Jam kelas sepuluh pagi, Seorang dosen tua dan botak menjelaskan materi “Apakah kalian sudah mendengar tentang Dark Forest? Hutan Hitam ini adalah areal hutan yang luas di negara bagian Baden-Württemberg di barat daya Jerman. Hutan ini dikelilingi oleh Lembah Rhein dari bagian barat sampai selatan. Puncak tertingginya berada di Feldberg dengan ketinggian 1.493 m. Wilayahnya berbentuk segitiga dengan panjang 160 km (99 mi) dan lebar mencapai di siang hari hutan ini suasananya masih gelap. Kealamiannya yang belum tereksploitasi oleh manusia yang membuat hutan hitam atau dalam bahasa Jerman Schwarzwald ini menjadi salah satu destinasi wisata tujuan bagi turis yang mengunjungi Jerman.”
“Schwarzwald terdiri atas dua taman alam yaitu Schwarzwald Naturpark Mitte/Nord seluas 375.000 hektar di bagian utara dan Schwarzwald Naturpark seluas 370.000 hektar di bagian selatan. Keduanya memiliki titik temu di kota Triberg.”
“Ada yang tahu kenapa hutan ini di namakan Dark Forest?” tanya Dosen pada seluruh Mahasiswa
Lalu seorang cewek cantik berambut pirang mengangkat tangan, ia menjelaskan “Sepertinya di pengaruhi karena sepanjang akhir musim gugur sampai akhir musim dingin, matahari hanya menyinari Dark Forest sampai pukul 14.00 waktu setempat. Setelah itu, Dark Forest menjadi benar-benar gelap sampai pukul 08.00 pagi waktu setempat. Pohon-pohon cemara dan pinus tumbuh lebat dan menjulang tinggi puluhan meter. Hal itu menyebabkan suasana di dalam hutan menjadi gelap dan hanya terlihat bias-bias cahaya matahari. Meski saat kita datang pada siang hari!”
“Namun pak, Papa ku bilang bahwa di balik keindahan hutan tersebut, konon menjadi rumah bagi makhluk mitologi,” tegas cewek berambut pirang.
“Ya. Kalau Jepang punya Hutan Aokigahara, maka Jerman punya Dark Forest. Hutan ini menjadi satu dari lima hutan paling menyeramkan di dunia. Di balik kecantikan lanskap alam, pedesaan, air terjun dan kastil, Dark Forest memiliki sisi yang disebut-sebut menyeramkan. Hal itu bisa Anda buktikan saat menjelajahi hutannya jauh lebih ke dalam,” tegas dosen dengan jelas
Lalu ia melanjutkan “Dark Forest makin terkenal menyeramkan oleh Grimm Bersaudara, kakak-beradik Jakob dan Wilhelm Carl Grimm asal Jerman yang merupakan para novelis dan pembuat cerita dongeng di abad ke 17-18. Mereka sering menceritakan Dark Forest dalam karangannya sebagai tempat tinggal mahluk-mahluk mitologi seperti penyihir, manusia serigala dan kurcaci.”
Dan memang benar, menurut pengakuan seorang kakek. Di tengah hutan Black Forets ada satu gubuk reot yang sangat jauh dari pedesaan. Gubuk reot itu di huni oleh seorang kakek berusia lebih dari enam puluh tahun. Ia terlihat sangat menyeramkan karena wajahnya penuh luka dan oleh rambut putih acaknya. Ia mengaku bekas luka di wajahnya adalah goresan yang di akibatkan cakaran serigala.
Namun siapa sangka, kakek menyeramkan itu adalah pahlawan bagi habitat hutan. Selama tiga puluh tahun ia mengabdikan diri untuk menjaga dan melindungi hutan dari para pemburu, meskipun berbicara atas nama wisatawan.
Kalian tahu. Jangan Coba-coba masuk hutan ini pada malam hari, karena memang tujuan kakek ini menangkap makhluk mitologi yang ia yakini masih ada sampai sekarang. Karena setiap kali ia berjaga malam, telah sering ia mendengar lolongan keras serigala saling Sahut. Bukan hanya lolongannya tetapi auman dan suara mereka mempertahankan wilayah mereka.
Apalagi di penghujung musim panas, ia sering mendengar para serigala memburu kijang dan rusa. Dan bagi serigala itu tak butuh waktu yang cukup lama untuk menangkap hewan itu, karena kekuatan dan kecepatannya dalam memburu.
