Melihat sang istri yang datang sendiri membuat King Jefferson mengerutkan keningnya.
"Apakah Prince Julian belum kembali?" tanya Lalice.
King Jefferson dan Queen Heidi saling memandang sekejap, "Tunggulah, aku sudah meminta penjaga untuk mencarinya." ujar King Jefferson.
Queen Heidi menoleh pada seorang maid, maid itu tampak mengerti dan membawakan sebuah kotak yang cukup besar.
"Lalice, terimalah hadiah dariku. Ku harap kau menyukainya." ujar Queen Heidi.
"Your Majesty, ini terlalu berlebihan.."
"Beberapa peti hadiah sudah ku siapkan di luar, kalian tidak mungkin kembali ke Thale dengan tangan kosong." tambah King Jefferson.
King Marcus dan Queen Moana tersenyum lebar, "Kami sangat berterimakasih atas semua pemberian kalian." ucap Queen Moana.
"Tapi tidak ku lihat Joana dan Julian? Di mana mereka? Sepertinya kalian sedikit kurang mengajarinya sopan santun." Celetuk Marcus membuat King Jefferson dan Queen Heidi merasa terkejut dengan ucapannya. Melihat sikap suaminya yang tampak tak nyaman, Queen Heidi segera mendekat dan memegang lengannya.
"Maaf.. Ada hal yang begitu mendesak hingga mereka tak dapat mengantar kepulangan kalian." Queen Heidi segera mencari alasan.
"Mom, Dad, tidak masalah jika Prince Julian tak dapat mengantar kepulangan kita. Aku dapat memahaminya."
"Lihatlah, aku yakin kalian tidak akan kecewa mendapatkan putri kami yang begitu luar biasa ini." sindir Queen Moana, membuat King dan Queen Alpez itu tersenyum getir.
"Mom, Dad, kita harus segera pergi." Lalice mencoba menyudahi suasana canggung itu dan mengajak ayah dan ibunya untuk segera berpamitan.
*
Brag!
Merasa marah dengan hinaan mereka, King Jefferson membuka kasar pintu kamarnya yang terbuat dari kayu yang kokoh dan tinggi itu.
"Your Majesty, tenanglah.." Heidi berusaha menenangkan suaminya itu.
King Jefferson menarik nafas panjang kemudian mengangguk dan tersenyum dengan terpaksa pada istrinya seolah mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja
"Kau tahu, kekuasaan Thale tidak kalah besar jika dibandingkan dengan Alpez. Tidak akan rugi bagi mereka mengucapkan kata-kata kasar itu padamu."
"Kau yang meminta Lalice untuk menjadi istri Julian." sekalipun dalam keadaan marah, King Julian tetap berusaha bicara lembut pada istrinya.
"Kau lupa jika mereka datang dan menawarkan putri mereka, kau lihat bagaimana lembutnya gadis itu. Aku memintanya untuk menjadi penerusku karena ku yakin dia gadis yang cerdas dan pemberani dan tentu dialah yang pantas menjadi Queen Alpez." Jelas Heidi.
"Aku menyetujuinya semata karena kekuasaan Alpez akan semakin besar dan kuat. Negeri Thale tak memiliki seorang putra, dan Julian akan memimpin Alpez sekaligus Thale." Ujar King Jefferson.
"Bukankah banyak keuntungan yang putra kita dapatkan jika menikah dengan Lalice? Jadi, semua terserah padamu Your Majesty."
King Jefferson tampak berpikir, di sisi lain Ia begitu benci harus berhubungan dengan King Marcus, namun akan lebih banyak keuntungan bagi Alpez jika menyatukan negeri mereka dengan negeri Thale.
Heidi mengusap kedua pundak suaminya, mencoba memadamkan emosi King Jefferson. Mendapatkan perlakuan lembut istrinya itu membuat King Jefferson melemah, Ia meraih tangan istrinya dan mengecupnya, "Baiklah.. Julian akan tetap menikah dengan Princess Lalice." Ujar King Jefferson membuat Heidi tersenyum dan memeluknya.
**
Sudah sejak tadi Julian memperhatikan daerah tempatnya terjatuh semalam, tapi tetap tak ada pergerakan apapun, tak ada tanda-tanda kedatangan seseorang, bahkan sama sekali tak Ia rasakan sedikitpun sihir peri putih di tempat itu.
