Happy Reading♥️
/The Angels/
~
~
Di sebuah danau besar dalam suatu negeri bernama Angeles, seorang peri Putih sibuk membenahi tempat tinggalnya yang hampir tenggelam karena air dalam danau itu meluap.
Swingg!
Terdengar kekuatan magic yang keluar dari tangannya.
Swing!
Swing!
Swing!
“Oh tidak!” seorang peri muda dengan gaun hijau itu tampak begitu panik Ia berusaha membuat tempat tinggalnya tetap aman dari genangan air. Ini sudah keberapa kali Ia menghadapi situasi yang sama, ketika hujan terus menerus, danau besar itu akan meluap dan naik ke daratan tempatnya tinggal.
“Joe!” panggil seekor anjing ras spesial yang hendak melompat ke arah ikan yang tengah berenang ke arahnya.
“Cob! Tetap di tempat!” perintah gadis itu pada sahabat anjingnya.
“Baiklah Rosie..” jawabnya dengan malas.
“Ah Jo, maaf.. Aku tidak ada waktu untuk bermain denganmu.” ucapnya pada ikan yang melompat-lompat mengajaknya bermain. Ikan itu hanya berenang di sekitaran, bermain-main dengan sihir gadis itu yang seperti angin berhembus, membuat air terhempas dan kembali.
“Hhh! Tidak lagi, haruskah kita tidur di atas pohon sekarang?” kesal gadis yang tadi di panggil Rosie.
“Kau bisa membuat gelembung sihir untuk membantu kita tidur malam ini.” ujar anjing anomaulus bernama Cobalt itu.
“Aku tak bisa melakukannya, tentu para prajurit Alpez yang berkeliaran di sekitar sini akan merasakan kekuatan sihirku.” Jelasnya.
“Ku rasa tidak se-mengerikan itu.” tepis Cobalt merasa ragu dengan ucapan Rosie.
Rosie yang duduk di atas sebuah batu turun hingga air membasahi sedikit bagian bawah gaun hijaunya. Ia mengintip sedikit dari balik air terjun, sudah tidak hujan, tapi sebentar lagi hari mulai gelap.
“Baiklah, kemari anjing pintar.” anjing itu melompat ke arah Rosie dan segera di tangkapnya, bukan tanpa alasan Rosie memanggilnya begitu karena Cobalt adalah anjing cerdas yang pernah Ia temui.
“Kembali ke rumah pohon?” tanya Cob.
“Tidak Co, itu bukanlah rumah pohon.” jawabnya kesal. Cobalt sengaja menggodanya.
Keduanya keluar dari sana melalui pintu masuk rahasia yang terdapat di dalam bukit berbentuk lorong. Tidak akan ada yang dapat menemukan pintu itu karena daun-daun rambat yang tampak seperti semak-semak telah menutupinya dengan sempurna.
“No no no! Mengapa tidak mencoba menggunakan sayapmu, Rosie?” tanya Cobalt melihat Rosie berusaha naik ke atas pohon.
“Aku tidak pernah menggunakan sayapku, kau lupa itu?” Rosie sudah berada di satu dahan pohon lalu mengisyaratkan Cobalt untuk lompat padanya. Bukan tanpa alasan Ia menolak menggunakan sayapnya, Ia takut jika teralu sering menggunakannya maka peri hitam Alpez dapat mengetahui keberadaannya. Setidaknya itulah yang Ia yakini.
Gadis itu mengarahkan Cobalt ke sebuah dahan pohon yang lebih tinggi, kemudian Ia naik setelahnya. Pohon itu besar sehingga Rosie dapat tidur di dahannya.
“Rosie..”
“Ya?”
“Mengapa kau tidak mencoba menggunakan sayapmu?”
“Mengapa aku harus menggunakan sayapku? Bukankah aku tidak dapat terbang jauh dan tinggi.”
“Setidaknya kau terbiasa menggunakan sayapmu. Kau akan membutuhkannya suatu saat nanti.”
“Kau tahu, aku tidak sungguh-sungguh membutuhkannya.” terdengar nada ucapan Rosie yang penuh keputusasaan.
“Baiklah, sebaiknya lupakan saja.. Tapi, maukah kau ceritakan dongeng sebelum aku tidur?”
“Tidak sekarang Co, suasana hatiku sedang tidak baik.”
“Bagaimana jika sedikit?”
“Akan ku ceritakan di lain waktu.” kekeh Rosie menolaknya.