Siapa yang tahu, menurut kakek itu serigala yang satu ini bukanlah serigala pada umumnya, tetapi jelmaan dari manusia. Karena ketika fajar tiba, bangkai hewan itu memiliki bekas gigitan seperti gigitan manusia, sangat berbeda dengan gigitan hewan buas seperti serigala dan harimau.
Kakek itu meyakini berdasarkan kisah-kisah tentang manusia Serigala yang telah turun temurun di warisi oleh buyutnya. Dari itu, ia tak menyarankan bagi wisatawan datang berkunjung ke hutan ini. Atau jika ingin pergi ke hutan tersebut maka di sarankan di siang hari dan keluar hutan jika terbenam matahari. Karena memang makhluk mitologi ini adalah makhluk nokturnal yang melakukan aktivitas di malam hari.
Hingga di dingin malam, Kakek berusia enam puluh tahun itu mempersiapkan diri. Katanya tubuh manusia Serigala hanya bisa tertembus oleh peluru berbahan perak. Meskipun hal itu belum pernah ia lakukan namun ia meyakini apa yang di katakan buyutnya itu memanglah benar.
Selain itu, manusia Serigala hanya takut pada satu hewan yang lebih ganas dan lebih buas darinya, tetapi kakek itu tidak mengetahui dan belum menemui hewan seperti apa yang di maksud. Buyutnya hanya bercerita padanya, tentang hewan tersebut bahwa ia memiliki mata yang bersinar ketika di malam hari.
Selain kakek itu meyakini akan adanya manusia Serigala, seorang pastor di gereja tua pun meyakini hal yang sama. Biasanya untuk melihat Kemunculan manusia Serigala, Pastor itu melihat dan merasakan arah embusan angin dan menghitung hari terlihatnya bulan di langit Jerman.
Keyakinannya, jika angin berembus dari arah Barat di tepi gereja tua dan masa tiga hari bulan terlihat dari arah barat maka kelompok manusia Serigala akan datang ke salah satu gereja di Jerman pada tengah malam. Namun hal itu tidak bisa di prediksi, kadang mereka datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda yang di yakini itu. Mereka seperti mempersembahkan sesuatu di malam itu, semacam ritual untuk kebaikan kelompok mereka.
Pada waktu itu tiba, Pastor itu pun keluar dari gereja, ia melihat ke arah pergerakan daun pohon di tepi gereja. Dan terlihat daun itu tertiup angin ke arah timur. Ia pun membatin “Semoga tidak terjadi sesuatu hal di luar dugaan. Amin.”
Tetapi pada pagi harinya, para pengunjung gereja tua itu terkejut melihat Pastor tergeletak berlumuran darah di lantai gereja. Untung saja nyawanya masih bisa tertolong. Di hari kesembuhannya, ia akhirnya bercerita.
“Aku sudah merasakan hal aneh ketika aku bangun di jam dua belas malam karena mendengar lonceng berbunyi keras. Aku yakin itu tidak di sebabkan oleh terpaan angin tetapi oleh kesengajaan tangan manusia.”
“Aku keluar dengan peralatan yang di yakini sebagai penangkal makhluk buas. Seperti memakai baju yang di lapisi perak, karena memang konon mereka tidak bisa mencium bau tubuh manusia. Dan aku membawa senapan berpeluru tiga perak.”
“Namun benar dugaan ku, aku melihat mereka berkumpul di depan patung bunda suci sedang menyembahkan sesuatu. Aku tidak tahu hewan yang mereka sembahkan untuk siapa? Yang jelas bukan untuk bunda yang suci karena ritualnya tidak pernah di ajarkan di ajaran agama mana pun.”
“Aku saksikan mereka sampai ritualnya selesai. Namun ketika dari mereka membaca mantra-mantra terakhir, tiba-tiba datang serigala dari belakang ku. Serigala itu Tinggi dan sangat besar, tak bisa ku bayangkan ada serigala sebesar itu.
Lalu ia Menerkam ku secara buas. Dan senapan yang ku genggam tak bisa ku tembakkan padanya.”
“Untung saja tuhan menyelamatkan ku, Tuhan Datang kan waktu fajar hingga mereka meninggalkan ku.”