Ketika Baldrik meyakini ancamannya bisa menakuti kedua Alpha kelompok, maka yang pertama kali tertawa terbahak-bahak di antara mereka adalah George. Gema tawanya mengisi seluruh ruang Kastil, serupa terdengar merendahkan ancaman Baldrik. Sesekali ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
Mereka sama-sama tidak bodoh, dalam menghadiri perjanjian di tanah wilayah musuh tentunya mereka telah mempersiapkan segalanya. Memang anggota yang hadir berjaga-jaga di luar Kastil dari kelompok mereka bisa di hitung dengan jari, akan tetapi, ketika pemimpin kelompok mereka dalam bahaya, semua anggota yang memantau dari kejauhan akan datang lebih dari beberapa ratus anggota.
Namun demikian, bagi Enji, Alpha dari kelompok Tanah Timur itu, setiap perselisihan bisa di selesaikan dengan jalan negosiasi, tidak harus dengan jalan pertarungan. Apalagi, pertemuan ini bukan pertemuan yang baru saja di adakan, tetapi lebih dari ratusan tahun dan semuanya berjalan dengan lancar.
Baginya, ancaman itu seperti memakan daging mentah dan tidak di taburi bumbu-bumbu penyedap rasa. Tetapi walaupun demikian, ia sudah terbiasa menelan ancaman seperti itu. Jadi ia tak pernah kaget dengan suatu ancaman, bahkan ia mengartikan Baldrik sendiri merasa terancam.
George pun menanggapi ancaman Baldrik tersebut, sambil menghentikan ketawanya, ia berkata, “Kamu kira kita berdua akan takut dengan ancamanmu, Baldrik? Sama sekali tidak!”
“Berhentilah membuat suatu lelucon, Baldrik!” sambungnya.
“Sudahlah...mari kita fokus ke perjanjian ini!” tangkas Enji. Ia memotong ucapan George sebelum Baldrik menanggapinya lebih serius.
Kemudian George langsung menolak usulan Baldirk mengenai usulannya yang penuh kontroversi, dia yang paling menentang usulannya. Lalu ia melempar pertanyaan singkat pada Enji yang ia sebut sebagai saudaranya. Apakah Enji menyepakati atau menolaknya?
Enji berkata, “Tidak, saudaraku.”
“Namun aku setuju hal itu terjadi; kelompokku bukan kelompok yang lemah, pasti kami bisa mengatasinya,” tangkas Roger menyombongkan diri.
Sementara suara masih seimbang, dua kelompok menolak dan dua kelompok juga menyepakatinya. Maka tinggal anak-anak mereka di minta menyatakan pendapatnya. Namun apabila suara tetap saja seimbang, maka usulan tersebut otomatis di anggap sah. Itu adalah aturan mutlak yang harus di sepakati bersama.
“Sekarang giliran kalian, anak-anakku! Pikirkanlah sebelum memutuskannya!” ucap Enji di depan asap kebulan cerutu Baldrik.
Di dalam batin Baldrik sudah tergambar kemenangan, wajahnya sudah terlihat angkuh, sebab jelas anaknya dan anak Roger akan memihak kepada usulannya, mereka akan berkata sepakat dengan suara lantang yang menggema sehingga kuping dan kepala lawan akan terasa panas saat mendengarnya.
Eiji, anak tunggal sebagai pewaris tunggal Takhta kelompok Tanah Timur mengatakan pendapatnya, meski agak gugup, ia berkata, “Kita memang manusia serigala, tetapi kita masih memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang harus kita utamakan. Jadi, aku memilih tidak, tidak menyepakatinya.”
Kemudian disusul oleh anak George, meski dia wanita tetapi suaranya lantang seakan menantang, ia berkata, “Usulan itu adalah hal bodoh yang pernah aku dengar; beginikah kualitas pemimpin kelompok Udara Utara? Sangat memalukan! Tentu aku tidak setuju.”
Mendengar hal itu, Baldirk dan Roger sontak kaget, meski agak marah, namun Baldrik menganggap ucapan anak George hanya seperti asap cerutunya, apalagi anak itu wanita sama seperti anaknya. Baldrik hanya tertawa kecil menanggapi ucapan anak George yang ia anggap bocah itu.
“Bagus, anakku!” ucap George pada anaknya.
