Setelah sampai di tengah kota Berlin, Eiji dan Eliosia lebih memilih berjalan kaki di sepanjang jalan yang di penuh ruko-ruko yang menyediakan berbagai macam dari makanan hingga pakaian.
Dan di ujung sana, ada sebuah Cafe kecil yang biasa Eliosia kunjungi untuk menikmati sebotol bir khas Jerman. Sepanjang perjalanan ke Cafe itu, Eiji hanya bisa melihat berbagai kemesraan suatu pasangan, baik di tepi jalan maupun di bangku depan Cafe. Seorang ibu dengan anaknya yang sedang sibuk memilah aksesoris di stan tepi jalan.
Lalu ada seorang wanita yang mendorong kereta bayi melintas di hadapan mereka, wajahnya masih kencang dan berambut pirang, dia mendorong kereta bayi. Wanita itu menoleh ke arah Eiji, kemudian tersenyum seolah-oleh mengenalinya.
Eiji setengah heran, dia kira senyum wanita itu bukan untuknya, tetapi setalah dia menoleh baik ke kanan dan kiri juga ke belakang, tak ada orang yang senyum balik ke arah wanita itu, semuanya hanya sibuk sendiri-sendiri. Setalah Eiji ingin mendekatinya, wanita itu pun langsung pergi, tanpa sapaan dan sebuah kata apa pun yang keluar dari bibir tipis sexinya.
Namun Eliosia tak menyadari tingkah wanita tadi. Dan setelah Eliosia menunjuk ke arah Cafe kecil di ujung jalan, tiba-tiba seorang pria kurus lengkap dengan topi warna kuning berlogo perusahaan menggunakan sepeda menghentikan mereka, pria itu menatap Eiji sangat dalam tanpa berbicara satu kata apa pun. Bola matanya bergulir dari atas sampai ke bawah seperti melihat penampilan Eiji. Kemudian dia pergi.
Sangat mengherankan, baru saja Eiji menginjakkan kakinya ke kota terbesar di Jerman ini, tetapi orang-orang seperti telah mengenalnya. Namun dia dan Eliosia telah menganggap wanita dan pria tadi sebagai bentuk ucapan selamat datang di kota ini. Meskipun mereka tak mengucapkan apa-apa.
Sampai di Cafe kecil tempat minuman bir di ujung jalan, Eliosia pun masuk untuk memesan dua bir, sementara Eiji duduk di kursi depan Cafe, di antara puluhan orang yang menikmati makanan dan minuman yang sama di pesan Eliosia.
Selang dua menit Eliosia datang dan duduk di hadapan Eiji. Dia tersenyum manis pada Eiji dan seakan meninggalkan kesan istimewa dalam senyumnya. Tetapi untuk menatap mata sipit Eiji terlalu lama dia tidak bisa, baginya menatap mata Eiji ada semacam kekuatan yang membuatnya melemah. Seperti menatap bulan purnama.
Apalagi ketika Eiji yang menatapnya terlebih dahulu, dia pasti menundukkan pandangannya. Lalu datanglah dua gelas bir lengkap dengan es kristal beberapa butir. Warnanya agak kebiruan dan aromanya sangat menyengat. Tetapi bir ini jika hanya di minum satu dua gelas saja tidak akan memabukkan dalam ukuran orang-orang Jerman, sebab mereka memang terbiasa meminum bir dari pada air putih. Lain dengan orang Jepang seperti Eiji, mungkin saja ketika dia meneguk sampai tiga kali, maka kepalanya akan terasa berat, puyeng dan membawa efek memabukkan terhadapnya. Entahlah... Sebelumnya dia tak pernah mencoba.
Mereka pun bersulang dan meminumnya, Eliosia meneguknya tanpa ragu, sementara Eiji masih mencicipinya layaknya jamu, dia agak ragu meneguknya. Setelah bir biru itu sampai di ujung lidah Eiji, baginya rasanya sangat misterius, seperti manis namun kecut, dan di lidah rasanya meledak. Rasa alkoholnya sangat terasa.
Eliosia tertawa, pertama kali dia merasakan bir biru dingin ini ketika berumur lima belas tahun, lidahnya sangat tertarik oleh rasa khasnya dan menurutnya ada sedikit sensasi meminumnya. Lagi pula kadar alkoholnya tidak begitu tinggi, makanya dia suka.
Lama kelamaan, lidah Eiji tampaknya mulai beradaptasi dengan minuman kesukaan wanita yang dia suka itu, sebab dia tersenyum lalu meneguknya tanpa khawatir seperti awal tadi. Tetapi jangan-jangan dia hanya berpura-pura di hadapan Eliosia, rasa manis kecut yang meledak di lidahnya itu telah dia hiraukan demi menumbuhkan keyakinan baru dalam pandangan Eliosia. Hitung-hitung agar Eliosia menganggapnya juga suka terhadap minuman kesukaannya itu.
Padahal matanya mulai sedikit memerah, dan kepalanya terasa agak berat, meski tak terlalu berat dalam ukuran mabuk. Penglihatannya masih jelas memandang wanita bule Jerman di depannya itu. Tetapi ketika dia memandangnya Eliosia terlalu lama, seketika muncul bayang-bayang di dalam kepalanya betapa enaknya di cium oleh Eliosia. Di peluk olehnya dan di perlakuan layaknya seorang kekasih yang bermesraan di dalam kamar.
Seketika dia tersadar ketika pikirannya telah liar mengenai Eliosia, dia menggoyang-goyang dan memukul pelan kepalanya, dia tahu bahwa bayangan yang muncul di dalam kepalanya adalah hasil dari efek bir yang dia minum. Padahal dia hanya meminum setengah gelas itu.
