Siang di ujung musim panas. Tanpa Kayshifa dan Nicholas, Eliosia mengajak Eiji ke tempat favoritnya yaitu di Sungai Rhein. Ia rasa pria Asia itu sudah pantas ia kenalkan dengan tempat favorit yang memiliki sejarah penting baginya ini. Karena menurutnya, Eiji tak akan bertanya mengenai alasan mengapa ia mengajaknya ke suatu sungai Rhein ini.
Eliosia pertama kali di perlihatkan sungai tersebut saat ia berusia dua belas tahun bersama Papa dan saudari kembarnya. Mereka duduk menikmati pemandangan dan sejuknya di tepian sungai. Papanya pun bercerita bahwa di jembatan Eiserner Steg yang berjarak beberapa meter dengan mereka dikenal dengan jembatan gembok cinta.
Jembatan yang pernah hancur akibat terkena pengeboman Wehrmacht saat Perang Dunia II itu sering di kunjungi pelancong asing atau pun lokal karena di yakini memiliki Tradisi gembok cinta agar pasangan awet jodoh. Dari itu ratusan bahkan ribuan gembok yang dipasang pada besi penyangga jembatan di bagian sisi dan kanannya. Gembok-gembok yang dipasang di jembatan Eiserner Steg ini digrafir dengan nama pasangan kekasih atau suami istri, tanggal anniversary, hari jadi hubungan asmara pasangan kekasih dan lain sebagainya.
Namun pada usia dua belas tahun tersebut, Eliosia tak ingin memasang gembok untuk pasangan asmaranya tetapi ia berharap ketika nanti ia memasang gembok di sisi besi penyangga jembatan, ia akan menulis surat tentang penyakit yang ia derita agar lekas sembuh dan tidak lagi membebani keluarganya.
Seusai Papanya bercerita, Eliosia menarik tangan Papa dan saudari kembarnya lalu mengatakan keinginannya bahwa ia ingin memasang gembok di jembatan. Tetapi keinginannya ini harus bersifat rahasia tidak boleh Papa dan saudari kembarnya mengetahui, sebab pasti akan mengundang rasa iba pada mereka. Eliosia tidak ingin hal itu terjadi.
Ia telah lama menjadi beban keluarga mereka, Sampai-sampai penyakit yang ia derita tersebut telah membuat resah semua keluarganya, pasalnya usia Eliosia di vonis oleh dokter yang menanganinya bahwa dia tidak akan berumur panjang atau paling lambat hidupnya sekitar satu tahun mendatang, terkecuali datang sebuah mukjizat mengilhami tubuh rentanya.
“Baik,” kata Papanya. Saudari kembarnya itu pun memunculkan rasa haru pada senyumnya, seolah ia memahami bahwa Eliosia pasti menulis untuk kesembuhan dirinya atau semacam surat wasiat sebelum usianya tertutup oleh waktu.
Setelah menulis di kertas berwarna lalu mengaitkannya, sembari itu pula Eliosia berdoa. Semoga jembatan yang memiliki tradisi lama ini bisa mengabulkan keinginannya, dalam batinnya. “Amin.” Ucap saudari kembarnya tersenyum lalu memeluk Eliosia.
Sungguh jelas ketika Eliosia teringat semua yang berkaitan dengan semua itu ia akan meneteskan air mata, nyatanya ia berhasil melewati masa kritisnya tahun lalu dan sampai sekarang ia masih hidup berkat pertolongan organ tubuh saudari kembarnya yang tertanam di dalam tubuhnya.
Meski sampai detik ini ia menyesali perbuatan saudari kembarnya mengorbankan nyawanya demi dia, ia pun menyadari jika terlalu larut dalam kekecewaan hanya akan membentuk kesedihan yang tiada akhir. Lagi pula ia yakin saudari kembarnya akan bersedih di atas sana jika ia terlalu menyesalinya. Saudarinya telah ikhlas maka seharusnya ia menjaga amanatnya.
“Ada apa denganmu Eliosia?” tanya Eiji dengan sederhana.
“Apakah kamu ingin membantu ku mengucapkan Amin tanpa bertanya aku meminta apa saat doa?” tanya balik Eliosia penuh harap.
