Pagi harinya, ketika Eliosia ingin pergi ke kampus, datang ayahnya dari balik pintu kamarnya, menghisap satu batang cerutu warna coklat sambil menatap kepada Eliosia dengan sinis.
Mungkin, jika di hitung, Eliosia kerap kali mendapat perlakuan buruk dari ayahnya, memang secara fisik tidak meninggalkan bekas, tetapi setiap kata yang keluar dari lidah ayahnya telah membekas di hatinya, hingga-hingga ia menganggap dirinya tidak pantas hidup di dunia, seakan pula ayahnya tidak menginginkan kelahirannya ke dunia.
Sejak kematian saudara kembarnya, Eliosia selalu mendapat perlakukan buruk oleh ayahnya, ayahnya selalu menyalahkannya sebagai dalang utama penyebab kematian sudaranya, meskipun ayahnya tahu bahwa saudara kembarnya telah mendonorkan organ tubuhnya demi keselamatan Eliosia dengan ikhlas.
Tumbuh dewasa, Eliosia perlahan menyadari bahwa sebaiknya dia menghindari konflik yang semakin kontras dengan ayahnya, dari itu dia memilih untuk meninggalkan rumah dan hidup sendiri. Mulai dulu hingga sekarang, dendam di hatinya tambah membesar pada ayahnya, dia telah berjanji tidak akan pernah menyepakati apa yang di utarakan ayahnya, tentang apa pun itu, meski hal baik sekalipun.
Setelah menghadiri perjanjian semalam itu, dia mampir ke rumah orang tuanya untuk menengok ibunya yang sakit. Namun kini, ketika ia pamit untuk berangkat ke kampus pada ibunya, ayahnya malah datang dengan perkataan pedas seperti biasanya.
“Ayah memang tidak mengharapkan kehadiranmu semalam itu, kenapa kamu datang? Meskipun kamu terlihat berani, ayah sama sekali tidak bangga dengan tindakanmu semalam itu!” ujar ayahnya sambil menghembuskan asap cerutunya.
“Sejak kapan ayah mengakui diri sendiri bahwa ayah itu ayahku? Sebelumnya aku tidak pernah mendengar ayah mengatakan padaku bahwa ayah itu adalah ayahku! Dari itu, aku tidak akan pernah sepakat apa pun yang ayah jalankan,” jawab Eliosia sambil mengikat tali sepatunya.
Lalu datang lima anggota dari kelompok ayahnya memberitahukan bahwa naskah isi perjanjian baru telah jadi di buat. Salah satu dari kelima anggota yang melaporkan itu adalah Adolf Dassler, memiliki pangkat Beta setara dengan wakil Alfa. Yang mendalangi semua isi rencana selama ini, termasuk dia mencampuri urusan rumah tangga Baldrik.
Eliosia tahu bahwa ayahnya tengah di perbudak oleh perkataan orang itu, memang ia berlagak seperti teman sejati pada ayahnya yang selalu mengekor kemana-mana, tetapi di balik kebencian ayahnya padanya, dialah salah satu orang yang menghasutnya. Dan Eliosia tahu bahwa orang itu merencanakan hal jahat untuk menumbangkan kekuasaan ayahnya, tetapi doktrin Adolf itu lebih manis dari pada gula, hingga menjadi pemicu seperti bom waktu yang harus di terapkan oleh ayahnya. Sehingga ketika Eliosia mengungkapkan kejahatannya pada ayahnya, ayahnya tidak akan percaya.
Adolf Dassler memiliki anak berumur dua puluh tahun yang telah ia gadang-gadang kan sebagai pengganti takhta Alfa wilayah mereka. Sebenarnya itulah yang di harapkan Adolf mendekati ayahnya.
“Tuan, menurutku kita tunda dulu naskah ini kirim ke mereka,” ucap Adolf sambil menggenggam ke empat naskah.
“Kenapa?” tanya Baldirk meliriknya dengan fokus. Baldrik tahu, pasti wakilnya itu memiliki rencana lagi.
“Jika mereka datang kesini menginginkan naskah ini, kita bisa mengancam mereka agar menyerahkan kekuasaan Alfa dunia kepada kita!” sahut Adolf sambil mengangkat kening kanannya.
“Lalu bagaimana caranya?” tanya Baldirk dengan santai.
“Maaf, Tuan, lebih baik kita bicarakan di dalam saja!” pinta Adolf Dassler. Dia merasa terancam ketika Eliosia, seorang anak Baldirk yang dia hasut, agar ayahnya sendiri tak menyukainya itu mengetahui rahasianya.