Eliosia pun seakan memahami apa yang tengah terjadi dengan teman pria bermata sipitnya itu, dia pandai mencium aroma mabuk di dalam setiap orang, maka Eliosia berdiri dan pindah duduk di sebelah kanan Eiji.
Mendadak mata sipit Eiji membesar, dia sangat kaget saat Eliosia duduk di sebelahnya, sangat dekat hanya besi penyangga tangan sebagai pembatasnya. Mungkin Eliosia memang sengaja membawa Eiji ke Cafe kesukaannya ini, agar dia bisa melihat mata sipit Eiji dengan dekat tanpa ragu seperti biasa dia menatapnya.
Sebab sebelumnya Eliosia berpendapat, mungkin saja energi mata Eiji akan memudar ketika dia sedang mabuk. Eliosia pun menatapnya sangat dekat, dan Eiji pun ketakutan, dia memundurkan kepalanya dan kadang memejamkan matanya. Namun tiba-tiba Eiji melawan, dia memandang mata Eliosia yang bulat itu tanpa sedikit pun berkedip, lalu dia memajukan kepalanya, jika Eliosia tidak memundurkan kepalanya maka bibir mereka akan saling bersentuhan.
Mata Eiji mulai kehilangan kendali, seakan dia mengartikan tatapan Eliosia mengajaknya b******a, tak peduli bahwa sekarang mereka di tempat terbuka. Tak di sangka, Eliosia akhirnya menyerah, menaklukkan Eiji melalui tatapan matanya telah gagal dia lakukan. Hingga-hingga perlawanan tatapan dari Eiji yang tak dia sangka itu, telah membuatnya malu lalu dia mundurkan kepalanya dan menyadarkan Eiji dengan mengusap wajahnya.
Setelah itu Eiji tersenyum, wajahnya cerah seperti bulan bersinar di atas mereka. Eliosia pun menyandarkan kepalanya di bahu Eiji, seketika Eiji menegang tak menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Mabuk yang telah merasukinya seakan tiba-tiba hilang atau memang harus dia hilangkan demi menjaga keseimbangan kepala Eliosia di pundaknya.
Kursi besi tempat duduk mereka di depan Cafe kecil yang menghadap ke arah timur itu, Eliosia menunjuk ke arah bulan berumur sehari di atas langit itu, masih kecil belum berbentuk bulat sempurna, dan dia bertanya pada Eiji, “Apa yang kamu ketahui tentang bulan?”
“Tepat waktu....” jawab Eiji cepat, seakan hal itu memang telah lama dia ketahui.
Lalu dia menyambungnya, “Bulan adalah satu-satunya makhluk yang muncul berdasarkan waktu, wujudnya akan berbeda jika waktunya berbeda. Selama satu bulan yang rata-rata berisi tiga puluh hari dia muncul dengan perubahan sebanyak tiga puluh kali, dia selalu muncul atau menampakkan diri sesuai porsi waktu yang di berikan kepadanya, dan itu sudah dia lakukan sejak jutaan tahun yang lalu dan akan terus berlanjut entah sampai kapan.” Ucap Eiji setengah sadar.
“Hem... Masuk akal juga! Tetapi menurutku, bulan tak pernah membawa kerugian dan kerusakan atas makhluk lain. Tidak seperti unsur alam yang lain, walaupun mereka punya manfaat tetapi juga menjadi penyebab kerugian dan bencana bagi kita,” jelas Eliosia.
Seketika Eiji merasa tersinggung oleh perkataan Eliosia, pikirannya langsung menuju pada pertarungan antara dia dan ketiga manusia serigala sepertinya nanti. Hanya demi takhta Alpha Dunia, mereka saling memusuhi satu sama lain hingga menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Andai kata, ada ramuan untuk menghilangkan kutukannya sebagai manusia serigala maka dia akan meneguknya sama dengan meneguk bir biru dingin kesukaan Eliosia ini. Atau ada benda pusaka atau apa saja yang bisa menghentikan pertarungan mereka nanti, maka dia akan mencarinya.
“Ada apa, Eiji? Kenapa diam?” ucap Eliosia. Sambil menatap ke arah dagunya. Lalu dia pindahkan kepalanya dari bahu Eiji dan menggenggam kedua tangan Eiji. Memandang wajah Eiji dengan penuh harap dan pesona. Di dalam batinnya tersirat satu harapan agar Eiji mengatakan sesuatu yang membuatnya yakin bahwa dia mencintainya.
Tetapi bibir atas dan bawah Eiji terkatup rapat, bahkan giginya saja tidak terlihat. Seakan dia juga menunggu satu kata datang dari sela bibir cantik Eliosia. Namun Eliosia pun begitu, dia merasa malu mengatakan sepatah kata romantis yang membuat mereka saling mencintai.
Eliosia pun melepaskan tangan Eiji tanpa sebuah kata, lalu menatap bulan bersinar redup di atas langit di depannya itu lagi. Eiji merasa ada sesuatu yang salah, dia baru menyadari bahwa Eliosia menunggu satu kata darinya, apa pun itu....
Eiji pun membuka katup rapat bibirnya, lalu berkata, “Eliosia... Jika nanti aku hilang di telan purnama, bagaimana?”
“Apa yang kamu maksud?” ucap Eliosia sambil menoleh langsung ke wajahnya.
Selang satu menit, Eiji pun menjawabnya gugup, bahwa yang dia maksud adalah kehilangan Eliosia selamanya....