Ruang makan Istana Alpez terdengar cukup ramai, pagi ini mereka kedatangan tamu yang tak lain adalah Raja dan Ratu dari Negeri Thale, beserta putrinya bernama Lalice.
Negeri Alpez tidaklah negeri yang hanya berdiri seorang diri, dengan begitu cerdik King Jefferson banyak menjalin hubungan dengan para raja dari berbagai negeri dan membuat dirinya begitu kuat jikalau suatu saat membutuhkan dukungan untuk melawan musuh, salah satunya adalah menjalin hubungan baik dengan negeri bernama Thale itu.
"Maid Dorothy.." panggil Queen Heidi pada seorang pelayannya yang tengah berdiri tak cukup jauh dari kursinya. Segera pelayan bernama Dorothy itu mendekat ke arahnya tuannya.
"Your Majesty?" tanyanya.
"Bisakah kau panggilkan Prince Julian? Kami tidak bisa menunggu lebih lama untuk sarapan ini." bisiknya.
"Yes Ma'am.." belum sempat Dorothy menaiki tangga, pria dengan tubuh atletis itu sudah berjalan turun.
"Oh putraku.." Heidi beranjak dari duduknya dan menghampiri Julian, "Mengapa kau begitu lama, Nak?" bisiknya seraya menggandeng putranya itu hingga ke meja makan.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama." ujarnya pada semua orang yang kini tengah melihatnya.
Lalice yang merasa gembira, bangkit dari duduknya, sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat dan tersenyum dengan sumringah.
"Princess Lalice, kau tidak perlu melakukannya." ujar Heidi memintanya untuk duduk.
"Your Majesty, aku harus melakukannya untuk menyambut calon suamiku." jawabnya dengan riang, sedangkan beberapa orang di sana tertawa renyah.
"Lalice.. Itulah yang sangat ku sukai dari dirimu. Kau selalu bersikap manis dan sopan." puji Heidi melihat sikap gadis itu yang begitu menunjukkan sifat kebangsawanan.
"Prince Julian, duduklah.." pinta Queen Moana, dengan segera Julian duduk di ikuti Heidi.
"Bagaimana kabarmu, Prince Julian?" tanya Queen Moana.
"Kabarku cukup baik, Your Majesty."
"Ku lihat, kau tampak semakin dewasa, pembawaanmu begitu tenang seperti ayahmu." puji King Marcus.
"Bukankah itu berarti sudah waktunya dia menikah?" gurau Queen Heidi membuat semua orang tertawa, sedangkan Julian hanya tersenyum, tak sengaja Ia menoleh pada kakaknya Joana yang hanya terdiam sejak tadi, bahkan tampak sangat jelas jika Joana tak menikmati acara sarapan itu.
"Lalu, bagaimana dengan sisi barat Angeles? Ku dengar kau berhasil melepaskan beberapa tawanan peri Alpez dan mengambil alih negeri kecil yang menolak bekerjasama dengan Alpez."
"Ya benar sekali Your Majesty."
"Apakah berita itu sudah menyebar hingga Thale?" tanya King Jefferson dengan cukup bangga.
"Tentu! Semua orang tahu jika putramu ini adalah pria yang sangat hebat," puji Marcus lagi, "Tidak salah jika aku menginginkanmu menjadi suami dari putriku, Prince Julian.." tambahnya seraya menoleh ke arah Julian yang hanya tersenyum dan menunduk.
"Baiklah, ku rasa sudah waktunya untuk kalian menikmati hidangan pagi ini." ucap King Jefferson.
"Apakah Chef Anthony masih juara dalam hal memasak?" tanya Moana ketika para maid mulai menuangkan beberapa makanan di piringnya.
"Ya, kalian tentu merindukan masakannya." Heidi menjawab.
"Itu sudah setahun lalu sejak kita makan bersama bukan? Aku berharap dapat memiliki seorang juru masak sepertinya." gurau Moana.
"Sayang sekali Anthony masih menjadi chef andalanku." sergah Heidi, membuat semua orang tertawa.
"That's right Sister.." jawab Queen Moana yang tampak begitu akrab dengan Queen Heidi.
"Istriku, kau harus biarkan mereka menikmati hidangannya." King Jefferson meraih tangan istrinya dan menggenggamnya, seolah memberi isyarat agar Heidi menghentikan perbincangan mereka.
"Sure, Your Majesty."
*
"Kau tahu Prince Julian, aku selalu menyukai pemandangan dari balkon ini." ucap Lalice pada Julian yang menemaninya berjalan-jalan di istananya hingga berakhir di balkon yang terhubung dengan ruang utama.
