Senin siang yang cerah, di kantin kampus tempat mereka berkumpul, selang lima belas menit ada wanita cantik datang menghampiri mereka, tanpa malu mengumbar senyumnya pada mereka. Rupa-rupanya setelah wanita berparas cantik itu berhenti di sebelah Nicholas, ternyata dia adalah satu dari banyaknya wanita yang mengidolakannya.
Wanita cantik dengan tinggi tubuh kira-kira seratus sembilan puluh itu, membawa setangkai bunga mawar indah dalam genggaman tangan halus lembutnya. Pakaiannya sangat rapi serta memiliki bau aroma parfum yang sangat wangi. Di bibirnya ada sedikit polesan lipstik yang membuat bibirnya tambah sexi, rambut sebahunya membuat Nicholas tak henti-hentinya menatap wajahnya.
Lalu bunga mawar merah itu dia berikan pada Nicholas tanpa ragu, tanpa memikirkan Kayshifa yang tengah melirik dengan ujung matanya. Nicholas pun bertindak tenang, seolah-olah dia memang pantas di idolakan terutama oleh kaum hawa, bahwa tenaganya menghentikan kebrutalan bandit-bandit kampus di kantin hari lalu memang pantas di apresiasi, bahkan sangat pantas di hargai pangkat atau jabatan tertinggi sebagai seorang mahasiswa di kampus ini. Atau setidaknya pihak kampus menggratiskan semua biaya kuliahnya dan bahkan biaya kehidupannya di tanggung juga.
Setelah Nicholas ambil setangkai bunga mawar merah itu di tangan wanita yang belum sempat memperkenalkan namanya itu, Nicholas pun memintanya untuk duduk bergabung di antara mereka, dengan satu syarat jangan jauh-jauh dari kursi besi tempat duduknya. Dengan satu syarat lagi, sesekali mentraktir mereka.
“Jangan khawatir,” ucap wanita yang kini di sebelahnya itu. Kemudian dia memanggil pelayan kantin dan meminta beberapa makanan dan minuman di sediakan, dan jangan lupa, yang mahal dan berkualitas tinggi, pesannya.
Jiwa kesatria Nicholas mulai terbangun, tampaknya kata-kata yang tercetus pertama kali dalam benaknya adalah suatu kesempatan emas jika dia memacari wanita ini, sebab kelihatannya wanita ini anak orang yang kaya, atau mungkin dialah yang kaya bukan orang tuanya, sama seperti Kayshifa.
Tetapi bagaimana dengan Kayshifa, wanita muda yang memiliki reputasi cemerlang yang telah sekian kali dia mengatakan cinta padanya, apa perbedaan antara dua wanita ini. Yang jelas wanita yang baru saja mendatanginya ini kapan saja dia mengatakan cinta padanya, dia akan menerimanya. Tetapi Kayshifa sampai sekarang tak menjawab cintanya.
Bagaimana dengan kekayaan mereka, apakah wanita baru ini lebih kaya dari pada Kayshifa, atau hanya pura-pura kaya di depannya seperti triknya ketika mendekati para wanita. Tetapi untuk mengetahui keganjilan itu, bisa di lihat dari sikap dan caranya berbicara.
"Apa setelah kelas, kamu punya waktu?" tanya Olivia pada Nicholas.
Yah, wanita itu bernama Olivia. Nama cukup cantik dan elegan, kurang lebih begitu juga gambaran seorang Olivia di mata orang-orang. Dia cantik, elegan dan juga kaya.
"Entah lah, aku tidak begitu menjadwalkan acara ku. Jadi aku belum tahu, setelah kelas ini akan pergi kemana atau diam aja dan langsung pulang." jawab Nicholas dengan santai.
"Aku rasa kamu tidak ada acara hari ini, jadi aku saja yang mengundang mu untuk makan malam bersama ku." ucap Olivia dengan senyum manisnya, yang bisa membuat siapa saja terpana melihatnya.
Tapi lain dengan Kayshifa, meskipun dia belum mengatakan iya pada ungkapan-ungkapan cinta dari Nicholaw tapi hatinya cukup meradang saat mendengar dan mendengar kedekatan Nicholas dengan Olivia. Tatapannya tajam melihat dua orang yang sedang mengobrol itu bahkan telinganya sudah dia fokuskan untuk menguping semua obrolan dari Olivia dan Nicholas.
