Di jam dua belas tengah malam, suara ketukan sepatu kulit menggema di dalam Kastil, suara itu berasal dari ke empat arah dan menuju ke tengah-tengah Kastil. Suara ketukan sepatu itu pun berhenti menggema, keempat kelompok telah berkumpul kembali.
Keempat Alpha itu saling menatap tajam satu sama lain, namun hanya Baldrik yang di bumbui satu batang cerutu di bibir sebelah kanannya. Pakaiannya pun berbeda dengan ketiga Alpha, dari kepala, ia mengenakan topi yang biasa di gunakan seorang Koboi berwarna hitam, sepanjang tubuhnya di bungkus jaket kulit berwarna hitam, ia mengenakan serba pakaian hitam, sebab baginya itu lambang dari kegelapan.
Lain halnya dengan Alpha Api Barat, ia memiliki gema ketawa yang khas, seakan ia adalah bos dari semua bos di Amerika. Sambil menatap Baldrik, ia berkata, “Bagaimana? Apakah kalian sudah siap?” sementara masing-masing anak-anak mereka berdiri tegak di samping mereka berwujud serigala.
“Kamu tak perlu mengkhawatirkan kami, tetapi yang seharusnya gelisah itu adalah kalian, sebab kalian berada di wilayah kekuasaan kami,” seru Baldrik menyombongkan diri seperti biasanya.
Asap rokok Baldrik mengudara, dan keempat anak mereka tetap diam saja. Mereka saling memperhatikan satu sama lain dan menganalisa, apakah mereka dapat mengetahui wujud manusianya. Tetapi kekuatan mereka belum cukup dikarenakan usia mereka belum genap dua puluh tahun.
Karena keempatnya telah berkumpul, Enji Alpha dari Tanah Timur pun memulai pembicaraan, ia tak pernah takut oleh ancaman Baldrik sedikit pun. “Aku akan mengajari kalian satu hal anak-anakku, selain kekuatan membuat kita di segani, kebijaksanaan pun akan lebih membuat kita di segani dan akan di cintai. Jadi malam ini, aku berharap kita bisa bekerja sama menyepakati perjanjian yang bagus.”
“Kamu seperti seorang pendeta yang tak memiliki dosa, Enji. Apakah kamu lupa dengan dosa keturunanmu yang membantai kelompok kami? Di dalam darahmu dan anakmu itu menggumpal puluhan dosa. Dan di dalam darahku dan anakku, menggumpal suatu energi yang ingin membalas dendam,” gerutu Baldrik sambil mengebul asap cerutunya.
“Kamu memang iblis, Baldrik. Kamu lihat tanganku ini! Ketika kamu melangkah untuk balas dendam pada saudaraku ini, tentu aku tidak akan tinggal diam saja. Akulah yang menghadapimu. Camkan itu!” sahut George bermuka geram.
Saat kedua tangan Enji ia masukkan ke celana panjang hitamnya, Alfa Udara Selatan melangkah sekali ke depan George, lalu berbisik di telinga kirinya, “Dengar George, aku masih ada disini! Jangan pernah menganggap dirimu kuat, sebelum aku ada disini!” Ia pun mundur selangkah kembali.
Setiap Alpha menyimpan satu naskah kuno berisi perjanjian lama, sebagai bukti tertulis bahwa perjanjian itu pernah di sepakati mereka dulu kala. Dalam satu kertas coklat bertulis menggunakan tinta merah dan warna hitam. Di bagian paling bawah, terdapat tanda pengenal persetujuan keempat Alpha.
“Jangan membuang-buang waktu, ayo kita bicarakan!” kata Baldirk sambil menghisap cerutunya.
“Baiklah....” Ucap Enji. Kemudian ia mengambil naskah kuno tersebut di saku celana panjang hitamnya. Gulungan naskah kuno itu, terikat tali merah. Ia pun melepasnya dan langsung membuka gulungan naskah kuno dan langsung ia baca dalam penerangan seadanya.
Ketiga Alpha pun mendengarkan dengan saksama. Baldirk dengan kekuatan congkaknya, kadang-kadang meniru apa yang di ucapkan Enji sambil mengangkat setengah bibirnya, cerutunya perlahan mengecil dan abu rokoknya kadang-kadang ia percikkan di depan Enji tanpa kata apa pun terkecuali hanya ingin membuat Enji marah.
Isi perjanjian lama pun selesai di bacakan, Enji kembali menggulung, mengikat dan langsung menyimpan naskah kuno berukuran kecil tersebut. Kemudian ia berkata, “Maka dari ini, kita membuka perjanjian baru di lahirkan. Siapa yang akan pertama kali memberikan pendapatnya?” tanya Enji menatap mereka. Sebab di dalam aturan melahirkan suatu perjanjian di tekankan agar setiap Alfa memberikan pernyataan mereka.