Saat itu pula Eliosia memahami bahwa ada rencana buruk yang tengah di susun oleh Adolf lagi. Maka, sebelum meninggalkan rumah itu, dia pergi ke kamar ibunya, meminta kepadanya untuk mengawasi pembicaraan mereka. Lalu dia cium kening ibunya dan pergi.
Eliosia tahu pula bahwa ibunya memiliki mata-mata rahasia di antara anggota kelompok mereka, seorang pria tinggi dan masih muda, dia adalah teman akrab Eliosia dari kecil bernama Drogba. Dan sepertinya dia memiliki rasa lebih terhadap Eliosia. Dia ada dalam salah satu kelima anggota yang datang tadi, dimana matanya tak henti-hentinya melihat ke arah Eliosia, dan hatinya tersenyum ketika melihat Eliosia datang ke rumah orang tuannya.
Namun kadang dia juga iba ketika Baldrik berceloteh menyakiti Eliosia, seakan-akan dia ingin mencakar Baldrik lalu kabur dengan Eliosia. Tetapi, cintanya pada Eliosia masih buram hingga Eliosia hanya menganggapnya sebatas teman biasa. Selain itu, demi cintanya pada Eliosia, dia bersedia merawat ibunya ketika Eliosia menitipkan pesan singkat padanya untuk menjaga ibunya, karena dialah satu-satunya orang yang paling akrab dengannya.
Ketika Eliosia melewati pintu keluar, Dogba pun memanggil Eliosia dan berlari ke arahnya, sementara Baldrik dan Adolf pergi ke ruang kerja. Dan ketiga temannya hanya menunggu di luar saja. Dogba memiliki pangkat terendah di kalangan mereka yaitu Omega, setara dengan ketiga temannya, jadi untuk mendekati Eliosia calon pewaris tunggal Alpha, dia kadang segan apalagi di depan orang tuanya.
“Eliosia, bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Dogba basa-basi. Dia pria yang lumayan sopan sekaligus pemberani. Sejak dulu, dia sering menemani Eliosia berlatih di tengah rimba, dia memiliki tubuh yang tegap dan gagah.
“Baik,” sahut Eliosia dengan singkat.
“Hem... bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Dogba tersenyum.
Lalu Eliosia meraih kedua tangan Dogba, dan menatap matanya penuh dalam, “Kita sudah lama saling kenal, aku tahu kamu dan kamu tahu tentang aku...tolong bantu ibuku seperti biasanya!”
Dari arah samping rumah, muncul dua pria tinggi dan berbadan besar, kepala keduanya botak dan berwajah seram. Mereka di kenal sebagai Si gundul kembar. Mereka dua pengawal paling di takuti karena kekuatan mereka yang pernah mengalahkan sepuluh manusia harimau tanpa s*****a.
Mereka adalah b***k terbaik yang tak segan memenuhi nafsu kejam Baldirk. Mereka terkenal dengan misi paling berbahaya yang tak segan membunuh dengan kejam sesuai perintah bos mereka.
Konon ketika mereka berganti menjadi wujud serigala, cakar dan taring mereka tak segan-segan mencabik-cabik target utama operasi mereka. Kulit mereka setebal baja. Peluru dan bom tak pernah mempan melukai mereka.
Di punggung mereka terdapat dua tato kepala serigala berbentuk sama dengan ukuran yang sama pula, hanya angka Romawi satu dan dua sebagai pembeda. Nomor satu berarti Baldomero dan nomor dua yaitu Baldolf.
Eliosia pun segera melepaskan tangan Dogma saat melihat keduanya datang ke arah mereka, lalu Eliosia tersenyum kecil dan meninggalkan pesan singkat pada Dogba sambil menepuk bahunya, “Aku meyakini....”
“Tunggu, Eliosia!” ucap Baldomero tiba-tiba sambil melambaikan tangannya. Eliosia pun berhenti. Tampaknya Baldomero ingin membicarakan hal penting kepadanya.
Lalu Baldomero dan Baldof berlari ke arah Eliosia dan Dogba, wajah mereka masih sama, menakutkan dan garang.
Di halaman depan rumah penuh rumput hijau itu, si Gundul Kembar berhenti berlari sambil tersenyum setelah di depan Eliosia, kemudian Baldomero berkata, “Aku tahu dunia kampus di penuhi orang berpendidikan...tetapi jangan lupakan Pamanmu yang satu ini.” Ia memiringkan kepalanya sambil menatap Eliosia.
“Kita belum seberapa tua untuk kamu peluk, seperti biasanya kami mengantarkanmu ke sekolah waktu dulu!” sambung Baldolf juga tersenyum.
Tanpa berkata, Eliosia tersenyum lalu memeluk keduanya. Bahwa Si Gundul Kembar adalah Pamannya yang sering di minta ibunya untuk mengawalnya ke sekolah.