Julian yang tengah menunggu di dahan pohon memutuskan untuk terbang ke bawah, memperhatikan lebih dekat tempatnya jatuh semalam. Ia mengedarkan pandangannya, pohon-pohon apel dan pohon buah lainnya tampak tak berbuah, mungkinkah peri yang menolongnya-lah yang sudah memetik habis buah-buahan di sana. Sepertinya siapapun dia yang sudah menolongnya telah mengira jika dirinya akan kembali lagi untuk mencarinya dan memutuskan untuk bersembunyi, mungkin saja begitu.
"Baiklah, lambat laun kau akan kehabisan bahan makanan dan memutuskan untuk keluar. Bukankah begitu?"
Julian adalah seorang pangeran yang tentu memiliki cukup banyak pekerjaan di istana sehingga Ia tak punya cukup waktu untuk menunggu hingga akhirnya Ia memutuskan untuk kembali. Namun sebelum kembali Ia mengeluarkan sesuatu di kantongnya, sebuah cermin yang begitu cantik, tidak lupa Ia raih scarf milik peri yang tidak Ia ketahui itu, kemudian Ia ikatkan scarf itu pada cerminnya.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati ketika mencoba menolong seseorang." Julian yang berlutut segera bangkit dan pergi dari sana.
Ternyata tanpa Ia tahu dari jauh Rosie sedang bersembunyi dan memperhatikan Julian sejak tadi, Ia benar-benar dapat merasakan sihir milik pria itu, sihir hitam peri Alpez. Rosie sengaja bersembunyi karena tak mau menampakkan dirinya. Sungguh seperti dugaannya, pria yang tadi itu begitu tampan, dapat Rosie tebak jika dia bukanlah pria biasa, pria tampan dengan mata bulat dan hidung mancung.
Rosie menyadari sesuatu yang tergeletak di tanah, Ia memperhatikan sekitar dan setelah benar-benar memastikan pria itu pergi dari sana, barulah Ia berlari kecil ke tempat di mana pria itu meletakkan sesuatu yang ternyata adalah sebuah cermin dan scarf miliknya.
"Cermin?" Rosie memperhatikan cermin itu dengan lekat, begitu cantik nan indah.
"Bahkan dia mengembalikan scarf milikku?" Rosie masih terus memperhatikan benda tersebut, "Apakah kau sedang berusaha untuk menunjukkan rasa terima kasihmu?" tanyanya heran.
"Rosie?" hampir saja Rosie melempar cermin di tangannya karena terkejut dengan panggilan Cobalt, segera Rosie menyembunyikan cermin dan scarf di belakang tubuhnya yang membeku seraya memandang ke arah Cobalt yang berlari ke arah Rosie.
"Apa kau sudah mengumpulkan banyak makanan?" tanya Cobalt padanya.
"Y-ya. Mari kita kembali." paniknya karena takut anjing kecil itu mengetahui apa yang tengah Ia pegang di belakang punggungnya.
"Baiklah, ayo!" seru Cobalt, pada Rosie yang tidak juga beranjak, sedikit membuatnya merasa curiga.
"A-ayo!" gugup Rosie, namun beruntung anjing itu berjalan lebih dulu membuat Rosie merasa lega karena tentu Cobalt tak akan tahu apa yang tengah Ia sembunyikan.
**
Setelah pertemuan keluarga Alpez dengan Thale, malam ini istana kembali ramai karena King Jefferson mengundang banyak orang-orang penting untuk membicarakan perjodohan seorang dukes bernama Hans dengan Princess Joana. Terdengar riuh tawa pria-pria berkuasa dalam ruangan utama itu.
"Your Majesty.. Sebentar lagi Prince Julian akan segera menjadi pemimpin Thale, tentu ini adalah kabar menggembirakan untuk semua penduduk Alpez." ujar salah seorang count.
King Jefferson mengangguk dan tersenyum, "Kau bisa sebarkan kabar menggembirakan ini jika aku telah menentukan waktu yang tepat."
"Baiklah Your Majesty."
