Happy reading??♀️
✨
✨
✨
Baru saja keluar melewati pintu perpustakaan, tiba-tiba Duke Vince mengejutkannya, "Oh, Your Highness? Apa yang kau lakukan di sini?" sapanya seraya mengerutkan dahi.
"Oh, a-aku hanya ingin melihat-lihat saja, aku bosan dan memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan." jawab Julian sedikit gugup.
Menyadari Prince Julian yang tak pernah pergi ke perpustakaan membuat Duke Vince tertawa renyah, "Begitu rupanya." ujarnya di sela-sela tawa.
"Apa ada hal yang membuatmu tertawa?" tanya Julian berpura-pura tak mengerti.
"Tidak Your Highness, maaf.. Hanya saja ku pikir ini adalah waktu yang tepat, aku ingin mengajakmu bermain domino bersamaku untuk melawan Duke Hans."
"Duke Hans? Apa dia ada di sini?"
"Ya, dia baru saja datang beberapa saat lalu, dan tentu kau tahu jika Raja Jefferson telah menyiapkan banyak sambutan untuknya."
Julian menyeringai, "Sayang sekali, aku tidak ada waktu untuk itu." ujarnya sembari berjalan menuju istananya, sedangkan Vince masih membuntutinya.
"Ayolah Your Highnness.." rayunya.
"Kurasa tak penting untukmu menunjukkan kemampuanmu padanya." Julian sedikit kesal dan mengira Duke Vince melakukannya untuk menantang Duke Hans.
"Your Highness!" Duke Vince sedikit meninggikan nada bicaranya membuat Julian menghentikan langkahnya dan menoleh untuk melihat pria itu.
"Ya?!" jawab Julian dengan sedikit menengadahkan wajahnya. Tentu tak sopan untuk siapapun memanggil dirinya sekasar itu, tentu saja Vince tak sungguh-sungguh hendak bersikap tak sopan pada pangerannya sekalipun pria itu adalah sepupunya.
"Satu hal yang harus kau tahu, aku tak melakukannya untuk menunjukkan kemampuanku di hadapan pria itu, setidaknya ku tunjukkan jika aku bukanlah pengecut karena menolak ajakannya." jelas Vince segera setelah melihat ekspresi wajah Julian yang tidak bersahabat.
"Jadi dia yang mengajakmu bermain?" tanya Julian, seolah ingin tahu.
Vince mengangguk, "Ya, dialah yang mengundangku untuk datang."
"Hmm.. Dia terlalu sombong untuk menjadi seorang Duke, jika begitu baiklah, sebaiknya kita pergi menemuinya sekarang." baru saja keduanya hendak melangkah, tiba-tiba suara seorang wanita yang sangat mereka kenal memanggilnya.
"Prince Julian, Duke Vince? Rupanya kalian ada di sini?" keduanya menoleh pada arah suara tersebut.
"Your Majesty." segera Vince menunduk.
"Your Majesty, apa yang membuatmu mencariku?" tanya Julian.
"Apakah aku mengganggu waktu kalian?"
"Tentu tidak Your Majesty." jawab Vince dengan ramah.
"Ah, baiklah jika begitu. Sebenarnya pagi tadi kami mendapatkan gulungan surat dari Thale." ujar Heidi.
"Surat?"
"Bagaimana aku harus mengatakannya, tapi Princess Lalice ingin datang kemari untuk menginap." lanjutnya.
"Princess Lalice? Bukankah kemarin dia sudah datang kemari bersama kedua orangtuanya?" ujar Prince Julian merasa aneh.
"Dia ingin menginap di sini Prince Julian, mungkin kemarin dia belum ingin menginap, bukankah kau senang jika dia sering datang kemari? Dan bisakah kau temani Prince Julian untuk menjemputnya, Duke Vince?"
Julian menoleh pada Vince yang tampak kebingungan, rencana mereka untuk melawan Duke Hans pupus sudah.
"As your wish, Your Majesty.." jawab Vince sedikit terpaksa.
"Apakah tidak ada yang mengantarnya kemari?" Julian berusaha menyelamatkan Vince dari perintah ibunya itu.
"Tentu ada banyak prajurit Thale yang siap mengantarnya. Tapi, dia hanya menginginkan dirimu yang menjemputnya." jelas Heidi.
Tak sengaja Prince Julian tertawa lirih, meski sebenarnya Ia merasa kesal dengan permintaan Lalice yang sungguh begitu merepotkannya.
"Your Highness?" panggil Vince bertanya-tanya mengapa Sang Pangeran malah tertawa.