“Oh come on Rosie, aku kesulitan memejamkan mataku.” Cobalt menggerakan kedua telinganya seolah menunjukkan jika dirinya belum juga merasa kantuk, sedangkan Rosie menggeleng dan menghela nafas.
“Kau benar-benar membuatku harus melakukannya.” seolah tahu apa yang akan Rosie lakukan, Cobalt sedikit terkejut dan melompat.
“No no no Ro-”
Woooshh!
Rosie meniupnya dengan sihir yang Ia miliki sehingga membuat Cobalt tertidur seketika.
“I’m so sorry Co..”
Seketika Rosie merasakan suasana menjadi lebih damai dari pada mendengar Cobalt terus berbicara meminta di ceritakan sebuah dongeng, Rosie sedang sangat malas hanya untuk menceritakan sebuah dongeng.
“Cobalt.. Menurutmu, apakah aku cukup berani untuk kembali ke kota?” tanya Rosie pada Cobalt yang tentu tak akan menjawab pertanyaannya, karena anjing yang ceria dan sedikit cerewet itu sudah terlelap sekarang.
“Aku membayangkan, apakah jika aku kembali, aku dapat bertemu keluargaku di sana, aku bahkan tak memiliki keberanian untuk melangkahkan kakiku keluar dari hutan ini.” Rosie semakin memeluk Cobalt, mendekatkan anjing itu ke tubuhnya, malam ini udara benar-benar terasa begitu dingin.
“Ini sudah belasan tahun, dan sudah beberapa tahun lamanya aku tidak-”
“Ahk!”
Srek!
Bugh!
Rosie terkejut mendengar suara berisik yang terdengar tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Apakah mungkin itu adalah suara prajurit Alpez. Jika benar, sedang apa mereka berada di dekat sini? Rosie kembali mendengarkan dengan seksama, tapi tak terdengar kembali suara-suara berisik itu. Jika benar dugaannya adalah prajurit Alpez, tentu itu terdiri dari beberapa orang dan suaranya tidak akan menghilang begitu saja.
Rosie merasa penasaran dan memutuskan untuk memeriksanya, Ia turun dari atas pohon dan mendekat ke arah suara tadi berasal, Rosie mengendap-endap takut jika memang suara besirik tadi adalah suara prajurit Alpez. Tapi kekhawatirannya terjawab ketika Ia melihat seorang pria tengah tergeletak di tanah, siapa gerangan pria itu? Pria dengan sayap hitam yang cukup besar, tampak tak sadarkan diri. Rosie mendekat dan mendapati sayap pria itu sedikit patah, sepertinya dia jatuh dan menyebabkan sayapnya patah.
Rosie semakin mendekat ke arah pria itu, kasihan sekali melihat sayapnya yang patah. Tidak, penduduk negeri Angeles tidak akan berani menggunakan sayap mereka atau bahkan raja Negeri Alpez yang kejam itu sudah memerintahkan para prajuritnya untuk memotong semua sayap penduduk Angeles yang di temuinya, klan peri putih lebih tepatnya. Tentu pria ini berasal dari Alpez. Jika benar, mengapa dia ada di dalam hutan dan sendiri? Atau pria itu berasal dari Angeles sama seperti dirinya dan mencoba kabur dari pasukan Alpez? Rosie terus bertanya-tanya.
Tiba-tiba pria itu mengerang membuat Rosie terkejut bukan main, dengan segera Ia meniupkan sihir pada wajah pria itu dan membuatnya tertidur.
“M-maaf aku tidak sengaja.” ucapnya tiba-tiba. Dengan hati-hati Rosie mengarahkan kepala pria itu di pangkuannya dan mulai memperhatikan wajah pria itu.
Rosie membuat satu tangannya bersinar, dapat Ia lihat wajah pria yang tertidur itu dengan cukup jelas.
“Sangat tampan, siapa sebenarnya dirimu?”
Rosie tersenyum melihat wajah tampan pria itu. Hidung mancung, bibir tipis, belum lagi matanya yang sedang terpejam, mungkin pria itu akan sangat-sangat tampan jika membuka matanya, benar-benar tampak seperti seorang pangeran.
“Apakah kau klan peri hitam? Kau tidak terlihat jahat jika sedang tertidur. Hmm.. Aku bertanya-tanya siapa sebenarnya dirimu?”
Pandangannya beralih pada sayap pria itu yang sedikit patah, “Bagaimana bisa kau mematahkan sayapmu?” ujarnya merasa heran. Dengan masih memangku kepala pria itu, Ia memeriksa sayapnya yang terluka.