Sekarang giliran anak Baldrik dan anak Roger yang harus mengeluarkan pendapatnya. Tetapi sebelum itu, Baldrik meminta pada kedua anak itu untuk mengeraskan suaranya. Dia sangat meyakini bahwa usulannya akan menang.
Tiba-tiba anak-anak mereka serempak menjawab, entah sebelumnya kedua anak mereka telah berjanjian atau hanya sebatas kebetulan. Mereka menjawab dengan lantang dan keras hingga terdengar oleh semua anggota yang berjaga-jaga di luar Kastil.
Mereka menjawab, “Tidak!”
“Apa?” sontak Baldrik sangat kaget. Ia tundukkan kepalanya, dan melihat dengan murka ke arah anaknya. Lalu meminta anaknya untuk mengulangi perkataannya. Tetapi tetap saja anaknya mengatakan tidak, anaknya sama sekali tidak bercanda.
Begitu pula dengan anak Roger, meski di ancam Roger akan menghukumnya nanti di rumah, dia tetap bersikukuh mengatakan tidak.
Baldirk seakan ingin murka kepada semuanya, terutama pada anak yang telah ia lahirkan dan besarkan susah payah. Dan menatap pada Roger dengan tajam, ia menganggap anaknya telah menghasut anaknya untuk mengatakan tidak.
“Jangan mencurigainya, yang jelas aku dan dia sama-sama memiliki alasan kenapa menolak usulan itu,” kata anak Baldrik.
Jadi, usulan Baldirk dinyatakan ditolak dan tidak dapat di perpanjang untuk di bahas lebih lanjut lagi.
Berbagai usulan telah mereka lontarkan. Saat Enji dan George memberikan satu poin isi perjanjian, maka Baldirk dan Roger menolaknya. Begitu pun sebaliknya, George akan menolak lebih awal ketika Baldrik dan Roger memberi usul. Di dalam kepala keempat Alpha meyakini setiap usul yang di keluarkan pasti memiliki kepentingan pribadi bukan kepentingan menyeluruh, dari itu mereka menolaknya.
Ketika perdebatan mereka tak pernah berakhir dan tidak menemukan titik terang, tiba-tiba anak Baldrik mengaung keras hingga mereka berhenti berdebat. Kemudian ia terdiam saat semua pandangan tertuju padanya. Lalu ia berkata, “Hentikan perdebatan kalian, aku mohon hentikan! Perdebatan yang panjang tidak akan menyelesaikan bahkan membuat semakin parah. Mari kita sepakati semua ini dengan bijaksana!”
“Setuju,” sahut Eiji.
Lalu anak George dan Roger sama-sama mengatakan serupa.
Akhirnya mereka pun membuat isi perjanjian baru dengan tenang, meskipun Baldrik agak merasa risih dengan cara seperti ini, tetapi ia pun mengikuti arus pembicaraan. Dan akhirnya, mereka pun menyelesaikannya.
Isi perjanjian baru saat ini hanya berisi dua kewajiban dan dua larangan. Poin pertama yang diwajibkan adalah:
Mematuhi segala perintah dan peraturan Alpha Dunia nantinya.
Menjalin kerjasama yang kuat antara kelompok satu dengan lainnya.
Sementara hal yang dilarang, yaitu:
Setiap anggota kelompok di larang menjalin hubungan lebih dengan anggota kelompok lain.
Dan dilarang menjalin hubungan dengan manusia biasa.
Poin pertama hal yang di wajibkan tersebut di usulkan oleh George, dan semuanya setuju meski Baldrik menampilkan wajah murung. Apalagi saat Enji mengusulkan poin kedua dari hal yang di wajibkan, bibirnya seakan berat mengatakan setuju. Namun akhirnya usul dari Enji tersebut di setujui oleh mereka semua.
Dan poin pertama yang dilarang di usulkan oleh Baldrik, semuanya setuju kecuali anaknya sendiri. Bagi anaknya, cinta adalah kebebasan. Jadi, tidak boleh di paksakan untuk mencintai siapa. Tetapi tetap saja ia kalah suara. Maka usul dari ayahnya itu dianggap sah.
Enji pun menutup pertemuan pembahasan isi perjanjian tersebut dan mengakhirinya dengan mengatakan isi perjanjian tersebut dinamai dengan Dua Sumber Kehidupan. Dan meminta kepada kelompok Baldirk untuk membuat naskahnya dan memberikannya pada mereka.
Saat itu juga, fajar pun tiba.