“Hey, Baldirk...aku menginginkan setiap dari kita yang memasuki wilayah kekuasaan harus membayar upeti berupa kepala manusia harimau?” seru Baldirk mengangkat kepalanya.
Kelompok Enji dan George sama-sama kaget mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Baldirk, bisa-bisanya dia menginginkan hal itu, apakah dia tidak memikirkan dampaknya atau memang dia telah sengaja agar perselisihan antara manusia harimau dan manusia serigala kembali terjadi seperti beberapa abad yang silam.
George seakan tidak terima, ia menghembuskan napas amarah dan ingin menghajar mulut Baldirk yang ia anggap kurang hajar itu. “Berani-beraninya kamu meminta hal konyol seperti itu lagi...?” kata George sambil menunjuk-nunjuk ke arah Baldirk. Ketika ia melangkah, Enji langsung menghalangi dengan satu tangannya sambil berkata, “Jangan mau terpancing omongannya! Ia memang sengaja membuat kita marah.”
Sementara keempat anak mereka yang berwujud serigala hanya bisa mengaung, dan saling memperhatikan satu sama lain. Mereka seakan segan atau takut mencampuri urusan ayah mereka.
“Kalian memang pecundang dan pengecut. Ketika aku memiliki keturunan seperti kalian, pasti tidak akan aku akui. Sebagai manusia serigala yang terhormat dari manusia harimau, kita harus membuat peringatan pada mereka agar tidak semena-mena. Apakah kalian tidak mendengar di dalam sebagian wilayah, mereka seakan mendominasi dan memperlihatkan kekuatan mereka dimana-mana. Setelah mereka memiliki satu pemimpin dunia, mereka semakin di tarik oleh manusia sebagai penjaga tempat-tempat penting. Dan nama kita, tenggelam di lautan yang sangat dalam. Apakah kalian tidak iri? Apakah tidak malu? Selama ribuan tahun, sebelum peperangan itu terjadi, manusia serigalalah yang memegang kuasa di dunia, dan kekuatan kita di akui oleh dunia. Namun kini, kita memiliki generasi penakut seperti kalian ini. Kalian sangat payah!” ucap Baldrik dengan tenang.
“Baldirk, apakah kamu lupa dengan jutaan dari bangsa kita tergeletak di tanah, menangis sambil memohon agar peperangan antara kita dan mereka di hentikan. Apakah kamu lupa itu? Atau apakah kamu menyukai peperangan? Kehancuran? Penderitaan? Demi sebuah kepentingan egoismu itu! Kamu hanya berbicara kekuasaan tapi lupa dengan kemanusiaan,” sahut Enji mendebatnya.
Lalu Baldirk mendekati Enji sambil mengangkat kerah bajunya, ia berbicara sangat emosi, “Hei, Enji. Kamu mengguruiku tentang kemanusiaan? Apakah kalian lupa, bahwa ratus tahun lalu nenek moyangmu membantai kelompok kami tanpa sisa. Apakah itu yang namanya kemanusiaan? Hah, jawab?” ia pun melepaskan kerah baju Enji lalu membalikkan badan sambil menghisap cerutunya dan berkata bahwa semua ini adalah kepentingan.
“Baldrik, ketika kami mengirimkan surat pemberitahuan bahwa yang membantai kelompok kalian bukan kami, tetapi kalian tidak percaya. Dan kami merelakan anggota kami yang kalian bantai dalam tugas untuk meminta maaf, tanpa sedikit pun ada dendam dari kami. Bahwa kami menganggap itu sudah imbang dengan kesalahan kami pada kalian,” sahut Enji dengan tenang.
“Omong kosong apa itu? Kalian kira anggota yang kalian kirim itu sebanding dengan kelompok kami yang kalian bantai. Meskipun kalian membawakan segunung emas, itu tak akan setara. Ingat itu! Sudahlah...mari kita lanjutkan lagi pembahasan perjanjian lama!” jawab Baldrik.
“Tetap saja aku tidak menyetujui permintaanmu itu! Aku tahu kamu, Baldirk. Meski bagaimana pun kamu menutupi dirimu,” kata George menatap Baldrik tanpa takut.
“Baik, tetapi ketika aku bersiul maka Kastil ini akan di penuhi oleh anggotaku, maka kalian harus siap-siap melawan mereka!” ancam Baldrik sambil mengebul asap cerutunya ke udara.