"Kau masih tidak berubah. Terakhir kali kau mengatakan jika balkon ini adalah tempat favoritmu dari semua tempat di istanaku."
"Bukankah balkon ini yang terbaik? Kau juga mengatakan hal yang sama tentang itu. Dari sini kita dapat melihat apapun di bawah sana, menyenangkan."
Julian mengerutkan dahi, Ia lupa kapan Ia mengatakan hal tersebut.
"Bukankah kau setuju denganku kali ini?"
"Hmm.. Ya, meski tidak semuanya." jawab Julian, menurutnya gadis itu selalu melebih-lebihkan segala hal.
"Ada benarnya juga. Tapi jika kita sudah menikah, apakah aku dapat memiliki balkon ini?"
Julian menoleh pada Lalice dan kembali mengerutkan dahi, Ia benar-benar tak suka cara gadis itu bermanja kepadanya.
"Maksudku, aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku di sini, mungkin menambahkan tenda kecil dan juga sedikit hiasan akan tampak lebih baik." Jelas Lalice melihat ekspresi wajah Julian yang tidak menyenangkan.
Julian mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum, memalingkan wajahnya dan kembali meneguk minumannya. Dari atas sana, Julian melihat kedatangan sepupunya, Vince bersama prajurit yang lain.
"Peri Angeles?" gumamnya
"Prince Julian? Apa yang kau katakan tadi? Aku tidak mendengarmu." tanya Lalice tak mengerti.
"Lalice, aku akan pergi sebentar, kau turunlah dan bergabung dengan yang lain."
"Tapi-" belum sempat Ia meneruskan ucapannya, Julian sudah berlari meninggalkannya.
Lalice menghentakkan kakinya, merasa kesal karena Prince Julian mengabaikannya, namun Ia terkejut ketika tiba-tiba Princess Joana sudah berdiri di pintu menuju balkon sambil menyeringai ke arahnya.
"Apa sesuatu terjadi? Kau terlihat begitu kesal, apa karena Julian meninggalkanmu?" ujar Joana sinis seraya berjalan kearahnya.
"Oh Your Highness, kau sungguh mengejutkanku, apa yang membuatmu naik dan menemuiku? Apakah kau berdiri di sana sejak tadi untuk mendengar percakapan kami?" sindir Lalice berusaha bersikap santai meski sebenarnya Ia semakin kesal dengan kehadiran Joana.
Joana tertawa kecut, "Sudah satu tahun sejak insiden itu, ku pikir ayah dan ibuku akan menolak kedatangan kalian." Joana menyenderkan tubuhnya ke balkon dengan tak melepaskan pandangannya pada Lalice.
"Ayolah Your Highness, kau masih terus mengingatnya, bukankah sudah ku katakan jika dulu aku tak sengaja melakukannya."
"Kau pikir aku percaya jika itu adalah ketidaksengajaan? Kau pikir aku bodoh karena percaya padamu?" Princess Joana tertawa, "Jangan menutupinya, aku tahu kau selalu tak suka padaku."
"My Elder Sister, ku mohon jangan memulainya." timpal Lalice santai, Ia sengaja hendak membuat Joana semakin marah.
"Bukankah impianmu adalah untuk menjatuhkan dan menghancurkanku?!" tampak Joana yang mulai termakan sikap menyebalkan Lalice hingga membuatnya semakin naik darah dan meninggikan suaranya.
"Your Highness, ku mohon.."
"Bermimpilah menjadi menantu keluarga Alpez, kau tidak akan pernah mendapatkan posisi itu!" teriak Joana semakin keras.
Lalice tertawa lirih, "Tenanglah Your Highness, pada kenyataannya sebentar lagi aku akan menjadi Queen Alpez dan kau akan tunduk padaku, jadi sebaiknya berusahalah untuk menerimaku.."
Joana merasa begitu marah dan dengan sengaja Ia mengarahkan sihirnya hingga mendorong Lalice ke belakang, karena terkejut Lalice menjatuhkan gelas yang di pegangnya dan dirinya terjatuh sedikit jauh.
"Ahk!" teriaknya.
"My Godness!" kejut seorang maid yang berlari untuk menolong Lalice, namun baru saja menjulurkan tangannya, gadis itu menepisnya.
"Singkirkan tanganmu dariku!" teriak Lalice membuat maid tersebut tersentak dan melompat mundur.
"Maid Jacey, tinggalkan dia, tak ada gunanya kau menolong wanita yang tidak tahu di untung, sebaiknya ikut aku karena kau harus membantuku." ujar Joana yang kemudian menyeringai pada Lalice karena dirinya merasa puas sudah membuat gadis itu kalah di hadapannya.