“Kasihan.. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu mengobatimu? Ah ya.. Jika aku membantumu mengobati luka di sayapmu, kau akan pergi dengan cepat setelah sadarkan diri.”
Rosie melepas ikat rambutnya yang berbentuk scarf untuk mengikat sayapnya yang patah, setelahnya Rosie meniupkan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka di sayap pria itu.
“Opss! Mengapa aku menggunakan sihirku? Ah tentu dia akan menyadarinya ketika terbangun nanti.” Rosie terlihat panik, Ia tak sengaja meniupkan sihir itu padanya, Ia lakukan karena terdorong rasa kasihan.
“Baiklah, aku harus meninggalkanmu sekarang.” Rosie mengumpulkan dedaunan dan meletakan kepala pria itu di atas tumpukan daun.
Rosie berlutut, kembali memperhatikan wajah tampan pria itu, tangannya terulur mengusap wajahnya.
“Aku berharap kau adalah peri Angeles sama sepertiku. Senang bertemu denganmu pangeran tampan.” ujarnya, lalu segera pergi meninggalkannya.
***
Suara penggiling gandum menggema di seluruh penjuru desa, seperti biasa para penduduk asli Negeri Angeles akan mulai bekerja setiap paginya, menghasilkan tepung, teh dan bahan makanan lainnya. Tidak ada yang berbeda, karena itulah kebiasaan para penduduk Negeri Angeles selama ini, bedanya adalah mereka melakukan pekerjaan itu atas perintah dan paksaan untuk tetap tinggal di negeri mereka sendiri.
Awalnya, Angeles adalah negeri damai dan bahagia, negeri dengan peri putih yang baik hati sebelum akhirnya kedamaian dan kebahagiaan mereka direnggut oleh klan peri hitam dari Negeri Alpez. Penduduk Angeles tidak pernah menganggap mereka sebagai seorang peri yang berhati malaikat, melainkan iblis yang telah menghitamkan Negeri Angeles, menghujani mereka dengan siksaan dan kepedihan.
Penduduk Alpez adalah peri dengan kekuatan hitam, sesuatu telah terjadi pada beberapa tahun lalu hingga membuat peri Alpez tak pernah merasa puas dan tak memiliki rasa kemanusiaan hingga terkadang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan melakukan berbagai cara sekalipun dengan cara menyakiti. Meski begitu, penduduk Alpez hidup di bawah pemimpin bernama Jefferson, seorang raja yang perkasa, kejam dan tanpa ampun, beserta ratu Alpez bernama Heidi. Raja dan ratu Alpez memiliki dua orang anak, yang pertama adalah anak perempuan bernama Joana dan adik laki-lakinya bernama Julian.
Bukan tanpa alasan Raja Jefferson merampas Negeri Angeles dari tangan penduduknya, tidak lain karena Ia ingin memperluas kekuasaannya dan juga berniat menyerahkan negeri itu untuk putra satu-satunya Pangeran Julian yang akan mewariskan posisinya sebagai raja Alpez. Sedangkan putrinya, Joana, hidup dengan semua kekuasaan yang di milikinya. Putri Joana memiliki kepribadian yang keras, Ia juga serakah dan selalu ingin di utamakan. Raja Jefferson menyerahkan segala urusan perekonomian Angeles pada putrinya itu. Dan Pangeran Jefferson, pria dengan tubuh atletis yang dingin dan pendiam, bersama sepupunya Vince, bertanggung jawab atas keamanan klan peri hitam.
~
Tak ada yang tahu alasan mengapa Alpez menjajah negeri peri Angeles dan memperlakukan peri Angeles dengan sangat tidak adil. Yang mereka tahu adalah hubungan Angeles dan Alpez memang tidak baik sejak dulu. Sudah hampir belasan tahun sejak Negeri Angeles berhasil dikalahkan sihir hitam peri Alpez, dan sudah belasan tahun pula penduduk Negeri Angeles hidup di bawah kendali mereka.
Tidak hanya Negeri Alpez yang hidup di bawah kekuasaan Raja Jefferson, pada mulanya Negeri Angeles memiliki seorang raja yang memimpin mereka, bernama Raja Henderson yang gugur belasan tahun lalu dalam pertempuran darah ketika mempertahankan negerinya Angeles dari serangan Alpez. Mungkin kekuatan sihir mereka berkembang seiring berjalannya waktu hingga berani datang ke Angeles untuk merebut negeri itu dan menjajahnya hingga saat ini.
