Selama perjalanan menuju Munchen, Eliosia melewati tiga kota menggunakan kereta cepat dan duduk di gerbong restoran sambil menikmati segelas bir biru dingin dengan es batu tiga kristal. Dia putar-putar gelasnya sambil memanjakan matanya melihat pohon-pohon dan beberapa kebun buah di sepanjang jalan.
Di gerbong restoran ini, ada lima orang yang sama-sama menikmati paginya dengan segelas bir, tak mengenal waktu dan usia, begitulah orang Jerman kebanyakannya. Bahkan orang tua yang berambut putih di depannya, tak segan memesan bir dan meminumnya tanpa takut mabuk atau merasakan efek-efek gila dari bir dia minum pada pagi ini.
Tentu kereta cepat yang sanggup menampung penumpang tujuh ratus orang ini, berkekuatan gila, suatu kemajuan teknologi terutama di dunia kereta. Bayangkan saja, dari Berlin ke Munchen hanya memerlukan empat jam lebih lamanya, dan masih banyak kelebihan dalam kereta cepat ini. Tentu bagi yang bermodal lebih, bisa menikmati perjalanannya di gerbong yang memiliki ruang kamar. Jadi ruang itu tertutup hanya di masuki oleh keluarga yang sudah memesannya.
Memang ada apa, kenapa Eliosia tiba-tiba pergi ke Munchen pada pagi buta?
Semalam, setelah dia menikmati bir biru dingin sambil mengobrol tentang bulan dengan Eiji di Cafe kecil pojok jalan, tiba-tiba suara dering panggilan telepon berbunyi dari ibunya, dan dia angkat sambil menyapa dengan senang ibu kandungnya menghubunginya.
Itu artinya, wanita setengah baya istri Baldrik itu masih ingat padanya meski Baldrik ayahnya sendiri kadang menganggapnya hilang atau bahkan tidak menginginkannya ada. Di tambah rasa manis yang keluar dari lidah ibunya mengatakan rindu membuat dia juga rindu. Apalagi suara batuk keras yang muncul dari rongga tenggorokan ibunya dia dengar, rasanya malam itu juga dia akan berangkat menuju rumah orang tuanya. Tak peduli kepala dan mata ayahnya masih menganggapnya sampah.
Segelas bir biru dingin kesukaannya telah habis dia teguk sendirian, kulit tubuhnya telah terasa hangat bagai kehangatan ibu yang sebentar lagi dia rasakan. Telah lama, sejak saudara kembarnya meninggal, dia dan ibunya terasa mulai memiliki dinding. Dia di larang bermanja-manja kepada ibunya, untuk meminta satu permen lollipop saja butuh beberapa tetes tangisan dan permohonan tangis dari ibunya kepada ayahnya baru di belikan. Apalagi untuk ukuran baju, mainan atau hal jalan-jalan menikmati pagi atau sore di negeri kelahirannya, Jerman, yang dia minta, tentu saja tidak boleh. Eliosia di perlakukan lebih rendah dari anak pembantu yang melakukan kesalahan.
Baldrik memang kejam meskipun beberapa kali ibunya mengatakan dan menunjuk ke arah Eliosia sambil menangis bahwa itu anak kandung mereka, dan kematian saudara kembarnya bukanlah kesalahannya namun kodrat dan garis dari Tuhan. Tetapi Baldirk masih memegang satu prinsip yang sama, bahwa Eliosia adalah pelakunya, pelaku utama yang membunuh saudara kembarnya, meskipun dia tak memiliki alasan kuat untuk menuduhnya.
Sudah beberapa tahun Eliosia mendapat perlakuan keras, kini dia tumbuh menjadi gadis tinggi super cantik dengan bibir tipisnya. Di dalam jiwanya terdapat roh-roh jahat kebencian terhadap ayahnya sendiri. Apabila ada kesempatan, mungkin saja dia akan menghabisinya jika tidak bisa musyawarah merubah pendiriannya. Namun ayahnya bukanlah orang sembarangan, dia seorang Alpha wilayah dari manusia serigala, yang memiliki pengikut tak terhingga. Kematiannya akan menjadi berita besar, pengikutnya akan mencari siapa pelakunya sampai ketemu meskipun ayahnya mati oleh penyakit. Segalanya pasti di sangkut pautkan dengan apa-apa terutama konspirasi mengenai jabatannya.
Setelah empat jam berlalu, kereta cepat yang di tumpangi Eliosia pun berhenti, dan setiap pintu di gerbongnya terbuka dan semua penumpang keluar termasuk dia. Eliosia tak seperti penumpang lainnya yang membawa satu dua tas dan ransel. Sebagai gadis berusia sembilan belas tahun, mungkin sudah cukup berpakaian tertutup sehingga hawa-hawa dingin tak membuatnya menggigil meskipun belum musim salju.
