mereka tak membawa persiapan apa pun untuk menghadapi situasi tak terduga seperti ini.
Mereka keluar dari balkon melihat para wanita mulai makin banyak menuju tempat tadi dia menutup mereka semua dan sekarang mulai mendobrak.
Carla terdiam sebentar merasakan gejolak tak enak lagi dari tenggorokannya. “A-aku... aku ingin muntah,” bisiknya yang menahan cairan sisa itu di tenggorokannya.
“Nanti saja, Carla! Ingatlah ini belum aman.” Jennifer berucap sepelan mungkin yang terpaksa Carla ikuti dengan mengangguk kecil, menelan kembali muntahnya yang bukan main amat menyiksa.
Carla, Jennifer, dan Adaline mulai berjalan dengan cepat menjauh dari lantai dua di situ untuk turun. Mereka berlari dengan cepat untuk ke bawah dengan melirik ke arah belakang takut jika dipergoki.
Bruk!
Jennifer tertabrak dengan seseorang yang ada di ujung tangga dengan menarik bahu Adaline yang ada di belakangnya dan Adaline menarik bahu Carla, sehingga Jennifer dan Adaline terjatuh sedangkan Carla sendiri hampir saja ikut-ikutan membentur lantai, tapi untungnya ia berpegangan dengan gagang tangga sehingga ia tak mencium keramik, hampir saja ia muntah tapi untungnya tertahan di ujung tenggorokannya.
Mereka bertiga segera melirik pada sosok yang mereka tabrak, Danzel Ackerley Allen, alias salah satu dari keempat Antithesis Quattour yang sedang memuncak nama ketuanya itu.
Kedua tangannya di simpan di kedua saku menatap mereka bertiga bergantian dengan matanya yang tajam nan datar itu, saat pandangan orang-orang terpaku pada satu orang yang ikut namanya menggemparkan dunia itu menjadi pusat perhatian. Carla tak membuang waktu, ia langsung lari meninggalkan kedua temannya yang masih terpaku menatap pada Danzel yang amat tampan kini tatapan pemuda itu terkunci pada dirinya yang lari.
Tapi Carla tak peduli, daripada menjadi santapan orang-orang, ia lebih baik pergi lebih dahulu mengingat yang sedang diincar adalah dia, bukan temannya. Bisa saja ia muntah kembali di depan umum dan pingsan karena jumlah mereka makin banyak, bahkan ia melihat reporter juga jurnalis ada di sana saking mencari pundi-pundi dolar meliput tentang seorang Ahyner Burner.
Carla kadang agak sesak berada di tengah keramaian, apalagi sekarang media ikut turun tangan membuat ia yang tak pandai bicara saat presentasi makin tercekat.