"Bukankah dia benar-benar aneh Sir? Mengapa tidak dia datang kemari dengan sayapnya?" Prince Julian kembali tertawa.
"Berhenti Tertawa Your Highness! Tidak pantas untukmu menghina calon istrimu sendiri, calon ratu dari negerimu sendiri." peringat Queen Heidi dengan sedikit meninggikan nada bicaranya, dengan segera Julian menahan tawanya.
"Jangan membuat lelucon. Apakah menurutmu pantas jika kau melihat calon istrimu datang kemari menggunakan sayapnya yang rapuh itu??" tegasnya lagi.
"Maaf Your Majesty, aku akan menjemputnya sendiri, Duke Vince tak perlu ikut bersamaku."
"Tidak Your Highness, kau tidak bisa pergi sendiri, aku akan menemanimu sehingga kita tidak perlu pengawalan dari para penjaga."
"Bukankah kau akan pergi untuk--"
"Aku tak akan datang." sergah Vince memutus ucapan Julian.
"Akan ku siapkan Storm dan Greek untuk pergi kesana." lanjut Vince dan pergi dari hadapan Queen Heidi.
Queen Heidi menatap kesal pada Prince Julian, "Aku tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu. Bagaimana kau bisa merendahkan Princess Lalice di hadapan Duke Vince."
Julian hanya mengernyit dahi, Lalice benar-benar membuat suasana hatinya hancur seketika.
"Mommy berharap kau akan menyambut dan memperlakukan Princess Lalice di istana kita dengan baik." ucap Heidi seraya berjalan meninggalkan Julian dan di ikuti oleh para pengawalnya.
Rosie begitu penasaran untuk bertemu pria yang Ia selamatkan malam itu, sehingga Ia memutuskan untuk menunggunya sedikit jauh dari sana. Rosie membuat Cobalt tidur terus menerus hingga anjing anomaulus itu tak akan mengganggunya.
Sudah beberapa jam lamanya Ia menunggu, tetapi pria itu masih tak muncul juga, apakah aman untuknya terus berada di tempatnya sekarang? Entahlah, Rosie hanya begitu penasaran padanya.
Rosie memeriksa matahari, tampaknya hari sudah semakin siang dan Ia yakin Cobalt pasti sudah terbangun, Ia bahkan melupakan sarapan anjingnya itu. Dengan segera, Rosie berlari ke rumah air terjun dan menemukan Cobalt sedang mencoba mencari makanannya.
“Coo?” kejut Rosie membuat Cobalt melompat.
“Rosie? Dari mana saja kau? Bagaimana bisa kau melupakan makan pagiku.”
“Maaf..” Rosie segera meraih buah dalam keranjang dan memotong-motong kecil buah-buahan itu lalu memberikannya pada Cobalt yang terduduk menunggunya.
“Hoaamm..” Cobalt memperhatikan Rosie yang tengah berbenah, gadis itu berdendang dan sesekali mengangkat tangannya dengan ceria.
“Kau tampak sangat bahagia, Rosie!” ujar Cobalt membuat Rosie berhenti berdendang.
“Hmm? Apa maksudmu Co? Bukankah kau begitu sering melihatku berdendang?” jawab Rosie santai, sebisa mungkin Rosie berusaha untuk tak menunjukkan hatinya yang tengah gusar karena menunggu pangeran yang pernah di lihatnya malam itu.
“Habiskan makanmu, aku akan keluar untuk berjalan-jalan.”
“Tunggu Rosie!” Cobalt menghentikan langkah Rosie yang hendak keluar dari rumah air terjun.
“Ya? Ada apa?”
“Apa kau memberikan sihir lagi padaku?”
“Aku? T-tidak. Untuk apa aku memberimu sihir.”
“Tidak biasanya aku bangun siang.”
“Mungkin kau lelah karena telah membantuku mengumpulkan bahan makanan tadi malam.”
“Aku tidak mengerti padamu. Kita mengumpulkan bahan makanan, namun kau masih saja pergi keluar.”
“Aku bosan melihatmu terus tidur sehingga aku memutuskan untuk berjalan-jalan.” jelasnya berharap Cobalt tak akan merasa curiga.
“Oh, Co!”
“Ada apa Rosie? Mengapa kau berteriak?”
“Bukankah kau bertugas mengumpulkan apel-apel ini?”
“Ya, aku menaiki pohon dan menggigit rantingnya hingga putus.”
“Tidak C maksudku, lihatlah..” Rosie menemukan sehelai sayap di tumpukannya.
“Uhuk!” Cobalt tersedak melihat dirinya tak sadar membawa sehelai sayap di keranjangnya.