Di antara ratusan orang yang berjalan ke arah tujuannya masing-masing, Eliosia langsung masuk mobil taxi dan menyebutkan alamat tujuannya. Tak segan sopir taxi menebak bahwa Eliosia yang duduk di belakangnya ini anak bos dari Baldirk. Tetapi Eliosia tak menjawabnya, dia hanya menyandarkan kepalanya ke jendela kaca pintu mobil seakan dia malas membenarkan sangkaan sopir taxi itu padanya.
Sampainya di depan rumah Baldrik, Eliosia membayar lalu keluar dari taxi. Lalu berjalan dengan kepala menunduk ke arah pintu masuk rumah. Tetapi tidak seperti biasanya, sekarang penjagaan sepi, biasanya ada puluhan orang telah berjalan mengelilingi rumahnya, ada apa? Apa mungkin di belakang rumah mereka sedang ada pertemuan. Eliosia juga berharap seperti itu, jadi dia dengan tenang masuk ke kamar ibunya.
Melewati satu pohon rimbun yang besar di depan rumah, dia pun membuka pintu lalu masuk tanpa menoleh ke kanan kiri seperti biasanya. Setelah dia tutup, ada sapaan dari arah utara, seketika jantungnya berdetak kencang. Setelah dia menoleh ke arah suara, untung saja sapaan itu keluar dari teman kecilnya, yaitu Dogba.
“Kamu mengagetkanku...!” kata Eliosia sambil menghembuskan napas panjang.
“Maaf, maaf....” sahut Dogba, lalu menghampiri Eliosia, dan mengatakan padanya bahwa ibunya dari tadi menanyakan kedatangannya.
“Iya... kenapa sepi penjagaan?” tanya Eliosia. Dan Dogba menjawabnya sesuai dugaannya, bahwa ayah serta pengikutnya sedang berkumpul di belakang rumah. Dan Dogba sendiri di tugaskan untuk menjaga ibunya. Hana pun masuk ke kamar ibunya meninggalkan Dogba sendirian.
“Ibu...?” kata Eliosia, lalu memeluk ibunya yang duduk setengah tidur.
“Ibu lega, akhirnya kamu sampai juga. Apa kabarmu, Nak? Bagaimana kuliahmu?”
“Eliosia sudah besar, Ibu. Tak perlu mengkhawatirkanku berlebihan. Dan kuliahku lancar saja. Eh... Ibu tahu, bahwa aku memiliki teman baru di kampus, dua pria dan satu wanita, uniknya teman-teman Eliosia berasal dari negara berbeda. Ada yang dari Amerika, Chili, dan Jepang,” kata Eliosia dengan bahagia. Tangannya mengepal tangan ibunya dengan lembut.
“Dari Jepang? Bagaimana dengan dia, apakah dia bermata sipit?” tanya Ibunya sangat penasaran.
“Iya, Ibu. Matanya sangat sipit sekali... Tidak seperti mata orang-orang Eropa. Namanya Eiji, satu Fakultas denganku. Tingginya sama denganku. Dia pria lucu, semalam Eliosia dia ajak jalan-jalan ke tengah kota, tetapi dia tidak tahu mengajak Eliosia kemana. Maka aku ajak dia ke Cafe kecil meminum bir biru dingin hingga aku lihat wajahnya memerah, Ibu... Hahaha. Lalu kami bercerita tentang bulan.” Aduh Eliosia.
Ibunya senang mendengar hingga dia ikut tertawa, tetapi tiba-tiba tawa di bibirnya langsung menghilang setelah mendengar bulan. Sepertinya ibunya mengingat hal genting seperti perubahan umurnya nanti, apalagi dia pewaris tunggal takhta ayahnya, yang akan bertarung merebut takhta Alpha Dunia.
“Ibu jadi khawatir anakku, aku takut ayahmu memiliki rencana buruk tentangmu... Jadi dekatilah Dogba, hanya dia satu-satunya di rumah ini yang ibu percaya yang dapat membantumu,” gumam ibunya berwajah pasi.
“Iya, Ibu. Ibu jangan terlalu khawatir, aku dan Dogba pasti bisa menyelesaikan semua ini!” Ucap Eliosia sambil senyum.
“Ibu percaya padamu, Nak....” jawab Ibunya sambil tersenyum. Kemudian mereka berpelukan kembali merindukan pelukan seorang keluarga.