"Maaf Your Highness.." ujar Jacey yang kemudian melangkah pergi mengikuti kemana perginya Princess Joana.
"Sialan! Lihat dan tunggulah, akan ada saatnya aku membalas perbuatanmu!" geram Lalice seraya berusaha untuk bangun.
**
Dengan beberapa pengawalnya, Prince Julian turun menghampiri Vince yang tampak tengah memberi arahan pada beberapa prajuritnya. Namun mengetahui kedatangan sang pangeran Alpez, membuat Vince harus berhenti sejenak untuk memberi hormat.
"Your Highness.." sapanya.
"Hmm.. Satu peri Angeles? Apa dia melarikan diri?" tanya Julian melihat Vince membawa seorang peri Angeles.
"Tidak Your Highness, dia adalah salah satu peri Angeles yang selama ini bersembunyi di dalam hutan. Beruntung beberapa prajurit berhasil menemukannya."
"Kau yakin dia bukanlah peri yang melarikan diri?"
"Tidak ada siapapun yang melapor jika seorang peri Angeles melarikan diri jadi bukankah itu sudah jelas? Lagipula lihatlah, tampaknya dia hidup dengan nyaman dan aman di persembunyiannya, bagaimana bisa aku menyebutnya dengan melarikan diri." jelas Vince.
"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Sudah tentu memberinya pelajaran, lagipula kami harus kembali mencari tahu di mana dia bersembunyi, mungkin kami dapat menemukan beberapa peri Angeles lainnya. Izinkan aku melakukan tugasku." ujar Vince.
Julian mengisyaratkan Vince untuk pergi. Pria itu terus memperhatikan Vince yang semakin menjauh menuju tempat di mana peri Angeles itu akan di beri hukuman. Bukan tanpa sebab Julian mengatakan apakah Vince yakin peri itu tidak kabur, tiba-tiba Ia memikirkan kejadian semalam ketika seorang peri Angeles mengobati lukanya. Bagaimana jika Sir Vince lebih dulu menemukan peri itu sebelum dirinya?
**
"Jadi kau menolongnya, Rosie?"
"Apa aku salah jika telah menolongnya C?"
"Sungguh-sungguh menolongnya??" tanya Cobalt kembali menekankan pertanyaannya, sedang Rosie hanya mengangguk dengan takut.
"Sudah ku duga, tidakkah kau sadar jika dia adalah peri Alpez yang begitu jahat, kau seharusnya tidak menyembuhkan luka di sayapnya."
"Apa aku melakukan kesalahan? Aku merasa kasihan melihat sayapnya yang patah."
"Dia adalah musuh kita, ingatlah berapa lamanya mereka menjajah Negeri Angeles dan memperlakukan saudara-saudara kita sebagai b***k, bagaimana mungkin kau menolong peri Alpez yang telah berlaku sangat jahat pada semua peri Angeles, ingatlah jika peri Alpez-lah yang telah membuat kau kehilangan keluarga dan negerimu."
Rosie merebahkan dirinya, memikirkan ucapan Cobalt yang memang benar, seharusnya Ia mengingat jika sia-sia telah menolong peri selain peri Angeles karena bagaimanapun juga, menolong peri Alpez hanyalah akan menguntungkan sebelah pihak saja, bagaimanapun peri Alpez tidak akan melihat sedikitpun kebaikan dari peri Angeles. Namun kembali Ia mengingat kejadian semalam jika wajah tampan pria itu mampu menyihir dirinya dan membuatnya merasa iba hingga tergerak untuk menolongnya.
"Tak ada peri Alpez yang memiliki kekuatan seperti dirimu, bagaimana jika dia kembali dan mencarimu?"
Rosie menoleh pada Cobalt dengan wajah gusar, Ia merasa gelisah dan mendudukkan dirinya kembali.
"Aku tak berpikir dia akan kembali dan mencariku, Co. Sungguh aku tidak berpikir hingga sejauh itu."
"Kau terlalu naif." ujar Cobalt.
"Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang?"
"Tidak ada yang dapat kita lakukan, kita hanya harus lebih berhati-hati lagi."
Rosie menghela nafas panjang, "Dia menyihirku dengan wajah tampannya, apa yang dapat aku lakukan?" lirihnya, hampir terdengar oleh Cobalt.
"Apa kau bilang?"
"Eh, tidak."
"Ingat ucapanku Rosie, jangan lupakan jika dia adalah musuh, semua peri Alpez adalah musuh, jangan lagi menolong satupun dari mereka."
"Baiklah C, aku mendengarmu." Rosie hanya mengangguk lemas.