Eliosia pun mengepal lalu mengangkat tangannya ketika Eiji menyanggupinya. Ia pun membatin, “Tuhan maha pengasih, terima kasih telah Engkau datangkan saudari yang baik padaku. Cahaya matanya masih dalam puncak bayangan ku apalagi saat ia memeluk ku dengan kehangatan yang tak pernah ku duga bisa menyejukkan hatiku. Tuhan, sekaligus aku berharap Engkau menempatkan saudariku di sisi yang paling sejuk dan ketika turun hujan biarkan dia menyapaku sambil tersenyum diantara aliran air yang mengelok itu. Kemudian aku mengucapkan padanya bahwa kami sayang padanya.”
“Ini bukan sesuatu yang mustahil Eliosia, ketika aku memanjat doa pasti Tuhan mengabulkannya,” ucap Eiji saat selesai mengaminkan doa Eliosia.
“Semoga seperti itu,” sahut Eliosia tersenyum.
Hal yang membuat Eliosia rindu pada tempat ini adalah cuaca sejuk dan panorama saat senja, di tepian sungai saat berada di kota tertentu, sangat jelas pemandangan Kastil kuno yang masih utuh terlihat kemegahannya. Kebun anggur tercium khas wanginya menjadi serat kekaguman dalam dirinya.
Sungai ini bukan hanya menampilkan pengetahuan sejarah namun memang pantas di puji kekayaan alamnya. Eliosia kira semua yang berhubungan dengan sungai favoritnya ini harus di ketahui pula oleh Eiji, sebab ia adalah pria yang pertama kali ia ajak kesini. Itu artinya dalam batinnya saat terakhir datang sendiri kesini, ia pernah berjanji dalam satu kalimat ikrar yang menurutnya harus ia genggam tanpa terkecuali.
Bahwa pria yang datang bersamanya ke sungai Rhein ini adalah seorang yang dia percaya atau bahkan bisa menganggapnya lebih dari itu. Semisal memang bintang itu menenangkan ketika di pandang di malam hari, maka pria itu lebih menenangkan di semua hari.
Saat teringat janjinya itu, Eliosia langsung membuka bibirnya kemudian menjelaskan pada Eiji tentang sungai favoritnya ini. Jelasnya sungai ini melewati beberapa negara di Eropa dan merupakan jalur perdagangan penting ke Eropa Tengah sejak zaman kuno.
Tetapi Eiji rasa ia tak membutuhkan penjelasan lengkap mengenai sungai terpanjang di Eropa ini, baginya yang tak bisa di lewati itu memandangi wajah anggun Eliosia, baginya bunga-bunga, wangi anggur, Kastil yang megah di tepian sungai yang ia lihat tak sebanding dengan cantik, harum dan kemewahan aura Eliosia.
Memandangi wajahnya tak mempunyai istilah meski itu cantik, sebab istilah itu bersifat luntur dan kaku. Ketika ia di ucapkan berkali-kali maka lambat laun akan terasa jenuh. Tetapi wajah Eliosia itu baginya abadi, abadi dalam kelelapan ketenangan yang amat dalam bagai ketika memandangi wajahnya seketika terhipnotis oleh pesonanya.
“Aku tak ingin menjadi apa-apa, aku hanya ingin berada di dekatmu Eliosia,” ucap Eiji dalam batinnya
Bukan hanya memandangi wajahnya, Eiji pun merasa ketika ia berada di sebelah sisi wanita yang memiliki mata bulat ini, ia merasa bagai di sebuah surga, meski ia tak pernah melihat keindahan surga, tetapi hati dan pikirannya sejuk oleh Eliosia.
Ini pertanda buruk, apa mungkin Eiji jatuh cinta pada Eliosia sedang ia telah berjanji saat terpisah dengan Uzimi tak ingin lagi mencintai seorang wanita.
Kisah asmara saat kecilnya masih melekat dalam kepala Eiji, bagaimana pun ia melupakan kisahnya dengan Uzimi maka saat itu ia akan semakin merindukannya. Apalagi ia rasa persis ketika ia bersama Eliosia seakan ia berada di dekat Uzimi. Mana mungkin semua itu hanya sugesti Eiji saja.
Karena apa yang dirasakan Eiji itu persis ketika ia berada di sebelah kedua wanita itu. Seakan memang Eliosia adalah buah yang muncul dalam satu pohon dengan Uzimi hingga mereka memiliki aura yang sama. Kedua bola matanya sama-sama indah dan bulat, bibirnya tipis dan wajahnya berbentuk oval. Apa mungkin saja Eliosia adalah Uzimi yang telah lama tak di ketahui keberadaannya atau mungkin Eliosia adalah reinkarnasi dari Uzimi?
Tetapi bagaimana pun kenyataannya, Eiji rasa telah kembali jatuh cinta yang tertuju pada Eliosia.