Untung saja Eliosia pintar menyembunyikan masalah yang dia miliki, sehingga dia tak pernah menampakkan kegelisahan sama sekali di depan para teman-teman yang baru dia kenal itu. Dia masih bisa tersenyum lebar meski di rundung masalah serius antara dia dan ayahnya.
Pertemanan memang harus menjadi hal yang di prioritaskan, tak bisa mengalahkan dalil-dalil cinta yang tumbuh di antara mereka, apalagi rasa cemburu yang muncul tiba-tiba. Seperti halnya Kayshifa yang merasa cemburu saat Eiji menatap dalam wajah Eliosia di kantin hari lalu, tetapi kini, dia masih bisa bersikap layaknya seorang teman di depan teman-temannya.
Di kursi besi sebelah kanan Eiji, ada Nicholas yang dari tadi memperhatikan Kayshifa, mungkin dia yang paling memahami bahwa di antara mereka terdapat hati yang tengah menahan derita. Namun sebagai teman yang baik, dia tak pernah membahas kecemburuan Kayshifa di depan Eiji dan Eliosia.
Bibirnya yang agak tebal itu biasanya mengoceh sana-sini, membuka fakta-fakta dan bahkan menyampaikan satu opini baru yang dia karang sendiri. Nicholas memang rajanya mengarang cerita. Setiap wanita yang dia dekati semua mengenalnya dengan nama julukan si Nyamuk, sebab nyamuk memiliki suara besar dari ukuran tubuhnya. Apalagi hari lalu, ketika dia mengalahkan satu kelompok pemuda yang sok jagoan di depannya, reputasinya mulai terangkat, membuat dia tambah congkak.
Namun kali ini, di depan wanita yang dia anggap permata, yaitu Kayshifa, wanita kelahiran negeri Paman Sam itu, seolah-olah melayu, tak memiliki taring dan Taji seperti biasanya dia di depan wanita, apalagi wanita yang dia targetkan sebagai pasangan kayanya.
Memang mula-mula seperti itu, cintanya pada Kayshifa hanya sebatas mengangkat popularitasnya, tetapi kali ini dia merasa sangat menyukai Kayshifa, bahkan sebelum dia berangkat ke kampus tadi pagi, bibirnya selalu membaca mantra nama Kayshifa.
Andai bulan atau planet apa Kayshifa inginkan dan katakan padanya, pastilah dia ambilkan, meski dia tahu tidak bisa memenuhi permintaan itu, tetapi demi kepercayaan Kayshifa pada cintanya, dia rela mengerjakannya.
Lama-lama, empat kawan itu saling memendam rasa di hati mereka, mata Nicholas tak henti-hentinya melirik wajah Kayshifa. Sementara Kayshifa sedikit demi sedikit curi-curi pandang melihat wajah Eiji. Dan Eiji sendiri tak segan lagi memenuhi kebutuhan hatinya memandang Eliosia.
Putaran meja kantin dengan empat kursi besi itu di penuhi cinta, minuman pesanan mereka hanya sebatas dekorasi pelengkap saja, sementara suara obrolan para pengunjung kantin seperti kicau-kicau burung meskipun rada aneh terdengar di telinga. Hanya Eliosia tidak di mabuk kan oleh cinta.
Pelan-pelan dia melihat seperti ada hal yang aneh dari ketiga temannya, biasanya Nicholas paling banyak cerita layaknya pelawak, tetapi kali ini dia hanya diam. Dan Kayshifa biasanya bercerita tentang kesuksesannya, namun kali ini dia juga diam. Kalau Eiji, memang dari awal hingga kini seperti ini, dia akan mengeluarkan suara ketika hal penting perlu di ceritakan. Bahkan Eliosia jadi malu, saat dia melihat Eiji melihatnya tanpa berkedip mata.
Kemudian, Eliosia berkata sambil sedikit tersenyum, “Hai, teman-teman... Ada apa dengan kalian? Apakah hari ini aku melewatkan hal yang penting?” Eliosia memperlihatkan wajah heran.
Setelah Eliosia sengaja menjatuhkan pulpen di depan mereka, ketiganya langsung tersadar, dan langsung melihat ke arah Eliosia. Di saat yang sama, pria tinggi besar yang pernah membuatnya nangis sambil memohon di kelas hari lalu melintas ke arah kasir, dia menoleh ke arahnya sambil menggelengkan kepalanya. Pria itu di hormati oleh mahasiswa tingkat atas yang sudah mengenalnya, tak jarang para mahasiswa menyapanya dan menundukkan kepala juga kepadanya. Katanya, pria setengah baya tersebut pernah berurusan dengan salah satu mahasiswa yang terkenal kaya dan sombong berada di kelasnya, pria kaya itu selalu bertingkah aneh yang memperlihatkan kekayaannya kepada siapa saja bahkan sampai di dalam kelas.