"Ekhem..." sesekali Kasyshifa memberi kode jika dirinya sedang panas dengan percakapan Olivia dan Nicholas. Meski dia tetap pura-pura fokus pada pekerjaannya dan tidak memperhatikan mereka.
"Oh, aku sampai lupa memperkenalkan diri." ucap Olivia melirik Kayshifa yang terlihat sangat tidak suka padanya, "Aku Olivia, panggil saja Oliv. Aku baru saja seminggu di kampus ini, karena aku mahasiswa pindahan, dan aku sangat beruntung bisa bertemu dan satu kampus dengan mu." ucap Olivia sangat manja ke arah Nicholas.
Menyadari Kayshifa yang sedang panas dengan kedatangan Olivia, Nicholas mempunyai ide untuk membuat Kayshifa semakin merasa cemburu. Hal itu juga bisa dia gunakan untuk mengetahui, apakah Kayshifa tertarik padanya atau tidak.
"Aku merasa tersanjung mendengarnya." jawab Nicholas tak kalah manis pada Olivia.
Mendengar itu, sontak mata Kayshifa melirik tajam ke arah Nicholas, yang sebanarnya tahu akan hal itu tapi dia tetap membuat Kayshifa merasa kesal dengan ulah mereka berdua.
Melihat perubahan sikap Kayshifa, Eiji dan Eliosia hanya diam dan memperhatikan mereka bertiga. Olivia semakin bersemangat mengobrol dan mengambil hati Nicholas karena dia fikir, Nicholas mulai menyukainya dan tentunya dia tidak akan perduli dengan keberadaan Kayshifa.
Sebelum Olivia mendekati Nicholas, dia sudah menyuruh mata-matanya untuk mencari taju tantang Nicholas dan orang-orang disekitarnya. Berkat itu, dia semakin yakin untum mendekati Nicholas.
"Apa aku juga perlu memperkenalkan diri?" tanya Nicholas dengan gayanya yang khas.
"Ku rasa tidak perlu, aku sudah mengenalmu sangat dalam. Tapi jika kamu mau, silahkan saja." jawab Olivia masih dengan cara bicaranya yang manja.
Mendengar itu Nicholas tersenyum dan sesekali melirik Kayshifa yang sedang terbakar amarahnya sendiri. Di dalam hatinya, Nicholas merasa senang karena dia merasa dia berhasil membuat Kayshifa cemburu padanya.
"Apa-apaan ini, jadi selama ini dia sudah menguntit Nicholas?" ucap Kayshifa membatin karena merasa tidak terima,
tapi dia juga sangat gengsi untuk mengakui jika dirinya merasa cemburu. Meski dia menunjukkan sikap yang biasa saja, tapi sorot matanya sangat terlihat jika dia cemburu dan kesal pada Olivia.
Karena sudah tidak tahan melihat pemandangan yang tidak nyaman di depannya itu, Kayshifa memilih untuk pergi. Tanpa kata dia pergi membawa semua barang-baranya, Eiji dan Eliosia hanya diam dan saling tatap melihat perubahan sikap Kayshifa itu.
"Ternyata begitu, jika seorang wanita cemburu?" ucap Eiji pelan berbisik pada Eliosia. Elisosia hanya tersenyum mendengar itu dan menyuruh Eiji diam saja tak perlu berkomentar tentang perang dingin yang terjadi saat itu.
Melihat Kayshifa keluar Nicholas semakin merasa senang dan merasa khawatir di waktu yang bersamaan, dia takut jika Kayshifa semakin membencinya dan semakin menjahuinya. Tapi dia juga senang, mengetahui jika Kayshifa juga cemburu padanya, itu tandanya dia memiliki kesempatan untuk tetap merebut hati Kayshifa.
"Hei, kamu sedang memikirkan apa?" tanya Olivia menyadarkan lamunan Nicholas.
"Eemm... Tidak, tidak apa-apa." jawab Nicholas mencoba bersikap tetap cool.
Tanpa di minta Olivia bercerita, bahkan tanpa Nicholas dengarkan pun dia akan tetap bercerita dan membuat dirinya terlihat menarik di mata Nicholas. Cerita tentang keluarga, bahkan tertang circle pertemanannya pun dia bicarakan pada Nicholas, tapi sayangnya fikirannya Nicholas tetap tertuju pada Kayashifa