"Ku rasa dia akan kembali untuk mencarimu, akan lebih berbahaya jika dia kembali bersama para prajurit Alpez," ujar Cobalt merasa khawatir, "Jadi Kita harus mengurangi aktivitas keluar kita." tambahnya.
"Baiklah, aku akan mengumpulkan banyak makanan sebagai persediaan selama kita bersembunyi." ujar Rosie hendak pergi keluar.
"Aku akan membantumu Rosie." Rosie yang hendak melangkah keluar menoleh pada Cobalt yang berlari menghampirinya.
"Co, maaf telah membuat kita dalam bahaya."
"Rosie, mereka tak akan tahu jika aku adalah anjing anomalous. Mungkin situasiku saat ini tidak seberapa bahayanya dibanding dirimu."
Rosie berlutut dan meraih Cobalt dalam pelukannya, "Apa kau begitu khawatir akan hal itu?" tanyanya.
"Seperti yang kau pikirkan, namun kau akan baik-baik saja bukan?" Rosie hanya mengangguk.
Setelah memeluk Cobalt beberapa saat, keduanya melangkah keluar dan mengumpulkan bahan makanan, meminimalisir dari pergi keluar untuk kebaikan mereka beberapa waktu ke depan.
**
"Apakah menurutmu gaun ini cocok untukku Jacey?" tanya Joana yang tengah mencoba gaun-gaunnya.
"Sangat indah, Your Highness.."
Tiba-tiba saja Joana melemparkan gaun itu ke lantai, "Jika begitu aku tidak akan memakainya, ini terlalu indah untukku." ujarnya dengan nada kesal.
"Tapi Your Highness, apa yang membuat Anda melempar gaun tersebut?"
"Setelah Julian, ayahku memintaku untuk bertemu Duke Hans, dia akan lebih dulu menikahkanku dengannya lalu kemudian menikahkan Julian dengan wanita payah itu."
"Apa Anda tidak bisa menolak keinginan ayah Anda, Your Highness."
"Sekalipun aku menolaknya, tak akan membuatku bersama orang yang ku cintai." Joana mendudukkan dirinya dengan lemas. Jacey yang cukup dekat dengan sang Puteri mencoba menenangkan dirinya dengan mengelus pundaknya.
"King Jefferson begitu sangat menyayangimu, mungkin Anda dapat membicarakan hal ini lagi dengannya."
"Aku berharap begitu Jacey.."
"Joana, My Princess.." panggil Queen Heidi yang tiba-tiba masuk dan mengejutkan keduanya. Begitu pula dengan Heidi yang seketika kesal melihat Jacey berada di sana.
"Jacey? Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku yang memintanya mencarikan gaun untukku." jelas Joana.
"Kembalilah bekerja!" melihat tatapan sinis Queen Heidi membuat Jacey segera keluar kamar itu.
Joana memperhatikan ibu dan pembantunya itu, Ia selalu merasa heran dengan hubungan keduanya. Meski Joana tahu ibunya itu tak suka dirinya selalu mengandalkan Jacey, Joana tak pernah menghiraukan karena baginya Jacey adalah maid yang cerdas, cekatan dan tentu menyenangkan, namun Ia tak tahu alasan apa yang membuat ibunya begitu tak menyukai Jacey.
"Wanita itu tidak tahu apapun tentang penampilan," ujar Heidi setelah Jacey sudah tidak nampak, "Kau bisa memanggil dresser untuk urusan seperti ini." Lanjutnya, sedangkan Joana hanya mengangguk seolah mengiyakan.
"Jadi kau tengah memilih gaun untuk makan malammu bersama Duke Hans?"
"Ya.." jawab Joana dengan malas.
"Kau tidak tampak senang? Ada apa denganmu? Apa kau sakit, nak?" Heidi tampak khawatir melihat raut wajah murung putrinya.
"Tidak Moms, hanya sedikit lelah."
"Jika begitu sebaiknya kita turun sebentar, keluarga Moan akan berpamitan. Setelah mengantar kepulangan mereka kau bisa beristirahat."
Joana menoleh malas pada ibunya, tanpa berkata apapun Ia berjalan keluar meninggalkan Heidi di kamarnya. Heidi yang merasa heran dengan sikap putrinya hanya mengangkat tangan tanda Ia tak mengerti.
"Joana??" panggilnya mencoba mengejar putrinya itu.
"Your Majesty.." panggil seorang maid.
"Ya?"
"King Jefferson memintaku untuk segera memanggilmu.."
"Cari Joana segera, dia harus ikut mengantar tamu kita."
"Yes Ma'am."
•••