Seakan-akan apa saja bisa dia dapatkan dengan uangnya. Namun pria setengah baya yang berprofesi sebagai Dosen tersebut menegurnya bukan hanya sekali bahkan telah berulang kali di saat dia memberikan sebuah materi di kelasnya, tetapi pria kaya tersebut melawan, dia enggan di atur oleh siapa saja termasuk Tuhan, katanya.
Setelah mendengar itu, pria setengah baya tersebut menamparnya dengan keras, sambil mengatakan coba hentikan tanganku ini. Bekas merah di pipi pria kaya tersebut ia laporkan kepada ayahnya yang bekerja sebagai staf pemerintahan pusat, lalu dengan cepat datang sebuah surat agar kampus Swasta tersebut di tutup karena salah satu Dosennya di duga melakukan tindakan k*******n pada mahasiswa.
Akhirnya permasalahan besar tersebut terselesaikan ketika pria tersebut datang langsung menemui Presiden Jerman agar Presiden secara langsung mengeluarkan surat penahanan bagi dirinya asalkan Universitas masih tetap buka. Namun Presiden Jerman malah melakukan tindakan hal yang di duga, dia memberhentikan hak kerja ayah pria kaya tersebut dan Universitas mengeluarkan pria kaya itu.
Bahwa pria setengah baya tersebut memiliki relasi yang sangat dekat dengan Presiden Jerman. Muslim saat itu, dia disegani dan dihormati.
Sekitar jam enam sore, saat matahari mulai terbenam, Kayshifa pun pamit pulang kepada tiga temannya karena di jam tujuh malam nanti dia diundang ke acara talk show di salah satu media nasional Jerman yang ingin mewawancarainya mengenai kesuksesannya. Nicholas pun mengangkat telunjuk jarinya, dia menawarkan diri sebagai pengawalnya, atau paling tidak dia bisa mengantarnya ke kantor media tersebut dengan selamat dan aman.
Setelah mendengar penawaran dari Nicholas tersebut, Kayshifa pun memperlihatkan wajah yang kecut, lalu menolak penawaran tersebut secara halus. Namun wajah kecut itu berubah menjadi manis ketika Eiji yang memintanya.
“Ini demi keselamatanmu!” ucap Eiji meyakini Kayshifa.
Lalu Kayshifa berjalan ke arah parkiran mobil di selatan kampus, sementara Nicholas mengikutinya dari belakang seperti pengawalnya. Antara Eiji dan Eliosia, kedua memiliki waktu yang longgar, tak memiliki kesibukan apa-apa. Namun, Eiji seakan memahami apa yang tersirat di dalam hati Eliosia, bahwa bahasa tubuhnya seakan ingin mengajaknya jalan-jalan.
“Sepertinya suasana malam ini berbeda, bagaimana jika menikmatinya?” ucap Eiji memandangi mata Eliosia.
Tetapi Eliosia malah mengatakan, “ Malam ini memang cukup cerah, di tambah aroma lampu kota yang membuat suasana nyaman. Namun maaf, kamu kira aku tidak memiliki kesibukan layaknya Kayshifa... malam ini aku berencana ingin bertemu Rey di sebuah desa sebelah timur, untuk mencapai ke sana bisa memakan waktu kurang lebih satu dan hampir dua jam. Aku telah berjanji padanya seminggu lalu menjenguknya. Mengelusnya. Berbincang dengannya. Tetapi, aku tidak bisa menolak penawaran teman baik seperti kamu... Jadi mari kita berangkat!” Eliosia berjalan ke arah parkiran mobil.
“Tunggu dulu! Jika kamu memang pergi mengunjungi, siapa namanya... Rey, tidak apa-apa. Lain waktu saja kita pergi memandangi kota. Dan lagi pula, jika kamu berkenan, aku bisa menemanimu kesabaran!” kata Eiji menawarkan diri.
Namun Eliosia menolaknya keras, hingga membuat Eiji curiga, dia mencurigai bahwa Rey yang ingin Eliosia kunjungi itu adalah sahabatnya atau mungkin pacarnya.
“Lebih baik kita ke kota, sesuai dengan apa yang kamu inginkan... Lagi pula Rey itu hanya kuda peliharaanku!” ucap Eliosia seakan mengetahui kecurigaan Eiji mengenai Rey tersebut.
“Huh....” napas panjang Eiji hembusan, dia seakan lega mendengar penuturan singkat dari wanita yang dia suka itu.
“Berangkat!” ucapnya dengan semangat.