“Ini bukan sayap milikku.” ujar Rosie.
“Tidak mungkin juga milik peri Alpez, sayap mereka tidak berwarna terang.”
“Lalu, apa menurutmu--”
“Mungkinkah peri Angeles? Apa masih ada peri Angeles yang berhasil selamat dan bersembunyi sepertiku?” Rosie mencoba menerka-nerka.
“Kurasa ini benar-benar sayap milik peri Angeles.” timpal Cobalt membuat Rosie semakin yakin.
“Kau benar Co, jika begitu aku harus mencarinya.”
“Mencari? Kemana kau akan mencari? Tidak Rosie, kau tidak boleh pergi lebih jauh dari sini, lagi pula dugaan kita bisa saja salah.”
“Tapi Co lihatlah diriku, aku berhasil melarikan diri dari mereka dan tinggal di dalam gua ini sejak aku masih kanak-kanak, dan bagaimana jika ada peri Angeles yang sama sepertiku? Kita hanya terlalu takut untuk mencari, lagi pula bukankah ini kesempatan kita, jika ada lebih banyak peri Angeles, mungkin akan lebih besar kesempatan kita melawan peri-peri hitam yang kejam itu.”
Cobalt tampak berpikir dan mempertimbangkan ucapan Rosie, “Baiklah Rosie, kita akan mencari mereka saat malam, itu akan lebih aman dari pada menunjukan diri ketika hari masih terang.” ujarnya.
Rosie mengangguk dengan semangat. Ia yakin sekali jika ada peri Angeles lain yang masih selamat dan Ia harus menemukannya segera.
**
“Kau sudah perintahkan para pengawal menyiapkan kuda-kuda kita?”
“Ya, mereka menawarkan diri untuk memberi pengawalan.”
“Lagi pula ini adalah tugas yang amat sepele, tak perlu libatkan banyak orang.”
Mendengar ucapan Julian membuat Vince tertawa lirih, “Your Highness kau benar-benar lucu, kita akan menjemput putri dari seorang King Thale, namun kau menyebutnya sebagai tugas yang sepele. Bahkan kita akan di bunuh jika tak membawa Princess Lalice dengan selamat sampai ke Angeles.” jelas Vince.
“Aku tak peduli.” jawab Julian singkat seraya berjalan di ikuti Vince di belakangnya.
“Sebenarnya, ada satu hal yang ingin ku katakan padamu.” ucap Julian.
“Your Highness kau bisa katakan apa itu.” jawab Vince.
Julian yang masih ragu menghentikan langkahnya dan menoleh sejenak ke arah Vince di belakangnya membuat Vince menjadi semakin penasaran.
“Ku harap kau tidak memberitahukan hal ini pada siapapun.” ujar Julian mencoba meyakinkan dirinya dengan jawaban yang akan Vince berikan.
“Kau dapat memegang kepercayaanmu padaku, Your Highness.”
“Baiklah, ikut aku dan akan ku ceritakan di tempat yang lebih aman.”
Julian membawa Vince ke ruang kerjanya, lalu menceritakan tentang kejadian yang dialaminya beberapa malam lalu.
“Your Highness.. Bagaimana mungkin seorang peri Angeles mampu menolongmu, apa kau sungguh-sungguh tentang ini?” Duke Vince tampak tak percaya.
“Aku bersungguh-sungguh tentang ini, bahkan hanya butuh satu malam untuknya menyembuhkan luka di sayapku.” yakin Julian.
“Tapi apa dia benar-benar peri Angeles?” Julian mengangguk, Ia akhirnya memutuskan untuk menceritakan jika dirinya telah kembali ke hutan dan berharap kembali bertemu dengan peri Angeles yang telah menolongnya.
“Lalu, apa kau berhasil bertemu kembali dengannya?”
Prince Julian menggeleng, “Tidak, kurasa setelah kejadian itu dia lebih berhati-hati.”
“Sungguh kejadian yang begitu aneh, lalu apa yang akan kau lakukan, Your Highness? Bagaimanapun dia adalah peri Angeles, kita tak mungkin membiarkannya berkeliaran bebas di negeri yang saat ini telah menjadi milik kita.”
“Apa sama sekali tak ada kompensasi untuknya?”
Duke Vince tertawa lirih, “Untuk peri Angeles? Apa menurutmu saat ini kita dapat hidup berdampingan dengan mereka? Jika kau berpikir peri itu begitu baik dengan menyembuhkan lukamu, sebaiknya bandingkan dia dengan peri Angeles yang telah bekerja lama untuk kita, bukankah tak ada bedanya? Mereka memang bertugas untuk memenuhi segala kebutuhan peri Alpez.” jelas Vince penuh penekanan membuat Prince Julian berpikir semakin keras.