Raja Jefferson mematahkan seluruh sihir penduduk Angeles dan mengurung sihir mereka di suatu tempat hingga membuat peri Angeles tak lagi memiliki kekuatannya. Penduduk Angeles di larang keras menggunakan kekuatan mereka sedikitpun dengan sisa-sisa kekuatan mereka yang tertinggal. Para orang tua bekerja dengan tenaga mereka jika menginginkan untuk tetap tinggal di Angeles. Raja Jefferson tak segan-segan mematahkan sayap mereka yang berusaha untuk kabur ataupun membangkang, Raja Jefferson benar-benar tak memberi ruang sedikitpun kepada penduduk Angeles.
Namun, bagaimana dengan Rosie? Salah satu peri Angeles yang tak pernah diketahui keberadaannya oleh klan peri hitam. Tidak, mungkin ada peri putih lain yang berhasil lolos dari mereka dan tinggal dengan cara bersembunyi sama seperti gadis itu.
Mungkin saja..
~
“Apa dia belum kembali dari berburu?” tanya King Jefferson dengan suara beratnya.
“Prince Julian belum kembali Your Majesty.”
“Beri tahu aku jika dia sudah kembali.”
“As your wish Your Majesty..”
Setelah King Jefferson pergi, terdengar suara langkah kaki memenuhi lorong besar dalam istana itu. Tampak Prince Julian berjalan masuk dengan raut wajah masam.
“Your Highness?” seorang maid segera menghampiri pria yang baru saja di cari rajanya itu.
“Oh! Your Highness.. Ada apa dengan sayapmu?” tanya maid tersebut.
“Aku baik-baik saja. Apa ada hal penting?” tanyanya.
“King Jefferson mencari Anda, Your Highness..”
“Aku akan menemuinya nanti.” singkatnya, kemudian pria itu melenggang pergi menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan sang maid hanya berani memandangnya saja. Prince Julian tidak akan pernah suka jika siapapun mencoba untuk membantu tanpa permintaan darinya, sedangkan sang pangeran tidak bicara apapun sehingga maid tersebut cukup menebak jika Prince Julian sedang tidak ingin di ganggu kali ini.
*
Julian mendudukkan dirinya di atas ranjang, memperhatikan luka di sayapnya yang patah, Ia merasa ada yang aneh sejak terbangun di atas tanah dalam hutan itu. Tampak sebuah scarf mengikat sayapnya yang patah, namun lukanya membaik bahkan ketika kembali ke istananya, luka itu sudah tidak berarti lagi.
Ia melepaskan dengan perlahan scarf di sayapnya, siapa gerangan yang mengikat dan mengobati luka di sayapnya, tidak mungkin seorang peri dari Alpez karena peri hitam tidak memiliki kekuatan itu, bahkan mungkin hanya 1% saja peri putih yang menguasai sihir penyembuh luka. Sangat jelas jika peri putih yang telah menyembuhkan luka di sayapnya, tapi sangat tidak mungkin jika mengingat semua peri putih berada dalam pengawasan para prajurit Alpez. Lalu, bagaimana bisa?
Prince Julian mencium scarf di tangannya, aroma kasturi putih yang begitu lembut dan membuat suasana hatinya tiba-tiba menjadi lebih baik, sejenak Prince Julian menikmati aroma itu dan tak lama tersadar jika aroma dari scarf tersebut mampu mempengaruhi akal sehatnya.
Jika benar peri putih yang baru saja menyelamatkannya, Ia harus bertemu dengannya, Prince Julian begitu penasaran dengan rupa gadis itu, tentu pemilik scarf itu adalah seorang wanita bukan? Tidak mungkin jika seorang pria, apalagi jika dari aromanya, sangat jelas jika seorang wanita yang telah menyembuhkannya dan mengikatkan scarf miliknya di sayapnya yang patah.
Prince Julian menyimpan scarf itu di lemarinya dan mengganti ikatannya dengan perban. Tak boleh ada yang tahu tentang kejadian yang Ia alami, siapapun itu. Kekuatan sihir peri putih itu telah menyelamatkannya dan tentu hanya dirinya saja yang boleh mengetahui hal tersebut. Ia berjanji suatu saat dirinya harus kembali lagi ke dalam hutan di mana dirinya terjatuh, bagaimanapun Ia harus menemukan pemilik scarf dengan aroma kasturi yang tadi di simpannya.
•••