"Bahkan Prince Julian adalah pemimpin yang lebih dari cukup untuk memimpin negeri Alpez dan Angeles, dapat ku pastikan jika Thale pada akhirnya akan menyatu dengan Alpez dan menjadi negeri yang akan di pimpin olehnya." sahut salah seorang marquess yang gelarnya lebih tinggi dari seorang count.
"Tentu kau begitu memahami putraku, Ed." ujar King Jefferson, sedang pria yang di panggil Ed itu menunduk dan tersenyum.
"HIDUP PRINCE JULIAN! HIDUP ALPEZ!" teriak seseorang kemudian di ikuti yang lain.
Ketika orang-orang tengah sibuk meneguk minuman mereka dan berbincang, diam-diam Vince menyelinap keluar dari keramaian itu dan berjalan ke atas hendak menemui seseorang, Ia melewati beberapa lorong dan kemudian hendak menaiki tangga kembali bersamaan dengan Joana yang juga hendak turun.
Joana yang tersadar dengan kehadiran Vince terkejut, "Your Grace?" tanpa berbasa-basi Vince segera menarik tangan Joana dan membawanya ke sebuah sudut.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Joana gugup, kemudian Ia lihat Vince memeriksa segala arah, memastikan jika hanya ada mereka berdua di sana.
Vince menatap Joana sejenak dengan raut wajah gusar kemudian berkata, "Apa kau menerima perjodohanmu dengan Duke Hans?" pertanyaan yang begitu tiba-tiba membuat Joana sedikit kesulitan untuk menjawab.
"Katakan jika kau menolak perjodohan ini, Princess Joana?" tanya Vince lagi mendesak Joana untuk menjawab pertanyaannya.
Setelah mengumpulkan keberanian, Joana mendorong Vince menjauh, "Apa yang kau lakukan Duke Vince?? Bukankah seharusnya kau ada di bawah berkumpul dengan yang lainnya." Joana berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Jangan bicarakan hal lain, sebaiknya jawab pertanyaanku?!" desak Vince lagi sedikit berteriak.
"Aku tak bisa melakukannya! Maaf.." jawab Joana seraya mencoba melepaskan diri dari kungkungan Vince, namun kembali Duke Vince menarik gadis itu ke arahnya.
"Kau harus menolaknya!" tegas Vince.
"Tidak Your Grace! Ayahku tak akan membiarkan kita bersama. Ku mohon mengertilah." Joana melepas genggaman Vince dan berhasil melepaskan diri dari pria itu.
"Aku tahu kau masih mencintaiku." mendengar ucapan itu, langkah Joana terhenti.
"Kau benar, namun itu tak akan merubah apapun." cicit Joana dengan sedih, lalu kembali melangkahkan kakinya, sedangkan Vince hanya dapat memandangnya saja.
"Jadi..kalian saling mencintai? Atau hanya kau saja yang menyukai kakakku, Duke Vince?" pertanyaan itu membuat Vince terkejut, mereka tak tahu jika tak sengaja Prince Julian yang tengah melewati tempat itu mendengar percakapan mereka.
"Your Highness??" segera Vince menunduk, "Maaf atas kelancanganku." meski Ia begitu dekat dengan Prince Julian, tapi tentu saja Ia merasa sedikit takut karena telah lancang mencintai seorang putri kerajaan.
Julian tertawa lirih, "Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau benar-benar lancang telah mencintai kakakku, Princess Joana."
"Sekali lagi aku meminta maaf padamu, kau boleh saja murka dan menghukumku Your Highness, namun tidak ada yang dapat ku lakukan untuk menyingkirkan perasaanku ini." ujar Vince dengan berani.
Julian mengerutkan dahi, kemudian melangkah mendekat pada Vince dan menepuk pundaknya, "Tenanglah Duke Vince, bukankah kita selalu berbagi rahasia satu sama lain, tentu aku tidak akan melaporkan hal ini pada ayahku." seolah paham, Duke Vince menoleh pada Julian dengan tatapan penuh tanya.
"Tentu dengan satu syarat." lanjut Julian.
Duke Vince tertawa lirih, "Your Highness, apa syarat yang harus ku penuhi?"
"Sebenarnya aku begitu membutuhkan bantuanmu, akan ku katakan jika waktunya tiba." ujar Julian, membuat Duke Vince menjadi penasaran. Setidaknya Prince Julian tak akan mengadukan hal tersebut pada King Jefferson.