“Tak ada yang berubah tentang aturan Alpez, setelah Angeles jatuh ke tangan kita semua penduduk Angeles harus patuh dan taat pada aturan yang sudah kita buat, salah satunya adalah berkhidmat pada peri hitam Alpez, dan dia sudah melanggar aturan itu.” lanjut Vince.
Prince Julian menatapnya bingung, meski Ia paham aturan itu, tapi rasanya tidak akan adil jika Duke Vince berniat untuk mengadili peri yang telah menolongnya.
Namun Prince Julian mengangguk seolah setuju dengan perkataan Vince, “Your Grace, akan lebih baik jika kita bahas hal ini nanti setelah kembali dari Negeri Thale, dan tolong jangan katakan hal ini pada siapapun.” pinta Sang Pangeran.
Duke Vince mengangguk dan menepuk pundak Julian, “As your wish Your Highness. Sebaiknya bersiaplah dan akan ku tunggu kau di luar.”
Keduanya sudah menyiapkan winged horse untuk menuju negeri Thale, kuda dengan sayap yang membuatnya dapat terbang sebagai kendaraan para peri.
Storm adalah nama winged horse milik Prince Julian berwarna hitam pekat hingga ke sayapnya, namun ketika cahaya bulan menerpanya, Storm akan terlihat sangat cantik. Dan Greek adalah milik Duke Vince, berwarna hitam dengan corak biru di ujung sayapnya.
“Aku akan meminta beberapa prajurit untuk mengatakan pada Duke Hans bahwa aku tak dapat bermain domino bersamanya.”
“Baiklah, aku akan menunggumu di gerbang.”
“Baik Your Highness.”
Tidak menunggu lama, Duke Vince kembali dan keduanya kini menuju negeri Thale untuk menjemput Princess Lalice.
**
“Apa kau tak berhasil menemukannya?!” teriak Princess Joana pada salah seorang penjaga istananya.
“Apakah Your Highness yakin jika makhluk itu masih ada?”
“Kau pikir apa yang membuat Angeles begitu menarik? Semua orang bahkan dapat menemukan anomalous dengan begitu mudah disini.”
“Maaf jika kami telah mengecewakanmu, Your Highness.”
“Kalian sudah mengatakan hal itu berkali-kali! Sekarang pergilah! Jangan pernah kembali jika kalian tidak mendapatkan satupun dari mereka!” teriaknya kesal.
“B-baik..”
Princess Joana keluar dari kamarnya berniat mencari udara segar, tak sengaja Ia melihat ibunya tengah sibuk di ruangan yang berhadapan dengan kamarnya.
“Mommy?” sapanya dengan raut wajah penuh tanya.
“Ya, letakkan sedikit jauh dari ranjangnya.” Tampaknya Queen Heidi begitu sibuk hingga tak menyadari kedatangan Joana.
“Bagaimana dengan meja ini Your Majesty?”
“Kurasa ini sudah tidak layak apalagi jika untuk menyambut tamu istimewa, sebaiknya singkirkan saja dan ganti dengan yang baru.”
“Your Majesty?!” Joana sedikit meninggikan suaranya.
“Oh My Goodness! Joana??”
“Sorry.. Aku sudah memanggilmu tapi tampaknya kau terlalu serius, apa yang sedang kau lakukan? Apa kita akan kedatangan tamu?”
“Seperti tebakanmu, Princess Lalice akan menginap di Angeles untuk beberapa waktu, jadi kami menyiapkan kamar untuknya dan dia akan menempati kamar ini, bersebrangan dengan kamar milikmu, bukankah menyenangkan? Kalian akan menghabiskan waktu bersama bukan? Kau harus mengajaknya berkeliling Angeles.” Queen Heidi tersenyum, tanpa menunggu jawaban putrinya Ia kembali sibuk dengan para pekerjanya.
Princess Joana begitu kesal mendengar kabar itu, apalagi kamar yang akan Lalice tempati adalah kamar yang letaknya bersebrangan dengan kamar miliknya, bukan menyenangkan namun rasanya akan begitu membosankan harus bertemu dengan Princess Lalice setiap hari. Dengan sengaja, Princess Joana mengarahkan sihirnya pada sebuah guci di atas meja, membuat guci itu jatuh ke lantai dan mengejutkan semua orang.
“Oh God! Siapa yang menjatuhkan guci itu??”
Joana menyeringai dan meninggalkan keributan itu, Ia melangkahkan kakinya menuju singgasana milik ayahnya.
•••