**
Malamnya, Rosie terjaga sambil memegangi cermin yang diberikan pria yang tak dikenalnya itu. Ia menoleh untuk melihat Cobalt, anjing tengah meringkuk dan sudah tak bergerak sejak tadi, sepertinya Cobalt sudah benar-benar terlelap.
Kembali Ia memikirkan ucapan Cobalt, semua sungguh di luar pemikirannya, pria itu bahkan datang sendiri dan memberinya hadiah, dia tampak baik dan tak berbahaya. Apakah semua yang mereka khawatirkan adalah salah? Tidak Rosie, bagaimana jika dia memberikan cermin itu hanya untuk membuatmu masuk dalam jebakannya? Rosie terus menerka-nerka.
Haruskah aku menunggunya besok? - batinnya lagi.
***
Keesokan harinya, Julian masih saja terpikirkan oleh peri yang telah menolongnya malam itu, hingga Ia terus memikirkan cara untuk membuat peri Angeles itu mau menampakkan diri.
"Beatrice." panggil Prince Julian pada seorang butler yang menjadi andalan keluarga mereka.
"Your Highness? Apa yang dapat ku bantu?"
Julian tampak berpikir sejenak, awalnya Ia hendak meminta saran dari Beatrice, namun Ia mengurungkan niatnya, "Eh- tidak."
"Katakanlah, mungkin aku bisa membantumu Prince Julian." ujar Beatrice merasa penasaran.
"Tidak, aku rasa aku tak perlu mengatakan hal ini padamu." jawab Julian singkat lalu melangkahkan kakinya menuju perpustakaan di dekat istana.
Perpustakaan besar yang berada di bangunan terpisah, membuat Prince Julian harus mengendap-endap untuk masuk ke sana meskipun para maid yang berlalu lalang merasa ada keanehan dari cara berjalan sang pangeran yang tak biasa. Bukan apa, hanya saja Ia hampir tak pernah menginjakkan kakinya di tempat itu, tentu akan membuat orang-orang yang melihatnya merasa curiga, namun tanpa Ia sadari, kini Ia sudah menjadi pusat perhatian para pekerja yang tak sengaja melihatnya.
"Akhirnya.." lega Julian setelah berhasil masuk perpustakaan bahkan betapa bersyukurnya Ia karena tak ada satupun ornag dalam perpustakaan tersebut.
"Peri Angeles.." ucapnya, lalu mulai sibuk memeriksa tiap rak kayu yang tampak kokoh dengan bermacam-macam buku yang berderet rapi, matanya setajam elang mencari buku yang berisikan segala hal tentang peri Angeles.
"Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya mereka sukai?"
Ya, Julian mencari tahu hal atau benda apa yang peri Angeles sukai. Kemarin Ia sudah memberikan sebuah cermin dan Ia berniat untuk kembali ke dalam hutan, tentu tidak dengan tangan kosong, Ia berpikir apa yang harus Ia berikan hari ini untuk menemui peri yang telah mengobati lukanya itu? Tertulis di sana jika para peri-peri Angeles menyukai hal-hal indah.
Brag!
Julian menutup buku itu dengan kasar. Apa-apaan hal-hal indah itu, terlalu gila untuknya memberikan hal-hal indah hanya untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya.
"Apa yang kau pikirkan julian? Tidak, itu terlalu berlebihan."
Tanpa sadar, cermin yang Ia berikan begitu cantik nan indah, membuat Rosie tak habis-habis memandangnya.
"Tunggu. Hal-hal indah?" kembali Julian memikirkan kata-kata itu.
Julian teringat akan Princess Lalice yang menginginkan balkon istananya karena pemandangan dari istananya itu yang terlihat indah, lalu apakah harus Ia berikan balkon untuk melihat hal-hal indah dari tempat itu. Tiba-tiba Prince Julian tertawa geli, pemikiran gila, untuk apa Ia melakukannya jika seorang peri saja dapat terbang dan melihat keindahan dari atas menggunakan sayapnya, Princess Lalice saja yang terlalu manja dan berlebihan. Julian begitu frustasi memikirkan hal-hal tersebut dan memutuskan untuk pergi dari perpustakaan.
•••